KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Dering Sunyi

Kehidupan sudah membayar mahal untuk kenangan
dan aku melipatnya dalam bejana kaca
petang yang sedih menyingkirkan mimpi-mimpi
lalu melarutkannya ke danau

Pagi ini cuaca sangat parah
matahari tak menepati janji
Nyanyian embun berganti suara keramik yang perlahan membubuk
Dawai harpa berteriak tak tentu, mungkin mengigau

Apalah hari…….
Danau saja tak mengerti kedalaman palungnya
Hidup cuma bilangan waktu
Semua berlari menuju mati

Waktu serupa daun-daun mati yang takut gugur ke bumi

Ah!
Kesendirian meneleponku berulang kali
deringnya membakar rumah-rumah dan pertokoan
(aku memang hidup di kota mati)
“Aku cuma ingin menyepi,” ujar bisik tak sampai
Namun, deru mobil menggilas bisikku jadi dering sunyi

Maka
Bila pagi tiba dan kau dibelit sendiri
Terbanglah ke horn telepon
Angkat
Ada sunyi bukan?

Aku memanggilmu dalam dering sunyi
Aku menghamba jadi tangan yang mendekapmu dari sendiri

Oh
Banyak orang memilih sendiri, ingin sendiri
Mereka tak mengerti bahwa sendiri itu perih!

(Ps: sebelumnya ditulis di http://sangtimur.multiply.com/journal/item/18)

One Response to “Dering Sunyi”

  1. on 22 Mar 2007 at 15:55surya

    gue ga tau maksudnya apa..? tp gue suka dengan cerita2 kayak gini, “Mereka tak mengerti bahwa sendiri itu perih!”

Tinggalkan Komentar