KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Juliani

Namaku Juliani. Rumahku di Kalideres, Utan Jati tepatnya. Teman-teman ada yang tahu daerah situ? Tanah kering dan berdebu, juga wajah-wajah kusam. Kalau berjalan dengan bis, pilihlah bis berAC jika punya uang lebih. Jika tidak, nafas akan sesak membaui kegersangan bumi. Pohon-pohon yang meranggas. Jika menggunakan motor, jangan lupa membawa penutup hidung atau helm dengan kaca rapat. Pengapnya peluh-peluh yang masam akan membuat kepala penat.

Hari itu aku sekeluarga agak beruntung. Menggunakan taksi berwarna biru dari Rumah Sakit. Bapak dan Ibu memapahku ke taksi, meski mereka juga tak bertangan. Mereka sudah berumur 60 tahunan, tapi masih pekerja yang produktif. Terpaksa produktif tepatnya. Ibu bekerja mencucikan baju, sementara Bapak jadi tukang bangunan. Tapi Bapak sudah mulai payah karena umurnya menginjak 70 tahun. Ia berhenti setengah tahun yang lalu. Ibu juga tak sempat bekerja lagi karena sibuk menungguiku di Rumah Sakit.

Sepintas kulihat bayanganku di kaca spion. Wajahku sudah menjadi menjijikkan begini. Aku secepatnya melengos marah. Raut wajahku menjadi dua kali lebih lebar. Bengkak di daguku melebarkan wajahku hingga dua kalinya. Sementara tangan-kakiku menyusut menjadi tangan-tangan yang renta. Jauh lebih renta dari tangan Ibuku. Kakak perempuanku yang ikut, Nana duduk di depan. Mungkin perempuan muda inilah yang paling enak dipandang diantara kami. Tubuhnya masih sintal, pipi yang tembem dan sehat. Meskipun matanya tampak kuyu, lelah memikirkan bagaimana menyembuhkanku.

Hari itu, entah ada angin apa, Ibu tiba-tiba mengajak pulang. Seorang perawat membisiki, kemoterapi malah bisa membuat parah dan membuat meninggal. Aku mengiyakan untuk pulang. Mungkin karena aku telah amat putus asa untuk disembuhkan disini. Di hari kedua belas di rumah sakit, aku merasa hanya berpindah tempat tidur. Dokter-dokter seperti enggan menjamahku. Di hari kedua belas itulah, sebenarnya aku akan dikemoterapi, dengan obat yang belum berhasil lunas kami tebus. Harganya delapan juta rupiah, padahal uang di tangan aku pastikan tak lebih dari 500 ribu rupiah. Harga semahal itulah yang harus kami bayar.

Entah apa yang ada di benak Ibu, hingga mengajakku pulang. Dan Bapak pun mengiyakan tanpa banyak berkata-kata. Maka apa salahnya pulang. Aku juga sudah tak sanggup menciumi bau obat-obatan. Apalagi bau kencing dan tai pasien lain di ruangan ini yang rata-rata sudah tua. Dan tadi pagi, seorang pasien meninggal disana. Mungkin itu yang membuat Ibu merinding, hingga lekas-lekas mengajakku pulang. Anaknya, yang selama ini pilek pun jarang tapi sekarang berjalanpun tidak sanggup.

***

Suara batuk-batukku memecah kesunyian di taksi berwarna biru ini. Menaiki taksi yang baru pertama kali kami rasakan, sejuk AC yang terasa bagaikan di surga. Mata ibu yang memandang kosong ke arah kejauhan, mata Bapak yang tabah dan tegar. Bapak adalah bekas pejuang 45 yang tahu rasanya dikejar-kejar penjajah. Rasa penderitaan dan kesedihan telah ia kenal sejak lama. Sejak tangan-tangan gagahnya mengayuh sampan, menyeberangi laut, menjadi perantau di negeri seberang. Dari kepulauan Sumatera merantau ke Bali hingga ke Jakarta. Mata tegar yang selalu tersenyum itu telah tak takut pada apapun.

Dengan keramahan yang rata, ia menuntun sopir taksi untuk memilih jalan-jalan yang paling dekat dengan tempat tinggal kami. Si sopir taksi seperti tergoda memancing di air keruh, mencari setoran lebih besar dengan jalur-jalur yang sesak mobil. Bapak masih dengan ratanya mengatakan kami bukan orang kaya yang sedang plesiran, jika bukan karena aku, Juliani, anaknya tak sanggup berjalan seperti sekarang, tak bakalan memilih taksi berwarna biru ini. Si sopir taksi hanya memandangi.

Kami sampai dengan kelelahan yang sangat. Sejuk AC d taksi biru berbekas panas di badan saat harus menyusuri jalan sempit menuju rumah. Sebuah becak mengantarku sampai di depan pintu, karena Ibu dan Bapak pastilah tak sanggup memapah sejauh itu.

***

Kami masih menunggu dalam rumah berbau kayu ini yang bila hujan dindingnya membawa dingin. Entah sedang menunggu siapa. Mungkin, tingkah Ibu yang membuat aku juga ikut menunggu. Ia percaya keajaiban, percaya mukjizat, percaya Tuhan akan datang saat diperlukan.

Kali ini rasa sakit semakin menggila. Yah, ada untungnya juga berada di Rumah Sakit, aku menjadi tidak terlalu kesakitan. Obat-obatan penahan sakitlah yang masuk ke tubuhku di Rumah Sakit selama dua belas hari. Mungkin Ibu benar, Tuhan akan datang suatu saat. Apakah Tuhan sedang menunggu hingga rasa sakit ini sudah tak mampu kutanggung. Mungkin begitu. Ia akan datang saat itu. Mungkin saat ini belum saatnya. Ia akan datang disaat yang tepat. Ia begitu, selalu tepat dan selalu benar. Atau mungkin Ibu menunggu wartawan itu. Wartawan yang pernah menemui Ibu di Rumah Sakit dan datang ke rumah ini. Perempuan kurus yang menjanjikan akan meminta kantornya untuk membantu. Benarkah Ibu percaya pada perempuan yang hanya memperalat kami demi berita. Mungkin juga. Ibu selalu percaya dan tak pernah berfikir buruk. Sementara Bapak masih dengan ketabahan ratanya. Ketabahan rata membuat ia tak banyak berusaha. Jadi sulit membedakan antara ketabahan dengan kemalasan. Bolehkah aku menuduh Bapak begitu, di tengah kerentaannya. Mungkin di ujung usianya, Bapak telah bosan dan lelah, barangkali ia berfikir sebagian jiwanya telah terbang.

Sementara Nana kakakkulah yang masih sibuk. Ada saja yang dilakukannya. Tak bosan-bosan ia bertanya ke tetangga atau siapa saja. Terakhir kudengar, ia sedang mencari juru foto keliling. Ada banyak acara amal di TV yang ia lihat, disana orang sakit dan tak punya uang untuk berobat, disembuhkan. Ini acara bos-bos yang sudah mapan, mereka memerlukan pemandangan seperti kami untuk melengkapi hidupnya. Cara inilah yang sedang dicoba Nana. Ia berencana mengirim fotoku ke koran atau ke TV dengan harapan dibantu. Mungkin Nana berfikir begitu, karena melihat wajahku yang cukup mengerikan untuk mengundang iba. Sebelumnya ia beberapa kali sudah menebuskanku jamu-jamu. Ini resep ramuan dari kenalan Ibu di rumah sakit. Dialah yang membisiki Ibu untuk membawaku pulang.

Di rumah papan berbau lembab kami masih menunggu. Tiga bulan telah lewat. Badanku semakin pegal dan membeku. Mungkin suatu saat akan berlumut dan membatu. Kamar dengan dua dipan dan lemari kayu ini pemandanganku setiap hari. Hanya bila aku rewel, Ibu, Bapak yang tak bertangan memanggil Nana untuk bertiga menggotongku ke beranda. Rumah ini terletak disebelah selatan, dan berdempetan rapat dengan rumah-rumah di sebelah timur. Kami tak pernah mengenal matahari pagi yang hangat.

Aku benar-benar tidak tahu siapakah yang mesti mengurusiku. Tuhankah, teman wartawan ibu, atau acara amal TV? Apakah memang tak seorangpun bertanggungjawab mengurus kami. Di bulan ketiga kembali ke rumah ini, rasa sakit yang menggila semakin sering kurasakan. Belum tepatkah saatnya Tuhan untuk datang? Acara amal TV mungkin menaruh aku di antrean yang ke seribu karena terlalu banyak yang bernasib seperti aku. Penyakitku, kanker kelenjar getah bening, bahasa latinnya limfoma non hodkin, namanya saja amat mewah untuk dihapal, semewah harapanku untuk sembuh.

***

Aku melihat Ibu membereskan tempat tidurku, menyapu perlahan remah-remah roti dari sisa yang kumakan; merapikan seprai yang warnanya telah bercampur-campur. Kemudian tangannya dengan cepat meraup semua obat-obatan diatas meja, obat-obat milikku. Memasukannya ke plastik, membuangnya begitu saja di lantai. Dengan sapu, semua debu, sampah di kamar kami, di dorongnya ke luar, termasuk sebungkus obat milikku. Aku ingin memastikan menemukan diriku di beranda, duduk memandang ke jalan. Tapi tidak, beranda itu kosong.

“Nana…, kamu sudah telepon?” Ibu langsung memanggil Nana yang berjalan memasuki halaman rumah.

“Sudah Bu, orangnya tidak di rumah, sedang bekerja!” Nana menjawab dengan lesu.

“Ya sudahlah, yang penting kita sudah ngasih tahu!”

Ngasih tahu apa? Aku kembali melongok ke kamar, mencoba menemukan diriku di sana. Mengapa tidak ada? Dibawa ke rumah sakit kah aku, ke rumah paranormalkah, mengapa aku tidak tahu? Aku coba memandang kearahku, untuk menemukan keberadaanku, ruangan dan kamar ini yang terlihat. Butakah aku, mimpikah…? Dengan putus asa, aku mencoba mencari ke luar rumah, tidak ada. Eh tunggu, aku melihat ibu mencabut pancang dengan bendera hitam di ujungnya. Siapa yang meninggal?

Tinggalkan Komentar