KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

::Dua Benua::

Langit tengah riuh. Kacau. Medan magnetnya mengguncang bumi. Dalam bahasa-bahasa ketakutan, pohon-pohon bermusyawarah.

“Ada apa yang terjadi??” kata Pohon Lembayung resah.

“Itu, lho!!” kata Pohon Maja tegas (menunjuk gubugku), “anak itu yang jadi sumber malapetaka Kerajaan Langit dan Kerajaan Bumi.” Aku terperangah menatap sinisnya Pohon Maja. Setangkai mawar jatuh dari genggaman. Mawar itu meraung.

“Gila!! Gak salah tuh??!!” Peri Hijau yang bersembunyi dalam dekap hangat daun muda Pohon Beringin. “Seorang anak laki-laki yang tergila-gila oleh mawar mengguncang semesta. Punya kekuatan apa dia?? Aku sering mengintainya dari kejauhan. Dia sering melamun di bukit bunga. Kupikir dia lelaki yang lemah. Tak sesuai dengan standar feminisme yang kuanut.”

Sehelai Daun Tua terpeleset dari tangkainya. Sebelum mencium tanah, dia sempat berteriak, “Anak laki-laki itu memang tampak lemah dan tak punya siapa-siapa selain dunianya. Tak kan ada yang merengkuhnya bila badai pasir melahap negeri. Tapi dia punya nama yang membuat Tuhan marah….”

Aku mendengar kata-kata Sehelai Daun Tua. Kupikir aku lebih marah daripada Tuhan yang mereka maksud. Telingaku panas. Aku meradang. Berani-beraninya menjelek-jelekkan diriku di belakang. Akh!! Pasti kubalas.

Belum sempat merobohkan musyawarah Pohon-pohon, sebilah cahaya dari kilau hijau daun jati mengiris pandangan. Aku terpukau. “Heii…namaku Dua Benua!!”

Eh!

Kilau daun jati itu lari menjauh.

Peri Hijau mencibir jijik. Pohon Maja menangis takut. Yang lain mengejek!!

Akh!! Aku tak terima. Kupungut setangkai mawar dari keranjang dan busur. Dengan racikan amarah, setangkai mawar menjelma anak panah. Panah melesat. Matahari yang tak mengerti apa-apa, tertikam panah amarah mawar. Cahaya tumbang seketika. Angkasa memicingkan mata. Peri Hijau dan semua anggota Musyawarah Pohon-pohon tersungkur berpelukan. Tuhan yang tengah marah terkejut oleh tumbangnya cahaya matahari.

“Kau lihat!!” seruku pada Angin yang bersidekap rapuh. “Bahkan mawar yang penuh aroma birahi pun bisa meruntuhkan Cahaya yang diberhalakan bila aku marah.”

Mendengar kata-kataku, Angin membuang muka. “Kau pikir itu jalan yang lurus untuk berdamai dengan kehidupan? Semesta sudah tahu tabiatmu!”

“Hei!!Apa yang telah aku lakukan?? Bermusim-musim aku diam mengendapkan amarah. Membiarkan caci maki matang dalam labirin otak. Sekarang benih amarah yang kutanam sudah berkembang dan berputik. Kutanya dengan semesta hormat, apa yang aku lakukan pada kalian??”

Angin tetap tak berani memandangku. Dia gemetar. Untuk mengalihkan perhatian, dia memungut keping-keping cahaya yang berserak di tanah.

“KAMU PUNYA TELINGA TIDAK!! JAWAB PERTANYAANKU!!ATAU KUBUNUH KAMU!!”

Angin terkesiap. Spontan dia meluncur dari bibirnya yang kelu,”Sebab kau Dua Benua!”

“ITU KAN CUMA NAMA YANG DIBERIKAN DUNIA UNTUK MENGENANG ORANGTUAKU. MEREKA TIBA DARI DUA BENUA YANG BERBEDA. DALAM TUBUHKU MENGENDAP DUA BENUA.”

“It-tu tetap saja membuat Tuhan bingung. Kau tidak punya status yang jelas. Tuhan sedang sibuk memeriksa dokumen-dokumen ciptaannya. Disinyalir kau adalah penduduk ilegal dari bangsa mutan alias produk gagal.”

“APAAAAAAAAA…!!” aku terbelalak tak percaya. “SEBAB AKU DUA BENUA TUHAN MENGANGGAPKU PRODUK GAGAL??”

Angin mengangguk takut-takut. Jala-jala perunggu amarahku menjeratnya. “Aku tak bersalah…tolong jangan siksa aku dalam gumpalan amarah. Aku akan menyembahmu bila perlu. Yang penting, tolong bebaskan aku,” pinta Angin memelas. Tiba-tiba saja kalimatnya mengalir lancar. Dia khawatir aku melumatnya.

Kekhawatiran Angin menjadi nyata. Amarah telah menguasai saraf reflek, otak tak lagi berfungsi. Dengan kecepatan radiasi cahaya, amarahku menghanguskan Angin. Tubuh Angin menguap jadi kristal-kristal hampa.

Aku puas.

Selain bunga-bunga di taman dan wujud-wujud yang tak mempermasalahkan diriku, Dua Benua, tak ada lagi yang tersisa. Bumi penuh aroma bangkai. Ketidakadilan-ketidakadilan yang luput dari jala-jala perak amarah lari ke langit, ke rumah Tuhan.

Setelah menghirup nafas merdeka, kuraih kembali setangkai mawar merah dan meraciknya dalam amarah. Dengan bantuan busur yang setia, kupanah langit dengan anak panah amarah mawar. Semesta menahan nafas saat panah amarah mawar melesat, terus mencelat menembus langit, hingga bersarang di dada Tuhan yang tengah minum tuak di beranda.

Langit bertambah gempar. Tuhan terbunuh. Jenazah Tuhan merosot ke bumi. Di bumi, bangkai Tuhan menjelma bergentong-gentong uang emas beraroma bangkai. Sangitnya meradang hidung. Bunga-bunga kembali menguncup karena tak tahan bau yang membunuh.

Untuk yang terakhir kalinya, kuraih setangkai mawar dari keranjang, kuraciki dengan amarah, lalu kupanah dengan amarah mawar gundukan gentongan-gentongan keserakahan tersebut untuk kemudian musnah menjelma plasma-plasma hening.

Ketika malam jatuh di punggungku, aku tersungkur ke bumi dengan busur panah di dada. Haru memuncak. Tak ada lagi amarah. Pada dinding-dinding malam kucatat berita bahwa; banyak Tuhan di zaman ini, banyak pula wujud rapuh yang dipertuhan, tapi hanya satu Tuhan yang tak kan kumusnahkan, yaitu; Tuhan yang yang mau berdamai dengan diriku si Dua Benua. Tuhanku adalah semesta keadilan, Dia mengendap dalam seluruh atom tubuhku.

(Ps: sebelumnya ditulis di http://sangtimur.multiply.com/journal/item/2 )

Tinggalkan Komentar