Sakaratul Maut
Desember 3rd, 2006 by lubisgrafura
LELAKI itu menggeliat. Seperti ulat. Kedua betisnya saling bertaut. Perutnya yang menggelembung turun naik. Seperti ada cakar yang hendak menerobos kulitnya. Nafasnya mendesak hingga sampai ke kerongkongan. Bibirnya membiru. Menganga. Sepasang matanya memutih.
“Apa yang terjadi?” tanya Hari Mbos sambil membagi kartu.
“Itu orang yang hampir mampus, bodoh!” lanjut Giman.
Aku mengambil kartuku dengan penuh kecemasan. Kubuka satu per satu. Sepuluh keriting. Tujuh keriting. As keriting. Sembilan keriting. Satu lagi kartu belum kubuka. Jika ini Jack keriting atau Queen keriting atau King Keriting, aku pasti sudah menutup permainan ini dan duit di tengah itu pasti segera kuraup. Hitung-hitung aku sudah kalah banyak dan ini permainanku yang terakhir.
Wewe gobel. Gendruwo. Grandong. Mbah Lampir. Setan alas. Tuyul. Mbak Yul, sekalian. Beri aku keberuntungan. Kusebut mantra yang kuciptakan sendiri agar kartuku ini sesuai dengan keinginanku. Kubalik kartu itu. Sengaja kuperlihatkan kepada yang lainnya. Queen merah hati!
Jaran! Jangkrik! Asu! Wedus! Kucing! Kuumpat kartu di depanku dengan makian nama-nama hewan. Kartu itu tak sesuai dengan keinginanku. Padahal, aku sudah punya niat untuk segera menutup permainan ini karena jumlahnya sudah mendekati empat-satu.
“Tutup!” kata Giman sambil menggeletakkan kelima kartunya yang berjumlah empat puluh “ada yang berani?”
Belum sempat ada yang menjawab, lelaki tua itu meraup uang taruhan ke bawah sarungnya.
“Wah, matane picek!” umpat Yanto.
Aku sempat tersenyum, walau kini uangku sudah habis. Aku hanya tersenyum saat mengingat segala umpatan yang sering kami lontarkan kalau kami kalah, atau kartu tidak sesuai dengan harapan. Betapa hewan dan segala organ tubuh manusia bisa menjadi umpatan. Orang Jawa memang kreatif. Untuk mengobati kecewaku, aku menyruput kopi yang tinggal sisanya itu. Rasanya sepahit kekalahanku.
“Ngaso dulu!” kataku.
Itu adalah ungkapan untuk orang yang kalah judi dan ingin berhenti. Apes lagi malam ini. Sepuluh ribu hilang dalam beberapa jam duduk bersila.
“Ngutang dulu lah!” kata Giman memberi solusi.
“Capek ah. Besok lagi”
“Ayo Pak guru, ikut main.”
“Saya ndak bisa. Nonton saja lah!” kata Umar yang tadi menceritakan pengalamannya menunggu orang yang hampir mampus.
Kusulut sebatang rokok milik Umar. Kini di gardu itu hanya aku dan Umar yang tidak judi. Kami hanya berdiam, sambil menikmati sebatang rokok dengan asap yang mengepul. Sesekali kami mendengar umpatan-umpatan yang berloncatan dari mulut Hari Mbos, Giman, Kodir, dan Yanto.
Dari pada berdiam, aku membuka pembicaraan dengan menanyakan soal lelaki yang mati dengan mengerikan itu.
“Katanya ada dua orang yang duduk di kepalanya?”
“Bagaimana rupanya?”
“Hitam besar. Katanya, tangan makhluk hitam besar itu memukul-mukul muka dan punggungnya untuk mengeluarkan roh dari tubuhnya.”
Aku menyulut lagi rokokku yang mati. Ada perasaan merinding ketika Umar menjelaskan kepadaku bahwa lelaki itu semasa hidupnya adalah lelaki yang suka membakar menyan atau dupa di bawah pohon untuk meminta petunjuk nomor. Ia menyebutnya dengan istilah nggerandong.
“Kalau di sini namanya nepi” kata Kodir menyahut.
Memang, Umar bukan warga sini. Dia adalah menantu Pak Sam, juragan padi. Awal mulanya Pak Sam disebut sebagai juragan padi adalah ketika ia membeli mesin penggiling padi, sehingga warga desa tidak perlu jauh-jauh lagi menggilingkan padinya ketika panen.
Umar cepat sekali akrab dengan masyarakat sekitar. Masyarakatpun menyukainya. Ia tidak pernah membedakan orang miskin atau kaya. Tua atau muda. Bejat atau ngalim. Jelek atau tidak. Maling atau kiai. Semuanya menjadi teman. Sebenarnya, aku juga agak iri dengan caranya bergaul. Satu hal yang kusakai dari dirinya adalah dia punya bermacam-macam cerita.
Selain itu, masyarakat sini mudah menerimanya karena sikapnya yang rendah hati. Hormat kepada orang. Itu yang mungkin membuat kami sungkan. Kami sudah menganggapnya sebagai masyarakat sendiri, walaupun lelaki yang bekerja sebagai guru SD itu masih empat bulan di desa ini.
“Nggrandong dan nepi itu kukira sama, hanya beda istilah!” kataku memberi jawaban tengah.
Umar kembali menceritakan nasib orang yang nyawanya tengah dicabut oleh makhluk hitam besar, yang menurut perkiraanku adalah malaikat maut.
“Lelaki itu berteriak-teriak untuk mengusir makhluk itu. Katanya, di seluruh tubuhnya juga di kelilingi oleh makhluk-makhluk yang mengerikan. Mereka seperti tengah mengantri untuk menyantap tubuhnya. Tentu saja, kami yang berada di sana kebingungan. Di ruangan itu tidak ada orang lain. Istrinya menyuruhnya membaca syahadat. Oalah, lelaki itu malah memaki-maki sambil menahan kesakitan.”
Aku menyulut rokokku yang mati lagi. Rokok sial pikirku. Gara-gara mendengar cerita itu, aku jadi jarang menghisap rokok, sehingga rokokku mati. Aku mulai mendengarkan cerita umar lagi.
Akhirnya, setelah melewati proses kematian yang mengerikan itu, lelaki itu mati dengan ledah menjulur keluar dan kedua matanya terbelalak. Pada saat penguburan, anehnya lagi jenazahnya seolah memanjang. Sehingga tanah yang digali itu tidak mencukupi. Padahal sebelum tanahnya digali, orang-0rang sudah mengukur panjang jenazah dari ujung kaki hingga kepala.
“Dia suka memakan tanah orang lain, mungkin!” lanjut Giman sambil menutup kartu “Empat satu! Aku memang!”
Kampret! Sundel bodong! Asu! Taek kucing! Umpatan-umpatan kembali dilontarkan oleh mulut-mulut yang sedang kalah. Kulirik Giman, yang sepertinya malam ini akan menang.
“Memang betul seperti itu” lanjut Umar.
Umarpun kembali menyulut rokoknya yang juga mati. Maklumlah, rokok tengwe. Rokok linting dewe. Tengwe adalah rokok orang kere. Rokok yang melinting sendiri. Maksudnya membuat sendiri. Tembakau dan cengkeh yang harganya murah dilinting dengan kelobot jagung.
Umar kembali bercerita, lelaki yang mati itu dulunya memang sering memperluas tanahnya. Ia selalu memajukan batas tanahnya ke tanah milik tetanggannya, sehingga tanahnya makin luas. Baik tanah di pekarangan rumahnya atau di sawah. Kalau ada yang berani memprotesnya, dia selalu mengancam dengan parangnya.
“Itu orang pasti gila!” seru Hari Mbos
“Kalau di desa ini ada orang seperti itu, sudah kubacok lehernya.” Tambah Yanto.
“Kalau aku lain” lanjut Giman “Aku akan santet dia, jadi kembang bayang. Biar dia merasakan sakitnya di atas tempat tidur selama bertahun-tahun”
“Trus, penguburannya bagaimana kalau jenazahnya tidak cukup di liang kubur.”
“Orang-orang akhirnya menekuk jenazahnya itu”
Umar juga menjelaskan ketika penggalian tanah untuk jenazah lelaki itu, penggali tanahnya mengeluh. Ia mengeluh karena banyak bebatuan yang menyebabkan gancunya rusak.
“Tanah saja tahu, mana manusia yang busuk dan manusia yanbaik” lanjut Hari Mbos.
“Sudah, jangan nyerocos sekarang giliranmu!” protes Yanto.
“Sori-sori. Lha dhala, empat-satu!”lanjut Hari Mbos.
“Wah, mengerikan ya? Terus keluarganya tidak malu?”
“Ya tentu saja, Mas. Mereka langsung pulang setelah mayat itu di timbun tanah.”
Kami pulang sekitar jam setengah dua belas malam. Di atas kasur, aku masih belum bisa memejamkan mata. Aku memikirkan kematian yang dialami lelaki yang diceritakan Umar. Apakah kematianku nanti juga seperti itu, aku tak pernah tahu. Dan itu menjadi pertanyaanku sekarang.
Aku juga teringat perkataan guru agamaku di sekolah dulu bahwa kematian yang paling mudah adalah seperti duri yang ditarik di atas kain sutera. Bahkan, Rosululloh saja juga merasakan sakitnya kematian. Betapa manusia yang penuh dosa? Betapa aku?
Kunyalakan lampu kamarku yang sedari tadi mati. Aku tak bisa tidur dengan kamar yang gelap. Segelap liang kuburku nanti!
***
Entah kenapa aku sekarang pingin sholat isya. Aku mencoba wiritan sambil meminta ampun Gusti Kanjeng Pangeran yang selama ini telah kulupakan. Aku ingin berhenti main judi. Aku ingat mati. Betapa kematian datang tanpa pemberitahuan. Kalau akau mati dalam keadaan judi, entah apa yang terjadi di dalam kubur nanti.
Ketika aku sedang berusaha untuk membaca tasbih, tiba-tiba aku mendengar suara Hari Mbos dan Yanto tertawa di teras rumah. Aku menemuinya dengan masih memakai sarung dan songkok. Ia tengah menyalakan rokok yang tergapit di mulutnya.
“Lho, njanur kuning kamu pakai sarung dan songok, Ndul? Tumben sekali.” tanyanya hingga sebatang rokok di mulutnya itu tertunda menyala.
“Ah, lagi pingin saja!” Jawabku seadanya.
“Orang-orang sudah menunggu di gardu itu lho. Ayo main lagi!” lanjut Yanto.
Otakku berfikir dua kali. Antara takut mati dan ingin main judi. Aku teringat, tadi aku dapat laba dari menjual lombok di pasar. Lumayan, karena harga lombok lagi mahal. Aku ingin main judi. Tapi, di sisi lain aku ingin berhenti teringat mati.
“Jadi ikut nggak?” tanya Yanto yang kedua kalinya.
Kali ini aku pasti menang, begitu batinku. Kekuatiranku soal mati tak terpikir lagi. Kalau aku mati, nanti juga tidak sendiri. Toh, nanti Yanto, Hari Mbos, Mbokir, Giman, Pak RT-RW, Pak Lurah, camat, Gubernur, semuanya juga mati. Aku kan masih muda sehat walafiat lagi.
“Aku ikut!”
Ya mudah mudahan qta smua meninggal dlm keadaan husnul khotimah.
Lha wong nabi Muhammad s.a.w
Saja merasakan rasa sakitnya wkt dicabut nyawanya.
Apalagi qta yg hny manusia biasa…spt apa lg sakitnya…nabi muhammad berkata sakitnya spt ditusukkan 300.000 pedang ketubuh qta.
Coba qta byngkan qta ini manusia biasa bukan nabi/rasul spt apa nanti sakitnya…
Smoga impian nabi Muhammad S.A.W
Tentang semua umatku bakal masuk surga bakalan tercapai…amien.
Kecuali orang2 yg tdk mau mengikutinya.
Naudzubillah….
Allahu akbar
Allah is a greatest…