Semua, di Hati Manusia
Desember 3rd, 2006 by LemonTea
Mereka bilang saya pelacur.
Saat mereka merokok dengan rok mini yang memamerkan paha dan hampir menampakkan kemaluannya, mereka bilang saya pelacur.
Saat mereka sedang tertawa-tawa bersama para pria dalam rangkulan mereka, mereka bilang saya pelacur.
Mereka menghimpit batang rokok di mulut mereka. Dan gurauan mereka tidak pernah jauh dari ‘rokok’ lelaki. Tawa mereka selalu terdengar garing. Dan ketika mereka tertawa, buah dada mereka seolah akan meloncat dari tubuh mereka. Masih, mereka bilang saya pelacur.
Saya memang tidak punya rumah.
Saya tidak punya keluarga.
Saya tidak punya saudara.
Saya tidak punya uang.
Saya tidak punya teman untuk berbagi tawa.
Saya tidak punya apa-apa.
Kecuali saya punya harga diri.
Dan satu-satunya yang saya punya yang tidak dipunyai oleh mereka.
Ketika seorang pria merangkul pinggang saya, dan saya terpaksa berlari menghindar dari pria itu, mereka bilang saya tidak punya harga diri. Mereka menyuruh para pria di mana-mana untuk menjauhi saya. Kata mereka saya bau, saya pelacur. Mereka bilang ada kutu di rambut saya. Jadi, saya harus ditinggalkan sendirian.
Lalu malam itu, seorang wanita memasuki kamar mandi kafe tempat saya bekerja. Ia memandangi tubuhnya dengan kagum. Sembari sesekali disisir rambutnya yang panjang ikal sepunggung. Ketika saya masuk, dan merapihkan seragam kerja saya, wanita itu menyela, memaki, katanya saya jelek, dan tidak pantas berkaca. Ia takut kacanya pecah.
Lalu wanita itu meludah, melecehkan saya. Padahal, salah apa saya padanya?
Manusia bilang mereka makhluk budiman. Mereka bilang mereka yang tertinggi derajatnya. Tapi bila berkaca saja tidak bisa, lantas di mana keistimewaannya? Manusia harus bisa melihat ke dasar hatinya. Melalui orang lain, dan tindakannya. Bukan melalui langit-langit yang ia tatap setiap hari. Bukan pula dari lantai yang ia musuhi.
Manusia bilang mereka makhluk berakal sehat. Tapi melihat ke bawah saja mereka tidak mampu. Melihat gajah di pelupuk mata saja mereka tak mampu. Lalu di mana akal sehatnya?
Manusia bilang mereka tahu yang mana yang benar dan yang salah. Mereka begitu bangga karena diberi kemampuan untuk membedakannya. Tapi kalau mereka tidak terima disalahkan, atau dibongkar kebenarannya, lantas mereka marah. Mana yang patut dibanggakan?
Aduh, saya rasa saya salah menulis begini. Karena bisa-bisa mereka marah pada saya, dan mengatai saya pelacur lagi.