Dering Sunyi
Desember 3rd, 2006 by Sulfiza Ariska
Kehidupan sudah membayar mahal untuk kenangan
dan aku melipatnya dalam bejana kaca
petang yang sedih menyingkirkan mimpi-mimpi
lalu melarutkannya ke danau
Pagi ini cuaca sangat parah
matahari tak menepati janji
Nyanyian embun berganti suara keramik yang perlahan membubuk
Dawai harpa berteriak tak tentu, mungkin mengigau
Apalah hari…….
Danau saja tak mengerti kedalaman palungnya
Hidup cuma bilangan waktu
Semua berlari menuju mati
Waktu serupa daun-daun mati yang takut gugur ke bumi
Ah!
Kesendirian meneleponku berulang kali
deringnya membakar rumah-rumah dan pertokoan
(aku memang hidup di kota mati)
“Aku cuma ingin menyepi,” ujar bisik tak sampai
Namun, deru mobil menggilas bisikku jadi dering sunyi
Maka
Bila pagi tiba dan kau dibelit sendiri
Terbanglah ke horn telepon
Angkat
Ada sunyi bukan?
Aku memanggilmu dalam dering sunyi
Aku menghamba jadi tangan yang mendekapmu dari sendiri
Oh
Banyak orang memilih sendiri, ingin sendiri
Mereka tak mengerti bahwa sendiri itu perih!
(Ps: sebelumnya ditulis di http://sangtimur.multiply.com/journal/item/18)
gue ga tau maksudnya apa..? tp gue suka dengan cerita2 kayak gini, “Mereka tak mengerti bahwa sendiri itu perih!”