Kenangan Tentang Engkau
Desember 8th, 2006 by LemonTea
Hari ini, penuh lamunan.
Langit cerah, tetapi hujan deras.
Sepertinya langit sedang menangis.
Menangis untuk kepergianmu, Sayang.
Rasanya seperti mimpi. Aku masih mendengar tawamu ketika aku berlari kecil menelusuri bilik satu ke bilik yang lain tanpa busana menyangkut di tubuhku. Aku masih mendengar suara banggamu karena tubuhmu mulai menggemuk. Masih tertawa karena leluconmu tentang kepala botakmu. Masih melihatmu berdandan, dan memakai wig.
Rasanya baru kemarin aku memeluk tubuhmu yang kecil. Baru kemarin engkau menyuruhku untuk menjaga kesehatan. Baru kemarin engkau mengucapkan kata ‘Selamat ulang tahun’. Rasanya seperti mimpi. Kini kau pergi. Dan tak mungkin kembali.
Banyak pertama kali yang kulakukan denganmu. Banyak yang telah kau beri dalam hidupku. Kau mengajarkan aku kekuatan, mengajarkan aku untuk tak pernah menyerah.
Rasanya sulit untuk dipercaya. Rasanya sulit untuk menganggap ini nyata. Kau selalu ingin sehat. Kau tidak makan apa-apa yang tidak sehat yang orang lain makan. Tapi tetap, ini sudah rencana Tuhan. Tetap, meski sulit diterima.
Mereka bertanya, ‘mengapa? Mengapa harus engkau?!’ Tapi aku tahu pasti jawabannya, karena Tuhan begitu mencintai engkau.
Kau mengeluh sakit, tapi kau tetap tertawa. Kau terus berjuang melawan penyakit yang melanda tubuhmu yang mungil itu. Di kala deritamu engkau masih mengingat aku. Dan kau tak lupa pada satupun keluargamu. Kau berjuang. Kau kuat. Kau tidak kalah, Sayang, kau tidak kalah pada penyakit itu. Tapi Tuhan punya rencana lain. Rencana yang tak dapat dimengerti.
Aku melihatmu terkulai di sana, tak bernafas. Di atas peti wajahmu begitu damai, kau meninggalkan kita. Tapi kenangan tentangmu selalu ada. Hingga akhir jaman. Kenangan yang kau tinggalkan tak pernah sia-sia.
Semua menangis melihatmu, semua prihatin. Tapi mereka tahu kau tidak kalah melawan penyakit. Mereka tahu betapa kuatnya engkau. Mereka tahu betapa indahnya hidupmu. Mereka tahu kau tidak lagi menderita, dan betapa bahagianya sekarang engkau di atas sana. Duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dan tertawa sembari menjaga kita. Mereka tahu hidupmu selalu dipenuhi oleh kebaikan, Sayang. Jadi tak ada yang perlu disesali. Anak-anakmu dijaga dengan baik di sini, menggantikanmu yang juga menjaga dan mengawasi.
Sampai kapanpun tak pernah berubah, kebaikanmu yang terjaga baik di dalam dada.
Tuhan, sertai dia, jaga keluarganya, jadikan ia bagian dari bintang.
Sayang, ketahuilah kami merindukan engkau. Ketahuilah kami selalu mencintai engkau. Ketahuilah kami begitu salut, dan kami telah belajar banyak dari engkau.
Kini tak perlu lagi ditangisi. Tak perlu lagi kami kuatir. Kau tak akan pernah mengeluh sakit lagi. Tak perlu memakan semua sayur-sayuran tanpa rasa yang selalu kau makan setiap hari.
Karena kini Tuhan menjagamu, menjadi sahabatmu, menggantikan kami. Kini engkau telah bertemu dengan pendahulu-pendahulumu, dan bercanda bersama mereka di alam sana.
Karena engkau sudah berbahagia, berada di sisi Tuhan.
In Loving Memory of II Iyang, Christine Tjahjadi,
07 Desember 2006