KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

::Bintang Timur::

Ada sebuah bintang yang menggantung di ujung Timur.

Sinarnya melumpuhkan matahari. Sayang, cuma aku yang tahu.

Semalam, sorang pemburu memanahnya. Darah mengembun dini hari.

Tak ada teriak atau jerit parau yang ada hanyalah amarah sunyi.

Kupungut bintang itu, kugantung kembali di ujung timur, dan kusimpan amarah sunyinya.

Hidup itu teka-teki gila. Membuat gila pada yang tergila-gila pada kehidupan.

Aku mengejar kehidupan, maka akulah gila itu. Terkadang.

Namun bila malam datang, aku kembali waras, menulis buku harian lalu membakarnya di unggun doa.

Sayang, doa sering tak bersayap. Tak ada pula tempat meminjam sayap. Kebanyakan, doa-doa tergolek di atas meja kerjaku. Aku belum bisa bertemu Tuhan.

Sering pula aku mendengkur di tumpukan doa walau aroma kopi merenggangkan saraf-saraf kantuk. Kopi pahit.

Dalam tidur aku selalu bertemu Tuhan.Saat tubuh berubah menuju minus.

Tuhan….

Hujan baru kemarin petang berlalu. Namun angur-anggur sudah melalai tergerai.

Tuhan….

Aku tak punya sayap. Tangan-tangan pendosa pun sudah patah. Tak lagi bisa tengadah.

Tuhan…

Sebelum sahabat karibku datang, si Maut, tunggu anggur di kebunku mengepul ke rumahmu. Mungkin bukan lewat tanganku, tapi lewat jemari Bintang Timur; sesuatu yang bercahaya dari bilik sunyiku.

May 23, 2006

(Ps: sebelumnya ditulis di http://sangtimur.multiply.com/journal/item/3 )

Tinggalkan Komentar