Gadis Berambut Panjang dan Sebilah Pedang
Desember 7th, 2006 by lubisgrafura
SEBILAH pedang itu menancap tepat di jantung lelaki di depannya. Ia bersimpuh dengan darah yang deras mengalir di dada. Perempuan yang menghujamkan ujung pedang ke dada lelaki itu menarik langkah kebelakang. Lelaki itu tersenyum bangga. Sementara itu asap berkepulan, mayat-mayat bergelimangan. Tombak, mata anak panah, dan pedang menancap di atas tanah yang berlumur darah.
Di atas langit sana senja memerah. Terompet perang di kumandangkan. Tanda sebagai perang yang telah usai. Burung bangkai terbang merendah untuk berpesta menghabiskan santap sebelum malam gelap.
Perempuan berambut panjang itu menarik pedang yang telah dihujamkannya. Kedua matanya nanar menatap sebongkah mayat yang samar oleh senja.
“Banyak prajurit kita yang tewas. Kami menungu perintah selanjutnya!” kata salah seorang prajurit.
“Tinggalkan tempat ini. Ohya, aku ingin kau membawa kepala mayat di depanku itu.”
“Siap laksanakan!”
Dan medan perang itupun berubah menjadi suasana lenggang. Suara ramai hanya oleh pesta burung pemakan bangkai. Diiringi oleh melodi sayu sang bayu. Langit menggambar kelam. Bintang engan bersinar. Kepulan arang tampak gamang dan serigala-serigala akan seegra turun dari bukit untuk berpesta.
***
“Kau seharusnya bergabung dengan kami.”
Kalimat lelaki itu terus mengiang di telinga Ningrum. Ia berjam-jam di depan cermin menatap kedua rambut panjangnya yang tergerai di dada. Sesekali ia melihat dadanya yang subur di balik baju perangnya. Kalimat yang mengiang itu membuat merah daun telinganya
Betapa kontrasnya dengan satu tahun lalu. Lelaki yang sama mengatakan bahwa rambut panjangnya seindah gulungan ombak di samudra. Ningrum tersenyum.
Pertemuan pertamanya adalah ketika Ningrum mengejar buruannya di hutan dengan kuda. Ketika itu Kakang Mas Prabowo yang juga tengah berburu dengan beberapa pengawal melihat seorang perempuan cantik yang mengendarai kuda. Lantas, Kakang Mas mengejarnya. Dan dari pandangan pertama itu, terjalinlah kata-kata yang mengawali pertemuan mereka.
Saat ini Ningrum masih berada di depan cermin dengan pakaian perang. Ia telah mempersiapkan jiwa raganya untuk mengabdi kepada negara. Memperebutkan hak-hak rakyatnya. Kalaupun ada penghalang di depan, ia bersama kduanya akan melewatinya. Dan itu adalah janjinya!
“Kau akan bahagia bersamaku.”
Ningrum tahu, apalah artinya kebahagiaan jika kebahagiannya itu tidak bisa dinikmati oleh banyak orang. Betapa rakyat yang tertindas oleh kesewang-wenangan segolong orang. Apalah arti bahagia jika ia masih melihat penderitaan di mana-mana. Apalah artinya bahagia? Ningrum hanya bisa menikmati kebahagian jika ia berbagi dengan orang lain.
“Beradalah di pihakku.”
Ningrum telah menyanggul rambut panjangnya. Ia memolesi wajahnya dengan arang. Ia masih juga teringat dengan jemari lembut Kakang Mas Prabowo yang senantiasa membelainya dan mengatakan bahwa lembutnya awan tak akan pernah menjadi selembut kulitnya.
Bibir Ningrum terkatup rapat. Ada bara di sana. Bara yang membakar tubuh dan jiwanya.
“Berarti kau berada di pihak musuhku.”
Ningrum menutup rapat kedua pintu hatinya. Membakar api jiwanya. Menyulut dendam. Ningrum ke luar dan para prajurit menunggu perintahnya.
“Kita menuju medan perang sekarang!”
Sementara itu, istri-istri dari prajurit yang akan berperang memeluk suaminya dengan erat. Seorang perempuan dengan bayi yang tenggelam di dadanya menangis melepas suaminya pergi.
Ningrum tak bisa berbuat banyak.. Baginya melawan penindas hanya bisa dilakukan dengan kekerasan. Ketegasan! Orang-orang macam ini tak bisa dibiarkan. Mereka tak akan mempan oleh sindiran atau sebatas pembicaraan.
Ningrum bersama 350 prajurit menuju medan penghabisan. Di seberang sana ada pasukan yang tak kalah banyak dari pasukan Ningrum. Kakang Mas Prabowo mengendarai kuda paling depan. Di samping kiri dan kanannya ada pengawal yang membawa bendera.
Masing-masing dari pasukan mengirimkan satu prajurit untuk maju ke depan. Satu prajurit itu berperang di depan disaksikan oleh dua pasukan, kemudian jika salah satu dari prajurit itu mati, maka perang segera dimulai. Dan pasukan dari Ningrum menang. Peluit perang sudah tertiup. Syair-syair perang sudah dikumandangkan. Perang telah bertandang.
Masing-masing pasukan saling menghujam tombak. Lagit mendung, mengucurkan hujan anak panah api. Tanah basah oleh darah.. Genderang membakar perang. Ningrum menatap mata Kakang Mas Prabowo. Mata itu masih seteduh ketika ia melihatnya pertama kali.
Di atas kuda mereka bertemu lagi. Kali ini bukan karena pandangan pertama, melainkan perang. Perang yang sebenarnya. Dua kuda itu masing-masing berjalan mengitari. Ningrum mengayunkan pedang yang selalu ditangkis oleh Kakang Mas Prabowo. Dentingan dua besi itu menyayat hati. Hingga pada suatu ketika Ningrum harus terjatuh dan Kakang Mas berdiri di sampingnya dengan pedang yang siap dihunuskan ke tubuhnya.
Namun, semua itu sungguh berada di luar dugaan Kakang Mas prabowo. Ningrum selalu memiliki banyak kesempatan. Ia meraih pedang yang berada di sampingnya. Dan Ningrum melemparkan pedang itu. Kakang Mas Prabowo takhluk. Bertekuk lutut dengan sebilah pedang yang menancap tepat di jantungnya.
Di atas langit sana senja memerah. Burung bangkai terbang merendah untuk berpesta menghabiskan santap sebelum malam gelap.
Kediri, 25 Maret 2006