Perempuan Penghuni Kuburan
Desember 7th, 2006 by lubisgrafura
KAMI berempat tengah bermain domino di sebuah gardu ketika dua orang berwajah pucat berlari ke arah kami sambil berteriak minta tolong. Salah satu dari mereka pingsan, sedang satunya mencoba menjelaskan sesuatu yang kami sendiri tak mengerti. Keringat sebutir jagung menggantung di wajahnya dan membasah di rambutnya.
“Kami melihat hantu!” kata lelaki itu “Hantu yang berwujud wanita tua, wajahnya penuh dengan keriput. Hantu berkerudung itu berjalan diantara nisan sambil membawa lilin”
“Dimana itu?”
“Di sana. Di kuburan orang-orang China.”
Mulai saat itulah kuburan pecinan di seberang sana makin banyak dibicarakan. Entah benar adanya atau tidak, tetapi cerita itu makin menarik saja. Dan ini membuatku semakin tertarik untuk meneliti lebih jauh. Secara diam-diam, aku mencoba merekam pengakuan orang-orang kampung yang pernah melihat hantu itu.
“Pak Wakijan, tolong jelaskan bagaimana ceritanya?”
Pak Wakijan adalah orang kampung yang sarat akan cerita-cerita mistik. Lelaki tamatan SD ini sering bercerita di warung soal masa mudanya yang pernah nyepi di pinggir kuburan, biasanya meminta nomor. Berbagai setan, katanya, pernah ia temui.
“Saat itu saya sedang pulang dari menantu yang baru saja melahirkan”
Sebenarnya lelaki yang kini sedang memesan kopi pahit ini sering bercerita tentang setan dan membuat pengunjung warung bosan. Ada yang berpendapat ia suka ngibul. Tetapi sebagian ada yang membenarkan omongannya. Ah, apapun lah pendapat orang mengenai dia. Paling tidak saya bisa mendapatkan informasi mengenai hantu yang pernah ditemuinya.
“Jadi, Pak Wakijan saat itu sendirian?” Tanya salah satu pengunjung warung.
“Betul. Saya sedang sendirian. Eh, tiba-tiba sepeda saya kempes bannya. Ya terpaksa saya tuntun to?”
Sebenarnya dari awal cerita saya sudah bisa menbak kelanjutan cerita itu. Jika mau dikaji ulang, sebenarnya cerita yang pernah diceritakan Pak Wakijan tidaklah jauh berbeda dari cerita-cerita sebelumnya. Kalau tidak bannya kempes beberapa meter di samping kuburan, ya mungkin lampunya mati. Dan dari dulu, settingnya selalau saja di kuburan. Tetapi terlepas dari itu, saya mengakui bahwa Pak wakijan adalah pencerita lisan yang hebat. Bahkan pendengar dibuatnya seolah-olah melihatnya sendiri. Persis ketika saya membaca buku Goosebumb karya R.L Stein.
“Ketika pas di depan kuburan, ndelalah ban sepeda saya tidak mau menggelinding. Saya bilang saja, tolong jangan ganggu saya. Saya ndak pernah punya niat ngganggu situ. Begitu kata saya. Saat saya menoleh eh, saya melihat seorang perempuan tua dengan wajah pucat membawa api yang keluar dari ujung bambu. Ya, saya terus berjalan saja”
“Nggak lari?”
“Ndak. Saya sudah biasa kok melihat yang gituan. Malah pernah melihat yang tanpa kepala.”
Selanjutnya, data kedua, saya peroleh dari sepasang suami istri yang suatu malam mereka juga sedang lewat depan kuburan China tersebut. Istrinya yang saat itu tengah dibonceng berteriak karena di kejauhan melihat kerlap cahaya yang berjalan menuju ke arahnya.
“Cahaya itu seperti berputar-putar” jelas istrinya “saya melihat tangan yang dilambaikan ke arah saya”
“Saya saat itu tak melihat apa-apa” tangkis suaminya.
“Lha saat itu sampean tak kasih tahu diam saja. Sampean menoleh pas cahaya itu hilang, ya jadi sampean tidak melihatnya” istrinya menjelaskan.
Seorang dukun yang terkenal di kampung kami pun membenarkan keadaan itu. Kejadian itu, katanya, adalah sebuah pertanda bahwa sifat manusia sekarang sudah kelewat batas, sehingga mengusik ketenangan alam lain. Banyak orang yang tidak lagi mau membawa sesajen, selain itu banyak orang yang kini tidak lagi peduli dengan sesamanya. Bahkan, kata dukun itu menambahkan, munculnya makhluk-makhluk gaib seperti itu adalah jelmaan rakyat kecil yang meninggal dan arwahnya gentayangan, karena semasa hidupnya diperlakukan semena-mena dan hak-haknya diabaikan oleh pejabat. Kini, mereka menuntut balas.
Mbah dukun menjelaskan juga apa yang harus dilakukan oleh penduduk kampung sekitar. Ada dua hal yang harus segera dilaksanakan agar kejadian ini tidak semakin rumit. Pertama, penduduk kampung harus memberikan sesajen dan membawakan kembang setaman setiap malam Jumat. Kedua, pejabat-pejabat yang semena-mena dan mementingkan diri sendiri harus segera berbenah.
“Ya tentu saja ada benar dan ada salahnya”
Itulah jawaban yang saya dapat dari seorang kiai. Bukan maksud saya mengadu pendapat kedua tokoh masyarakat ini, melainkan hanya menginginkan pendapat dari beberapa sumber saja. Jelas-jelas pendapat mereka berbeda. Kalau pendapat pribadi saya, tentu saja saya lebih sepakat dengan Pak haji.
“Ada benarnya apa yang dikatakan dukun itu” kata Pak haji “sekarang ini banyak manusia yang sudah lupa dengan penciptanya. Manusia makin sombong dengan apa yang dimiliki. Kalau kita disuruh nyembah golongan jin atau setan itu tidak benar. Iblis saja di suruh sujud kepada keturun Adam, kok kita malah menyembah iblis?”
***
Aku semakin kewalahan mengumpulkan data, karena hampir seluruh kampung memiliki cerita masing-masing yang ingin di sampaikan. Ada beberapa cerita yang menurutku berlebihan. Tetapi itulah kenyatan yang berkembang di masyarakat. Kita tidak akan mempu mengubah apa yang diyakini masyarakat kecuali kita bisa menunjukkan logika dari kejadian yang sebenarnya. Dan itu yang ingin saya lakukan.
Secara garis besar ada beberapa hal yang menjadi data signifikan mengenai cerita hantu tersebut. Pertama, hantu perempuan tua berkerudung yang membawa lilin. Kedua, kebanyakan pengakuan orang-orang mengenai kemunculannya adalah selepas isyak, sedikit sekali yang melihatnya selepas maghrib. Ketiga, perempuan itu selalu memakai baju warna kuning. Terakhir, sering muncul pada malam Jumat.
Menurutku, data-data itulah yang akurat, sedangkan cerita-cerita semacam perempuan itu pernah mematahkan kepalanya, terbang, menghilang tiba-tiba, muncul bersama pocong dan sundal bolong bahkan menjelma menjadi gadis cantik adalah sesuatu yang mustahil bin mustahal. Atau dengan kata lain, tidak bisa dikatakan sebagai data signifikan.
Malam nanti, aku membutuhkan seorang rekan untuk membuktikan ke kuburan apakah kejadian itu benar atau tidak. Mendokumentasikan kalau perlu. Kebetulan malam ini adalah malam Jumat. Kudatangi temanku satu persatu yang sekiranya memiliki potensi untuk kuajak.
“Ah, kamu sudah gila. Aku tidak mau mati sekarang. Aku belum menikah” Kata Himawan, sahabatku sekelas ketika SD dulu.
“Aduh, tidak ah. Saya tidak bisa ikut yang gituan” kata Ramli, tetanggaku.
“Lha daripada tarung sama setan, mending saya tarung sama preman” jawab Bongkeng, mantan preman kampung.
Setelah mendatangi satu per satu dan tidak mendapatkan rekan, kuputuskan bahwa malam ini aku akan berangkat sendirian. Aku tak peduli apa yang akan terjadi nanti, tetapi aku hanya ingin meluruskan kenyataan yang sebenarnya. Terlebih perkataan mbah dukun, bahwa kita harus menyembah golongan jin atau setan.
***
Sore merangkak menyisakan senja di ufuk barat, sedang langit di atasku seolah menjadi kelam penuh lubang bintang. Seusai maghriban di mushola, aku mengambil ransel berisi kamera digital dan walkman.
Sepasang kakiku kini berdiri di depan gerbang kuburan. Kakiku gemetar tanpa sadar. Cerita-cerita yang pernah kucatat seperti mencuat, membisik, lalu melumpuhkan nyaliku. Tetapi bagaimanapun aku harus tetap melangkah.
Lantas, ketika langkahku terhenti di tengah kuburan, senter di tanganku padam. Kupukulkan ujung senter ke lenganku. Menyala. Semangatku semakin terbakar ketika aku mengingat perkataan Pak Haji. Kulayangkan pandangan ke penjuru kuburan. Senter tiba-tiba padam lagi.
Kuambil sebatang rokok dan kusulut ujungnya, untuk menghilangkan panik. Aku menunggu hantu itu sambil melihat nisan di depanku yang bertuliskan huruf China. Ini mengingatkan masa kecilku yang tertarik sekali menulis dengan huruf China. Bahkan, dulu aku sering membuat coret-coret yang melukiskan huruf China di buku catatanku.
Angin berhembus mengusap tengkuk leher. Pucuk-pucuk pohon seperti tangan yang sedang melambai. Tak ada yang dapat terdengar oleh sepasang telingaku lagi selain detak jantung, yang memberi isyarat bahwa aku adalah satu-satunya raga yang hidup di tengah kuburan.
Aku melihat cahaya merambat. Di belakangku seperti ada seseorang membawa cahaya mendekat ke arahku. Bayanganku terbentuk pada nisan di depanku. Cahaya itu berhenti. Aku memastikan bahwa di belakangku kini berdiri seseorang, atau tepatnya sesuatu.
Senter yang berada di tanganku jatuh di samping kakiku. Aku menatap cahaya yang merambat lagi. Sepasang mataku masih menatap nisan, sambil sedikit melirik ke samping kanan. Aku tak berani menoleh ke belakang. Aku melihat sepasang tangan keriput mengambil senter di sampingku.
“Mm…mbah, ma…maafkan saya yang lan…lancang.”
Aku tak mendengar ada jawaban. Perempuan tua itu tiba-tiba menampakkan wajahnya di sampingku.
“Sssetaaaan, Toloooong!”
Aku melihat wajah perempuan keriput berkerudung yang memakai baju cokelat.
“Setan itu tidak ada”
Aku tercengang. Suaraku beku di tenggorokan. Perempuan tua itu memberikan senternya kepadaku. Ia membawa sebuah botol bekas minuman yang di tengahnya ada kain sebagai sumbu. Aku melihat kakinya, kakinya menyentuh tanah.
“Aku tadi baru saja mengambil wudlu,” kata perempuan tua itu “sampean kenapa malam-malam dikuburan?”
Aku pingsan
***
Aku melangkah dengan sisa kaki yang masih gematar. Dan pelupuk mata yang sembab. Ada cerita yang ingin kusampaikan kepada orang kampung bahwa perempuan itu bukan hantu. Dia adalah penghuni kuburan itu. Sebelumnya ia pernah tinggal di lingkungan kumuh di pinggir kota, tetapi sat pol pp telah merobohkan rumah satu-satunya dengan alasan penertiban. Perempuan tua yang bekerja sebagai pemulung itu tida memiliki siapa-siapa lagi. Pernikahannya dengan almarhum suaminya tak memberinya seorang pun anak.
Aku terus melangkah. Ingin rasanya segera kusampaikan berita ini. Tetapi kepada siapakah aku harus menceritakannya terlebih dahulu?
Bengkel Imaji Malang, Oktober 2005