Memori Sumbang dari Ciumbeleuit
Desember 3rd, 2006 by sri a ariesita
Rimbun pepohonan di tanjakan utara jalan Ciumbuleuit Bandung. Sawah-sawahnya menyeberang lembah hingga jauh hingga ke kawasan Panorama. Sawah yang mengapit kali Cipaganti dan Cikapundung, berbaris juga ke selatan, Cihampelas, jalan Siliwangi .
Di benakku , semesta tampak begitu bijak dan legowo , kala itu. Meski sebentuk kehidupan batin terus menjadi duri dan mengoyak pelan-pelan kondisi mentalku. Aku masih sempat menutupi dan membasuh semua luka masa kecilku, dengan beningnya riak sungai Cikapundung . Ikan-ikan impun di selokan antar pematang sawah, kujadikan teman dialog dalam hatiku.
Aku dapat menciptakan dunia sendiri dalam imajinasiku. Untuk melupakan lengkingan suara kakek yang acap memaki nenek , atau tengah mengamuk dan membentak semua pelayan di rumahnya. Pada sebuah rumah tua di Ciumbeleuit utara dimana aku tinggal.
Senangnya kala masih bisa tertawa dan berlarian di pematang sawah dekat Kampung Cisatu. Bangau dan aneka unggas sawah tetap menjadi kawan imajinasiku, karena mereka belum pernah sinis menatapku.
Aku jadi sanggup menyimpan harapan esok, dan cita-cita melangit, karena aku yakin, tak semua mata selalu sinis padaku. Seperti sinis orang-orang dewasa yang enggan menyayangiku.
Aku toh masih bisa menghibur diri dengan menyaksikan ramahnya alam padaku. Aku kerap mengelus kerbau petani dengan cinta. Sebab mahluk ini tak memiliki watak pilih kasih, meluku sawah-sawah petani , membantu buruh tani miskin, dengan kesabaran tinggi. Elusan tanganku ke permukaan bulunya , wajah kerbau yang polos dan menggemaskan, mendatangkan kenikmatan jiwa tersendiri. Aku jadi mampu melupakan tangan ibu yang kerap menyakiti bagian-bagian tubuhku.
Karena jika fajar terbit , sumringahnya langit bersih jernih, telah menumbuhkan mimpi baru . Aku selalu mengharap hari yang bakal kulewati menjadi lebih baik dari hari kemarin. Bangunan antik Wisma Silihwangi yang indah , pekarangannya jadi tempat aku bermain.
Ada hamparan rumput dan belukar. Kembang sepatu merah akan jadi perburuanku pagi itu. Dengan mereguk manisnya madu kembang sepatu merah tua yang memenuhi tanaman pagar nenek. Aku tak peduli dengan segala keangkuhan , lirikan meremehkan dan menghina, atau stigma bodoh yang ditancapkan kepadaku.
Terkadang aku mendengar orang-orang dewasa berseteru, terkadang mereka tertawa, namun aku lebih nyaman menggeluti duniaku sendiri. Akupun suka gumpalan kabut, sepertinya turut merasakan kelam yang mengoyak batinku. Aku merasa , hanya alam yang dengan lapang dada membiarkanku berbagi nestapa.
Ketika aku kesepian dengan penjelajahan batin ini. Aku seperti dibiarkan bertualang mengais makna hidupku sendiri, memunguti serpihan jati diri yang tak mereka, orang-orang dewasa itu, berikan padaku. Orang-orang dewasa enggan memberikan stigma jati diri yang objektif. Mereka lebih suka dengan subjektif melontar cap-cap sumbang ke arahku.
Berbicara soal kesedihan, kupikir bunga-bunga bougenville ungu dan kamboja merah jambu dengan penuh cinta telah mengobati lukaku. Aku suka membiarkan diriku berlama-lama memunguti kembang yang bertaburan terhembus angin. Setiap aku meraihnya, aku merasa sedang menambah kekuatan dalam jiwaku.
Suara hutan adalah teman lainku. Jika kabut dan kegelapan merayapi ujung utara Bandung ini, aku menantinya meski dengan harap cemas. Semua orang dewasa masih saja sibuk , berkumpul, tertawa, juga berseteru. Ada yang saling menyombongkan kelebihan dirinya, sambil mencari kesalahan yang lainnya. Ada yang mengumbar rasa dengki dnegan selubung . Ada yang culas dan terus menuntut yang lain untuk meladeni nafsu hura-huranya.
Lebih baik menangkap suara hutan. Kendati harus dengan menyendiri di ranjang gelap senyap. Menyimak suara angin, gesekan rumpun bambu , dan menarik selimut dalam udara yang beku.
Aku selalu merindukan ibu untuk memberikan cinta dan pelukan mesranya. Atau siapa saja orang dewasa untuk menjawab berjuta pertanyaanku tentang pesona yang mewarnai langit dan bumi. Pesona alam yang berbanding terbalik dengan ’suram’nya perilaku orang-orang di kediamanku.
Aku suka dengan mata air-mata air yang bertebaran kala aku diajak seorang pembantu untuk berjalan-jalan melingkari kawasan Ciumbuleuit menuju lereng Punclut.Tempat yang paling aku sukai untuk meluruhkan rasa tak nyaman di benak terdalamku. Kawasan yang membingkai hutan lebat dan semak . Dalam mata air itu ikan-ikan cantik mungil sepertinya memberiku senyum tulus, yang jarang kudapat dari ibuku.
Aku suka senyum para petani dan anak gembala yang menggiring kawanan itik di musim panen. Aku suka dengan wanita –wanita Priangan yang gemulai memotong bulir padi dan menjemur bijinya dengan senyum khas mereka. Kenapa mereka semua memberiku hormat dan senyum, tapi, aku tak dapatkan itu di rumahku. Orang-orang miskin itu memberiku kesejukan yang tulus.
Ketika aku beranjak remaja, dalam rumah itu masih saja orang-orang sibuk tertawa, berdiskusi, saling membanggakan diri, saling mengkritik, dan berseteru. Ada yang sibuk menghasut, ada yang sibuk menjilat , demi membiayai nafsu hura-hura dan kemalasannya. Menjilat agar mendapat simpati orang tua, yang akan membagikan hartanya. Mereka sibuk sekali, dan masih tak ingin memberikan senyum manis padaku. Aku masih rindu keramahan ibuku, nenekku, tapi mereka selalu sinis menatapku.
Kisah mengalir ketika aku jatuh cinta pada seorang lelaki yang dimusuhi orang-orang dewasa di rumahku. Lelaki yang membuatku mabuk kebayang . Yang membuat aku bermimpi siang dan malam. Dan membuatku meronta dari belenggu tradisi yang mengekangku di rumah yang berada tak jauh dari lereng Punclut. Aku suka menemuinya di sekitar Punclut untuk saling berbagi asmara.
Ketika orang-orang dewasa di rumahku tertawa, sehabis mengurug sawah dan menggunduli hutan, aku mengendap-endap mempelajari bagaimana cara hidup bahagia. Ketika orang-orang dewasa di rumahku sibuk berseteru karena pembagian keuntungan yang menurut masing-masing tidak adil dan kurang, aku sempatkan untuk berlari dengan segenap sisa kekuatanku. Berlari merintis kebebasanku.
Lelaki yang membuatku kasmaran menungguku di Punclut. Lalu mengajak aku ke kawasan Bandung selatan.. Ia perlihatkan aku perahu di tengah amukan banjir. Ia perlihatkan aku buldozer-buldozer sewaan kakekku si seluruh penjuru kota . Ia perlihatkan aku gunung-gunung yang gundul dari kejauhan. Ia perlihatkan aku perkampungan kumuh yang berbau sampah dan comberan. .
Ia beritahu aku tentang rasa lapar, ranjang yang kotor, jalan yang sempit, dan air yang busuk. Ia perkenalkan aku pada gundukan sampah dan orang-orang berbaju compang camping yang menatapku dengan cara aneh.
Aku lihat anak-anak dekil di jalanan. Aku dengar tangisan dan bentakan, teriakan dan orang-orang yang marah. Aku bergidik dan menghambur dalam pelukan lelaki itu. Bukankah selama ini aku begitu naif dan seperti katak di belenggu tempurung.
Aku menyayangi lelaki yang dibenci orang-orang dewasa di rumahku. Tapi disayangi banyak orang. Kami mencuri waktu malam untuk memadu cinta di sebuah tempat di lereng Punclut. Suara-suara hutan yang ada merasuki hati kami sampai jauh ke dalam. Langit dan kabut serta gesekan rumpun bambu sepertinya menyembunyikan kami dari orang-orang dewasa di rumahku.
Jatuh cinta , ternyata sungguh memberikan bahagia. Tapi mereka semua di rumahku, tak suka aku jatuh cinta. Mereka adalah kakekku yang membentak dengan kasar, nenekku yang senang menyindir tajam, bibiku yang gemar mencibir dengan angkuh, pamanku yang selalu jijik pada orang miskin, dan ibu yang kupikir …jangan-jangan sebenarnya dia bukan ibuku. Tak ada tanda-tanda ketulusan kasih sayang sejati. Tentang ayah? Aku memang tak punya ayah, dan tak tahu siapa ayahku.
Ah, itu nestapa dari waktu-waktu silam. Masa laluku terlalu panjang untuk aku sampaikan pada siapa saja. Kini aku hidup dalam kesederhanaan yang menyejukkan. Meski kehidupan terus menggelinding. Dan semua kenangan di lereng Punclut, serta jalan-jalan lengang di belahan utara itu telah menjelma jadi belantara beton.
Sayangnya, cinta , asmara, ternyata tak sanggup memenuhi rasa lapar. Aku dan kekasihku –yang telah jadi suamiku- , kerap bergulat dengan himpitan ekonomi. Ternyata, kemiskinan, kesederhanaan ,juga penuh duri. Kekasihku meninggal tercinta terserang wabah. Wabah penyakit memang akrab dengan orang miskin dan penghuni tempat kumuh.
Dalam himpitan kemiskinan, mereka –paramedis - , tidak maksimal mengobati kekasih hatiku. Mereka mmebiarkan kekasihku terkapar direnggut maut. Tanpa uang, mereka jadi setengah hati dan ogah-ogahan merawat suamiku.Rapuh jiwaku, telah membuatku kembali merasa gagal menjalani kemelaratan ini sebatang kara. Tanpa orang yang memberiku gairah hidup dan semangat.Aku lapar, dan putus asa.
Dengan muka tebal, kuputuskan buat pulang. Aku berlutut di kaki kakek. Dengan sekuat tenaga memohon belas kasihan. Aku katakan bahwa aku sedih, kehilangan kekasih, dan putus asa. Mereka malah balik marah dan mengusirku.
“Jangan pernah kembali anak jadah!!” kakek mengusirku, juga nenek. Hanya saja, kulihat mata ibu berkaca-kaca. Tapi ia tetap tak mampu menunjukkan kasihnya padaku. Ia malah membiarkan lelaki yang belum lama mengawininya itu ikut mengusirku.
Aku telah kehilangan cinta di usia remajaku. Ditambah sikap ibu yang tampaknya kurang mampu mengungkapkan bukti sayang padaku. Akhirnya, kupilih berjalan kemana saja aku ingin tanpa arah pasti. Dan aku selalu berhadapan dengan keterkejutan, karena waktu begitu cepat. Banyak perubahan yang mengejutkan.
Aku kaget dengan terminal-terminal yang berubah, kini dipenuhi bahasa dan watak kasar. Aku miris dengan sawah-sawah yang disulap menjadi pabrik dan rumah-rumah megah. Aku kecewa melihat hutan menjadi gersang. Aku mengamuk menyaksikan sederetan angkot kosong memainkan klakson di jalan macet, berhenti tanpa aturan. Kendaraan yang semrawut menerobos pintu perlintasan kereta yang tengah lewat. Aku benci dengan para setan jalanan yang menebar maut di jalan raya.
Karena jalan raya adalah rumahku. Kadang aku menyusuri emper-emper toko yang busuk. Dan memunguti sisa-sisa makanan di tenda-tenda warung kaki lima. Aku lihat rombongan mobil mewah dari gerbang tol berbondong-bondong menyerbu kota Bandung. Kabut sejuk yang dulu sering kuhirup, telah berubah sifat, jadi membuat nafasku tersengal?
“Itu bukannya kabut, tapi asap pabrik, dan asap kendaraan…….!:” seseorang dengan geli menjelaskan padaku. Sialan, aku sedang menggerutu sendiri, tukang jualan asongan itu malah menjawab. Dengan gerutuan kasar aku memakinya, meludah dan berlalu.
Pernah juga, aku merasakan bumi berguncang, tapi aku tak cemas. Karena aku sudah tinggal dan tidur di alam terbuka siang dan malam. Aku terbahak-bahak melihat orang-orang berbaur denganku, katanya takut rumahnya runtuh oleh gempa, mereka tidur di emperan toko. Di tempat lain , aku lihat orang-orang panik menyelamatkan barangnya , naik perahu dan mengungsi karena banjir, aku tersenyum. Aku leluasa kemanapun tanpa membawa sepotong barangpun.
Sempat aku jalan-jalan di musim penghujan yang luar biasa panjangnya tahun 2006 ini. Angin puting beliung menjadi hiburan dan tontonan yang mengasyikkan. Aku berjoged-joged, menggoyangkan pinggulku di tengah hujan. Aku melompat-lompat kegirangan.
Petir yang menyambar beberapa rumah dan memadamkan aliran listrik juga membuatku bersorak. Padahal orang-orang kalang kabut, ada juga yang mengeluhkan perabotan listrik mereka jebol berantakan gara-gara petir.
Genangan air menyelimuti aspal kelabu. Jalan Dago, jalan Setiabudi dan … …… Sebuah jalan yang membuat aku bergidik sesaat. Jalan Ciumbuleuit dipenuhi air mengalir deras dari arah utara. Jalan itu sepertinya memiliki magnet yang menyedotku.
Aku tak peduli dengan orang-orang yang berteriak karena beberapa pohon tumbang menimpa sepasang kekasih bermotor bebek. Aku terus berlari ke arah utara dengan kekuatan aneh yang menggerakkan tubuhku. Tak peduli orang-orang berteduh menatapku dengan tatapan yang sulit kupahami.
Punclut……Aaaah, setelah melewati bunderan, akhirnya aku bertemu dengan terminal oplet. Opleeet? Aku bingung, tak ada oplet lagi. Cuma angkot berdesakan, berwarna hijau seperti yang kulihat dimana-mana. Dan kerap membuat kacau lalu lintas. Kadangkala aku lihat sopir angkot berangasan, kadang ada yang baik, kadang ada yang sadis dan sangar, kadang ada yang bijak . Tapi kebanyakan tukang melanggar aturan, ugal-ugalan, dan kasar. Sial. Kemana para supir oplet yang bijak itu? Yang selalu menuturkan bahasa dan tradisi yang santun? Tapi aku yakin, ini pasti Punclut.
Ini tempat yang kurindukan bertahun-tahun. Dadaku berguncang, bertahun-tahun aku selalu takut mendatangi tempat ini. Bertahun-tahun, bahkan aku lupa sudah berapa lama, aku tak ingin mendatangi Punclut. Karena aku takut ingatanku sembuh kembali. Namun ada dorongan dahsyat yang bergolak di lubuk jiwaku. Semakin dahsyat , rindu, cerita lama, rasa kesepian, dan harapan-harapan lawas yang sekian lama terkubur. Aku cekikikan seraya menjerit . lalu menangis terisak-isak, dan mengeluarkan ratapan histeris . Aku menyaksikan Punclut. Aku menyaksikan tragedi seram. Dan aku melihat perubahan yang mengejutkan
Aku merdeka mengembara kemanapun, menyaksikan kemelut kehidupan. Tak peduli orang-orang menjauhi dengan rasa jijik dan takut. Tapi kala aku menyaksikan Punclut, kesadaranku tiba-tiba hidup kembali. Meski aku benci, ingatan itu kembali bangkit dan menjebol bendungan yang kubangun sendiri. Perlahan cekikik tawaku pudar. Perlahan tangis histerisku reda. Aku memandang langit yang digelayuti mendung. Aku bersidekap dengan takut dan cemas tak terkira. Musim hujan tak kunjung usai.Musim hujan semakin panjang.
Banjir, lapar, miskin, juga semakin menyerbu. Aku baru sadar, aku kini cuma sesosok tulang berbalut kulit keriput. Tubuhku bau busuk, pakaianku hitam kotor, rambutku gimbal . Aku baru sadar, rambut kusutku telah memutih. Aku baru sadar, betapa gelombang kehidupan panjang dan mengerikan, telah menggulungku.
Aku baru sadar, dan terkenang kembali peristiwa kala orang-orang dewasa di rumahku membentakku untuk pergi dan tak kembali. Dan menyumpahiku sebagai anak haram yang tak diinginkan. Sementara ibu menikah lagi dengan lelaki yang kerap berbuat ‘nakal’ dan mencoba main mata denganku.
Aku ingat, kejadian aku kehilangan cinta sejatiku, yakni pria yang memperkenalkan makna hidup. Yang tadinya ingin kujadikan tempat berpijak dan memahami nilai-nilai moril kehidupan sejati. Tapi ia wafat mengenaskan, dan haluan hidupku berubah total.
Berkelebat masa lalu. Setelah suamiku wafat, aku menggelandang. Sampai diperangkap mafia obat bius , dan prostitusi. Terjerat permainan cinta gombal anak-anak muda pengeretan. Aku jadi amat benci kaum lelaki yang selalu melecehkan perempuan. Aku baru sadar, trauma ketika aku dijebak, lalu diperjual belikan sebagai penghibur di luar negeri.
Dulu, di masa kecil dan remajaku, aku mendengar orang berseteru, culas, licik, penjilat, penipu, pembual setiap hari, dengan bentakan kasar dan bahasa kotor, di rumah kakekku.. Tapi sekarang aku menemukannya dimana-mana. . Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, ibu rumah tangga, eksekutif, orang kaya, orang miskin, orang terhormat sampai preman terminal dan pasar. Entahlah…, aku tak mengerti. Kepalaku tak mampu menganalisanya.
Aku benci kenyataan. Mungkin adalah lebih baik mengembara pada dunia khayalanku kembali, lebih merdeka. Aku bisa menciptakan keindahan alam yang hijau ,bahkan keramahan, kebijakan, kejujuran, kesabaran, kesetiaan, kebaikan…… dalam masyarakat di alam khayalku. Kesadaran dan bangkitnya ingatanku, kerap membuat jiwaku malah menjadi nyeri tercerai berai.
Seorang wanita muda dengan penuh belas kasihan, tiba-tiba menyapaku.
“Nek, sekarang ini bakalan ada pembersihan para gelandangan Jadi, nenek tak boleh ada di tempat umum begini……,” ujarnya lembut. “Kalau saya boleh tahu, nenek ini asalnya dari kampung mana?” ia bertanya dengan lembut.
“Saya? …….” Aku menangis. Tangis lirih yang memilukan. Semua perasaan terpahit kini menghujam dan menusuk-nusuk perasaan serta pikiranku. Marah, sedih, dan nelangsa. Aku benci untuk mengingat dan menjawabnya.
Tangan wanita itu lembut menggenggam jemariku, tanpa rasa jijik. Ia mengajakku ke sebuah tempat . Tempat dimana aku diminta mandi, dan dibaurkan dengan wanita tua lainnya.
Sebenarnya sakit hidup dengan ingatan utuh. Tapi ini saatnya aku untuk sedikit lebih berani menerima realita. Seorang wanita tua lainnya menyambutku.
“Dari mana asalmu?”
“Dekat Punclut di Ciumbuleuit……..,” aku menjawab dengan airmata tertahan.
Pasti lawan bicaraku ini bakalan tak percaya, kalau aku sebutkan sebuah rumah mewah. Kastil mini peninggalan kolonial Belanda. Yang memiliki pekarangan luas, kolam renang, serta puluhan kamar. Berbatasan dengan kebun bunga, sawah dan hutan. Karena tempat itu kini sudah tak ada.
Sudah berubah menjadi kawasan komersial dan deretan bangunan lainnya berbaris, dan menutupi hampir seluruh permukaan Ciumbuleuit. Suara ribuan unggas, hutan, katak sawah, gemericik pancuran dan mata air, gesekan rumpun bambu, atau kokok ayam dari perkampungan, tak lagi terdengar. Aku mulai sesunggukan dengan marah, putus asa, kecewa, dan menyerapahi perubahan yang ’menakutkan’ itu.. Sungguh, aku gemetaran , sedih, dan takut menghadapi masa kini, dan ingin kembali ke tempo dulu. Masa kecilku di dataran tinggi itu. Dan sepenggal kisah cintaku , di antara rimbunnya Punclut . (Bandung, April 2005-Mei 2006)
haloo, cerpennya bagus, btw u dari bandung sama donwk. saya sangat suka nulis cerpen, kira-kira kita bisa diskusi tentang hasil-hasil tulisan kita. salut dan semangat terus nulis yah!
hai, ceritanya begitu mengalir,sepertinya ini pengalaman nyata penulis.
Juzt cant zay no wordz
Too beautiful for me and only one thing for zure
U r a great writter
muita bonita…
mengesankan sekali, setelah membaca hampir semua tulisan ariesita sejak 2002 sampai 2009, yang ini termasuk yang terbaik…