KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

TV, Rokok, dan Kelamin

Minggu 12 Oktober 2005, jam 15.00 wib.

Udah mulai belum acaranya bu?”

“Baru mulai, lagi iklan!” Maria menghisap rokoknya dalam-dalam dan meniupkan asapnya ke luar mulut.

“Ada gosip apa bu?”

“Biasa tentang artis yang cerai dan tentang seorang penulis yang baru saja meluncurkan buku barunya!”

“Masa dua saja beritanya!”

“Sudah nanti liat saja sendiri!” dengan ketus ibunya menjawab dan kembali menghisap rokok serta meneguk kopi.

Dari kamar keluar si Anton yang baru bangun, setelah seharian tidur karena semalam dia tidak tidur, katanya habis ada acara dengan teman-temannya sampai pagi. Dengan wajah yang kusut dan rambut yang acak-acakan, kemudian dia menghampiri ibunya dan kakanya. Mengambil gelas minum kakanya langsung meneguknya, dan mengambil sebatang rokok ibunya yang tergeletak di meja.

“Dari mana saja kamu baru keliatan?” tanya Mayla

“Malam abis kumpul ma temen-temen gue di rumah si Dian!”

“Pada ngapain semalem, pasti elu pada nonton bokep kan?!” wajahnya langsung memucat, dan jantungnya berdegup keras, raut wajahnya tidak lagi tenang. Mayla melihatnya sinis, sementara sang ibu tersenyum melihat anak lelakinya yang gugup itu.

“Enak aja! Gue ma temen-temen gue abis bakar ikan dan main gitar itu aja!?” dengan wajah yang pucat itu dan suaranya yang agak keras menyanggah tudingan kakanya itu, meski dia sadar apa yang di katakan kakaknya betul adanya, tetapi dia tidak mau mengakui itu semua, sebagai anak lelaki yang memang sedang puber, Anton menyukai tontonan seperti itu, tapi dia juga tidak ingin kebiasaannya menonton film biru itu di ketahui keluarganya, dan lagi dia takut dengan ibunya.

“Iya, abis bakar ikan dan minum-minum elu ma temen-temen elu pasti nonton bokep kan?” Mayla terus mendesaknya untuk mengakui perbuatan adiknya, memang kakanya hanya menebak saja, namun menurut pengalamannya, dan cerita dari teman-teman lelaki di kampus, kalau sudah berkumpul beberapa anak laki-laki lalu acara terakhir biasanya mereka menonton bokep (film biru), meski Anton terus menyanggah tuduhan kakaknya, dia tidak bisa menyembunyikan wajah pucat dan gugup itu dari pandangan Mayla dan ibunya.

“Sudah diam!” Teriak ibunya yang memang terganggu dengan perdebatan kedua anaknya itu! “Acaranya udah mulai lagi, nanti kalian teruskan saja debatnya selagi iklan-iklan yang banyak itu!” bentak ibunya.

Kabar tentang peluncuran buku terbaru pengarang yang sekaligus merangkap sebagai artis, di tv sangat meriah. Ketiga orang itu duduk tenang mengamati kabar tersebut. Dalam wawancaranya sanga reporter menanyakan apakah buku kali ini cerita lanjutan dari buku sebelumnya, dengan senyum si penulis menjawab bukunya kali ini agak sedikit berbeda, namun tetap pada konsep yang sama dengan buku sebelumnya, katanya dengan langsung di perlihatkan cover buku barunya yang bergambar seperti kelamin perempuan, dan dia menambahkan 3 hari kedepan cetakkan keduanya akan segera terbit, karena cetekan pertama sudah habis di pesan, ujarnya.

“Ibu aku ingin seperti dia!” teriak Mayla, pada ibunya yang kaget itu.

“Jangan!” bentak Maria

“Aku ingin menjadi penulis sepertinya! Pokoknya aku ingin seperti dia!”

“Jangan! Aku tidak setuju!” teriak ibunya.

“Apa salahnya menjadi seorang penulis seperti dia, aku sudah bosan dengan para penulis yang hanya bercerita dengan metafor-metafor yang mereka tulis sangat rapih namun menenggelamkan kisah dan plotnya di balik metafor itu! Atau penulis yang cengeng, aku ingin menulis apa adanya tanpa harus di ganti atau selalu disamarkan.” Mayla begitu antusias melihat kabar ini.

“Apa yang kamu bisa! Menulis novel seperti itu tidak mudah! Dan lagi masih banyak hal yang kamu harus pelajari untuk bisa menjadi penulis seperti dia!” Anton tidak bergeming dengan percakapan kakanya dan ibunya, dia terus menghisap rokok dan meminum air punya Mayla.

“Selama ini Mayla sering menulis cerpen dan kadang-kadang menulis beberapa puisi, itu bisa jadi modal dasar untuk menjadi penulis seperti dia!”

“Sudahlah kamu jadi pekerja biasa saja! Ibu tidak ingin melihatmu menjadi penulis atau pembual angan-angan jelas, seperti bapakmu itu!”

“Menurukku menjadi penulis lebih menguntungkan di bandingkan kerja di kantoran, aku tidak mau saling menjatuhkan teman sendiri demi karirku, aku tidak mau seperti paman Jul yang sekarang menjadi kaya, dengan sikut sana sikut sini. Aku ingin bebas tidak ada yang mengaturku bisa berpakaian sesuka hati tanpa ada yang melarang, jadi biarlah aku menjadi seorang penulis atau pembual seperti dia! Aku sudah bosan dengan angka-angka akutansi menumpuk di kepalaku yang setiap hari kupelajari, bukankah dulu ibu menerima lamaran bapak karena bapak seorang penulis sepertinya, kerjanya duduk di depan komputer berjam-jam membuat kisah-kisah yang dramatis, membuat para pembaca meringis membaca kisahnya! Atau membuat kritik-kritik menyudutkan seseorang, di muat koran-koran. Tanpa harus bekerja sampai berkeringat seperti kuli panggul dipasar namun dapet uangnya besar.” Mayla dengan bangga menjelaskan pada ibunya bagaimana enaknya menjadi seorang penulis, tapi ibunya hanya tersenyum sinis melihatnya, dan Anton tetap tak diam mendengarkan debat Mayla dan ibunya, dia terus menghisap rokoknya.

“Sudah! Tidak usah kamu ungkit masalah orang tuamu lagi! Aku sudah muak sama bapakmu! Kalau kau ingin menjadi penulis atau pengarang seperti dia atau bapakmu, lakukan saja tapi ingat jangan kau menulis tentang kelaminmu sendiri!”

“Memangnya kenapa bu? Bukankah si penulis ti tv itu menulis tentang kelaminnya sendiri, dan cerita-cerita pendek bapak yang di muat di koran-koran  dan beberapa novelnya semua tentang kelamin wanita dan laki-laki! Aku ini sudah dewasa biarlah aku menentukan jalanku sendiri!” Anton menatap Mayla dan mengerutkan alisnya, Mayla tersenyum sinis.

“Kalau kau mau menulis cerita seperti dia, apa kau tidak malu?”

“Kenapa aku harus malu! Tidak ada yang tahu siapa aku mungkin mereka tak mau tahu, jadi kenapa harus malu!”

“Terus kenapa kamu pake celana seperti itu? Apa karena mereka tidak tahu atau karena kau malu pada si Anton atau apa?”

“Ini tidak ada hubunganya dengan keinginanku menulis cerita tentang kelamin!”

“Dasar goblok! Buat apa kau tutup-tutupi kemaluanmu itu! Jika kau tulis dan kau ceritakan pada semua orang tentang kelaminmu yang bau busuk itu! Ibu nya membentak Mayla tapi dia mencoba menyanggahnya. “Atau aku akan bercerita betapa busuknya kelamin bapakmu itu pada kalian! Atau tentang cerita-cerita perselingkuhan yang sering di tulis bapakmu!? Pada akhirnya dia telah berselingkuh dan meninggalkanku, serta kalian!” Mayla terdiam dan Anton hanya menatap ibunya .

“Ibu lihat si pengarang di tv itu! Apa dia malu menceritakan kisah tentang kelaminnya? Sepertinya dia sangat senang dengan hasil tulisannya, lalu kenapa aku harus malu bercerita tentang perselingkuhan seperti bapak, membeberkan kelamin wanita dan lelaki dalam ceritaku!” aku ingin terkenal seperti pengarang itu, atau seperti bapak, aku akan mengarang tentang kelamin, ceritanya tidak penting apalagi plotnya yang penting harus jadi sensasi itu aja, persetan dengan yang tidak setuju, apalagi yang membacanya siapa! Yang jelas aku ingin menulis tentang kelamin!”

“Apa kau pernah mengalami tentang perselingkuhan atau pelecahan seksual pada dirimu?” ibunya bertanya dengan penuh amarah.

“Sudah! Berisik! Mau lihat tv atau mau debat? Kalau mau debat di DPR saja, tapi kalau mau nonton tv ya diem!” Anton berteriak menyelak omongan kakanya dan ibunya, wajah ibunya masih tetap merah dan Mayla masih tetap teguh dengan keinginannya.

“Terserah apa yang kau inginkan, menjadi penulis seperti dia atau menjadi pelacur sepertiku sekarang aku tidak perduli!” tutur Maria pada Mayla, “Dan kau Anton! Apa kamu mau menjadi seperti Ayahmu? Menjadi penulis terkenal lalu mencampakan istrinya?!” Anton hanya menunduk dan tak bersuara. “Kalian tahu, kenapa aku dulu mau menerima lamaran bapakmu?! Karena aku terjabak dengan rayuan-rayuan bejatnya, dan kehidupan yang lebih baik yang di janjikannya, dasar Herman lelaki bangsat!” Maria mengambil sebatang rokok kemudian di bakar dihisapnya dalam-dalam, matanya berkaca-kaca wajahnya merah, rasa benci yang mengendap dihatinya pada Herman membara lagi, perdebatan Mayla dengannya mengingatkan pada mantan suaminya yang kini pergi meninggalkannya dan kedua anaknya, Herman menikah lagi dengan perempuan lain.

“Sampai jumpa minggu depan dalam acara yang sama dan jam yang sama di stasiun tv kesayang kita bersama MK tv”. Pembawa acara itu menutup acaranya, Anton dan Mayla meninggalkan Ibunya, duduk sendiri di kursi tanpa kata.

Tinggalkan Komentar