Mengetuk Pintu Hujan
Desember 3rd, 2006 by Sulfiza Ariska
Aku mematung di kanvas jendela
ranting-ranting patah
rumput-rumput tak ingin kering
tanah-tanah rengkah
daun-daun mati
burung-burung kehilangan kompas
Semesta riuh tabuh kentonganJarum-jarum salju yang kulukis di jendela
tak mampu mengubur luka
Segala buih kata yang kuputihkan
tak bisa menyihir puisi jadi kristal-kristal mimpi
yang jatuh ke bumi sebagai hujan
Kemarau terlalu panjang
Tak ada kosakata tutup buku di kamus kemuning
Tapi, aku kan abadi di kanvas jendela
Membakar kayu-kayu doa di unggun kemarau
Bila aku patah, tolong kirimkan aku kayu-kayu doamu
Bukankah kita tinggal di hutan doa?
Mari mengetuk pintu hujan
dengan jelaga doa
June 17, 2006
(Ps: Sebelumnya ditulius di http://sangtimur.multiply.com/journal/item/13 )