Sabtu Rindu
Desember 3rd, 2006 by anjar anastasia
Kuangkat telepon siang itu, suaramu terdengar menyapa pertama. Ada yang tak biasa berdegup di dada. Sudah lama suara itu tak menggelitik telinga. Masih dengan canda tawa, kau katakan sehat apa adanya.
Kubalas kalau tak ada hariku kulalui dengan kemurungan, mungkin sedikit resah karena sudah sekian detikku berlalu tanpa kehadirannya, kelabu.
Kamu cuma bilang, sabar saja. Saatnya kamu akan bertandang.
Menemuiku.
Menjengukku.
Memelukku.
Membelaiku.
Menciumku.
Aku cuma tersenyum kecil.
Padahal letupan dalam dada tadi kian membara, panas. Bahkan membikin kamar lima warung telekomunikasi ini gerah, penat. Dan, mata-mata liar memaksaku berhitung dengan pulsa yang berputar cepat.
Teleponku padamu siang ini karena rinduku berlebih melebihi batas.
Rinduku padamu karena meluber melebihi banjir.
Sempat kutampung lalu kubuang ke awan. Nyatanya bersama hujan pertama di bulan ini, kerinduanku kembali hadir. Penuh. Tak tertampung hatiku.
Kamu cuma bilang, rinduku disimpan dulu. Saatnya nanti kita akan bertemu.
Tertawa.
Bercerita.
Bergandeng tangan.
Diam.
Bersenandung.
Saatnya semua akan terangkum padu.
Dalam dekapan rangkain cinta, menyeluruh tanpa sisa.
Ahhh…
Tak sabar ku biarkan detik itu mendatangiku….
(sabtu dalam rindu)