KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Aku ingat seperti apa aku, ya jelas gak mungkin lupalah, tiap hari aku tidak pernah lupa ngaca. Cermin cukup familier buatku, tapi bukan karena aku cewek kalau aku akrab dengan cermin. Dodo juga kenal baik sama cerminnya, belum lagi Roni, Tino, Robi. Mereka-mereka ini manusia cowok yang tidak bakal lupa sama ngaca. Cuma aneh? Kenapa dia bilang aku menarik, sudah begitu masih bilang aku cantik. Padahal, paling tidak kata Mama, aku ini galak-judes-jutek. Manis sih okeylah, tapi badanku bukan type cewek trendy-ha ha ha ha ……, malah aku cenderung gemuk. Keren sih, cerdas, berwawasan, familier, kurusnya nggak penting. Dan matanya itu lho, kalau mandang bisa bikin dek-dekan.

“Stop! Pasti lagi mikirkan cowok?Computer didiamkan, padahal arsip numpuk lho. Sadar Sayang, dunia gak bakalan kiamat gara-gara cowok.”

“Hemm …….., dilarang komentar.”

Iya sih, Yolanda membuat aku kaget, suaranya yang kalem sambil memegang bahuku bener-bener membuat aku sangat surprise. Tapi semua orang tahu kalau aku adalah aku, seterkejut apapun, aku bisa ngendalikan diri dengan baik, kalau tidak ya bisa dipastikan aku bakal tersipu-sipu malu.

Taman itu tidak luas, tapi sangat nyaman ketika berada di situ. Mawar, melati, dan beberapa tanaman yang bisa membuat hati begitu teduh, di bangku kayu dengan sandaran enak manakala duduk, cat putihnya, ada atap yang menjadi pelindung. Kakek yang membuat itu menjadi sangat menarik, dan Papa yang memperbarui. Kedua laki-laki yang aku cintai, yang sekarang sudah tenteram di Sorga. Iya, bangku kayu bercat putih itu menyimpan cerita tersendiri untuk kami serumah, dan rumah ini, taman kecil itu, gemericik air mancur buatan Kakek. Dibangku itu, Nenek pernah duduk di samping Mama, taman dan bangku itu adalah tempat favorit untuk ngobrol dari hati ke hati. Waktu Mama ngomong soal cita-citanya, di situ Mama ngomong ke Nenek. Aku ingat ceritanya, sore seperti sekarang. Nenek sudah duduk di bangku bercat putih itu. Mama menghampiri Nenek dan duduk persis di sebelah Nenek.

“Ada apa Rosa?”

“Mama, aku ingin jadi guru.”

Aku bisa bayangkan senyum Nenek, senyum yang aku kenal. Dengan senyum itu Nenek bilang sangat lembut, “Rosa, bilang sama Tuhan yang kamu mau ya. Mama setuju kalau Tuhan setuju, dan kamu benar-benar niat.”

Pasti Nenek sambil tersenyum manis, soalnya itu yang menjadi ciri khas Nenek, senyum manisnya saat bicara. Senyum manis Nenek itu juga yang membuat Mama bahagia, ketika Mama ngomongkan Papa, saat Mama sedang jatuh cinta. Cerita Mama menarik soal itu, ya di situ di bangku bercat putih, di taman kecil rumah ini. Waktu Nenek sedang duduk di situ, di sore hari seperti sekarang.

“Mama, aku jatuh cinta sama Bram.”

“Mama bahagia kalau kamu bahagia Rosa,” Senyum Nenek sambil memeluk Mama, “Bram yang penyiar radio itu?”

“Iya Ma.”

“Ajak Bram kemari Sayang.”

Merasakannya pun sudah begitu indah, benar-benar sampai ke hati. Tapi memang, bangku bercat putih itu sungguh-sungguh menyimpan kenangan indah. Bukan Cuma Mama yang ngrasakan duduk di situ dan dipeluk Nenek, aku juga. Aku malah lebih dari Mama, dapat pelukkan Nenek, juga dapat pelukan Mama. Sama, sama-sama di sore hari seperti sekarang, baik dengan Nenek maupun dengan Mama. Aku ingat waktu menghampiri Nenek sepulang kuliah sore, di situ di bangku bercat putih itu.

“Nike, kemari Sayang.”

Itu sapaan Nenek buatku waktu itu, nyaman betul begitu dengar suara Nenek dan senyum manisnya.

“Baru pulang kuliah Cantik.”

“Iya Nek.”

“Kenapa Sayang, ada apa?”

“Enggak.”

Nah, waktu bilang enggak itu, aku terus dirangkul Nenek, damai benar yang terasa, yang kemudian membuat aku bisa ngomong dengan teduh pada Nenek.

“Nenek, Nike ingin jadi dosen.”

Senyum manis itu sangat berkesan, Nenek memandang aku, seolah menjamah dengan sangat tentram.

“Sayang, bilang sama Tuhan apa yang kamu mau ya. Nenek setuju kalau Tuhan setuju.”

Jawaban yang sama, seperti ketika Mama bilang cita-citanya pada Nenek. Tidak beda seperti Nenek sih, Mama juga bilang yang sama. Cuma Mama lain, kalau Mama itu lebih funky, ya di situ juga, di bangku bercat putih itu.

“Hay Nike-ku, sini Sayang duduk sama Mama.”

“Mama tahu kamu ingin jadi dosen ya?” Sempat bingung sih, padahal Mama belum aku kasih tahu, tapi sambil senyum dan memeluk aku Mama bilang, “Mama tahu dari Nenek.”

Sama sekali aku tidak ngomong apapun, aku Cuma bisa merasakan sayangnya Mama ke aku.

“Mama senang Sayang, semangat ya, dan jangan lupa, bilang sama Tuhan yang kamu inginkan.”

Tapi sore ini sepi, Nenek juga Mama sedang pergi ke Semarang. Tadi, di situ melihat bangku ini jadi ingat semuanya, memang nyaman sekali duduk di sini, rasa capek sehabis ngajar tadi hilang. Tapi tadi Pak Rudi sempat nawari aku ngajar di Diploma I? Sepertinya boleh juga, biar punya fariasi, jadi nggak monoton strata I saja.

“Kenapa ya kamu ngomong sejujur itu?”

Kejujurannya betul-betul membuat aku terpukau, kaget, dek-dekkan dan hemm …. .

“Aku mau bilang jujur soal perasaanku padamu, aku suka kamu. Bahkan lebih, aku mau mencintaimu.”

Hah? Aneh banget, tidak mungkin. Tidak ada seorang lelaki pun yang menganggap aku menarik? Aku galak, jutek, judes. Aku sendiri tidak pernah menganggap diriku cantik. Manis sih iya, tapikan aku ini gemuk, dan aku nggak seksi. Cuma memang iya aku ini cerdas, paling tidak banyak yang bilang seperti itu. Padahal 25 tahun aku mengenal diriku, juga gemukku, tidak menarikku selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Aku bahkan nyaris tidak pernah menyadari kalau gemukku merupakan identitasku, mungkin karena terbiasa, dan paling-paling baru aku sadari kalau aku sedang ngaca, itu pun kalau pas aku memperhatikan benar-benar. Tapi kalau ada sesuatu yang menarik padaku, mestinya aku tahu, dan mestinya dari dulu aku bisa mengeksposnya habis-habisan. Maklumlah, dari lahir aku sudah ditakdirkan seperti ini: gemuk, tembem, judes, galak, jutek. Pendek kata tidak ada yang menarik dariku buat laki-laki. Tapi bukannya aku tidak puas dengan diriku, bukan, sama sekali tidak. Cuma saja aku tidak percaya waktu dia bilang perasannya padaku. Jelaslah aku kaget. Aku hanya mampu memandangnya heran, malah bingung, tapi melihat keseriusannya, bagaimanapun aku percaya. Dan itu artinya aku benar-benar menarik, paling tidak untuk dia. Hanya buat aku, kenapa aku tidak melihat sisi menarikku, soalnya yang cerdas juga banyakkan, yang berkepribadian banyak juga, apalagi yang gemuk. Kemarin aku menyempatkan diri melihat diriku di cermin, biasa saja, dadaku juga biasa saja karena aku gemuk. Wajahku juga tidak cantik, kalau manisnya sih iya juga, tapi swear! Tidak lebih dari itu. Cuma iya juga sih, aku cewek yang boleh dibilang punya otak tidak memalukan, bacaanku cukup banyak yang membuat aku bisa diajak ngobrol semodel apapun. Paling tidak, buatku otak yang tidak memalukan ini menjadi aset berharga yang bisa aku bangga-banggakan, untuk aku itu anugrah. Tapi kalau dicintai, mungkin ini yang membuat aku cukup-cukup kaget. Di pikiranku hanya muncul: apa tidak salah?

“Kamu cinta aku?” Itu yang aku bilang saat aku mendengar ungkapan perasaannya.

“Iya.”

“Nggak salah?”

“Enggak, aku serius, aku gak main-main.”

Mungkin biar agak rileks sedikit, dan kebetulan makanan yang kami pesan sudah datang, jadi ya aku mencoba menetralisir sebentar.

“Steaknya dimakan ya?

“Iya.”

“Makanku menyenangkan lho.”

Pokoknya aku makan, dan sebentar aku melihat dia, terlihat benar seperti apa tegangnya dia. Makan satu, tapi ndak habis-habis. Beberapa kali dia melihat aku, terus melihat yang lain, lalu memperhatikan steaknya.

“Kamu baik-baik saja.”

“He he he he ……., iya baik, aku baik-baik saja.”

“Kenapa mencintaiku?”

Aku tahu ini pertanyaan serius, dan dia tiba-tiba juga berubah menjadi serius. Wajahnya, matanya, sikapnya. Aku sendiri juga ikut agak-agak tegang.

“Buat aku kamu itu cantik, cerdas juga berkepribadian. Dan bener, selama ini aku berdoa soal kamu dan perasaanku ke kamu.”

Ini yang paling membuat aku kaget, berdoa buat aku dan perasaannya ke aku. Didoakan, dijaman seperti ini? Orang muda yang unik, padahal dia modern, juga produk bukan kuno. Belum pernah ada yang mendoakan aku untuk cinta dan perasaannya ke aku. Waktu sama dokter hewan itu cinta pertama yang biasa-biasa saja. Terus saat sama Niel, itu sih kesalahan. Tapi benar lho, aku berterima kasih sama Tuhan, setelah 25 tahun akhirnya ada laki-laki yang tulus seperti dia, yang benar-benar mengungkapkan cintanya ke aku dan ngomongkan perasaannya ke aku. Hemm ………., senyumannya, dan pokoknya manusia ini benar-benar penuh imajinasi buat ku. Orang muda yang langkah, level pop corn yang canggih seperti maunya Papa waktu itu. Jadi ingat Papa, Papa pernah bilang kalau Papa paling setuju aku dapat jodoh yang pop corn, bukan seusia, apalagi brondong. Kalau dapat brondong, kata Papa malah akan banyak masalah, usianya saja lebih muda dari aku, jadi bagaimana mau dewasa. Kalau yang ini, 10 tahun selisih usianya dengan aku, tapi iya sih, entah kenapa aku jadi begitu sayang ke dia.

Hemm ……., bangku bercat putih di taman kecil rumah ini, cukup nyaman menjadi tempat duduk dan untuk berbagi. Rasanya aku sedang jatuh cinta, dan perasaan itu begitu kuat, sangat kuat bahkan. Duduk di sini sangat nyaman, persis sama nyamannya seperti perasaanku saat ini.

Ini pagi yang indah untuk memulai semuanya dengan indah. Mandi yang cepat, parfum, dandan, dan penampilan harus seokey mungkin. Dan berkali-kali aku ngecek di depan kaca, sudah okey apa belum, sedikit berantakan saja buru-buru tak rapikan. Hari ini aku ngajar harus dengan penampilan yang prima, hemm ………., dia membuat hidupku sangat berwarna. Cuma aneh juga, biasanya kalau melewati kaca cendela atau koridor, tidak pernah aku peduli. Sekarang lain, setiap kali melewati kaca-kaca itu, bawaannya ingin terus mengacakan diri. Habisnya aku jadi semakin percaya diri, dan sekarang aku lebih senang melihat sosokku sendiri. Perempuan gemuk dan senyum manisnya. Dan, tunggu, beck song sms. Pasti dari dia lagi, sudah 6 kali pagi ini dia meng-sms-iku, isinya benar-benar membuat aku senang. Nanti malam kami janjian ketemu, kencan yang menyenangkan pasti. Tidak ada masalah kalau isinya percakapan-percakapan ringan, sentuhan yang rileks, ciuman lembut, dan waktu yang tidak lama, Cuma kira-kira 3 jam. Hubungan kami sangat enjoy, tapi tho aku sangat menyukainya, nyaman dan membuat aku sangat bisa tersenyum ringan. Benar lho, hatiku berbuanga-bunga begitu memperhatikan sorot kagum matanya buat aku. Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menjadi perempuan yang ku sukai.

Iya juga sih, ternyata aku sangat menyukai pertemuan kami. Keringanannya membuat aku rileks dan nyaman, tapi mau seperti apapun teman-temanku toh akhirnya tahu juga, maksudku mereka itu mampu mengendus sedang seperti apa aku sekarang. Ya ……., paling tidak Yuni tahu, Denok juga berfeeling-feeling seperti itu. Dan sekarang kami bertiga sedang duduk semeja di Cafe untuk makan siang, yang pasti sih aku mulai dek-dekan, soalnya pasti mereka mulai akan tanya-tanya.

“Sepertinya ada yang sedang aneh Yun?

“Emm ………. memang, tapi kok betah ya nggak ngomong ke kita.”

“Boleh,” Denok sambil tersenyum, “Yun, kamu mau tertawa juga?”

Hemm, dasar Denok, padahal mulutnya masih ngunyah, kok bisa-bisanya langsung ngomong.

“Waktu aku dideketin Rony, aku ngomong-ngomongkan.”

Kok juga masih ngomong ya si Denok ini, ya mbok sudah makan dulu, toh nanti aku pasti ngomong.

“Sampai sekarang juga masihkan?”

“Okey,” Akhirnya aku mau tidak mau harus ngomong, ketimbang habis dijadikan bahan omongan, “Namanya Andre.”

“Wuuuuh – keren tuh, Andre.”

Dasar juga Denok, kalau maunya ngomong, ngomong terus tanpa memberi ampun.

“Diteruskan nggak?”

“Sudah Nok, terus Nik.”

Yuni, memang kamu lebih arif dari pada Denok, membuat aku agak sedikit terbela.

“Kami kenal dipertemuan waktu sama-sama Niel.”

“Kok, jadi Niel juga?”

“Begini Denok yang cantik, aku diajak Niel ke pertemuan itu, terus dikenalkan Andre. Jelas!”

“Kenapa Andre suka kamu?”

Denok lagi-Denok lagi, jadi agak jengkel aku, rasanya malah seperti di interogasi.

“Kok ……….?”

“Nik, kamu sedang jatuh cintakan?”

Aku diam saat Yuny bilang seperti itu, terus aku mulai tersenyum, karena memang aku tidak mempunyai cukup perbendaharaan kata-kata untuk menjawab.

“Iya.”

“Kenapa Nik?”

“Andre bilang aku cantik, cerdas dan berkepribadian.”

“Haaa? Cuma bilang begitu kamu langsung jatuh cinta!”

“Bukan Cuma itu Nok.”

“Sabar Nok, dengarkan dulu Nike ngomong.”

Tidak sampai semenit kami diam sesaat, memang jadi agak tegang, karena memang kami bertiga ini the big girl yang dalam urusan cinta paling sering tersingkirkan. Tapi kami cewek-cewek yang manis, meski ukuran badan kami lebih ketimbang cewek-cewek lainnya. Kami wanita-wanita yang cerdas. Aku dosen, Yuni dokter dan Denok notaris. Yuny adalah dokter yang manis dengan tubuh gemuknya, kalem dan pokoknya cenderung lembut, tapi enam kali ditinggal cowoknya tanpa ngomong apapun. Denok, selama jadi notaris saja sudah empat kali gagal dengan mantannya, tiga kali alasannya tidak cocok lagi, yang terakhir tanpa alasan apapun seperti Yuny. Aku dua kali punya hubungan istimewah, hanya dua-duanya berselingkuh, ya langkah terbaik aku putuskan saja hubungan kami.

“Begini frend, tidak hanya itu. Kami kenal enam bulan yang lalu, ternyata selama itu dia berdoa untuk perasaannya ke aku, juga cintanya ke aku. Dan baru kali ini aku merasakan ketulusan laki-laki. Nantilah, kalian bisa lihat tulus tidaknya dia.”

“Kamu yakin Nik?”

Itu pertanyaan Yuny yang benar-benar membuat aku sungguh-sungguh melihatnya. Walaupun kalem, Yuny sangat serius menanyakan hal itu.

“Yang aku rasakan seperti itu Yun,” sambil sesaat aku memandang Yuny dan menoleh ke Denok, “Nok.”

“Aku tahu, aku tidak semenarik yang lain. Tapi aku nggak yakin kalau itu hanya isapan jempol.”

“Bukan begitu Nike. Maksudku, semua yang tidak sesuai kenyataan itu tidak lebih dari sekedar rayuan.” Sahut Yuny

“Dan semua yang diungkapkan laki-laki, apalagi soal fisik, hanya isapan jempol.” Aku menoleh ke Denok yang tiba-tiba ngomong seolah-olah kesal banget.

“ya sih, tapikan kita perlu buktikan. Apa terus kita tidak boleh punya cowok? Minimal yang agak cakep, sudah begitu cintanya tulus.”

“Nik, kami dan kita inikan bukti hidup dari banyak rayuan cowok selama ini. Apalagi ngomongkan soal fisik.”

Denok cukup tegas ngomong kan hal ini, dan benar memang kami sudah kenyang dengan kata-kata seksi, cantik, menarik juga macam-macam yang lainnya. Seolah-olah kami hanya persinggahan, lalu brrrt ……… mereka bosan dan mencari yang lebih seksi, lebih cantik dan lebih-lebih yang lainnya

“Tapikan aku nggak binal?” Tandasku.

“Huss!” Tukas Yuny

“Nike, jangan percaya omongan laki-laki, pikirkan betul-betul, atau lebih baik tinggalkan dia. Kalau ucapannya bukan rayuan, hubungan yang dimulai dengan alasan kamu cantik, menarik, cerdas, berkepribadian. Paling juga tidak lebih dari satu semester. Tidak ada cinta yang tulus kalau dimulai dari rayuan yang model itu Nik, dan kalau ada, itu murahan dan sudah sangat basi,” Kata-kata Denok mencoba meyakinkan aku, “Lagi pula kamu itu merusak imej benar lho Nik, selama ini kamu itukan panutan kami. Kami iri karena kamu jauh lebih tenang, nggak bakalan runtuh hanya gara-gara rayuan sedangkal itu”

“Tapi kalian nggak boleh lupa, bukankah aku korban selingkuhan. Mereka tho meninggalkan aku, dan hubungan kami kan akhirnya kandas juga.”

Aku ngomong sangat serius pada dua karipku ini, suasana menjadi teduh sesaat. Sedikit bengong, makanan tidak tersentuh, mereka memandangnya ke aku, tanpa senyum dan seperti maklum. Sampai kemudian Yuny ngomong dengan teduh banget.

“Entah, kita atau mereka yang tolol.”

“Cuma anehnya aku merasa diriku yang tolol, mau percaya dan jatuh cinta lagi. Semoga aku tidak dikianati lagi.” Ujarku begitu landai.

Denok meraih bahuku dengan sangat simpatik, “Tapi kalau cintamu ini kandas, bukankah kamu akan terluka lagi Nik.”

“Mungkin iya,” sambil aku melihat Denok dengan sedikit sayu, “Tapi aku sedang jatuh cinta.”

Kedua sahabatku itu menatapku dengan pandangan lepas. Lepas, iya lepas karena aku bersikeras menjalani cintaku yang dimulai dengan, kata teman-temanku ini sih diawali dengan rayuan aneh. Tidak pada tempatnya, mungkin salah orang, karena aku tidak secantik itu, dan aku adalah seorang wanita yang gemuk.

“Kalian tahu perasaanku soal hubungan kami?” aku terdiam sebentar, “Aku merasa senang, merasa sudah benar-benar menjadi wanita. Aku belum pernah mengalami cinta seklasik ini, dan sekarang muncul cinta ini, yang jujur membuat aku berhenti bertanya-tanya, apakah bentuk perempuanku ini bener-bener tidak mengandung daya tarik, sebab ternyata, ada seorang laki-laki yang menganggapnya menarik. Ayolah! Jangan menganggap terlalu serius.”

“Kamu bener-bener jatuh cinta Nik.”

Sambil berdiri Denok menyampaikan hal itu. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba bersabar dan menjawab dengan dangkal, “Iya.”

“Okey, kita lihat saja nanti,” Yuni berdiri sambil tersenyum, “Okey Nik, aku tahu kamu pasti ngerti seperti apa yang terbaik. Silakan nikmati cintamu itu, tapi asal kamu tahu, aku sulit percaya sama Andre-mu itu. Maaf ya Nik, soalnya terlalu dangkal dan standart. Cinta seperti itu paling juga ujung-ujungnya cuma fisik, tapi nikmati saja.”

Hari-hariku bersama Andre menjadi kebiasaan yang manis, sangat indah yang terasa, paling tidak banyak orang yang tahu seperti apa perubahanku. Andre makin rajin memujiku. Seperti apa penampilanku, seperti apa cantikku, seperti apa cerdasku, seperti apa kepribadianku. Pendek kata Andre tidak kehabisan referensi untuk membuat aku bahagia, dan yang membuat aku senang, dia – Andre maksudku, membuat hidupku jadi berwarna. Aku semakin mempercayai ucapan-ucapannya, bahkan jujur saja, aku sangat menghayati. Ya jelaslah, dua puluh lima tahun, baru sekarang mengalami yang seperti ini. Meski semuanya sederhana saja, tapi itu yang membuat terasa indah. Aku tampil tidak yang luar biasa, biasa-biasa saja. Paling pakaian lebih terperhatikan. Tapi justru yang biasa-biasa saja itu yang membuat aku suka, Andre juga sangat menyukai keberadaanku yang apa adanya. Kalau tidak ketemu, rasanya menjadi aneh. Aku malah sempat memprotes karena tidak menerima smsnya.

“Kamu sibuk apa sih, kok nggak sempet nyapa aku?”

“Nggak Nik, aku nyangka agendamu yang penuh, jadi ya aku pikir lebih baik sore-sorean saja.”

“Jangan gitu lagi ya, lagian kalau cuma sms kan nggak bakal menggangguku. Kalau telepon baru sore-sorean gitu.”

Perlahan hubungan kami mulai dipenuhi hal-hal lain yang membuat hatiku lebih hangat. Andre bukan Cuma memuji aku, tapi juga menjadi teman berbagi yang menyenangkan. Sering dia menanyakan bagaimana suasana hatiku hari ini, seperti apa ngajarku, bagaimana dengan mahasiswaku, sampai Andre menanyakan secapek apa aku hari ini. Bukan itu saja, Andre pun terus menjelma menjadi telinga yang sabar mendengarkan bagaimana aku ngomong, ada kalanya aku sangat emosional, begitu sedih, juga pernah beberapa kali aku sempat menangis. Tanpa bosan Andre mau mendengarkan, bahkan tanpa pernah menguap.

Tapi kemudian Andre tiba-tiba berubah. Memang tidak terlalu kentara, tapi dia berubah. Ya benar sih, yang memulai semua ini aku. Awalnya karena kesibukanku yang sama sekali tidak bisa dikompromi, yang membuat aku sama sekali sulit untuk bisa menelpon, bahkan untuk sekedar sms dia. Kesulitanku yang dimulai karena tidak bisa kencan dengannya, dan memang aku yang membuat janji lalu aku sendiri yang membatalkan. Aku sangat merindukan Andre, tapi juga aku benar-benar tidak bisa kompromi. Andre mulai dengan protesnya, lalu membalas dengan jarang telepon, kemudian jarang sms. Andre menjadi begitu dingin. Dia banyak diam, dan menyikapi banyak hal dengan diam. Beberapa teman dekatnya aku mengenal, biasanya Andre suka berbagi dengan mereka, tapi dari mereka juga sama sekali tidak aku dengar tentang Andre. Mereka sendiri juga mengakui kalau Andre akhir-akhir ini banyak diamnya, tidak seperti biasanya. Padahal Andre tidak seperti itu orangnya. Harusnya dia itu orangnya banyak ngomong, mengomentari ini itu, karena dia memang tidak pernah kehabisan kata-kata, Cuma iya, kalau sedang ada problem, dia cenderung diam. Tapi tiba-tiba dia menjadi seperti itu.

Benarkah Andre sudah bosan? Secepat inikah? Padahal baru dua bulan. Aku tahu, aku mulai menelan kekecewaanku. Maklumlah, buatku aku sangat berharap ini bakal abadi selamanya. Tapi kalau seperti ini, apa ya mungkin? Cinta yang konon katanya dalam, rumit, menyeluruh dan berjuta-juta rasanya saja bisa berakhir. Mungkin aku sedang mimpi! Tapi iya sih, sedih juga, terutama karena aku sangat menyayangi cinta ini, sepertinya sebentar lagi bakal tamat.

Hanya yang paling membuat aku menyedihkan lagi, aku harus berpura-pura tidak menyadari perubahan kami, berpura-pura menukmati semuanya, dan berpura-pura kalau cinta kami hanya tinggal menghitung waktu. Aku harus berpura-pura tidak ada perubahan, supaya tidak membuat Andre lebih cepat mengucapkan selamat tinggal. Bagaimana aku butuh waktu untuk menyiapkan diri menerima kepedihan karena patah hati. Tapi sebentar, bukankah teman-teman karipku sudah memperingatkan. Tapi masak harus sedih? Aku tahu siapa aku, dan aku tahu aku sudah jatuh cinta, beneran, nggak bas-basi.

“Ada apa Nike?”

Keget sih, tiba-tiba suara Nenek sambil tangan lembutnya menyentuh bahuku. Suara Nenek yang sangat ku kenal akrap

“Kapan datang Nek? Kok nggak ngasih tahu,” langsung aku memeluk Nenek sambil bilang, “Aku kangen Nenek.”

“Iya Sayang, Nenek juga. Ayo Sayang temeni Nenek duduk di taman.”

Kami jalan sama-sama ketaman kecil rumah kami, dan tujuan kami adalah bangku bercat putih itu. Tapi di meja kecil dekat bangku bercat putih itu sudah ada dua cangkir teh, berarti Nenek sudah menyiapkan dari tadi.

Bersanding kami duduk, Nenek menoleh sambil tersenyum, “Kamu minum teh buatan Nenek ya.”

Dengan senyum juga aku membalas cukup teduh, “Iya Nenekku.”

Kami sama-sama minum teh buatan Nenek, ada jahenya, terasa sangat enak, begitu nyaman saat ditelan pelan-pelan. Memang masih hangat, membuat aku menjadi sangat rileks.

“Kamu sedang ada sesuatu Sayang?”

Nenek memang tidak bisa dibohongi, tapi bagaimana ngomongnya. Aku jatuh cinta, baru dua bulan, sepertinya mau putus, atau ……..? Nenek, kamu paling bisa memanjakan cucumu ini.

“Aku sedang jatuh cinta Nek.”

“Sayang? Bener itu? Nenek senang mendengarnya, terus bagaimana?”

“Tapi masalahnya Nek, kami sekarang sedang nggak jelas.”

“Kenapa Sayang? Ada apa?”

Aku bercerita soal kesibukkanku yang sama sekali tidak bisa di kompromi akhir-akhir ini, sementara Andre mungkin kecewa, dia diam dan sama sekali tidak peduli.

“Tapi memang sih Nek, aku yang mulai.”

“Kamu mencintainya Sayang?”

Aku menganggukkan kepalaku sambil bilang, “Iya Nek.”

“Sayang, siapapun bisa kilaf, tapi sekarang biar semuanya tenang dulu. Sambil selama itu kamu cek betul bagaimana dengan cintamu, juga cintanya Andre padamu. Nanti akan kelihatan tulus tidaknya, kalau cinta itu tulus, bersungguh-sungguhlah. Kalau tidak, cobalah direnungkan lagi.”

“Nenek, itu bagus banget.”

Aku tersenyum sambil memeluk Nenek, aku sangat senang. Apa-apa yang aku pikirkan ruwet seolah-olah jadi fresh.

“Nek, terima kasih ya, aku senang banget. Tapi aku ini gemuk Nek? Apa …….”

“Stop Sayang, cinta yang tulus tidak akan pernah ngomong gemuk atau tidak. Jadilah seperti apa adanya kamu. Ndak perlu minder, itu sama sekali nggak baik.”

Iya sih, tiba-tiba aku menyadari keadaanku, tiba-tiba aku nggak percaya diri. Kesadaran itu membuat aku panik, aku ngeri pada cinta yang sedang aku rasakan, sebab itu artinya cinta itu tamat? Dek-dekan juga untuk memikirkannya, karena pasti aku akan nangis, menyesal dan perasaan yang mengasihi diri sendiri. Aku tidak perlu melakukan yang bodoh, benar kata Nenek, aku harus diam dulu, tenang dulu. Benar kalau aku sempat berpikir, bagaimana kalau aku memutuskan hubungan kami tanpa bilang-bilang. Aku bingung, sementara cinta kami sebentar lagi akan berantakkan, dan hanya tinggal menghitung waktu, terus kiamat.

“Yun, apa kamu dengar sesuatu tentang Nike?”

“Iya Nok, Andre sudah membuat Nike kecewa, aku sedih mendengarnya.”

“Temani aku Yun, kita temui Andre, aku mau tahu apa maunya.”

“Boleh, aku juga tidak ingin kita diremehkan. Kita memang gemuk, tapi kita wanita seperti yang lain.”

Mobil biru kecil itu berhenti persis di depan rumah sederhana, itu tempat Andre bekerja selama ini. Nyaman, banyak tanaman yang membuat teduh, pendek kata sangat menyenangkan menjadi tempat kerja seorang penulis. Rumah dengan model leter L bangunan sederhana, terasnya di pojok, ada tanaman gantung, dan di halaman depan ada tanaman-tanaman yang tinggi. Ada beberapa cemara di situ, yang menutupi teras itu dari depan. Terasnya hanya bisa dilihat dari samping, pintu masuk yang juga langsung menuju garasi.

“Salamat siang.”

“Selamat siang Bu.”

Dia Parto, baik Yuny maupun Denok tahu orang ini, cerita Nike tentang Andre membuat mereka berdua cukup mengenal Andre dan sekiranya, meski mereka belum pernah ketemu.

“Kami mau ketemu Mas Andre.”

“Oh ada Bu, silakan Bu ditunggu di ruang tamu.”

Ruang tamunya sederhana, ada beberapa gambar di dinding, ruang tamu yang cukup bersih, dindingnya bercat kuning lembut, cukup bersih. Dari koridor pemisah ruang tamu, muncul laki-laki yang sangat simpatik penampilannya, enak dipandangnya. Bukan orang yang gemuk, kurus, tapi kelihatan segar.

“Selamat siang.”

Itu sapaan ramah Andre, sambil tangannya bersalaman dengan dua wanita gemuk tamunya.

“Saya Denok.”

“Saya Yuny.”

“Silakan,” Parto muncul sambil membawa tiga cangkir teh, “Silakan diminum. Ini tidak panas kok.”

Mungkin Denok sudah sangat emosional, tanpa peduli Denok langsung ngomong, “Gini Mas Andre, saya rasa tidak perlu basa-basi. Kami ini teman dekatnya Nike.”

“Oh iya, senang saya bisa ketemu Mbak berdua.”

Tanpa peduli Andre menjawab, Denok melanjutkan ngomongnya, “Apa maksudnya Mas Andre ngomongkan ciuman itu ke Mbak Tanti? Kamu tahu tidak, Nike sampai tahu, jangan mentang-mentang karena Mbak Tanti itu dekat sama Nike, terus kamu ngomong sembarangan seperti itu.”

“Tunggu dulu Mbak ………”

“Saya tidak mau tahu, kamu laki-laki yang ngerti etika tidak?”

“Maksud saya tidak begitu Mbak, saya bermaksud berbagi ……….”

“Berbagi kamu bilang? Jadi kalau kamu tidur sama Nike, kamu juga mau berbagikan. Picik sekali kamu!”

Pokoknya Andre tidak mempunyai kesempatan untuk ngomong, setiap omongannya putus. Kali ini, meski cukup kalem, sambil memandang Andre, Yuny berbicara, “Tolong dipikirkan semua itu, kami sangat kecewa denganmu ………..”

Belum juga selesai Yuny ngomong, Denok langsung nyambung dengan judes, “Kami tidak ingin Nike bersedih, lebih baik kamu menjauh, dan jangan temui Nike lagi.

Permisi!”

Itulah kata penutup Denok, yang kemudian membawa dua wanita gemuk itu beranjak pergi. Andre hanya bisa berdiri sambil melihat dua wanita itu melangkah pergi, sama sekali tanpa menoleh. Bahkan teh yang disuguhkan Parto pun tidak disentuh, teh itu masih utuh. Seolah teh itu sedang diam tanpa tahu harus bagaimana, sama seperti Andre yang juga tidak tahu harus bagaimana.”

Tiga hari aku tidak bisa ketemu teman-teman karipku, karena memang kesibukan ngajarku betul-betul membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kami sudah janjian, dan hari ini kami mau ketemu di kantor kampus tempat aku ngajar, ada ruangan kosong untuk bisa kami gunakan sebagai tempat kami ngobrol habis-habisan. Jam dua belas, waktunya makan siang, tapi kami mau nostalgia makan menu bungkusan dari kantin. Iya, mereka sudah datang dan sudah nongkrong di kantorku.

“Apa kabar kalian? Senengnya bisa ketemuan,” tapi sepintas aku melihat Denok yang nggak seperti biasanya, “Kenapa Nok?”

Aku mempersilakan teman-teman karipku itu duduk, tapi usulku nggak disetujui Denok, dia maunya kita pindah ke ruangan kosong itu, sambil makan.

“Rasanya aku setuju.”

Begitu Yuny bilang, dia sih sejak tadi diam. Paling senyum-senyum, nyium aku dan sebangsa-sebangsa itu. Dan ruangan ini cukup membuat nyaman untuk kami ngobrol sambil makan-makan. Kami sih ngobrolnya biasa-biasa saja, obrolan yang ringan, sambil menghabiskan makanan pesanan kami.

Tiba-tiba Denok ngomong pelan, cuma sangat mengagetkan aku, “Nik, kemarin kami menemui Andre.”

“Kenapa? Ada apa?”

Aku bingung, tercengang, heran dan entah apalagi. Tapi di sini, di kepalaku tersimpan banyak hal yang aku sendiri nggak tahu harus diapakan.

Yuny mencoba memulai dengan tenang, “Gini Nik, kami sudah dengar soal ciuman kalian yang diceritakan ke mbak Tanti. Kami juga tahu kalau kamu sangat tersinggung, itu sebabnya kami minta penjelasan Andre. Nik, kami nggak ingin kamu kecewa, Cuma itu yang kami mau.”

Tanpa ada komentar apapun, aku langsung memeluk Yuny, aku menangis sampai rasanya sesak di dadaku. Sesuatu yang belum pernah aku bayangkan, yang membuat aku sangat ngeri. Ciuman kami diceritakan Andre pada mbak Tanti. Aku sangat kecewa, aku sangat sedih, aku ingin marah.

“Sudah Nik, sudahlah.”

Itu suara Denok dari belakangku sambil memegang bahuku. Aku bisa merasakan bagaimana dahi Denok ditempelkan di kepalaku, dua karibku yang sangat memperhatikan aku.

“Kenapa harus Andre Yun?”

Yuny semakin erat memelukku sambil bilang, “Sudahlah Nik, sudah ya.”

Cukup lama kami sama-sama menangis, tiga wanita gemuk dengan air matanya, dan kami saling memeluk. Kadang yang terdengar hanya saling memanggil nama, itupun sudah berbaur dengan tangisan kami. Setelah itu kami duduk, aku dibantu untuk duduk, karena peristiwa ini membuat aku sangat tidak kuat. Denok bercerita bagaimana mereka berdua menemui Andre, aku tidak bilang apa-apa, aku lebih banyak diam, sambil cukup sering aku mengelap mataku dengan tisu yang masih sering basah dengan air mata.

Hubunganku dengan Andre sekarang ini sudah tidak aku tahu seperti apa, tapi waktu Andre telpon, aku bilang dengan sangat emosional, “Kita ini kan masih dalam proses, jadi nggak perlu ada komitmen-komitmenanlah. Aku sangat kecewa dengan kamu, lebih baik kita putus.”

Putus, kata itu yang aku bilang ke Andre. Aku tahu dia berusaha menjelaskan semuanya, tapi aku sudah terlanjur nggak mau. Dia menutup telponnya dengan sedih, tapi sebenarnya aku dulu yang menutup telponnya. Hanya aku bisa merasakan seperti apa sedihnya Andre, kata terakhir yang aku ingat, dia bilang iya. Sejak saat itu sebenarnya kami sama-sama diam. Jujur saja, nggak enak sih, dan sangat nggak nyaman. Aku mau menghubungi, tapi gengsi. Pokoknya sangat-sangat tidak nyaman.

Entah bagaimana awalnya, yang jelas aku sudah sangat tidak tahan. Aku harus menghubungi Andre, mau dibilang apapun terserah, aku nggak mau tahu. Aku memulainya dengan mengirimkan sms, di sms itu aku bilang, “Aku nggak tahu gimana harus nyapa kamu, tapi aku ingin nyapa kamu. Apa kamu baik-baik saja?” Rasanya lama nggak dibalas, mungkin Andre marah, padahal baru dua minggu. Tapi lima menit kemudian smsku dibalas. Ini dari Andre, iya benar ini dari Andre, “Aku baik sih, tapi soal kita, aku masih berkabung. Apa memang sudah tidak mungkin lagi buat aku?” Aku sendiri nggak mungkin memungkiri diri sendiri, aku sangat mencintai Andre, aku hanya bilang kalau semuanya masih mungkin, dan aku minta untuk bisa ketemu dia.

Lama kami berdiri berhadapan di teras tempat Andre ngantor, akhirnya kami duduk dekat, tapi tidak berdampingan. Suara Andre kalem begitu aku mendengar, “Mengapa Nik?”

“Kamu sudah ngomong soal ciuman kita ke mbak Tanti, dan aku nggak suka itu. Padahal aku sangat mencintaimu. Aku menginginkan perasaanmu, mengembangkan perasaan itu.”

“Maafkan aku Nik,” kata itu yang aku dengar dari Andre setelah dua minggu kami putus, “Aku nggak pernah bermaksud mempermalukanmu, waktu itu aku mau berbagi dengan mbak Tanti, dan bertanya apakah salah kalau aku mencium kamu. Tapi nggak aku duga kalau mbak Tanti ngomong soal itu ke kamu.”

Kami agak diam, sampai kemudian Andre bilang, “Apakah aku masih boleh mencintaimu Nik?”

Aku kaget, seperti saat Andre bilang soal ini pertama kali dulu. Bingung, gugup, dan nggak karuan rasanya. Tatapan mata Andre masih sama, tatapan seorang laki-laki yang berkharisma.

“Tapi kamu nggak boleh seperti dulu lagi, ngomongin yang pribadi ke orang lain?”

“Iya.”

“Aku juga mencintaimu Ndre.”

Matanya memandang lekat-lekat padaku, Andre mengusap rambutku. Aku tahu Andre tulus, aku bisa merasakan ketulusannya.

“Aku mencintaimu Nik.”

Oleh: Andreas Rahmadi.

One Response to “Aku, Gemukku dan Cintaku (Buatmu Wanita)”

  1. on 25 Feb 2009 at 17:16tika

    keren banget… tapi lk bsa bwt cerpen yang lebih remaja yach

Tinggalkan Komentar