KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Desember 2006

Jelang 2007

seorang teman bercerita dan bertanya…..

“ibuku sambil menimang cucunya bertakbir, ibuku qori suaranya bagus, aku terkesima. bagiamana dengan mu malam ini??”

dengan helaan nafas panjang dan senyum getir dia menjawab

Dari atas terlihat betul indahnya parasmu
Melambai bagai bidadari,bersiul dalam kedamaian.
Nampak jelas betapa indahnya rona bibirmu
Gemerlap dan nampak anggun, batinku

Sedikitpun aku tak kuasa tuk meningggalkanmu,
Senyummu yang menggoda,tebarkan buih kedamaian
Sejenak aku berontak dalam diri,
Aku tak kuasa tuk meninggalkanmu

Refleksi Kemungkaran

Di sini aku bertanya,
Kemanakah ruang jingga hinggap pada malam?
Di sini aku mengaduh,
Adakah muatan kalbu bersemayam?

Retak pada setiap hening yang kau cipta.
Luruh pada sejengkal kemunafikan.
Semua maya belaka,
Tanpa rasa, mencoba berkata,
Karma atau luka menderma,hingga sayap merayap
Mendengkur dalam keangkuhan,

Catatan Sehabis Hujan

Cerpen Koko P. Bhairawa

FAJAR sudah semakin dekat, tetapi lampu di ruang kerja Mas Putera masih tetap menyala. “Tidak biasanya ma-mas kerja selarut ini” pikir Wanja. Adik Mas Putera yang baru genap berusia 16 tahun itu memang rajin bangun di waktu tiga perempat malam untuk melaksanakan solat Malam. Wanjapun kemudian mendekati ruang kerja Mas Putera.

Barisan Pengungsi

Barisan pengungsi itu semakin panjang. Berderet, berliku dari ujung utara ke selatan. Matahari yang memanggang tanah, membuarkan aroma pengap. Aroma dari sampah dan mayat-mayat yang belum semuanya bisa diangkut ke pembuangan terakhir.

Tapi barisan itu tetap tidak berkurang. Tidak ada seorang-dua yang jengah menunggu. Kemudian keluar dari barisan. Semua tetap ngotot di tempatnya. Menunggu beberapa kotak mie, baju bekas dan lembaran uang.

Harta Karun

Safitri masih menghembus-hembus bara di bawah tungku. Mulutnya membulat seperti ikan mas koki. Mengembang, mengempis. Merah menghitam. Asap berkepul. Menggeliat melintasi dinding yang terbuat dari batako bersusun ke atas. Berundak-undak membentuk tangga. Sehingga akhirnya menggelepar di terowongan asap, bersatu dengan teman-temannya; awan yang melintas perlahan.

Hidup

Bus itu berhenti mendadak. Menyisakan debu berkepul sehingga membuat dadaku sesak. Segera kukucek mata. Pandanganku sekejap mengabur. Ketika debu mulai menipis, seorang lelaki tinggi-tegap turun dari bus dengan pintu setengah terbuka. Seolah sesuatu di dalam bus sangat rahasia dan tidak boleh dilihat seseorang sepertiku. Sepintas ada beberapa gundukan hitam terlihat di dalam. Tapi kemudian lenyap sama sekali, seiring lelaki tinggi-tegap itu menutup pintu bus dengan suara berdebam.

Ketika Memandang Musi

Hempasan Musi di kaki Bagus Kuning sepi
ketika sekilas nelayan memecah jala
menangkup lumpur dan seonggok sandal
saat mana bunting matahari berenang di hulu yang gigil
sampai senja menjadi hambar di percik lampu-lampu kota
duh… polusi yang menjadi plasenta cuaca

Kau Serupa Rupa

Serupa embun pagi

kau adalah yang membasahi daunku

ketika rama-rama mengitari jendela rumah

membiarkan bocah kecil dengan tangan mungil

membuka daunnya

laksana melepas percikmu dari daunku

lalu menerobos tanah

akar-akar yang merindukan peniduranmu

sebagai napas untuk memompa paru-paru

tetumbuhanku

Si Kembang Liar

Dia adalah perempuan yang lahir sebagai haram jadah. Sundal. Perempuan yang membrojol ke dunia karena perbuatan bejad dua orang manusia di sebuah malam gelap. Di tengah dingin malam membekukan detak nadi. Di mana hanya ada semak, rumpun perdu dan pohon randu yang berjejalan di ujung desa. Ibunya, Sulistini, dengan syahwat perempuan muda umur belasan, menyerahkan “berlian” satu-satunya kepada Rohman, seorang begundal desa. Dan pergumulan mereka berulangkali terjadi. Berulangkali terlecut pada tempat yang sama. Pada cambuk yang sama; syahwat.

Next »