KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Puisi Cinta

Biarlah aku di sini memandangmu
Dari kejauhan yang terasa amat jauh
Meski sulit hatiku menerima
Kenyataan bahwa kau tak tahu siapa aku
Bercinta di dunia puisi
Sudah lebih dari cukup bagiku
26/06/06

“PUISIIII… teruussss!!!” Ririn mengeluh kesal. Buru-buru Opi memasukkan buku puisinya ke dalam tas. Ririn menggeleng-geleng sebal. Nggak di tengah pelajaran, tengah jam istirahat, tengah jalan-jalan di mal, Opi selalu bikin puisi. Dan meski Ririn sahabatnya, Ririn nggak boleh tahu siapa yang jadi inspirasi Opi untuk membuat puisi-puisinya yang menyentuh itu.

“Istirahat nih Mbak… Nggak makan? Bikin puisi doang mana kenyang?” Sindir Ririn. Opi tersenyum kecil.

“Enggak, Rin. Kalo lu mau makan, duluan aja. Gue mau ke perpustakaan sebentar,” jawab Opi.

“Perpustakaan teruuuuusssss… Gue aja sampe kenyang denger lo bilang mau ke perpustakaan. Ya udah! Terserah deh. Gue ke kantin ya,” kata Ririn sambil lalu.

Opi membawa serta buku pinjamannya ke perpustakaan. Dan dalam perjalanannya, Opi memandang ke arah lapangan, memandang sosok cowok yang dikaguminya dari jauh—Ricko. Opi tahu benar setiap istirahat pertama, Ricko akan bermain basket di lapangan.

Ricko bukan bintang kelas, apalagi bintang sekolah. Tampang Ricko nggak ganteng, meski Ricko tinggi. Ricko juga nggak jago main basket, dia nggak termasuk dalam tim basket sekolah. Ricko nggak pintar, dia sering bolos dan kena omel guru. Tapi Ricko baiiiiik sekali. Ricko adalah cowok terbaik yang pernah dikenal Opi. Meski Ricko pendiam, Opi tahu pasti, jauh di dasar lubuk hatinya, Ricko menyimpan sesuatu yang orang-orang sebut ‘kelembutan’. Dan, cukup Opi yang tahu tentang itu.

*

14 Februari 2006

Opi berlari terbirit-birit menuju perpustakaan. Buku yang dibawanya hampir jatuh dari pegangannya yang erat. Pukul 10.00 saat itu, dan artinya Opi harus mengembalikan buku itu sebelum terhitung jadi dua hari alias terlambat mengembalikan dan dikenakan denda.

Terpaksa Opi melewati jam istirahatnya, daripada uang sakunya jadi korban. Namun, sesampainya di perpustakaan, ternyata Bu Gira sedang nggak di tempat. Dan di sana, nggak ada siapa-siapa selain seorang cowok yang sedang menunduk. Cowok itu bahkan nggak menoleh melihat Opi ketika ia bangkit berdiri dan beranjak pergi dari perpustakaan.

Maka, sambil menunggu Bu Gira datang, Opi duduk di tempat cowok tadi duduk. Dan di antara buku-buku yang berantakan itu, terdapat sebuah buku catatan Sosiologi yang Opi yakini milik cowok itu. Diliputi rasa penasaran, Opi membuka-buka halaman dalam buku itu. Dan di halaman paling akhir, Opi mendapati sebuah puisi .

Aku pernah menyayangimu
Bahkan, mencintaimu
Rasa itu tak pernah pudar
Meski enam tahun telah berlalu
Aku hanya bisa melihatmu dari jauh
Untuk memenuhi rasa sayangku padamu
Dan makin hari,
Semakin sering mataku menemukan sosokmu,
Semakin hangat perasaanku dan
Semakin dalam cinta yang kusimpan untukmu
Tahun demi tahun
Menunggu tanggal empat belas bulan kedua
‘tuk tekadkan hati menyatakan
Rasa yang kusebut dengan cinta
Dan tanggal empat belas bulan kedua tahun ini,
Sekali lagi aku gagal
Karena aku terlalu pengecut ‘tuk katakan cinta
pada wanita emas sepertimu

Oke, puisi ini nggak berbentuk, nggak halus, dan nggak berima. Puisi ini lebih mirip seperti puisi anak SD yang sedang mencoba-coba membuat puisi. Tapi bagaimanapun, puisi ini berhasil membuat Opi menangis.

Air mata Opi berurai. Bukan karena puisi yang barusan dibacanya bagus, tapi karena Opi menemukan perasaan seseorang tertinggal di sini. Dan itu adalah perasaan sang cowok. Dalam sekejap, Opi tahu bagaimana perasaan cowok itu. Opi mengerti—cowok itu menyimpan rasa sayangnya untuk seorang gadis selama bertahun-tahun, yang nggak pernah berani diungkapkannya. Dan hingga kini, kesempatannya sudah hilang, karena sang gadis sudah dimiliki orang lain. Pastinya bukan dia.

Entah mengapa, hati Opi tergerak. Ia mengambil bolpen dari kantung seragamnya, dan menggoreskan tintanya di buku catatan itu…

*

>Seorang siswa tergesa-gesa masuk ke dalam perpustakaan. Ia segera mengambil buku catatannya yang tertinggal di meja. Lalu, ketika ia kembali ke dalam kelas dan hendak mencatat, ia menemukan sebuah puisi di samping puisinya,

Biarlah kau berteduh dalam derasnya hujan
Terpaan angin yang menyakiti luka
Karena waktu rasanya begitu kejam
Tapi percayalah,
Ketika waktu mencoreng hatimu dengan luka
Waktu pulalah yang akan menyembuhkannya
Mungkin ini bukan masalah waktu
Bukan masalah hari
Bukan masalahmu
Mungkin ini masalah alur takdir untukmu
Karena seseorang, entah siapa,
Telah siap untuk menjadi milikmu
Seseorang yang akan tahu betapa engkau mencintainya
Bukan di tanggal empat belas bulan yang kedua

“Ricko!” Siswa itu—Ricko—mendongak. Bu Prima menatapnya dengan dahi berkerut. “Kamu nggak mencatat?”

Tanpa menjawab, Ricko segera mengambil bolpennya, dan mulai mencatat.

*

26 Juni 2006

Opi melangkah menuju rak yang terletak di pojok kiri. Di antara buku-buku yang tertata, tersembunyi sebuah buku catatan. Opi tersenyum sebelum tangannya meraih buku itu. Segera saja dibukanya halaman-halaman di buku itu. Dan, ia menemukan lagi puisi Ricko—yang ditujukan untuknya. Puisi entah ke berapa, karena hampir setiap hari mereka berbicara melalui puisi semenjak hari itu.

Di mana kau?
Aku kehilangan arah
Aku harus menunggu kata-katamu dalam sebuah buku
Yang hanya ada saat hari menjelang siang
Bagaimana bila aku membutuhkannya
Bukan saat matahari ada di atas,
Melainkan ketika ia tenggelam?
Akankah engkau ada?
Karena aku berharap
Perikah engkau?
Atau hanya bermimpikah aku?
Dan kini
Ijinkan aku menyentuhmu
Nyata, sebagai dua insan manusia
Dan untuk itu
Kutunggu kau di dunia buku!

Jantung Opi berdebar keras. Cepat. Sakit. Opi sesak. Ia nggak bisa mengalihkan matanya dari puisi Ricko. Ia memang sudah tahu sejak lama, puisi-puisi ini nggak akan berlangsung hingga saatnya kelulusan. Entah mengapa, Opi nggak pernah memikirkan ia harus menghadapi ini. Ia belum siap. Ia menyayangi Ricko, sejak ia mulai menulis puisi di bukunya. Tapi bagaimana bila ketika Ricko tahu bahwa orang itu Opi, Ricko malah akan mencampakkannya? Bagaimana kalau yang dirasakan Opi berbeda dengan yang Ricko rasakan?

Tiba-tiba, Opi mendengar suara langkah sepatu dari kejauhan. Ia segera meletakkan buku catatan itu kembali di tempat persembunyiannya. Lalu, berusaha bersikap biasa, Opi berjalan keluar dari perpustakaan, dan Ricko ada di hadapannya.

Ricko memandangnya, dan begitu pula Opi yang memandang Ricko. Namun, tak sepatah katapun keluar dari mulut Opi. Jantung Opi seperti akan melompat keluar. Baru kali ini Opi merasa begitu sakit. Kenapa? Padahal Opi tahu ia harus menghadapi saat-saat seperti ini.

“Emm…,” Ricko bergumam, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat untuk dilontarkan. Rasanya Opi ingin segera lenyap, menghilang dari pandangan Ricko saat itu juga. “ada orang nggak di perpustakaan?”

Opi diam sejenak. Kemudian, ia menggeleng.

“Ooh… Nggak ada? Di pojokan gitu nggak ada?”

“Liat aja sendiri.” Lalu, Opi pergi.

*

27 Juni 2006

“Gue baru beli baju baru kemaren,” kata Ririn. Opi bengong.

“Terus kenapa?” Tanya Opi ketus.

“Bagus.”

“Oh…”

“Kenapa sih lu? Muram banget… Ini masih pagi kok,” kata Ririn. Ia mendekati sahabatnya itu. “Ada apa? Nggak biasanya elu muram.”

“Enggak ada apa-apa…,” sahut Opi sambil membuka-buka buku cetak Geografinya.

align=”justify”“Jujurlah, Pi… Cerita aja sama gue. Toh, gue nggak akan cerita ke siapapun lagi, kan?” Ririn menatap lurus ke dalam mata Opi.

Opi menghela nafas panjang.

“Gue nggak yakin bisa cerita ini ke elu…,” kata Opi.

“Sebenernya gue juga nggak mau tahu kok apa masalah lu. Tapi sebagai sahabat lu, gue ngerasa gue harus ngebantu elu saat lu gundah.”

Opi tersenyum mendengar kata-kata Ririn. Kata-kata seorang sahabat.

“Oke… Gue ceritain… tapi nama orangnya di-sensor, oke?”

“Yeee!!!”

Opi mulai bercerita. Ia menceritakan segalanya dari yang paling awal. Saat pertama kali ia memberanikan diri turut campur dalam kehidupan seorang cowok, saat ia pertama kali mulai menyukai cowok itu, saat ia harus melihat cowok itu dari jauh dengan menyimpan segala perasaannya sendiri, hingga saat-saat ia nggak bisa bertemu dengan si cowok. Ririn benar-benar mendengarkan cerita Opi. Hingga meski Opi sudah setengah mati menahan air matanya, Ririn memberikan pundaknya untuk Opi.

“Gue ngerti, gue ngerti…,” kata Ririn sambil membelai rambut Opi dan menepuk-nepuk punggungnya. “Tapi, Pi, lu mestinya tahu sakitnya ngeliat orang yang lu sayang dimiliki orang lain tanpa sempat tahu kalo lu sayang sama dia, kan? Kayak apa yang dirasain sama cowok itu Valentine lalu.”

Opi diam. Ia memalingkan pandangannya dari tatapan Ririn yang tajam.

“Kalo gue jadi lu Pi, daripada gue harus memendam sendiri perasaan gue, lebih baik gue jujur aja. Tentang perasaannya ke gue nggak jadi soal. Yang penting gue udah tulus sayang sama dia, dan gue ngelakuin itu buat diri gue sendiri bukan buat dia, itu udah cukup kan? Dan lagi… gue nggak mau nyesel…”

Opi mendongak. Kata-kata Ririn seperti menamparnya, membangunkannya dari kebodohannya. Lalu, Opi bangkit berdiri.

Thanks a lot, Rin!” Opi beranjak pergi dari dalam kelas.

Tentang perasaannya ke gue nggak jadi soal. Yang penting gue udah tulus sayang sama dia, dan gue ngelakuin itu buat diri gue sendiri bukan buat dia, itu udah cukup kan?

Dan lagi… gue nggak mau nyesel…

*

Ricko mengorek-ngorek rak buku di pojokan sebelah kiri. Buku catatannya hilang, nggak lagi ada di situ. Ia menurunkan semua buku di rak itu demi mencari buku catatannya. Tapi masih, buku itu nggak bisa ia temukan.

“Eh, kamu ngapain di situ?” Tiba-tiba suara Bu Gira yang khas terdengar. Ricko berbalik, dan Bu Gira berada tepat di belakangnya. “Jangan-jangan buka catatan itu punyamu…”

“Eh? Bu—buku catatan apa Bu?” Tanya Ricko berpura-pura nggak tahu. Bu Gira berdecak.

“Buku catatan yang warnanya hijau muda. Tulisannya sih catatan Sosiologi, tapi isinya puisi semua,” tukas Bu Gira.

“Sekarang bukunya di mana, Bu?”

“Memang itu punya kamu?”

“Bu—bukan sih, Bu…”

“Terus kenapa mau tahu?” Bu Gira berkata dengan ketus. Ia berbalik, meninggalkan Ricko yang penasaran. Terakhir kali ia melihat buku catatan itu, nggak ada jawaban apa-apa dari seorang cewek yang selalu menghiburnya, cewek yang sudah mengambil hatinya. Dan kini, ketika ia benar-benar akan menyatakan perasaannya, buku itu menghilang. Apakah nggak ada yang bisa lebih sial daripada ini?

Dengan perasaan gundah, Ricko kembali membereskan buku-buku yang sudah diacaknya demi mencari buku catatannya. Hatinya sudah diliputi rasa putus asa, kesal, dan menyesal. Kenapa nggak dari dulu saja ia mengajak cewek itu bertemu?

Ketika akhirnya Ricko akan pergi dari perpustakaan, tiba-tiba seorang cewek menghampirinya, berdiri tepat di depannya, dan mengulurkan sebuah buku ke hadapannya. Bukan buku yang dicarinya, tetapi kemudian cewek itu berkata,

“Mungkin kita sudah nggak perlu buku itu untuk berkomunikasi lagi,” katanya pelan, nyaris nggak terdengar. “Dan buku ini… bisa jadi tempat ketika kita perlu berkomunikasi dengan puisi.”

Ricko menatap cewek itu lekat-lekat. Jadi, cewek ini adalah yang selama ini ada di pikirannya? Cewek yang selalu menghiburnya, dan telah melekat di hatinya?

Opi menunduk, nggak berani menatap Ricko.

Ricko mengambil buku itu dari tangan Opi, lalu ia berkata,

“Ketika seluruh rasaku sudah mati, kau adalah yang pertama menghidupkannya kembali. Dan dari rasa yang kau hidupkan, cinta adalah yang pertama datang. Dan bila cinta itu harus kuserahkan, itu hanya untukmu.”
Ricko tersenyum, begitu pula Opi. Kemudian, Ricko mengulurkan tangannya. Opi menyambutnya. Mereka berjabat tangan.

“Ricko,” kata Ricko.

“Opi,” kata Opi.

♥EnD♥

5 Responses to “Puisi Cinta”

  1. on 16 Mar 2007 at 14:40Rossa Agusti Amalia

    lucu & bagus, boleh juga !

  2. on 31 Jan 2008 at 20:07Calypso

    Gila…
    sumpah…
    Keren banget…
    Jarang ada puisi yang bikin gue terpikat dari awal ampe akhir….

  3. on 11 Aug 2008 at 15:28layla

    gw skaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………..
    n gw mw blg : ehmmm………. mank gw bkn puitisi….
    CINTA TU PERLU PEMBUKTIAN
    CINTA TU BUTUH PENGORBANAN
    CINTA TU WAJIB DI NYATAKAN
    WALAU PUN HASIL NYA TIDAK DI HARAP KAN
    TAPI TU PASTI DAH BUAT HATI QT SEDIKIT MERASA NYAMAN

    hehehe……….. kl 9 bgz maaf ye…!!!!!!!!!!!

    bwt penulis gw tggu cerita loe yg laen~~~~

  4. on 24 Sep 2008 at 08:03rangger merah

    wagh…

    keren buanget ,,,,,
    sampe sedih nh !!! hikz,,, :-)

    hmz,,, leh juga ceritana ,,,,
    :D

  5. on 25 Dec 2008 at 10:41Aprilia

    Wah sumpah deh.. Puisinya keren bgt,bikin hatiku tersentuh,,lbih baik klo mncintai gk ush dipendam,katakan saja seju2rnya,apapun hasilnya mngkin itu yg terbaik,,dari pada orang yg kita cintai gak tau sama sekali klo kita cinta ma dia,itu malh bikin skit..

Tinggalkan Komentar