Psikopat
Desember 3rd, 2006 by Sulfiza Ariska
Kemarin aku kesurupan bangun pagi
Pada jendela yang selalu terbuka, matahari sedih jatuhkan cahaya dalam wujud pecahan kaca
Pecahan kaca itu menjaringku
aku tak bisa bernafas
Untunglah, rindu yang pudar memberi sekeping nyawa
Aku masih bisa tersenyum
Aku tak mengerti, kemarau terus singgah di kamarku yang mati
Mawarmawar palsu pembatas halaman buku, melalai, terkulai
“O…kerontang yang panjang, maukah kau bersahabat denganku. Sekedip saja!”
“Tidak,” katanya.
Rindu sudah bermutasi
Aku tak bisa membaca pertanda di langit kamar
Pagi beraroma kacang hijau di penghujung musim
mengubur pertanda dalam genangan salju
Tubuhku menyusut jadi sebaris sihir yang menyalakan kota mati
Lima detik yang lalu aku kesurupan lagi
Lucifer tergolek manja di pahaku.
Aku terkesiap, “Sudah waktunya kah?? Tunggu! Biarkan aku melukis sebait puisi lagi.”
Dia mengangguk.
Di kamarku, aku adalah Tuhan. Tapi, aku tak tahu siapa yang menggembalakan kemarau di sini.
Sebelumnya ditulis di http://sangtimur.multiply.com