Ke Kota
Desember 8th, 2006 by rifannazhif
”Ular naga panjangnya bukan kepalang.” Terdengar lamat-lamat anak kampung bermain di rusuk rumah. Mereka berkumpul, membentuk barisan yang melingkar-lingkar. Bulan sepotong memecah cahaya redup, menembus rerimbunan daun pohon kelapa yang saling bersinggungan. Seakan bersalaman.
Mat Amin di depanku, masih seperti tadi. Masih berkacak pinggang, sembari melotot. Cerutunya menimbulkan wangi pesing. Aku ingin meludah. Karena wangi pesing cerutunya, berbaur dengan umpatan-umpatan yang melarangku ke kota.
Padahal aku ingin benar ke tempat penuh hingar-bingar itu. Melihat bagaimana kesibukan di sana. Bagaimana kelak aku akan dapat berbaur bersama orang modern, mencari pekerjaan mapan. Tentu saja setelah barang di dalam buntalan sebesar kelapa muda itu dapat kujual kepada seseorang yang sudah berjanji kepadaku sekian minggu lewat. Katanya, barang tersebut sanggup dibelinya dengan harga mahal.
“Uangnya kau pergunakan untuk modal berdagang kecil-kecilan. Dari kecil nanti bisa menjadi besar. Bahkan kau dapat berubah konglomerat!” ucapnya kala bertemu aku di warung. “Pokoknya aku bayar mahal! Tidak usah ragu. Menyimpang dari rel buat mengawali kehidupan sukses, tidak apa!”
Kupikir benar juga ucapan orang itu. Daripada menjadi petani miskin terus-terusan, lebih baik bermain api sekali. Selanjutnya aku bertobat. Bekerja kembali secara jujur. Tuhan tentu tidak akan murka bila hamba-Nya berdosa sekali-dua. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan, toh! Tapi niat bulat ini akhirnya harus terbentur setelah Mat Amin, pamanku mengetahui apa yang akan kulakukan. Berulangkali dia melarangku ke kota. Berulangkali menasehati agar aku tidak menempuh jalan haram jadah tersebut.
”Aku akan tetap ke kota! Harus! Miskin terus begini, buat apa? Huh!” Kugebrak meja dengan perlahan. Meskipun Mat Amin pamanku, tapi rasa segan tidak begitu kental di hatiku. Sebab umur kami tidak jauh berjarak. Hanya selisih empat-lima tahun.
Suara anak kampung di luar bertambah riuh-rendah. Ada seorang anak yang terperosok ke kubangan kerbau. Wajahnya berlumpur. Dia menangis. Aku ingin menertawakannya. Tapi manakala melihat Mat Amin, wajahku berubah masam. Meskipun dari tadi aku berharap dia segera berlalu, Mat Amin masih bertahan. Dia tidak bergeming sedikitpun, padahal berulangkali aku menggebrak meja. “
“Ya, aku setuju-setuju saja kalau kau ke kota dengan cara halal. Jangan karena ingin menjual barang di buntalan itu. Kau bisa celaka! Kau ke sana hendak berniaga barang haram, apa tidak cari penyakit! Kau bisa ditangkap! Dipenjara! Sebagai paman, aku berhak melarangmu, Manalu!” Dia turun dari rumah. Mendekati anak-anak yang masih bermain di luar. Mengusir mereka jauh-jauh. Menyuruh pulang, sebab malam sudah larut.
Bulan sepotong sudah hampir sepenggalah. Aku berharap Mat Amin segera pulang. Biar aku bersiap-siap menyusun pakain selembar-dua di dalam tas kecil lusuh. Rencanaku besok menjelang sore, aku harus sampai di kota. Berarti pagi-pagi mesti berangkat. Tapi Mat Amin bukannya pergi, malahan naik lagi ke dalam rumah. Cerutunya sudah dibuang entah di mana.
“Manalu!”
“Aku tidak mau mendengarmu lagi, Paman! Aku harus bersiap-siap sekarang! Jangan urusi tingkah-lakuku!” Tergesa aku berdiri. Melilitkan sarung lebih erat.
Diperlakukan demikian, dia naik pitam juga. Dia bergegas pergi. Tidak perduli ketika ibuku memanggilnya. Menyuruh sebentar menyuruput kopi panas. Mat Amin hanya membuang pandang menjawab panggilan ibuku. Sambil tersenyum kurapikan pakaianku yang paling bagus ke dalam tas kecil lusuh. Buntalan di bawah tempat tidur kuambil. Menjejalkannya di antara pakain tersebut. Kelihatan tas kecil lusuh itu membusung. Mencurigakan! Namun tetap kutenangkan hati. Walaupun akhirnya, ketika tidur pikiranku kacau. Mimpi seakan datang beruntun. Berputar-putar, membentuk labirin membingungkan. Membuatku mengigau berkali-kali. Berulangkali terpaksa disadarkan oleh ibu.
* * *
Bus ringsek penuh penumpang itu meraung mendaki jalanan menanjak berbatu. Bau asem dan pesing membuatku mual. Sepotong pisang goreng plus kopi susu hangat yang kunikmati pagi tadi, seperti hendak keluar. Tapi kucoba bertahan. Kubayangkan ibuku yang menatap sedih ketika mengantarku pergi. Dia berharap aku sukses di kota. Sebagai orang kampung dia tidak tahu-menahu tujuanku ke kota. Tidak tahu-menahu apa sebenarnya yang kubawa dan apa yang akan kulakukan. Padahal andaikata tahu, dia pasti marah besar. Melarangku pergi. Sebagai anak mantan kepala desa yang sudah mendiang, aku seharusnya tidak berbuat kotor. Tidak membuat malu dengan menjual barang illegal. Menerobos norma-norma agama.
”Aku sudah tidak tahan lagi,” gerutuku kepada kernet bus. Hampir saja aku muntah karena terlalu pening.
”Sabar, Mas! Belum ada tempat duduk. Berdiri dululah. Sebentar lagi pasti ada yang turun.”
”Sebentar lagi, kapan?” gerutuku. Jalanan yang tidak rata semakin membuatku mual. Timbul rasa sesal karena nekat ke kota. Tas yang seperti bunting, tidak lagi kudekap erat seperti sebelumnya. Tapi kubiarkan tergeletak di lorong bus. Ketika melewati turunan curam, tiba-tiba bus berhenti. Tubuhku condong ke depan. Membentur belakang kursi. Sementara ibu tua di sebelahku, terbentur dagunya. Dia mengomel. Lelaki brewokan yang duduk di belakang supir, meradang. Mengatakan supir tidak bisa menyetir mobil.
”Bukan salahku. Tapi ada polisi menyetop di depan,” balas supir berdalih. Si brewok bungkam. Aku hampir tersedak. Rasa mual bertambah menjadi rasa ingin ke belakang. Ingin berak. Celaka dua belas, kenapa ada polisi yang melakukan razia?
Aku berharap semoga polisi cuma razia SIM. Tapi ternyata tidak. dia razia KTP. Tubuhku panas dingin. Tas bunting di lorong bus bergegas kudekap erat. Berniat berlari juga aku keluar bus. Namun itu pasti menimbulkan kecurigaan. Dengan terpaksa aku berdiam diri. Melihat polisi memeriksa orang per orang. Tatkala berada di dekatku, aku langsung menggigil. Kurogoh dompet di kantung celana.
”Apa di tas itu?” Polisi menekan dadaku dengan telunjuknya.
”Pakaian!”
“Buka!”
”Bau, Pak!”
”Buka!” Polisi membentak. Menarik tas. Membongkarnya. Membuka buntalan kumal.
”Apa ini?”
“Daun!”
”Kau pengedar ganja, ya! Ikut ke kantor!” Terdengar suara orang menggumam di dalam bus. Aku berdiam seperti patung. Polisi yang kesal, memborgolku. Menyeretku keluar bus. Tiba-tiba aku teringat ibu, teringat Mat Amin. Dan kota yang kuidamkan sebagai gudang kesuksesan, berubah sel sempit dingin plus bau kakus.
SEKIAN