Biarkan Aku Lihat Lautan Itu
Desember 6th, 2006 by katresnanku
Aku adalah seekor ikan teri, yang hidup bersama ikan teri yang lain. Kami bangsa ikan, dari dulu hidup di laut, dan menurut kakekku itu merupakan suatu keharusan. Aku tak pernah mengerti mengapa keharusan-keharusan itu mendarah daging turun-temurun.
Aku sering mendengar ikan-ikan berbicara tentang laut, namun aku sendiri belum mengerti, apakah laut itu ?
“Bapak, apakah dari dulu engkau hidup seperti ini ? “ tanyaku kepada bapakku yang berenang di sela-sela batu karang.
“Apa maksudmu, Nak ?” sahutnya.
“Iya, apakah engkau, juga aku, termasuk semua ikan, harus hidup di laut ?”
“Kenapa engkau tanyakan sesuatu yang sudah pasti, Nak ?”
“Bagaimana Bapak tahu itu sudah pasti ? Apakah Bapak pernah membuktikannya ?” sanggahku.
“Membuktikan apa, Nak ?”
“Tentu saja membuktikan kalau kita, bangsa ikan, memang harus hidup di laut” aku mencoba menjelaskan.
“Yah, bapak belum mengerti apa yang kau maksudkan. Tapi bukankah kita sekarang hidup di laut ? Jika yang engkau maksud dengan pembuktian itu adalah mengerti, bapak memang belum mampu membuktikannya padamu, Nak. Bapak hanya diberitahu oleh kakekmu, dan kakekmu, sebagaimana ikan teri yang lain, diberitahu oleh moyangmu dulu. Tapi mengapa kau tanyakan itu, Nak ?”
Aku membisu seraya mengikuti haluan kelompok ikan teri dimana bapakku berada.
“Bapak, apakah laut itu ada ?” tanyaku kemudian.
“Hua haa ha haa..ap..apa yang kau tanyakan, Nak ? Laut ? Tentu saja ada, laut tempat kita hidup. Sangat lucu sekali bila kau tanyakan…Laut ?” jawab bapakku diiringi derai tawanya hingga punggungnya bongkok, dan aku benci itu. Lebih-lebih ikan teri yang lain juga berlaku demikian, bahkan samar-samar kudengar ada yang meragukan kewarasanku. Dan harus kalian tahu bahwa aku sangat waras, atau mungkin lebih waras dari kalian semua !
“Tapi, Bapak, aku sepertinya belum merasakannya.”
“Engkau jangan konyol, Nak. Mengapa engkau perlu tahu sejauh itu ? Apa untungnya bagimu ?” sahut bapakku ketus.
“ Nak, bapak sangat sayang padamu. Begitu juga emakmu, dan seluruh ikan teri di sini. Jangan kau tanyakan itu lagi, Nak. Pertanyaanmu itu sangat menganggu kententraman hidup kami. Sudahlah, Nak. Jalani saja hidupmu sebagaimana bapakmu, emakmu, dan teman-temanmu yang lain.”
Aku mulai meragukan semuanya. Bahkan diriku sendiri. Hanya satu yang tidak aku ragukan: bahwa aku sedang ragu !
Keadaan ini mulai membuatku muak dan bosan. Aku ingin keluar dari kumpulan ikan-ikan tidur ini. Tetapi, aku masih juga takut berpisah darinya. Kami berenang kembali mengikuti haluan kelompok, namun tak kulihat lagi keceriaan di dalamnya.
“Bapak, aku mohon jawablah untuk sekali ini saja” pintaku.
Bapak tiba-tiba berhenti, juga para ikan teri yang lain. Mereka menatapku dengan pandangan penuh kekhawatiran dan ketidaksukaan.
“Apa yang akan kau tanyakan lagi, Nak ? Sekali lagi Bapak peringatkan, jangan buat kegemparan di kumpulan ikan kecil ini, atau…. engkau harus keluar dari kumpulan ini, mungkin untuk selamanya.”
Ancaman bapak terasa berat dan menyakitkan. Namun aku tak punya pilihan. “Bapak, maafkan aku. Tapi aku tak dapat memendam kegelisahanku ini. Kalau memang Bapak dan yang lain tidak dapat menjawabnya, tolong beritahukan padaku ke mana aku harus mencari jawaban. Dan itu akan kulakukan meskipun….meskipun aku harus berpisah…”, seketika perasaanku meledak. Kuputusan sesuatu yang mungkin bagi ikan lain adalah gila.
“Baiklah, Nak. Kalau itu memang keputusanmu, kami tak dapat memaksa, meskipun kami sebenarnya sangat menyayangimu. Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan, kami akan mencoba membantumu” kata bapakku memecah keheningan kumpulan ikan teri ini, dan aku melihat wajah mereka yang penuh rasa was-was menunggu pertanyaanmu.
“Bapak, sebenarnya apakah laut itu ? dan apakah kita memang butuh laut untuk hidup ?”
Tiba-tiba bapakku menangis, juga para ikan teri yang lain. Di sela isaknya, ia berkata, “Nak, maafkan Bapak. Bapak tidak mampu menjawabnya. Cobalah engkau bertanya pada makhluk lain di luar kumpulan ikan ini. Dan itu berarti…” bapak tak dapat melanjutkan kata-katanya, tapi aku paham.
“Bapak, masihkah pintu ini terbuka kembali untukku kelak?”
“Bapak harap begitu, Nak. Saat engkau hadir kembali.”
“Bagaimana jika pintu ini sudah tertutup ?”
“Bapak harap engkau sudah berada di dalamnya” jawab bapakku seraya meninggalkanku diikuti ikan teri yang lain, dengan tatapan sedih dan penuh harap suatu saat aku akan kembali.
Kini aku sendiri, namun aku merasakan kebebasan di dalamnya. Satu yang tersisa dalam diriku, yaitu: kegelisahan ! Kegelisahan yang mungkin bagi ikan lain adalah gila, tapi tidak bagiku. Apakah salah jika aku hanya mempertanyakan laut ? Dan apakah tak semua tanya punya jawab ? Entahlah.
***
Telah lebih dari satu purnama dan kegelisahanku tak kunjung reda. Selalu tak ada jawaban meski hampir setiap ikan aku tanyai. Tiba-tiba kulihat Ikan Paus. Makhluk terbesar dalam bangsa ikan. Kuhadang dan aku tanyai dia.
“Hei, Ikan Paus. Berhentilah sebentar.”
“Hmm… ada apa, sobat kecilku ?”
“Tidak keberatankah kau ? Aku mau bertanya padamu.”
“Ho ho ho… tentu saja tidak. Apa yang akan kau tanyakan ? Apakah kau tersesat ? Apakah barangkali engkau kehabisan makanan ?”
“Tidak. Tidak untuk itu aku bertanya”
“Jika begitu apa yang akan kau tanyakan?”
“Mmmm… begini, aku ingin bertanya padamu tentang laut.”
“Tentang laut ? Apa maksudmu ?”
“Aku sering mendengar ikan-ikan berbicara tentang laut. Tapi aku tak mengerti, apakah laut itu ?”
“Krk… krk… krk ..Laut?”
“Hei, mengapa kau tertawa, apanya yang lucu?”
“Tent..tentu saja pertanyaanmu, Ikan Mungil. Pertanyaanmu itu lucu. Kau bertanya tentang laut ? ..krk..krk”
“Diam! Aku tak butuh cemoohmu. Lekas jawab, Ikan Tambun!”
“Heh.. heh.. jangan marah, Sobat. Seumur hidup baru kali ini aku mendapat pertanyaan seaneh ini. Tapi baiklah aku akan mencoba menjawabnya. Laut… Yah tentu saja tempat di mana engkau dan aku sekarang ini berada. Ia meliputi kita dan ia juga berada dalam diri kita. Laut yang memberi kita kehidupan dan di laut pula nanti kita akan mati.”
“Dan apakah engkau merasakannya, Ikan Paus?”
“Merasakan laut ? Ya. Tentu saja iya. Bukankah aku hidup di laut sekarang ini ?”
“Bukan. Bukan itu yang kumaksud.”
“Lantas ? “
“Yah, sudahkah kau membuktikan bahwa kau memang harus hidup di laut sehingga kau dapat mengerti apa laut itu?”
“Sobat Kecilku, apa untungnya bagimu untuk tahu sejauh itu ? Sudahlah hiduplah sewajarnya. Seperti ikan yang lain.”
“Tidak. Engkau belum menjawab pertanyaanku.”
“Aku sudah menjawab sebisaku.”
“Tapi aku belum puas.”
“Baik, baik. Ada satu jawaban yang dapat membuatmu tak bertanya lagi, Sobat Kecil.”
“Apa, apa itu ? Lekas katakan”
“Berhentilah berpikir.”
“Apa ? Berhenti berpikir ?”
“Tepat sekali. Engkau bingung karena engkau berpikir. Pikiran itulah sumber kegelisahanmu. Pikiran itulah sumber penderitaanmu selama ini. Maka berhentilah berpikir, engkau akan bahagia.”
Bodoh ! itu sama saja menyuruhku untuk menjadi mayat. Bahkan lebih hina dari kematian yang paling konyol sekalipun. Apakah setiap makhluk memang berlaku demikian ? Hidup tetapi mati. Bodoh, sungguh bodoh.
“Begini Sobat Kecilku yang malang, hanya seekor makhluk di laut ini yang tahu jawaban atas pertanyaanmu itu.”
“Siapa, siapa itu ?”
“Dirimu sendiri…”
“Aku ? Maksudmu aku ?”
“Ya, tepat sekali. Engkau sendirilah yang akan mengetahui jawaban dari semua pertanyaanmu, bukan ikan lain.”
“Tapi bagaimana caranya ?”
“Keluarlah dari batas laut ini.”
“Keluar dari batas laut ini ? Apakah engkau tahu batas laut ini ?”
“Ya, aku adalah ikan yang berkali-kali harus menghirup udara bebas di luar batas laut ini.”
“Dapatkah engkau mengantarkanku ke sana ?”
“Bisa. Tapi aku tak yakin engkau sanggup melakukannya.”
“Pasti aku sanggup.”
“Dengan segala bahayanya ?”
“Dengan segala bahayanya. Aku akan lakukan” jawabku mantap.
Aku tak tahu kenapa tiba-tiba si Paus murung. Raut mukanya tampak sedih. Ah, peduli apa, asal jangan suruh aku berhenti berpikir, semua akan kulakukan.
“Sungguh engkau ingin tahu apakah laut itu ?“ apa-apaan ini. Justru ia yang bertanya padaku. Sudah gila kah ia ?
“Tentu saja. Dan apakah memang kita, bangsa ikan, butuh laut” tegasku.
“Baiklah, ikuti aku. Engkau akan mengerti.”
Aku mengikutinya berenang. Jauh, jauh sekali rasanya. Sehingga kudengar sayup-sayup ada suara gemuruh. Sahabat pausku berhenti.
“Maaf, Sobat Kecil. Aku hanya dapat mengantarmu sampai di sini. Berenanglah menuju gemuruh itu engkau akan menemukan batas tempat engkau tinggal selama ini. Dan semoga engkau dapat kembali kepada keluargamu. Selamat tinggal”
“Terimakasih, Sobat.”
Ia meninggalkanku. Aku segera menuruti petunjuknya. Berenang ke arah suara gemuruh itu. Hei, aneh sekali, tekanan di sini semakin ringan saja. Dan ups..agh..sebuah gelombang besar menerpaku. Aku hanyut.
Kenapa tiba-tiba aku menjadi sesak ? Dan tempat apakah ini ? Sangat asing bagiku. Uh, di mana aku ? Kulihat banyak gelombang nun jauh di sana. Itukah laut ? Laut tempatku hidup ? Lalu tempat apakah ini ? Inikah batas laut itu ? Kenapa di sini begitu menyesakkan ? Kesesakkan ini membuatku semakin tak berdaya. Pandanganku mulai kabur. Hanya gemuruh saja yang kudengar kian melemah.
Yogyakarta
Juni 2006