Tukang Cerita dan Tetangganya
Desember 7th, 2006 by lubisgrafura
LELAKI yang salah satu kakinya diamputasi itu duduk di atas batu menatap pantai yang berlatar senja. Setiap gulungan ombak yang dibawa angin ke salah satu telapak kakinya yang tersisa itu seperti sebuah kunci yang membuka satu per satu laci kenangan masa lalunya.
Di dalam serabut-serabut otaknya, masih memancarkan betapa menyesalnya hari itu. Ingin rasanya lelaki itu berlari dengan sebelah kaki menuju ombak yang memintal permukaan laut. Ingin rasanya ia merasakan bagaimana ombak membalikkan perahunya, menyeret dirinya, mengombang-ambingkan tubuhnya, menyumbat nafasnya dari kerongkongannya, hingga membuatnya hancur berkeping-keping. Entah dimakan hiu atau dilempar ombak pada batu karang.
Sepasang mata lelaki itu memandang tajam ke laut yang kejam. Ia membuang tongkatnya yang digunakan untuk menyangga tubuhnya. Ia berlari ke laut. Menjeburkan diri. Memaki ombak, memukul air. Ia tenggelam. Tak ada tanda-tanda lelaki itu akan muncul kembali.
“Boleh aku duduk?”
Kualihkan perhatianku kepada layar note book kepada seorang perempuan yang kini tengah berdiri di samping mejaku. Aku menyilahkan dia duduk. Aku mencoba mengingat-ingat wajah perempuan itu. Barangkali aku pernah menemukan wajah itu yang entah ada dimana.
“Maaf aku mengganggu.”
“Tidak apa-apa, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Saya kenal Mas, tetapi kecil kemungkinannya mas kenal saya”
Aku berfikir sejenak. Pikiranku terbelah menjadi dua. Antara memikirkan perempuan itu dan ceritaku yang belum selesai, padahal di otakku kata-kata tengah meletup-letup, seperti air mendidih.
“Nama Mas, Lubis bukan?”
Aku mengangguk saja.
“Begini, saya pernah baca tulisan Mas yang pernah di muat di sebuah surat kabar di kota ini. Saya sangat tertarik sekali dengan cerita seorang perempuan yang tak berani menatap sepasang mata ibunya.”
Aku mengangguk saja.
“Ohya, nama saya Seili. Ini kartu nama saya. Saya tadi hanya kebetulan mampir di kafe ini dan melihat sampean sedang mengetik. Saya yakin itu pastilah Mas Lubis.”
Aku masih juga mengangguk.
“Aku kepingin dibuatkan cerita tentang diriku, tetapi sekarang saya tidak punya waktu untuk menceritakannya. Bolehkah saya minta nomor yang bisa dihubungi?”
Aku menyebutkan sebuah nomor, perempuan itu menulisnya di sebuah hape terbaru yang kemudian aku tahu bahwa merek hape tersebut adalah Nokia. Ia mengulangi lagi nomor yang ditulisnya, sekedar memastikan nomornya benar. Aku mengangguk, sebagai tanda kalau itu benar.
***
Sepasang mata lelaki itu memandang tajam ke laut yang hampir kelam. Ia membuang tongkatnya yang selalu digunakan untuk menyangga tubuhnya. Mengganti sebelah kakinya yang hilang di terpa karang. Ia berlari ke laut. Menjeburkan diri. Memaki ombak, memukul air.
Ia tenggelam. Lama tak muncul. Di permukaan laut itu, hanya ada riak-riak yang diciptakan gelombang. Sebuah botol plastik bekas minuman mengambang dan hampir terdampar di pasir. Entah berasal dari mana.
Di sisi lain, ada sebuah kepala muncul disertai dengan deru nafasnya yang memburu. Ombak menyeret kembali lelaki itu ke pinggir pantai. Melemparkan di atas pasir.
“Laut, kenapa kau tak hancurkan sekalian tubuhku berkeping-keping. Kenapa tak kau munculkan hiumu untuk memakanku. Kenapa kau hancurkan sampanku dan kenapa kau hanya mengambil kekasihku dari sisiku?”
“Menurutmu kenapa?”
Jariku beku di atas keyboard. Sepasang mataku terpaku pada layar. Sebuah kursor berkerlip menanti kata apa lagi yang hendak kutuliskan.
“Maksudmu kenapa bagaimana?” aku bertanya balik.
“Menurutmu apa yang terjadi dengan istriku itu? Apakah dia sudah bosan denganku, atau memang dia punya lelaki lain?”
“Mungkin kau bisa menjelaskan ulang?”
“Duh Lubis, tutup saja komputermu, dan perhatikan aku. Begini…”
Jadi, lelaki itu curiga terhadap istrinya. Awal ceritanya, lelaki itu selalu ditolak setiap kali hendak melakukan hubungan persebadanan. Katanya, ada saja yang musti menjadi alasan. Istrinya adalah seorang wanita karier yang menjadi kepala dinas pendidikan di kota ini. Mereka tidak memiliki anak.
“Sal, aneh sekali dengan dirimu. Kau cemburu dengan istrimu, kau pikir apa yang dilakukan di luar, sementara sampai sekarang kau masih tidur dengan perempuan lain dengan alasan rapat atau sejenisnya.”
“Ah, itu urusan lain”
“Kenapa lain?”
“Ya, karena istriku. Istriiku tidak mau meniduriku”
“Kukira bukan itu, kau melakukannya jauh-jauh sebelum kau mengeluhkan istrimu!”
“Ah udahlah. Aku pusing. Aku mau ke kantin dulu. Di kantor kepala terasa kendor. Aku error!”
Kutatap kembali kursor yang muncul-hilang-muncul di layar. Lama-lama kursor itu seperti detik bom waktu. Aku menatap dengan rasa ragu. Ia menunggu, tetapi kata-kata dalam otakku tak mau lagi muncul. Kututup komputer dan sebuah telepon berbuyi. Di layar ada sebuah nomr baru.
“Selamat siang Mas?” suara di seberang terasa merdu, pikiranku jatuh kepada seseorang.
“Dengan siapa ini?” aku pura-pura bertanya, sekedar untuk memastikan saja.
“Saya Sisilia, yang dulu pernah bertemu di kafe beberapa waktu yang lalu.”
“Ohya, saya ingat. Ada yang bisa saya lakukan?”
“Bisakah kita bertemu?”
Aku berfikir sejenak. Otakku seperti mencari-cari waktu yang tepat.
“Malam ini saja di kafe biasa!”
***
Ada cerita yang menarik tentang perempuan itu. Ia menceritakannya dengan wajah sendu. Di sebuah kafe itu kami ditemani dua cangkir kapucino. Beberapa kali aku mengamati wajah perempuan itu. Cantik juga, tetapi sayang dia sudah memiliki kekasih, dan aku telah beristri.
“Pernahkah mantan kekasihmu menyentuh payudaramu atau menjilat kelaminmu?”
Ia menceritakan itu dengan nada tinggi. Sepertinya ada api kemarahan dalam matanya. Tapi, api itu tak menyala lama. Sejenak kemudian ia menunduk, mengusap air matanya, dan memandang segelas capucino di depannya.
“Perasaan perempuan mana yang tidak hancur ketika kekasih kita menanyakan hal seperti itu?”
Aku mengangguk. Membiarkan ia bercerita.
“Dari awal aku sudah mencoba untuk jujur kepadanya. Kamipun sepakat. Aku sudah percaya kepada dia sepenuhnya. Tapi, kenapa ia masih juga menanyakan pertanyaan itu. Hal itu tentu saja akan meyulut pertengaran di anatara kami. Kalau ia memang mencintai aku, seharusnya ia juga menerima diriku, masa laluku.”
Aku mengangguk. Membiarkan ia melepas semua deritanya.
“Bisakah Mas Lubis menceritakan ini, kedalam cerpen-cerpen Mas?”
“Aku akan berusaha. Saya sangat berkesan kepada cerita Mbak. Lalu apa yang akan Mbak lakukan?”
“Aku tidak tahu, jelasnya aku akan memutuskan hubungan. Aku tidak bisa bertahan dengan perasaan ini. Hatiku mengatakan takut, jika kamu melanjutkan hubungan ke pernikahan.”
“Mbak yakin?”
“Mungkin dengan agak ragu kukatakan…yakin!”
Pertemuan kami diakhiri dengan tegukan capucino yang kental. Lidahku seperti menelusuri lekuk tubuh perempuan ketika merasakan nikmat capucino. Nikmat tubuh perempuan. Tubuh istriku, tentu saja.
***
Aku sedang duduk di depan tv bersama istri. Anakku berlari membawa sebuah mobil mainannya yang salah satu bannya copot. Ia menyuruhku untuk membetulkannya. Layar tv sore itu tengah menyajikan berbagai berita tentang penjarahan hutan.
“Kau tidak menyelesaikan ceritamu?” tanya istriku.
“Aku tidak tahu, entah kenapa aku masih ragu!”
“Mungkin ada yang bisa aku bantu?”
“Kau sudah cukup banyak membantuku sayang”
Aku mengecup kening istriku. Berita di tv berganti dengan berita-berita pembunuhan. Aku menyruh istriku untuk mematikan tv. Malam belum terlalu larut, tetapi entah ada perasaan yang membawa kami masuk ke dalam kamar.
“Aku akan menidurkan Raf sebentar”
Aku mengangguk. Kulihat istriku tengah membacakan sebuah cerita Thumbelima, yaitu makhluk bertubuh kecil yang berkencan dengan katak, lalu jatuh cinta pada bunga peri. Dan otakku berfikir bahwa itu adalah sebuah cerita milik Hans Christian Andersen.
Aku menunggu istriku sambil menulis cerita. Melanjutkan cerita tentang seorang lelaki yang salah satu kakinya teramputasi dan mengutuk laut.
“Laut, kenapa kau tak hancurkan sekalian tubuhku berkeping-keping. Kenapa tak kau munculkan hiumu untuk memakanku. Kenapa kau hancurkan sampanku dan kau ambil kekasihku dari sisiku? Tak cukupkah satu kakiku untuk persembahanmu?”
Lelaki itu menangis. Air matanya terasa asin. Ombak mengulum pelan. Seolah lautpun merasa terharu, tetapi apa pulalah daya laut. Semuanya telah teratur sempurna. Alam tak punya kehendak, alam hanya menjalankan perintah.
Matahari yang terbit, angin yang berhembus, laut yang pasang surut, semuanya telah tunduk dalam kitab alam yang digariskanNya. Pun sebagai manusia, seharusnya sadar apa yang musti dilakukan. Mereka adalah insan yang musti menjalani perintah yang diberikan Tuhannya.
Otakku kembali meletup-letup. Tiba-tiba pintuku didodok dan tetanggaku muncul. Ia minta diriku untuk menggantikan berjaga, padahal bukan giliranku. Alasannya, istrinya yang sakit. Aku berfikir sejenak antara ia dan tidak. Antara menerima dan menolak.
Kupersilakan masuk, aku menjemput istriku di dalam kamar. Aku tak lagi memperhatikan kursorku yang hilang-muncul-hilang di layar menanti kata apa lagi yang musti kuketikkan.
Malang-Blitar-Malang, Akhir Juli 2006