Cermin yang Retak
Desember 8th, 2006 by rifannazhif
Hujan belum berhenti. Tetesannya serupa jarum, menimbulkan liang-liang kecil di halaman depan rumah. Persis sarang ubur-ubur. Taman bunga sepi dari kumbang, rama-rama dan cahaya mentari.
Seonggok baju kotor di dalam kamar, membuarkan bau kurang sedap. Asap rokok laksana halimun menebarkan hawa sesak, berputar-putar membentuk labirin. Sebentar itu pula kulemparkan tas ke atas kasur. Melepaskan dan menendang sepatu ke kolong tempat tidur. Kaus kaki yang lumayan amis terbebas sudah dari telapak kakiku. Kugumpal-gumpal. Kubuang ke tumpukan baju kotor, sehingga menambah aroma baru.
Kuseruput teh manis sisa tadi pagi. Lalu berdiri di depan cermin berbentuk oval dengan meja jati di bawahnya. Sebotol pembersih wajah kubuka. Kemudian memoles-moleskan cairan di dalamnya dengan kapas ke wajahku.
Telepon selular berbunyi. Dari Viko. Tapi tidak kuangkat. Bunyi ring tone Slank kubiarkan membahana sejenak. Dan akhirnya dia mati.
Kubersihkan ceceran lumpur dari sepatuku yang berlepotan di atas lantai. Selanjutnya ke kusen jendela, tembok di bawah jendela, dan tangga kecil yang kugunakan untuk memanjat ke dalam kamar.
Geli juga rasanya mengingat betapa aku nekat pergi ke pesta “kaum terbuang” sejak subuh tadi. Sebelum papa-mama terbangun. Sebelum Mpok Inah mengetuk pintu dan menyuruhku sarapan.
Seperti narapidana, aku menerobos dinginnya pagi. Melompat dari jendela, melintasi taman bunga yang seketika berubah acak-acakan. Aku berharap pula mama tidak melihat bunga mawar kesayangannya telah hancur, karena potnya tertendang olehku.
Ah, perduli amat semua itu. Yang penting aku sudah bebas berkumpul dengan orang-orang senasib denganku. Berkumpul meskipun hanya beberapa jam. Kami dapat berbicara banyak dalam waktu yang begitu singkat. Membicarakan segala celoteh orang. Menggosipkan para petualang cinta. Laki-laki tampan. Perempuan-perempuan centil yang setiap tubuhnya hanyalah gelambir.
Sungguh, aku tidak menyukai keberaan kaum hawa itu. Dengan dada laksana balon, buah pinggul yang bergoyang seperti kelapa muda. Mata genit… Ih, amit-amit!
“Binsar! Binsar Tampubolon, anakku!” Papa memanggilku sambil mengedor keras pintu kamar. Cepat-cepat kubuka gaun yang kukenakan. Karena gaun tersebut adalah gaun yang kucuri dari lemari mama kemarin sore. Gumpalan saputangan kukeluarkan dari tempurung beha yang kukenakan. Dan beha loakan itu kujejalkan ke bawah kasur.
“Binsar!” Papa terdengar tidak sabar menungguku membuka pintu.
“Iya, Pa!” Malas-malasan aku menyeret selop, membuka pintu, lalu membiarkan papa masuk ke dalam kamar. Tubuh yang lunglai karena capek, kurebahkan di atas kasur sambil menatap papa tanpa rasa bersalah.
Papa mendelik. “Jawab, tadi pagi kau pergi ke mana?”
“Tidak ke mana-mana, Pa!” Aku berkelit.
“Bangun! Aku tidak ingin kau membohongi kami terus-terusan.” Papa menarikku ke luar kamar. Mendudukkanku dengan paksa di sofa ruang tamu. Kulihat mama sudah menunggu di situ dengan wajah penuh kecemasan dan memelas.
“Kau bilang tidak pergi ke mana-mana? Kau pikir kami ini orang buta, ha? Atau kau menganggap kami orang gila yang tidak mampu memperhatikan tingkah laku anaknya sendiri? Binsar, Binsar. Sejak subuh kau sudah menghilang dari kamar. Mpok Inah yang memberitahu. Sebab ketika hendak menyuruhmu sarapan, kamarmu sudah kosong. Hanya baju kotor dan kamar acak-acakan yang mengisi kamar bulukanmu itu.” Dia terdiam. “Kau ke rumah teman-temanmu yang bencong itu, kan?”
“Pa!” sergahku. Gigiku bergemeretak.
“Apa? Kesal karena aku menghina teman-temanmu? Kau sudah mulai kebencong-bencongan. Banci!”
“Pa!” Kukepalkan tangan.
“Apa? Melawan? Banci bisa berkelahi, ya?” Begitu menusuk ucapan papa. Tapi mama langsung melerai ketika aku berdiri hendak menerkam papa. Dia menyuruh lelaki itu pergi, agar suasana tidak bertambah tegang.
Seperti biasa, akhirnya aku hanya bisa menangis di pangkuan mama. Seperti biasa laksana tingkah perempuan, semua emosinya pasti tertumpah dengan air mata. Sebab itu adalah senjatanya. Senjata yang kerapkali tidak dapat ditentang oleh setiap lelaki yang sediktator apapun.
“Sabar ya, Binsar!” Mama mencoba menenangkanku.
“Iya, Ma!” Tanpa menunggu waktu lagi, aku langsung menghambur ke kamar. Tengkurap di atas kasur untuk melepaskan semua kekesalan di hati.
Sebenarnya aku terlahir sebagai bayi lelaki tulen dua puluh tahun lalu. Bayi yang lahir terlalu cepat. Bayi yang membrojol ketika umurnya belum genap tujuh bulan. Dan aku pun diinkubator sekian bulan lamanya
Mama dan papa tentunya senang bercampur cemas menyambut kedatanganku. Kemudian waktu bergulir selama lima tahun. Aku tumbuh sebagaimana anak lelaki. Tapi mama yang selalu mengidam-idamkan seorang anak perempuan, ternyata tidak seratus persen dapat menerima sosok sepertiku. Mungkin sebab itu dia lebih sering memberikanku boneka-bonekaan atau alat masak-memasak ketimbang mobilan atau senjata mainan. Sekali-dua mama mengenakan baju perempuan ke badanku. Lalu dia tertawa senang bercampur geli. Papa yang seringkali memergoki perbuatan mama, marah besar. Dia memvonis mama telah membentuk jiwaku menjadi perempuan. Bukan sebagai pejantan gagah yang dia idam-idamkan. Ujung-ujungnya mereka pasti bertengkar, sampai dua atau tiga hari tidak bertegur-sapa. Kemudian berbaikan lagi sambil tertawa cekikikan.
Entah perlakuan mama, atau karena bawaan emosinya yang menginginkan sosok anak perempuan, lambat-laun berkembang perasaan lain di jiwa ini. Begitu mulai akil baligh, ketertarikanku kepada perempuan hampir nol persen. Kuingat benar, kala teman-teman lelaki waktu itu sering mengoleksi photo perempuan telanjang, aku malahan mengumpulkan photo lelaki-lelaki berotot yang tersimpan rapi di dalam kardus di bawah tempat tidurku.
Pernah sekali, Robai, teman sebangkuku, melihat-lihat isi kamarku. Ketika membongkar kardus di bawah tempat tidur, tawanya pun pecah laksana gelas jatuh ke lantai. Dia mengolok-olokiku . Dia geli melihatku membela-belain menyimpan photo lelaki memualkan sampai ratusan lembar.
Mulai hari itu aku bermusuhan dengannya. Dia tidak pernah lagi datang ke rumahku. Selain kularang, dia merasa aku adalah sebentuk kuman yang harus dijauhi. Sebentuk aib yang bisa menularkan aib baru kepadanya.
Tuhan, betapa aku merasa terpukul. Betapa aku merasa semakin dijauhi oleh teman lelaki di sekolah. Para perempuan lebih sering mencibir daripada melemparkan senyum kepadaku.
Setamat SMA, aku bertekad tidak melanjutkan pelajaran ke universitas. Bukan karena malas, atau otakku tidak encer. Melainkan pergaulan yang begitu asing dan menakutkanlah penyebab semua ini. Aku amat takut menghadapi realita. Bagaimana kelak aku akan lebih dijauhi daripada didekati sebagai sahabat normal. Kalaupun ada yang berusaha mendekat, pasti mereka naksir dan ingin menodai keperawananku (keperjakaan atau keperawanan terserah pembaca).
Namun akhirnya aku memperoleh pelabuhan terakhir, manakala suatu hari tanpa sengaja mama mengajakku ke salon. Dari bincang-bincang dengan penghuni salon yang rata-rata waria, setahap demi setahap ada semangat di dadaku. Perasaan sendiri dan sepi, lambat laun berubah bahagia. Merekalah yang mengajakku lebih kenal dunia kaum bunglon. Mereka pula yang mengajariku bersikap. Bagaimana mencintai lelaki serta menarik perhatiannya. Para waria itu juga mewanti-wanti agar aku hidup dengan penuh harga diri. Mereka tidak mengijinkanku bertingkah sebagaimana para penjaja seks di Taman Lawang Jakarta.
“Kita ini kaum yang tersisih. Kaum yang terbuang. Tapi kita jangan menunjukkan bahwa kita ini sebenarnya kaum tersisih dan terbuang. Namun tunjukkanlah bahwa kita bermartabat. Caranya, berpacaranlah dengan seorang lelaki saja. Atau menikahlah dengannya. Terserah apa kata orang. Apakah namanya kumpul kebo atau… sudahlah!” nasehat Samantha, pemimpin kaum waria, beberapa bulan lalu. Ketika itu untuk pertama kalinya aku mengikuti pesta ramah-tamah yang mereka beri nama pesta kaum terbuang.
“Baiklah!. Saya akan menjalankan semua aturan hidup seperti yang kamu nasehatkan.”
Mulai hari itu, kutekadkan untuk melepaskan jabatan perjaka menjadi perawan. Tidak perduli bagaimana akhirnya papa melabrakku habis-habisan. Tidak perduli tatkala mama hanya mampu mengelus dada dan menangis setiap kali harus bertengkar dengan papa karena persoalanku. Namun semua harus tegar kujalani. Sampai harus kucing-kucingan dengan papa yang tidak mau menerima semua ini.
* * *
“Kau akan bertunangan dengan Samantha, Binsar?” Mama menatapku heran. Aku melenguh. Kubenamkan kepalaku di belahan dadanya. Kurasakan bagaimana detak jantungnya tidak beraturan. Pasti dia kecewa. Teramat kecewa. Bagaimana mungkin anak lelakinya yang diharapkan menjadi penerus silsilah keluarga, harus bertunangan dengan seorang bencong? Tidak jelas kelaminnya. Tidak lelaki, tapi tidak pula perempuan. Mungkinkah dia mengharapkan momongan dari sepasang insan sejenis seperti kami? Mustahil, kecuali kelak aku dan Samantha memberinya anak hasil adopsi.
Namun ini sudah keputusanku. Jangankan mama, papa pun tidak mungkin menghalangi langkahku. Apapun kelak yang terjadi, apapun yang segera kuhadapi bersama Samantha, itu merupakan resiko. Toh seluruh kehidupan ini memang penuh resiko. Baik bagi mereka yang heteroseks, lesbian, gay atau yang lain. Jadi, mengapa mesti takut? Kaum terpencil seperti kami, pastilah tetap akan terkucil. Karena populasi kami memang sedikit. Tapi bagaimana bila nanti kami menggurita dan menjadi makro, mau tidak mau kami akan memperoleh legalitas sebagaimana pasangan-pasangan normal lainnya.
“Sudah kau pikirkan matang-matang, Binsar?” Mama berharap aku ragu-ragu.
“Ya, Ma! Ini keputusanku!” Mama melemah. Napasnya tersengal. Sementara aku semakin membenamkan kepala di belahan dadanya.
Tiba-tiba terdengar suara ban mobil menggeleser di halaman depan rumah. Pasti yang datang adalah papa. Tubuhku seketika panas-dingin. Tadi pagi, sebelum sampai di kantornya, papa kutelepon mengenai rencana pertunanganku dengan Samantha. Dia hanya mendehem, dan tidak memberi komentar apa-apa. Tapi kutahu dia memendam amarah. Aku hanya menunggu waktu sampai dia pulang dari kantor, lalu melabrakku. Melemparkan kata-kata kotor ke wajahku serupa tahi kerbau.
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, papa sudah berdiri di hadapanku. Matanya yang semerah saga, laksana melompat dari cangkangnya. Dia memegang stick baseball. Dia menghantamkannya keras-keras ke cermin, sehingga terdengar suara “prang” cukup keras. Cermin itu pun retak. Membentuk garis vertikal yang tidak lurus. Kulihat bayangan mama dan aku di dalam cermin seperti penuh luka siletan.
“Inikah balasan atas semua hak dan kewajiban yang telah kuberikan selama ini kepadamu, Binsar? Masihkah telingamu pekak terhadap setiap ketidaksukaanku terhadap makhluk-makhluk bernama bencong, banci, waria!” Dia menudingkan stick baseball sekian sentimeter di depan hidungku. “Sungguh kau benar-benar durhaka.”
“Tapi ini pilihanku!” Aku berdiri menentang papa. Mama bergegas memegang pergelangan tanganku. Dia berusaha meredam emosiku yang menggejolak. “Apapun yang akan papa lakukan, aku tetap pada keputusan semula. Titik!”
Papa memegang dada kirinya. “Minggat kau! Minggat!”
Tubuh papa rubuh ke atas lantai. Penyakit jantungnya kumat. Mama menjerit dan langsung memeluknya. Sedangkan aku hanya terpaku sampai para tetangga berdatangan karena mendengar jeritan mama. Sampai suara sirine terdengar, lalu ambulance membawa papa jauh.
* * *
Aku akhirnya tersenyum tipis. Kutatap wajahku yang pecah-pecah di dalam cermin retak. “Aku tetap akan bertunangan dengan Samantha! Harus!” Aku tertawa kuat-kuat. Terus tertawa sampai berjam-jam. Kemudian menangis sesunggukan sekian jam kemudian.
Pada hari ketiga aku telah berada di dalam sel di rumah sakit jiwa. Cermin yang retak itu tetap setia menemaniku di dinding sel.
“Aku tidak gila………!” teriakku sambil memegang erat jeruji sel. Beberapa orang lelaki berpakain putih dan berkuncit tertawa senang.
“Kamu gila, kamu gila!”
“Aku tidak gila……….!”
SEKIAN