Sebuah Sayatan
November 30th, 2006 by penyaircinta
Sudah lama aku berniat memungut sebuah pisau yang tertancap di pokok kayu yang ada di seberang jalan setapak menuju Sungai di belakang rumahku. Bentuknya tidak terlalu istimewa. Pisau itu terbuat dari besi kuno, bermata ganda, tangkainya dililit karet ban. Heran, aku bisa tertarik oleh barang murahan yang amat tidak berharga. Pertama, aku melihatnya hanya serupa pisau dapur biasa. Tiada tertarik hatiku untuk memilikinya. Bahkan bermimpi untuk memegangnya saja, tidak pernah samasekali. Sebenarnya rasa penasaranku yang menginginkannya, atau lebih tepatnya cerita misteri seputar pisau itu yang membuatku sangat menginginkannya.
Aku dengar dari Marzuki tetanggaku. Seorang tentara rendahan pernah dinas di Timor Timur. Menurut penuturannya, pisau itu milik tentara di masa lalu. Mungkin tentara itu mati penasaran sehingga pisau yang ditancapkannya tidak ada yang bisa mengambil. Bisa kualat, katanya. Ah mana mungkin, Marzuki hanya hendak menakutiku saja. Semenjak kecil, dia orang yang paling suka membual untuk menakuti teman-teman sepermainannya termasuk aku. Tapi, jikalau aku pikirkan agak lama, rasa takut hinggap juga di hati. Sejak mendengar cerita Marzuki, setiap aku pulang dari Sungai pandanganku selalu tertuju pada rumpun bunga dengan pisau unik di tengah-tengah.
Aku sadar betul. Pisau itu bisa menorehkan goresan di tubuhku bahkan menetak jariku. Entahlah, aku tetap saja berhasrat memungutnya. Aku hanya ingin membebaskan tanahku dari gunjingan tetangga. Setiap hari mereka selalu bercakap mengenai pisau ini. Seiring perjalanan waktu. Kebimbanganku semakin menjadi. Esok pagi sehabis dari sunga belakang rumah. Aku tetapkan, benda itu besok harus aku ambil. Aku berpikir benda itu bisa membantuku bekerja. Salamah istriku, pasti senang hati jika pisau ini kubawa pulang. Tinggal dibersihkan di sungai dan kuasah sebentar pasti setajam pisau yang dibeli orang-orang di pasar besar.
Terdorong rasa penasaranku, pagi buta aku keluar menuju jalan setapak. Meski sebenarnya perutku belumlah terasa mulas benar. Satu yang ada di pikiranku, pisau itu. Tak peduli dengan cerita Salamah juga orang-orang kampung mengenai pisau kuno zaman jepang yang mereka sebut “bayonet” itu. Aku tak peduli dengan segala macam cerita misteri yang menyertainya. Malah ada yang bilang bahwa pisau itu pernah berlumur darah orang-orang yang dibunuh oleh serdadu paling kejam di daerah ini. Bagiku pisau tetaplah pisau. Mungkin dahulu memang benda ini pernah menumpahkan darah, tapi dia telah menyalahi daerah kekuasaanku, ladangku. Dendamku sudah mencapai ubun-ubun. Mengalir dalam setiap tetes darahku.
Setelah menghabiskan puluhan langkah yang menguras keringat, sampailah aku di depan pokok kayu tempat pisau itu bertahta. Tanganku bergetar memegang gagangnya yang berlumut. Aku menariknya sekuat tenaga tapi tetap saja bayonet itu tak bergeming. Mungkin sudah terlalu lama dia menancap di pokok kayu ini. Sejak aku lahir, bayonet ini telah menancap di pokok kayu belakang rumahku. Almarhum Abah tak berani memindahkannya, tanpa memberi alasan. Pisau itu memang pembawa sial. Orang-orang mulai mengucilkan tanah kami. Kami memang masih bisa hidup normal di tengahtengah
mereka. Tapi tanah kami yang hanya beberapa petak saja tak pernah mereka sentuh. Jangankan untuk membeli. Membantu kami mencangkul atau sekedar menyiangi rumput saja tak ada yang berani. Kami benar-benar sengsara dibuatnya.
Aku sendiri tak mampu menahan kesedihanku. Sekali waktu aku mencoba memanggil beberapa sanak saudara. Aku tawarkan sebidang tanah milik kami. Tak satu pun dari mereka mau membeli atau sekedar menyewa untuk berladang barang setahun dua tahun. Kesengsaraan rumah, tanah, dan keluargaku karena pisau jelek ini sudah terlampau banyak. Cerita mistik dan kata-kata kualat yang terus meluncur dari mulut Salamah istriku, setiap aku menyinggung masalah pisau kuno itu sudah membuat kupingku memerah. Aku semakin dendam pada pisau jelek warisan Jepang itu.
Pisau yang kini ada di depanku, menancap di sebuah pokok kayu. Cendawan berwarna coklat kemerahan tumbuh di sekitar luka tancapan. Anehnya, beberapa tangkai bunga asing juga tumbuh di sekitar pokok kayu. Bunga itu berwarna ungu, tangkainya hitam legam dan samasekali belum pernah aku dapati di lubuk ini. Seluruh pelosok tanah Sumatra ini bahkan tak pernah ada hal macam ini. Aku lepaskan kaosku untuk membalut gagangnya supaya tidak licin. Setelah menjejakkan kaki ke pokok itu, aku mencoba menariknya lagi.
Braaakkk!!!!
Aku jatuh terguling. Aku kaget melihat tanganku sekonyong-konyong mengucurkan darah. Ternyata, dibalik balutan ban bekas terdapat mata pisau. Pisau bergagang pisau.
********
Pagi ini, aku menunggu Datuk Ibrahim yang rencananya akan mengobati lukaku. Seorang Ustadz dari dusun sebelah. Hubungan kami sangat baik. Beliau sahabat baik almarhum Abah sekaligus guruku di masa muda. Datuk sering mengunjungi kampung kami. Sekedar berceramah atau mengobati orang sakit. Di daerah kami, memang jauh dari keramaian. Bukit dan hutan-hutan lebat mengelilingi desa kami. Datuk Ibrahim terkenal sebagai ustadz, da’i, saudagar yang membeli hasil bumi kami, juga seorang tabib.
Seorang lelaki yang menyandang begitu banyak peran di daerah kami. Anakku juga mengaji di pesantrennya. Rozak namanya. Aku tak punya cukup uang untuk mengirimnya ke SMU di Padang. Tak apalah banyak orang sekolah tinggi tapi tak berbakti. Lebih baik dia mengaji disana. Sepulangnya dari pondok aku kawinkan dengan gadis seberang kampung. Setelah itu kubikinkan rumah di kampung baru.
Setiap pagi Rozak bisa mengunjungiku. Membantu mengurusi beberapa petak sawah, sebidang ladang di belakang rumah, dan tiga ekor sapi milik kami. Tapi apa daya, bujang sekarang tak seperti dulu. Mereka begitu gemar merantau. Selepas belajar dari pesantrennya, Datuk ingin mengirimnya ke Jawa. Pondoknya sudah berubah menjadi pondok modern dan letaknya dipindah jauh ke arah jalan kota, ijazahnya dihargai sama dengan SMU. Rozak tergolong santri yang pandai, sehingga Datuk Ibrahim ingin mengirimnya ke Jawa tepatnya Yogyakarta. Disana ada sekolah yang cocok menurut beliau.
“Assalamualaikum.”
Datuk Ibrahim menyapa tiba-tiba dari tangga sebelah kanan. Kedatangan beliau membuyarkan lamunanku. Rumah panggung kami memang sengaja ditinggikan. Menurut almarhum Abah, kala aku masih kecil banyak babi hutan dan binatang lain sering masuk kampung. Selain merusak tanaman tak jarang mereka masuk sampai ke rumah-rumah. Apalagi rumah yang tak terlalu tinggi.
“Walaikumsalam. Silahkan masuk Datuk,” kataku menyambut kedatangannya. Layaknya orang asli Minang aku langsung memeluknya. Segera kupanggil Salamah untuk menyuguhkan teh sekedar pelepas dahaga.
“Hamzah, kau seharusnya bangga dengan anakmu. Dia akan menjadi seorang mahasiswa. Kenapa kau rasa berat melepasnya?”
“Maaf Datuk. Bukan rasa berat atau tidak rela Rozak hendak pergi ke Jawa. Abahnya ini hanya petani miskin. Manalah cukup ini semua buat biaya kuliahnya.”
“Oh begitu masalahnya,” kata Datuk Ibrahim begitu tenangnya. Salamah muncul dengan nampan dari anyaman pelepah pinang. Di atasnya sebuah teko kecil dari tanah beserta dua cangkirnya. Dua bongkah gula aren di sebelah masing-masing cangkir. Ditambah sepiring ubi goreng.
“Silahkan Datuk.”
Pembicaraan kami terputus sejenak. Aku menggigit sekerat gula aren. Mengunyahnya sampai lumat kemudian menyorongnya dengan teh pahit. Kulihat Datuk Ibrahim tak bergeming. Aku merasa malu hati. Mungkin ada perkataanku yang menyinggung beliau.
“Maafkan saya Datuk. Saya hanya orang bodoh tak paham mengenai pendidikan anak.”
“Oh bukan itu Hamzah. Aku selalu berpikir mengenai sebidang tanahmu yang selalu dihubungkan dengan tahayul.”
“Benar Datuk. Saya telah dibuatnya susah. Lebih takjub lagi, pisau kuno yang melukai saya itu. Mungkinkah ini milik setan?” kataku sambil menunjukkan bayonet yang telah kusiapkan di bawah meja.
“Ha…ha…ha…kau ini. Hamzah…Hamzah.”
Datuk Ibrahim tertawa terbahak. Aku semakin bingung dengan perilakunya. Apa gerangan yang beliau tertawakan? Apakah lidahku telah salah berucap? Aku menunggu beliau sampai tawanya mereda.
“Hamzah, setan tidak perlu pisau untuk melukai manusia. Ketakutanmu, risaumu, itulah luka yang setan perbuat sebenarnya,” kata Datuk sambil menuangkan teh ke cangkirnya yang telah kosong.
“Apa maksudnya Datuk? Saya benar-benar buntu pikir.”
“Pisau itu hanya pisau biasa. Lukamu juga luka biasa. Memang setelah aku cermati ada beberapa hal yang telah berlaku atas tanahmu.”
Mulailah beliau bercerita sebuah hikayat. Mengenai persahabatan beliau dengan almarhum Abahku. Abahku memang seorang yang berpikiran modern meskipun mengalami masa kolonial lebih dari separuh hidupnya. Abah menginginkan aku belajar terus sampai jenjang tertinggi. Abah ingin punya anak-anak yang terpelajar dan bukan sekedar menjadi petani atau pedagang. Boleh bertani dan berdagang tetapi harus berilmu, itu kata Abah semasa hidupnya.
Sebenarnya aku tak mau tetapi melihat Abah yang mempunyai tekad begitu kuat untuk melihatku menjadi orang besar. Akhirnya, seperti kedua kakak laki-lakiku, aku pun berangkat ke pesantren Datuk Ibrahim. Tapi sayang, lepas dari pesantren kami berdua tidak melanjutkan sekolah di kota seperti yang harapan Abah. Kami lebih memilih bertani dan berdagang. Rasa Perih yang mulai terasa membuyarkan lamunanku. Memang luka ini tidak terlalu dalam. Hanya tergores saja. Tapi rasa sakitnya masuk dalam setiap aliran darahku. Jalinan syaraf dan urat-urat yang kumiliki serasa ditusuk-tusuk ribuan jarum beracun.
Sebenarnya luka ini tidak terlalu patut untuk diceritakan. Aku hanya ingin memuntahkan kejengkelanku pada sebuah benda yang telah meneteskan darahku. Sebuah
bayonet. Berulang kali pandangan Datuk Ibrahim tertuju pada gugusan bukit-bukit seperti berharap akan sesuatu.
“Ada apa gerangan Datuk? Apakah Datuk sedang menunggu kedatangan seseorang?”kataku sambil menahan perih.
“Ya Hamzah. Aku memang tidak bisa mengobati kamu sendirian,”jawab Datuk sambil memandangi gugusan bukit-bukit nun jauh di sana.
Terbersit rasa takut di hatiku. Datuk saja tidak mampu mengobatiku sendirian? Apakah begitu kuatnya jin atau setan yang ada di pisau ini yang kini berpindah menjadi penyakit di tanganku. Ah Datuk ini orang pintar orang sakti, dari jaman aku kanak-kanak semua orang meminta bantuan beliau untuk mengobati penyakit yang mereka derita.
Tiba-tiba suara motor meraung terdengar dari balik perbukitan.
Suaranya seperti motor trail Bang Mandor Perkebunan Sawit. Salamah yang sejak tadi menguping dari balik papan-papan rumah kami, keluar ingin melihat siapa gerangan yang datang. Satu titik warna kuning menyala tampak dari salah satu gugusan bukit. Tampaknya memang benar, itu motor trail Bang Mandor. Titik itu semakin lama berubah menjadi bentuk motor dengan dua pengendaranya dalam wujud yang sempurna. Tapi siapa mereka berdua? Ya Allah bukankah itu Rozak anakku. Dia membonceng seseorang dibelakangnya.
“Assalamualaikum!”kata Rozak dan pemboncengnya serempak.
“Walaikumsalam.”
“Buyung, kenapa tidak kirim kabar kalau mau pulang. Umi bisa masak kesukaanmu,”kata Salamah sambil berlari memeluk Rozak. Maklum setahun sekali kami bertemu. Salamah tampak suka cita menyambut anak kami. Waktu begitu cepat. Aku selalu menganggap diriku masih pengantin baru. Nyatanya, Rozak sudah delapan belas tahun sekarang. Bahkan sekarang bisa naik motor pula. Bang Mandor baik sekali mau mengajarinya saat mengambil ransum ke kota. Bang Mandor adalah petugas perkebunan sawit yang ujung bukit. Dia tinggal sendiri di pondok di tengah kebun sawit itu. Seminggu sekali dia pulang ke kota untuk mengunjungi anak istrinya sekalian mengambil ransum. Rozak selalu menunggu di lapangan dekat pesantren untuk sekedar belajar naik motor yang suaranya bisa menggugah seluruh kampung itu.
“Bang Hanan, perkenalkan ini kedua orang tua saya,”kata Rozak sambil membawa pria muda ganteng dengan tas kulit yang ditenteng di tangan kirinya. Setelah berkenalan dan duduk berbasa-basi berapa lama. Kami baru mengerti, saudara Hanan ini adalah seorang Dokter. Profesi yang sering kami dengar lewat Radio. Tugasnya mengobati orang sakit. Namun, selama ini kampung kami memang terisolir dan jauh dari keramaian sehingga jarang sekali kami ke Dokter. Kami mengobati sendiri dengan ramuan nenek moyang kalau toh belum sembuh kami akan ke Tabib.
“Hamzah, Pak Hanan ini orang pinter yang sesungguhnya. Dia asli dari kampung istriku,”kata Datuk Ibrahim angkat bicara.
“Ya Datuk, namun apakah ini berarti Datuk tidak mau lagi mengobati orang-orang kampung yang sakit?”tanyaku penuh selidik.
“Bukan begitu Hamzah. Jaman sudah berganti. Lukamu di masa lalu mungkin akan disimpulkan sebagai luka karena setan. Namun sekarang, barulah tahu kalau lukamu semacam itu bisa disimpulkan luka infeksi atau bahkan tetanus. Silahkan Dokter.”
Dokter Hanan mulai menjelaskan penyakit yang aku derita, sungguh samasekali tidak ada unsur jin atau setan. Bahkan, Datuk Ibrahim pun pernah disembuhkannya dari penyakit encok yang menurut Dokter muda ini dikatakan sebagai asam urat. Setelah membersihkan luka, menaburi bubuk obat, kemudian luka ditutup dengan kain perban. Alhamdulillah, lukaku jauh berkurang perihnya.
“Nah sekarang berkenaan dengan Rozak anakmu ini. Ketahuilah wahai Hamzah, anakmu ini amat pintar di pesantren. Aku ingin mengirimnya ke Universitas. Tidakkah kau ingin Rozak seperti Dokter Hanan ini?”
“Ingin sekali Datuk. Apakah Universitas itu?”
“Itu sama seperti pesantren tapi pelajarannya lebih umum, bisa menjadi dokter, ahli pertanian, ahli masalah hutan, ahli ternak, dan banyak lagi macamnya termasuk ahli berdagang.”
“Iya Abah Umi, supaya kelak Rozak jika pun harus bertani, akan bisa bertani dengan cara yang lebih baik,”kata Rozak tiba-tiba. Kami berdua terharu dan langsung memeluknya dengan erat. Keinginan Abahku tertunda dan akan segera terpenuhi melalui cucunya. Alhamdulillah, ucap syukurku dalam hati.
“Dik Rozak ini juga bisa mendapatkan beasiswa bahkan bisa lewat jalur tanpa tes. Untuk masalah tempat tinggal, istri saya asli Jogja. Sementara bisa tinggal di tempat mertua saya. Nanti saya akan membantu sekuat tenaga,”kata Dokter Hanan menambahkan.
Datuk Ibrahim mulai memberikan petuah-petuahnya kepada kami semua. Ini kali pertama, beliau terlihat sangat modern dalam memberikan nasehat. Datuk bahkan mengaku bersalah tidak sedari dulu memberikan pengajaran mengenai hal umum. Masyarakat kampung kami masih mudah mempercayai tahayul. Aku hanya bisa berdoa, semoga anakku menjadi pelita penerang di kegelapan dan kebodohan daerah kami. Datuk Ibrahim mohon diri disertai Dokter yang baik budi itu. Dokter yang mau naik turun gunung demi membalut lukaku yang sudah pasti tanpa ada kata membayar.
Rozak segera mendahului mereka berdua menuruni tangga. Motor trail dinyalakannya untuk kemudian diserahkan kepada Dokter Hanan. Dokter itu tampak amat piawai menggunakan motor trail, sekali hentak mesin menyalak membelah kesunyian. Datuk Ibrahim membonceng sambil membawa tas berisi obat dan peralatan yang tadi dipergunakan untuk mengobatiku. Rozak dibiarkan bersama kami selama dua pekan untuk melepas rindu. Menurut rencana akan berangkat ke Yogyakarta akhir bulan.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Suara motor trail membelah angkasa raya setelah membentur dindingdinding perbukitan di kampung kami. Asap putih mengepul dari knalpot membentuk gugusan panjang putih seolah ingin meninggalkan jejak memori di sepanjang jalan berbatu. Setelah bayangan mereka hilang di ujung bukit, kami sekeluarga masuk ke rumah panggung kami. Suka cita hati kami melihat Rozak yang sudah besar dan begitu gantengnya anak kami.
********
Hari Ahad pagi. Mentari belum juga muncul dari gugusan bukit yang masih berselimut warna lembayung. Burung-burung berkicau riuh rendah di pepohonan hutan di seberang sungai. Di kejauhan para tetangga mulai sibuk menuju ladang masing-masing. Hari ini Rozak akan berangkat ke tanah Jawa tepatnya di Yogyakarta. Dia tampak necis dan perlente sekali dengan baju putih panjang dan celana krem. Sepatunya berkilat-kilat seperti berlebih semir. Dua buah tas, satu kecil dan satu lagi besar berisi pakaian dan perbekalan selama di perjalanan.
Aku selalu berpikir lebih enak naik Bus lalu menyeberang dengan Kapal dari Teluk Bayur. Pokoknya menghindari kendaraan bernama “Pesawat Terbang”. Masih lekat di pikiranku bagaimana pesawat jatuh di jalanan kota medan. Orang ramai membicarakannya di ladang. Jika Pesawat bermasalah apa yang bisa kita lakukan? Namun jika Bus atau Kapal masih bisa berusaha. Namun, Rozak berpikiran lain, di tempat tidur pun orang bisa mati. Selain jalur yang aku usulkan hanya bisa dilakukan kala jaman Siti Nurbaya, model perjalanan seperti usulku juga menyita banyak waktu dan tenaga. Suara motor trail membuyarkan lamunanku. Bang Mandor dengan giginya yang hampir semua palsu tersenyum ramah.
“Assalamualaikum Bang Hamzah.”
“Waalaikumsalam Bang Mandor. Maaf menyusahkan, pagi buta begini Abang mesti membelah bukit yang dingin.”
“Tak apalah Bang. Datuk kemarin sudah berpesan untuk mengantarkan Rozak ke Pesantren pagi benar. Sore kendaraan tumpangan dari kota yang membawa sayur mayur datang.”
“Alhamdulillah, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan Bang Mandor.”
“Justru saya yang mengucapkan terima kasih Bang Hamzah. Sering mampir untuk minta singkong di ladang pas jaga di pos ha..ha..ha…,”katanya Bang Mandor diiringi derai tawa yang menampakkan hampir semua gigi palsunya. Rozak tampak sudah siap dengan semua perbekalannya. Bang Mandor segera memberi isyarat untuk berpamitan.
“Abah Umi saya berangkat dulu, mohon doa restu.”
“Ya buyung. Buyung mesti hati-hati di negeri orang. Umi akan selalu berdoa buat buyung.”
“Ah Umi ini, disana juga negeri kita, Indonesia. Sekarang jaman modern semua negeri kita. Kalau Abah kepingin buyung membawa ilmu yang manfaat bagi kampung kita ini kelak.”
“Insyaallah Abah. Saya berangkat dulu. Assalamualaikum.”
Layaknya orang Minang kami pantang menangis melepaskan anak yang akan merantau. Bisa jadi rintangan di jalan kata orang tua kami dahulu. Bang mandor justru membonceng di belakang sambil memegangi tas besar Rozak diantara mereka. Tas kecilnya ditaruh di dada sebagai penahan angin. Sekejap kemudian meraunglah suara motor trail itu diiring doa kami. Aku memandang balutan perban di tangan kananku lalu kepulan asap putih dari knalpot motor trail yang mulai menapaki bukit yang berliku-liku. Sebuah sayatan yang akhirnya membuka hatiku untuk satu perkara yang hampir tidak mungkin aku lakukan sebelumnya. Mengijinkan anakku pergi jauh ke negeri seberang. Semoga Rozak membawa pelita di masa mendatang. Mampu menerangi keluarga dan kampungnya. Membawa banyak petuah bijak dan ilmu yang manfaat. Sehingga masyarakat bertambah taqwa dengan sarana ilmunya. Amien.
Areal Inhutani V Padang, Oktober 2003
semoga rozak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua serta sukses