Sepi, Sepi Milik KU Sendiri
Desember 2nd, 2006 by Sandi
Banyak orang mengisi waktu mereka
Dengan berceloteh tentang cerita-cerita hariannya
Tentang ayah-ayah mereka yang baru saja beristri lagi
Tentang ibu-ibu mereka yang baru saja menang arisan
Atau tentang adik-adik mereka yang hobi mengukir pulau kala tidurnya
Tapi aku lebih senang menyendiri, bercerita dengan caraku sendiri
Mewarnai hari dengan tinta hitam, bermuram hati menahan sepi
Banyak orang melewati hari
Beramai-ramai menjelajahi kota
Menyusuri jalan-jalanya sambil menghisap sebatang rokok
Atau mengunyah kacang rebus yang hampir dingin
Tapi aku lebih senang duduk sendiri di depan laptopku
Mencurahkan perasaan lewat kata demi kata
Atau sekedar menuliskannya dalam sehelai kertas
Yang kubeli dengan harga seribu rupiah saja
Banyak orang menjadikan buku-buku pelajaran
Sebagai teman bersantai di hari libur
Ataupun sengaja mengkhususkan satu waktu
Untuk menghabiskan lembaran-lembarannya
Tapi aku lebih memilih tidur
Dan berusaha memejamkan mata sedalam-dalamnya
Membohongi diri dalam lamunan yang tak pernah pasti
Banyak orang memaknai hidup sebagai suatu anugrah
Dengan selalu menebar senyuman bahkan tawa lepas
Yang tergelak lewat senda gurau yang mereka haturkan
Menertawai kekasih mereka yang lupa mengkancingkan resleting celananya
Menertawai sahabat mereka yang tertangkap tangan mencontek di kelas
Atau mungkin menertawai diri mereka sendiri
Yang dilempari kulit jeruk akibat mencuri start antrian restaurant siap saji
Tapi aku lebih memandang hidup sebagai neraka yang menyesakkan
Terlalu sesak hingga tak ada ruang tersisa untuk dibagi bersama
Menghiasi wajah dengan bekuan bibir dan tatapan pilu nan sendu
Dengan raut yang kerut, keriput.
Terkukung dalam pikiranku sendiri
Bahagiaku kurasakan sendiri
Tangisku milikku sendiri
Setiap duka yang kulahirkan tidak lebih oleh ulahku sendiri
Selalu merasa sendiri di tengah keramaian
Selalu merasa sepi meski ada sahabat yang menemani disisi
Bercerita tentang hal-hal yang lucu
Saling kata mengkatai, melemparkan gurauan-gurauan
Yang cukup menghibur hati
Meski bibir ini tersenyum tapi mengapa semua terasa hambar
Selalu merasa hidup adalah kepunyaan ku sendiri
Menjalaninya sendiri
Sendiri dan selalu sendiri
Hingga mati meradang sunyi
Menemukan arti kesendirian yang sebenar-benarnya
Dan ternyata sangat menyakitkan
Pesan Moral :
“Berbahagialah kalian yang selalu memiliki teman, ada untuk berbagi, saling memberi dengan sedikit harapan akan balasan atau tidak sama sekali, seperti saat mengupas kentang, anggaplah temanmu itu sebagai pisau, jarang sekali tak dibutuhkan, meski jauh meski dekat”