Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Maaf bila ku selalu memaksamu untuk bicara
Banyak yang telah kita jalani, tapi kau selalu diam
Berteman bisu yang agung untukmu
Tapi aku tak bisa mengerti ucapmu yang tenang
Aku yakin samudra tak sehening dirimu,
Katakan sesuatu yang bisa ku pahami
Tentang pagi yang gelap
Aku masih ingat saat kau menatapku pertama kali di gelap palsu
Bicara tentang keinginan yang tak pernah terkata
Saat alunan musik mengusik ketenangan kita
Kau tunjuk satu bintang di sebelah sana
Katamu indah tiada terkira!
.
Lalu aku beranikan menggenggam tanganmu
Darah ini mengalir begitu cepat
Aku masih duduk disini,
Berteman debu yang lembut membelaiku
Angin bersandar di bahu dengan mesra
Menatap bunga-bunga yang menggantung di pot
Di bawah rindang pohon mahoni ini aku menunggumu
.
Tak hentinya mobil itu melintas tanpa menanyaku
Dan daun yang gugur tarikan kesepian hatiku
Telah kubangun menara rindu untukmu
Dari jerit bintang-bintang yang bersinar di langitmu
Merentangkan jarak yang membelah lautan
Kau ucapkan kalimat yang tak pernah lusuh di hatiku
.
Mari sejenak berhenti di persimpangan ini
Bicara tentang perih yang selalu menghinggapi lerung pagi
Sepi yang selalu menghantui malam
Membawamu pulang setalah perjalanan panjang
melewati tanah yang menganga, sungai kurus,
daun-daun pucat lusuh kadang hijau sewarna senyummu.
Menuruni lembah derita tak bernafas dan sunyi,
hanya suara jantung kita yang menggelitik di telinga.
.
Pada satu pagi ku teringat akan tawamu yang tajam
Posted in Puisi, Kelam on November 29th, 2006 No Comments »
Hari-hari kian pudar bersama debu
Merayapi dinding hati yang membiru
Aku pun terbang bersama burung gagak
Membelah kesunyian dari dekap rembulan
.
Jalan-jalan makin lengang dari tangis,
menusuk bintang jalanan yang tertidur pulas
Cinta dan kasih datang tak bersamaan
Nafas sesaat terhenti di sebuah lampu merah
Posted in Puisi, Jeritan on November 29th, 2006 No Comments »
Pertiwi, Kesakitan Tak Henti!
Kita adalah anak yang terlahir dari rahim kebusukan
Dibuai pertiwi yang meronta kesakitan tak henti
Dibesarkan debu dan kemunafikan
Dari kasih yang tak pernah sampai di hati kita
Tangisan tak henti membelah hari teramat gersang
Kita adalah daun-daun yang terserak di bawah rindang pohon
Untuk Cinta
Mungkin hari ini tak akan kita menyapa
Hari ini tak jua kita bertemu
Sapa menyapa
Seperti yang biasanya kita lakukan
Untuk Cinta
Entah kapan, entah di mana
Mungkin tak akan lagi kita bertemu
Selamanya
Sampai mentari terbit di ufuk barat
bulan telanjang mengiris malam
membungkus setumpuk rindu
tak jua pernah jumpa dengan
dermaganya sesuatu tertinggal jauuuuh
di balik punggung jiwaku
pelarian panjang menepis bayang-bayang
meronta disantap luka lawas
Ibuku tergila-gila mengumpuli sampah , kursi rongsokan, kasur rongsokan, mesin rongsokan, hingga rumah kami disesaki sampah. Akhirnya , aku merasa menjadi bagian dari sampah itu sendiri.Sejak kecil, aku sering berpikir, aku ini sampah yang menjelma sebagai manusia.
Sehingga, kemanapun aku pergi, aku merasa diriku adalah bagian dari sampah. Aku cuma bisa berdiam menahan malu, kehilangan citra diri, rasa percaya diriku amblas. Bukan cuma itu, aku tak pernah merasakan kenyamanan jika berdekatan dengannya. Kecuali gigi yang mengatup rapat, jantung yang berdegup, tangan mengepal….dan bulu kuduk meremang. Aku takut, sangat takut kala berada di dekat ibuku.
Hari ini genap seratus tahun aku mengenalmu. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa usai sudah sesuatu yang kita sebut ‘hidup’. Karena ternyata waktu tak menunggu.
Rasanya tangis itu masih ada. Terasa mengering di pipiku. Dan tawa yang menggema di malam berbintang masih terdengar akrab di telingaku. Begitu banyak yang telah kita lalui, Sayang. Tanpa ada yang kita sesali. Begitu banyak pengorbanan yang kita lakukan untuk bisa bersama.