KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kerudung Untuk Ibu

Bangun jam empat pagi, sembahyang subuh, menanak beras (bukan nasi) dan kadang memasak buat sarapan. Sambil menunggu matang, diselingi membilas cucian dan perkakas bekas makan malam kemarin. Tepat sebelum kedua jarum jam berhimpit di angka 6, semua telah tersedia.

Habis itu berangkat kerja sebelum setengah delapan pagi, “Biar ndak dianggap absen”  katamu. Ketakutan anak TK !

Ibu, tidakkah engkau bosan melakukannya setiap hari ? Bukankah mandi tak harus pukul 4 pagi dan pagi tak musti disertai sarapan ? Tapi seperti matahari yang memata-matai hari, engkau abadi. Seperti pagi dan senja yang selalu sama setiap hari. Tidak peduli pagi dan senja di Bombay atau di sini.

Dan jawabanmu tidak berubah (meski bagiku menyebalkan): “Inilah irama hidupku.” Sampai demikiankah pekerjaanmu mencetak mentalmu ? Itu hanya berlaku untuk ayam lehorn, Ibu, bukan untuk manusia.

Kemudian kau seperti membaca pikiranku, “Jangan anggap remeh pegawai kecil sepertiku.”

Ah, apa yang kau dapat selama separuh umurmu kini ? (tiga hari lalu ibuku genap setengah abad lebih empat tahun). Pangkatmu belum juga beranjak dari angka 2 (seperti IPKku). Kau lebih sering makan hati, bukan ?

“Pegawai negeri adalah pahlawan. Kerjaku adalah pengabdian” ujarmu membohongi aku.

Dengar, perempuanku tercantik, aku bisa kau bohongi tapi tidak dirimu sendiri. Bukankah kau mengajariku untuk tak berbohong ? Bohong bapak moyangnya dosa. Persis tempat kerjamu itu, yang katanya dinas terbasah nomor 2 di negeri ini, tak lebih dari sarang kebohongan, bukan ? Kau pun tahu itu, dan sekali lagi kereta angin itu kau bawa serta ke sana. Kalian sahabat setia, sepasang kekasih bahkan. Lalu apa aku bagimu ?

“Kau tetap anakku yang paling ganteng dan kusayangi ” ujarmu lembut sembari mengusap kepalaku sesekali. Jangan merayuku, Ibu. Aku satu-satunya anak lelakimu, “bahkan kau yang paling ganteng di rumah ini.”

Persetan ! Lalu suamimu, ayahku, kau kemanakan ?

“Lho, bukankah bagimu ia telah lama mati ? Kau lupa ? ”

Oh ya, aku ingat sekarang, di rumah ini hanya ada ibu dengan 2 anak gadisnya, aku sendiri (sekali lagi aku masih anaknya), dan seorang lelaki yang menemani ibuku sejak sebelum kelahiran kakakku yang pertama. Surat nikah menyatakan usianya terpaut 3 tahun dengan ibuku, dia lebih muda tapi lebih tak bertenaga.

Aku tak membenci lelaki itu, sungguh. Aku hanya ingin sesekali menendang bokongnya seperti aku menendang bokong banci, atau menyunatinya untuk ke-2 kalinya, biar dia sadar sudah saat baginya untuk dewasa. Lagi pula dia ada atau tak ada sama saja bagiku.

Bayangkan, dia masih dibuai mimpi saat 4 penghuni rumah kontrakan ini berangkat mencari nafkah (bagiku, selain hiburan, sekolah juga mencari nafkah). Saat kami satu per satu pulang, dia tak ada. Katanya dia kerja, padahal setahuku hanya nongkrong di balik etalase sebuah toko emas. Dia pulang pas adzan asar berkumandang, kembali berangkat kerja saat si imut Dulce Maria mulai beraksi di televisi, kemudian kembali pulang 2 jam sebelum kedua jarum jam berhimpit di angka 12.

Itulah saat baginya untuk belajar mandiri. Buka pintu sendiri, bikin minum sendiri. Tak ada pelayanan untuknya karena kami memang bukan pelayannya. Mengantuk adalah alasan yang cukup rasional. Dia (harus) cukup mafhum. Yah, hitung-hitung balasan yang setimpal bagi mereka yang menghabiskan gaji di meja judi hampir seumur hidupnya.

Lalu kapan kami ngobrol dan beraruh sapa ? Ngobrol ? Aruh sapa ? Apa itu ? Tak ada kata itu dalam kamusku. Kebiasaan membuat kami enggan untuk mencari kata itu, apalagi menerapkannya, meski kadang ada rindu untuk bertanya, “Apa kau sudah makan ? ”. Apakah itu termasuk kategori beraruh sapa ?

Lelaki itu…ah, aku malas membahasnya, hanya menambah masalah saja, yang pasti ia lebih kerap membuat pertengkaran dengan ibuku.

Dan Ibu, tidakkah kau bosan bertengkar ? Apa sebab pertengkaranmu ?     Uang  ?

Kami, anak-anakmu, merasa cukup dengan pemeliharaanmu. Kau cukup merasa bersyukur, bukan ? Bahwa aku mengikuti jejakmu menjadi satu-satunya mahasiswa bersepeda ontel di kampusku selama 4 tahun ini. Rekor yang belum terpecahkan. Sebuah prestasi yang membanggakan.

Ibu, kau lebih hebat dalam hal manajemen daripada para pakar di kampusku. Harusnya kau mengajarku di matakuliah itu, meski kau tak selalu se-sumringah dosenku yang kebanjiran proyek (salah satu ciri dosen yang tak kebanjiran proyek ialah tak sumringah). Kau bukan hanya cerdas, tapi juga sabar dan sumarah. Dua hal yang banyak dilalaikan saat ini terutama oleh para pegawai negeri eselon I dan II.

Katamu mereka itu cenderung bertambah gemuk, berkebalikan denganmu. Padahal pola kerja kalian sama, bahkan menurutmu etos mereka rendah (apalagi etisnya). Itulah sebabnya, jalan karir mereka mulus semulus jalan tol, dan hanya mobil yang pantas berlalu di mulusnya jalan tol, bukan sepeda.

Sepeda dilarang keras ikut di jalur tol, kalau tak mau terlindas arus kendaraan yang lebih cepat. Kau sering menceritakan teman-temanmu, yang sekelas denganmu, akhirnya bernasib mengenaskan bukannya mengesankan karena mencoba jalur mereka : mengeruk insentif yang intensif secara instan. Sedangkan dari sedikit yang bertahan, termasuk dirimu, telah disediakan pilihan: bungkam, gila, bunuh diri.

Ibu, di rumah ini anak-anakmu hanya bisa menyediakan kuping bagimu. Kami rela bebanmu di kantor kau lampiaskan pada kami. Itu tak jarang, tapi kami maklum.

Sekali waktu kau mengeluh kuatkah bertahan? Duhai, Ibu, jangan bercanda. Kau tetap bukan kelas mereka. Tapi di jaman sekarang, hanya orang gila yang menolak uang yang tak jelas ujung pangkalnya, begitu bukan? Kau termasuk gila.

“Aku harus bagaimana, Nak ? ” keluhmu setiap predikat sok suci itu disematkan padamu, “kebutuhanmu semakin banyak, sementara bapakmu… ” Hentikan, Ibu ! Jangan sebut namanya. Lelaki itu, kenapa mesti ada ? (aku membayangkan kelahiranku dari partenogenesis).

“Dia tetap bapakmu, Ngger. Kau darah dagingnya. Tak tersisakah tempat di hatimu untuk rasa berbagi dengannya ? Sampai kapan kebencianmu yang boleh jadi sementara itu menggumpal di sana ?” engkau mulai merajuk, “eman-eman sujudmu. Jangan kau tambah bebanku, Le”, protesmu membela lelaki yang tak kunjung menceraikanmu. Ibu, bukankah keutuhan tak berarti selalu bersama ? Engkau memang tak berjodoh dengan lelaki itu, Ibu. Engkau hanya berjodoh dengan kesabaran.

***

Ibu, hari ini kau tampak cantik dan anggun. Lebih cantik dan anggun dari biasanya. Sejak seminggu yang lalu aku melihat dari matamu kehidupan dan cinta yang bertumbuh, meski tubuhmu semakin rapuh.

Ada yang berubah.

Tiba-tiba ada kelengkapan yang kudambakan.

Kerudung itu. Ya, kerudung yang kami belikan dua minggu yang lalu kini telah berpadu dengan baju kurung. Kau kenakan setiap kerja. Kau tak lagi sering mengeluh meski kau tetap dianggap gila. Tapi karenanya uang siluman itu menjauh darimu. Dan kami melihat sosokmu yang baru. Lebih tegar melangkah di sisa usiamu.
Bulaksumur, April 2005
Ndak   : Tidak

Sumringah  : Cerah ceria

Sumarah  : Tulus Ikhlas

Ngger (Jawa halus) : Nak

Partenogenesis : Terjadinya embrio tanpa pembuahan

Eman-eman  : Disayangkan, sia-sia

Le (Jawa)  : Nak (laki-laki)

Tinggalkan Komentar