KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bulan Pemburu

Senja masih saja merah setelah usai tangisan langit sore itu. Matahari mulai mengintip untuk kembali berputar ke belahan bumi lainnya, dengan tertarih di ujung sana tampak sesosok lelaki, berjalan menyusuri sisa-sisa tangisan cahaya langit yang redup. Dan daun-daun yang terlelap dibawa hujan masih tertidur di atas tanah merah yang becek di sepanjang jalan ini, Melewati rumah-rumah tua yang tak terurus, diselimuti lumut hijau yang tebal dan kaki-kaki rumah yang sudah rapuh, lelaki itu terus berjalan meninggalkan senja yang makin merah. Nafasnya terengah-engah, dengan perasaan gundah dan nelangsa dia tetap menyusuri jalan itu.

Dengan tas yang tergantung di pundak, entah apa yang dibawa didalam tas bututnya itu, baju atau apalah, bajunya kotor dan banyak sobekan di sana sini, yang sudah tidak pernah diganti, celana panjang yang sudah banyak lubangnya pula. Sepanjang jalan itu sepi dan lengang, Dia memunguti sisa-sasa hari, memakan remeh-remeh yang tak diperlukan orang.

Sementara aroma jalan kian menusuk dada, udara yang sudah terlalu tua dan debu yang tersiram air menimbulkan aroma yang menyesakkan dadanya, tapi langkahnya tak terhenti tak ada jeda di antara langkah lelaki itu. Sudah beberapa lama dia berjalan tidak perduliakannya, karena buat dia dengan menacari tahu jawaban atas kematian wanita-wanita cantik yang dia dengar, dari kampungnya hingga tempat-tempat yang dilewatinya, lebih dari sekedar memecahkan rahasia kemiskinan yang dia derita selama ini, mungkin dengan menemukan jawaban atas semua peristiwa itu dia akan merasa puas, ketimbang dia harus berhenti dan kembali kerumahnya.

Sepanjang jalan ini lelaki itu terus terkena cipratan air saat sebuah kendaraan melintas dengan cepat. Namun tak pernah keluar satu patah kata pun dari mulutnya, hanya tatapan kosong yang ia lakukan ketika semuanya terus terjadi dan berulang-ulang.

Tak lama terdengar nyanyian-nyanyian indah yang tak jelas dari mana datangnya. Lelaki itu tak sadar dan tak tahu dari mana asal suara-suara itu. Sepanjang jalan ia terus mendengarnya dan semakin jelas terdengar, semakin lama suara-suara itu makin mengganggu, dia melihat ke sekitarnya namun semuanya sia-sia. Pikirannnya terus melayang, dosa apa yang sudah ia perbuat hingga ia dipermainkan suara-suara aneh.

Tiba-tiba dia terjatuh (entah kenapa dia terjatuh) di atas trotoar jalan itu, dia berusaha untuk bangkit tapi tak bisa. Bukan kaki yang disapa tapi perutnya yang pertama kali ia sapa, kosong dan perih, pantas saja dia terjatuh tiba-tiba dan tak bisa berdiri sedikit pun. Dia baru menyadari bahwa dirinya sudah dua hari ini belum makan nasi, hanya air saja. Sisa-sisa makan yang ia temukan di sepanjang jalan tidak bisa menolong perutnya untuk diam bernyanyi. Dia tertawa sendiri saat sadar, suara-suara yang tadi mengikutinya adalah nyanyian perutnya sendiri, “pantas saja aku merasa lemas sekali, ternyata aku belum makan nasi” .

Tiba-tiba sebuah sedan yang melintas di jalan itu berhenti, dan turunlah seorang wanita cantik dengan dandanan yang aneh, rok pendek, baju super ketat, dan mak up yang menor.

“Kenapa, Pak?”

“Saya tidak apa-apa, hanya sedikit lemas saja.”

“Apakah Bapak sakit?”

“Tidak, saya tidak sakit, hanya mendiamkan perut saya.”

“Maaf, Pak maksud Bapak apa?”

“Perut saya sedang bernyanyi, sementara saya tidak punya uang.”

“Oh, … itu. Saya pikir apa. Kalau begitu mari ikut saya.”

“Tapi, apa nona tidak takut sama saya? Tanyaku.

“Buat apa takut sama bapak! Asalkan Bapak masih waras saya tidak taktu!”

“Tapi mau dibawa kama saya yang kotor ini Nona?” tanyaku lagi.

“Sudah pokoknya Bapak ikut saja.”

“Terimakasih, saya bisa mendiamkan perut saya ini.”

“Jangan begitu, anggaap saya anak perempuan bapak yang sudah lama tidak bertemu, dan sekarang bertemu dengan bapaknya, apa saya salah kalau mengajak bapak makan? Sudah Pak mari ikut saya.”

“Baiklah Nona, tapi apakah anda tidak keberatan dengan dandanan saya seperti ini?”

“Sudahlah Pak, saya sudah menemukan lelaki yang lebih busuk dan lebih kotor dari bapak, mungkin sudah ratusan atau bahkan ribun orang!”

“Apakah sudah sebanyak itukah lelaki yang kotor dan dekil seperti saya ini Nona?”

“Sudahlah Pak, mari ikut saya. Anggap saja ini sebuah hadiah dari saya.”

Kemudian perempuan itu membawa lelaki kumel ke dalam mobilnya, mereka kemudian pergi, di tengah temaram langit biru tua.

Perempuan itu mengajaknya makan di sebuah warung nasi. Setelah selesai mereka lalu berpisah, hanya sepenggal kalimat yang diucapkan lelaki paruh baya itu, “Terimakasih anda sudah sudi mengajak saya makan dan mendiamkan nyanyain dalam perut saya”. Dan senyuman manis dari wanita itu menandai perpisahan mereka.

Dan lelaki itu tersenyum, “sekarang! mungkin nyanyian ini tidak akan terdengar tapi entah dua atau tiga hari lagi”. Tapi sampai kapan aku terus mencari jawaban atas kematian wanita-wanita cantik itu? Dia terus berjalan menyusuri jalan, malam mulai menjemputnya dengan keheningan dan remang sinar malam, “kalau tidak salah sekarang bulan purnama! pasti akan terang sekali.” Dia terus mengayuh kakinya dengan gontai, perasaanya gundah dan was-was menggetarkan jantungnya malam ini, bukan takut akan gelapnya malam namun karena sekarang adalah malam purnama, entah purnama keberapa dia lalui yang selalu saja dia dengar dengan kepedihan yang mendalam. Dia tak jemu-jemu terus berjalan menembus malam yang semakin hening.

“Pasti sekarang banyak orang-orang bermandian cahaya purnama, atau mereka bercumbu dengan bulan purnama, atau mereka berburu bulan. Malah mungkin sebaliknya banyak orang-orang yang diburu bulan. Sudah sepanjang perjalananku, kabar yang kudengar orang-orang banyak yang mati sesaat setelah bermandikan cahaya bulan atau bercumbu dengan bulan! Sejuah yang aku tahu mereka mati setelah menatap purnama hingga pergantian hari, padahal hampir semua orang di daerah sini sudah tahu akan hal itu, Tapi kenapa mereka selalu senang dan gembira ketika bulan purnama datang. Biasanya mereka yang meninggal adalah, perempuan-perempuan yang suka berjalan di kegelapan malam, dan selalu bermandikan peluh saat purnama. Ah! itu dia sudah muncul. Pantas saja semua orang selalu ingin melihatnya, memang sangat indah sekali, tapi aku tak mau seperti mereka! Aku harus menghindar dari purnama itu malam ini. Aku tak mau jadi korban selanjutnya!”.

Dalam keremangan malam, Lelaki itu menghentikan langkahnya, dan berusaha mencari perlindungan. Dia berusaha untuk berpaling dari cahaya bulan purnama itu, nasib memang tak pernah selalu buruk, dia menemukan sebuah gubuk di pinggir jalan itu lalu dia masuk. Lama dia merenungi nasibnya, dan gubuk itu menjadi saksi perjalanannya hingga saat ini, lelah setelah seharian berjalan dia membaringkan tubuhnya di atas bangku, sudah berapa bulan atau tahun bangku itu tak pernah terpakai dia tak tahu, tapi melihat kondisinya yang sangat kotor pastilah sudah lama tak ada yang pernah duduk di situ, dan sudah reyot pasti sudah lama sekali, lelaki itu tertidur pulas tak memikirkan apa-apa lagi.

Udara pagi sudah terasa di tubuh lelaki itu, dingin yang membekukan darah sudah mulai pudar, dan nyanyian burung terdengar indah, sinar mentari menyelinap, mengintip lalu lubang-lubang bilik yang sudah rapuh itu, badannya terasa segar sekali, dia merentangkan tubuhnya seperti kucing yang baru bangun tidur menggeliat dengan nikmatnya. Kemudian dia keluar dari gubuk itu, melihat pemandangan sekitar. Sesekali kendaraan melintas di depan gubuk reyot itu dia hanya tersenyum. “Ah aku harus cepat pergi lagi.”

Bersamaan dengan embun pagi yang menetes dari dedaunan dan menjadi hari, lelaki itu meninggalkan gubuk reyot tanpa tuan. Berjalan perlahan melanjutkan perjalanannya. Sama seperti hari-hari lalu, langkahnya tak pernah lelah mengukur hari dari pagi hingga malam. “Aku yakin pasti ada korban lagi, tapi entah siapa?” matahari mulai tinggi perlahan meninggalkan ufuk timur dengan tenang, buih-buih peluh sudah menetes dari wajah lelaki itu. Sudah 5 jam perjalanan hari ini yang dia tempuh, matanya terus mencari sisa-sisa makanan atau apalah yang bisa dimakan.

Dari kejauhan terlihat sekumpulan orang ramai di pinggir jalan, entah apa yang mereka lihat dan kerumuni, semua berdesak-desakan ingin melihat ada apa. Langkah lelaki itu terhenti dan menunduk tak kuasa menahan perih dihatinya, jantungnga berdegup keras nafasnya tersengal, airmatanya mentes jatuhi tanah siang itu, “Benar apa yang sudah aku pikirkan, lagi-lagi ada orang mati setelah purnama usai”. Lelaki itu mempercepat jalannya, dan berusaha untuk lari tapi sayang kakinya tak kuasa. Setelah hampir setengah hari dia berjalan.

“Ada apa Pak?”

“Seorang wanita meninggal di dalam mobilnya!”

“Kenapa pak?”

“Mungkin dibunuh orang tak dikenal!”

“Apa di sini sering terjadi seperti ini?”

“Tidak!”

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama.”

Lelaki itu menanyakan apa yang sudah terjadi, pada seorang lelaki seusianya. Lalu dia berusaha menghampiri mobil itu, siapakah mayat naas itu.

Airmatanya menetes kembali tak kuasa menahan haru atas kematian yang menimpa wanita itu. Dia berusaha untuk tetap tegar dan mencoba memperhatikan dengan jelas siapa wanita itu. Begitu melihat kendaraan sedan biru yang dikelilingi orang-orang, dia langsung sadar dan tahu siapa yang meninggal.

“Kenapa Pak, wanita ini mati?”

“Tidak tahu, tapi katanya semalam dia berdua dengan lelaki di atas mobil ini hingga larut malam, dan setelah itu, perempuan ini ditinggalkan teman lelakinya.”

“Apakah dia dibunuh?”

“Tidak, sepertinya tidak ada bekas pembunuhan.”

“Semua orang disini tahu, pasti dia meninggal setelah menatap purnama tadi malam.”

“Apakah dia orang sini?”

“Bukan!”

Orang-orang tak ada yang berani untuk mengurus mayat wanita itu, tak lama kemudian polisi datang untuk memeriksa. Hingga usai diperiksa tak ada tanda-tanda kalau wanita itu mati dibunuh atau tabrakan.

Siapa pun dia yang jelas dia sudah menolong ku. “Terimakasih atas makan yang telah anda berikan pada saya, mungkin besok lusa nyanyian itu akan temani saya sepanjang perjalanan ini, mudah-mudahan nyanyian esok atau lusa menjadi doa untuk anda, mudah-mudahan pemberian anda itu menjadi imbalan buat anda, amin.” Gadis muda berparas ayu, yang telah menolongnya kemarin petang itulah yang meninggal di mobilnya sendiri, Hanya sebuah tanda merah jingga bulat di keningnya seperti purnama tadi malam. Kini aku tahu jawaban atas semua kejadian ini.

-00-

Hikmal Sanusi

                Jakarta, 02 Agustus 2005

Tinggalkan Komentar