KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tuhan Mulai Pikun

Tuhan telah singgah di kamarku yang seperti kandang, penuh buku-buku berserakan. Di bawah-Nya aku tersungkur. Dengan lengan tangan kanannya yang hangat, dia merangkulku. Lalu kami pun berdialog dalam hening pagi.

“Apa yang kau mimpikan!” tanya Tuhan padaku. “Yuza Sang Jawara punya mimpi semua orang di Indonesia punya komputer. Amerika bermimpi untuk menguasai dunia. Bagaimana denganmu?”

“Sederhana saja Tuhan,” jawabku takzim. “Aku ingin semua rakyat Indonesia bisa membaca, menulis, dan berhitung.”

“Cuma itu?”

“Iya!”

Tuhan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Hmmm…terlalu sederhana. Kau terlalu lugu, polos. Bisakah kau minta yang lain? Uang misalnya?”

Aku tengadah. “Uang?? Aduuuh…itu terlalu klise, Tuhan! Sudah ketinggalan zaman. Sekarang Neokolonialisme, bukan kolonial. Zaman pra kemerdekaan, bangsa asing menjajah Indonesia karena minder tak punya tanah jajahan. Ratu Victoria mengatakan bahwa di daerah kekuasaannya tak pernah tenggelam matahari. Belanda tak punya uang untuk menutupi kas negara yang bangkrut karena korupsi. Dan pada masa itu kami tahu kawan dan lawan. Adapun kawan menjadi lawan tak lain hanya penghianat yang persentasenya 0,01%. Siapa yang memerdekakan Indonesia pada 17 Agustus 1945? Buku Tuhanku! Buku!! Karena bisa membaca Dr.Sutomo dan kawan-kawannya mencetuskan Kebangkitan Nasional dengan lahirnya Budi Oetomo. Tapi sekarang…ketika kemerdekaan mencuat, PENDIDIKAN MENJADI KOMERSIL. TAK SEMUA RAKYAT INDONESIA BISA SEKOLAH. BIAYA PENDIDIKAN SELANGIT. BAGAIMANA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN BILA BANGSA TAK TERDIDIK!! PADAHAL SUDAH JELAS TERCANTUM DALAM UUD 1945 BAHWA “SEMUA WARGA NEGARA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK BAGI KEMANUSIAAN”.”

Tuhan mengaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Hmmm…,” ia mendehem bijak. “Iya…ya. Mungkin aku mulai tua. Gejala kepikunan mulai menjalariku. Telah kukabulkan mimpi Albert Einstein untuk E=mc2 lalu hancurlah Hirosima dan Nagasaki. Sedangkan mimpimu….oh tidak Sayangku…dari dulu belum bisa aku kabulkan. Entahlah. Kadang aku tak mengerti bahwa yang sederhana itu bisa menjadi teramat sulit untuk diwujudkan daripada yang mutakhir. Sudah 60 tahun lebih Indonesia merdeka, tapi yang tak semua rakyat bisa mengenal aksara.”

Tuhan menatapku sendu. “Mintalah yang lain…mimpimu sederhana tapi sulit untuk kukabulkan. Mobil dan rumah bertingkat, misalnya?”

“Tuhan. Apa artinya mobil dan rumah bertingkat bila kau bisa hancurkan dalam sekejap mata? Di bantul banyak mobil dan rumah gedongan, tapi hancur dalam hitungan yang tak sampai 1 menit.”

“O…iya.” Tuhan tersipu. “Cobalah beri Aku alternatif lain. Tidak soal rakyat Indonesia yang banyak buta aksara.”

“Hmmm….” aku mendeham bijak. “Kalau begitu aku minta SUPREMASI HUKUM. Tuhan…di Indonesia maling ayam bisa dihukum berbulan-bulan dan disiksa sipir, tahanan wanita diperkosa sipir, dll. Sedangkan pemerkosa, koruptor uang negara triliyunan, dll, bisa lenggang kangkung dan vakansi ke luar negeri.”

“Oh…” Tuhan termangu. “Itu juga sulit meski sederhana. Ada alternatif lain? Kaliiiiiiiiiiiii iniiiiiiiii saja!”

“Tidak ada Tuhan. Untuk sementara itu saja. Yang dua hal sederhana itu saja sulit untuk kau kabulkan. Apalagi yang lain. Akh!”

“Kau sih yang salah. Minta yang aneh-aneh saja. Dan kau tidak bisa mendikteku. Ada takdir yang menyelubungi anak manusia, ciptaanku.”

Ups!

Mendengar hal itu, aku terkesiap dan bangkit dari tersungkur. Menatapnya dalam lancang yang tetap takzim.”Tuhan kok lucu sih!! Bagaimana mimpi Yuza agar semua rakyat Indonesia bisa akses Internet dengan adanya komputer pribadi sementara mereka tak bisa membedakan huruf? DAN Amerika tak kan bisa menguasai Indonesia bila semua rakyat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Jean Henry Dunant mengajarkan padaku bahwa sebuah pena lebih tajam daripada seribu pedang. Dengan sebuah pena dia mengusung “Oleh-oleh dari Salverino” dan menghancurkan tembok keangkuhan dunia maka lahirlah Palang Merah Dunia di mana pada mata kemanusiaan tak ada sekat penghambat antara kawan dan lawan, bahwa semua adalah saudara! Begitupun dengan bangsa Indonesia kelak bila bisa menulis. Kami bisa menghancurkan cakar Neokolonialisme. Kami bisa menuliskan nilai-nilai luhur kemanusiaan warisan leluhur mdan mengabarkannya pada dunia. Akh! Jika semua rakyat Indonesia bisa seperti JK. Rowling. Tuhan! Kami akan menjadi bangsa yang kaya tanpa tambang Cepu. Dan aku yakin ITU BISA!!”

Aku terus berbicara. Mengabarkan mimpi-mimpiku. Hingga hening pagi lenyap dan Tuhan menghilang dalam pandangan.

Akh!!

Aku harus menolong Tuhan.

Tuhan! Jika takdir itu ada, dan “kami” terlahir dalam takdir untuk dijajah, untuk tak merdeka, maka AKU MENENTANG TAKDIRKU!!

(Ps: Sebelumnya ditulis di http://sangtimur.multiply.com/journal/item/11 )

Tinggalkan Komentar