KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan November 2006

Maaf bila ku selalu memaksamu untuk bicara

Banyak yang telah kita jalani, tapi kau selalu diam

Berteman bisu yang agung untukmu

Tapi aku tak bisa mengerti ucapmu yang tenang

Aku yakin samudra tak sehening dirimu,

Katakan sesuatu yang bisa ku pahami

Tentang pagi yang gelap

Aku masih ingat saat kau menatapku pertama kali di gelap palsu

Bicara tentang keinginan yang tak pernah terkata

Saat alunan musik mengusik ketenangan kita

Kau tunjuk satu bintang di sebelah sana

Katamu indah tiada terkira!
.

Lalu aku beranikan menggenggam tanganmu

Darah ini mengalir begitu cepat

Aku masih duduk disini,

Berteman debu yang lembut membelaiku

Angin bersandar di bahu dengan mesra

Menatap bunga-bunga yang menggantung di pot

Di bawah rindang pohon mahoni ini aku menunggumu
.

Tak hentinya mobil itu melintas tanpa menanyaku

Dan daun yang gugur tarikan kesepian hatiku

Telah kubangun menara rindu untukmu

Dari jerit bintang-bintang yang bersinar di langitmu

Merentangkan jarak yang membelah lautan

Kau ucapkan kalimat yang tak pernah lusuh di hatiku
.

Mari sejenak berhenti di persimpangan ini

Bicara tentang perih yang selalu menghinggapi lerung pagi

Sepi yang selalu menghantui malam

Membawamu pulang setalah perjalanan panjang

melewati tanah yang menganga, sungai kurus,

daun-daun pucat lusuh kadang hijau sewarna senyummu.

Menuruni lembah derita tak bernafas dan sunyi,

hanya suara jantung kita yang menggelitik di telinga.
.

Pada satu pagi ku teringat akan tawamu yang tajam

Tentang Kematian

Hari-hari kian pudar bersama debu

Merayapi dinding hati yang membiru

Aku pun terbang bersama burung gagak

Membelah kesunyian dari dekap rembulan
.

Jalan-jalan makin lengang dari tangis,

menusuk bintang jalanan yang tertidur pulas

Cinta dan kasih datang tak bersamaan

Nafas sesaat terhenti di sebuah lampu merah

Pertiwi, Kesakitan Tak Henti!

Pertiwi, Kesakitan Tak Henti!

Kita adalah anak yang terlahir dari rahim kebusukan

Dibuai pertiwi yang meronta kesakitan tak henti

Dibesarkan debu dan kemunafikan

Dari kasih yang tak pernah sampai di hati kita

Tangisan tak henti membelah hari teramat gersang

Kita adalah daun-daun yang terserak di bawah rindang pohon

Untuk Cinta

Untuk Cinta

Mungkin hari ini tak akan kita menyapa

Hari ini tak jua kita bertemu

Sapa menyapa

Seperti yang biasanya kita lakukan

Untuk Cinta

Entah kapan, entah di mana

Mungkin tak akan lagi kita bertemu

Selamanya

Sampai mentari terbit di ufuk barat

bulan telanjang mengiris malam

membungkus setumpuk rindu

tak jua pernah jumpa dengan

dermaganya sesuatu tertinggal jauuuuh

di balik punggung jiwaku

pelarian panjang menepis bayang-bayang

meronta disantap luka lawas

.

Ibuku tergila-gila mengumpuli sampah , kursi rongsokan, kasur rongsokan, mesin rongsokan, hingga rumah kami disesaki sampah. Akhirnya , aku merasa menjadi bagian dari sampah itu sendiri.Sejak kecil, aku sering berpikir, aku ini sampah yang menjelma sebagai manusia.

.

Sehingga, kemanapun aku pergi, aku merasa diriku adalah bagian dari sampah. Aku cuma bisa berdiam menahan malu, kehilangan citra diri, rasa percaya diriku amblas. Bukan cuma itu, aku tak pernah merasakan kenyamanan jika berdekatan dengannya. Kecuali gigi yang mengatup rapat, jantung yang berdegup, tangan mengepal….dan bulu kuduk meremang. Aku takut, sangat takut kala berada di dekat ibuku.

Hari ini genap seratus tahun aku mengenalmu. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa usai sudah sesuatu yang kita sebut ‘hidup’. Karena ternyata waktu tak menunggu.

Rasanya tangis itu masih ada. Terasa mengering di pipiku. Dan tawa yang menggema di malam berbintang masih terdengar akrab di telingaku. Begitu banyak yang telah kita lalui, Sayang. Tanpa ada yang kita sesali. Begitu banyak pengorbanan yang kita lakukan untuk bisa bersama.

« Prev - Next »