KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Shadow of Heaven

Paris hanya bisa meringkuk memeluk lututnya dan meletakan kepalanya di atas lututnya yang dekil. Matanya menerawang lurus entah ke mana. Ia hanya menatap apa yang ada di depannya.

“Mama, Mama, kapan kita akan keluar dari lubang ini?” Seorang anak kecil bertanya polos. Paris mendengarnya.

“Sebentar lagi, Sayang. Tunggulah, Tuhan akan menolong kita,” jawab ibunya dengan nada yang sabar.

“Tapi kenapa Tuhan belum juga menolong kita? Bukankah kita ada di sini karena Dia? Bukankah kita ada di sini demi Dia?”

“Kita bukan di sini demi Dia, Sayang… Tidurlah. Hari sudah gelap. Besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali, kumpulkan energimu ya, Sayang…”

Lalu anak kecil itu memejamkan matanya. Ibunya menepuk pelan kepala anaknya dan membelai rambutnya. Lalu kepalanya menengadah, menatap langit-langit penuh debu di atas kepalanya yang menjadi perisainya dari sengatan cahaya matahari.

Sunyi. Tak ada yang berani berbicara lantang seperti yang terjadi biasanya. Setahun lalu, saat gedung ini bahkan tidak berdebu sama sekali. Lalu komplotan anti-kris itu menyerbu, menyerang. Semuanya lenyap bagai ditelan api. Semuanya hangus, hanya gedung dan bangunan saja yang disisakan. Mereka yang masih memegang teguh kepercayaan mereka pada Tuhan sudah hangus sebagian besar.

“Tidurlah,” terdengar suara Ovi, kakak Paris. Suara khasnya terdengar begitu lembut di telinga Paris. “Besok subuh kita akan pergi. Tidurlah.”

Tapi bukannya memejamkan matanya, Paris malah memandang mata kakaknya dengan matanya yang dibuat melebar. Ovi tersenyum kecil.

“Ada apa?” Tanya Ovi dengan suara beratnya yang berwibawa.

“Kapan Tuhan akan menolong kita, anak-anakNya?” Tanya Paris. Ovi menarik nafas dalam.

“Tuhan selalu menolong kita. Kalau tidak, kita sudah mati sekarang.”

“Tapi Tuhan tidak menolong Mama dan Papa. Tuhan tidak menolong Bibi, Paman, dan teman-temanku yang lain. Bukankah kita ini anakNya yang setia? Kenapa Tuhan malah tidak menolong kita? Kenapa? Lebih baik dia mencabut juga nyawaku. Kehilangan Mama dan Papa lebih berat buatku.”

“Itulah cobaan…”

“Omong kosong…!” Paris terisak. Air matanya meleleh keluar. “Katanya Tuhan hanya akan memberi cobaan sesuai dengan kekuatan kita! Tapi cobaan yang Dia beri sudah melampaui batasnya! Apa Dia tidak punya otak?! Seharusnya Dia bisa melihat penderitaan anak-anakNya YANG SETIA dan membantu mereka! KITA DITELANTARKAN!”

Wajahnya berkerut antara kesal, marah dan sedih. Ovi memeluk adik cantiknya yang begitu dusayanginya. Paris menangis di bahu kakaknya. Tersedu di sana.

“Curang…,” isak Paris. “Mereka yang memuja setan malah mendapat makan dari ciptaan Tuhan. Mereka yang memuja setan malah berbahagia di luar sana. Kita yang setia kepadaNya malah ditelantarkan di sini. Apakah Tuhan tidak dapat melihat kita…?”

“Tuhan melihat kita, Paris. Tuhan akan menolong kita. Nah, tidurlah. Berdoalah…”

“I don’t wanna pray.”

“Paris…?”

“Pokoknya aku tidak mau berdoa. Aku sudah lelah berdoa dan berdoa terus menerus, tapi dijawab pun tidak. Aku tidak mau berdoa. Tidak malam ini.”

Ovi membelai rambut adiknya. Lalu mencium lembut rambut wanginya. “Terserah. Tidurlah…”

Paris memejamkan matanya.

“Kak Ovi…?” Terdengar suara imut dari kejauhan. Ilana sedang membawa bonekanya sembari mengucek matanya, berdiri tak jauh dari Ovi dan Paris bersandar. “Kak Paris kenapa? Ada apa…?”

“Tidak apa-apa, Lana. Sini, tidur dengan Kak Ovi dan Kak Paris,” kata Ovi sembari memeluk tubuh kecil Ilana.

“Kak Ovi, kapan Mama dan Papa akan pulang?” Tanya Ilana. Ovi diam sejenak, mengingat yang ia katakan pada Ilana adalah bahwa ayah dan ibunya sedang pergi untuk sementara.

“Tidak tahu, Lana. Mereka pasti akan pulang. Tenang saja. Nah, tidurlah anak manis, besok kita bicara lagi.”

Tiga kakak beradik itu tertidur pulas, berusaha nyenyak, di bawah kegelapan kelam malam yang menusuk. Di bawah kehidupannya yang gelap dan suram. Di bawah kenyataan yang sukar diterima.

***

“Hati-hati, jangan menimbulkan suara. Ovi, gendong Ilana. Jangan sampai dia jatuh dan menangis—merepotkan. Ayo, ayo, jalan ke depan. Kita akan mengungsi di gedung seberang jalan.” Kata pemimpin gerombolan yang ditempati Paris. Ovi menggendong Ilana. Paris berjalan sendiri di belakang. Kepalanya menunduk seolah kepalanya memberat.

“Merunduk, jangan sampai ada anti-kris yang melihat. Bisa gawat. Ingat, sudah ada berita kalau pemerintah akan mengadakan razia ke tiap celah kota.” Kata pimpinan dengan suara berbisik pelan, tetapi terdengar oleh barisannya.

Ovi membopong Ilana di punggungnya. Sembari merunduk berjalan seperti prajurit kehilangan arah. Paris tetap berdiri tegak. Tangannya melipat. Tak peduli. Bibirnya turun ke bawah.

“Paris, merunduk!” Tegur Ovi mendesis.

“Aku tak peduli,” tukas Paris. “Kalau ketahuan, aku akan memutuskan untuk ikut dengan mereka.”

“Bicara apa kamu ini! Yang benar, Paris!” Desis Ovi setengah marah. Ilana mengerutkan dahinya.

Semakin hari wajah Paris makin terlihat buruk. Semakin terlihat kumal. Semakin terlihat parah. Ovi tahu adiknya sudah merasa cukup dengan segala yang dialaminya. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak mungkin bisa berpikir jernih. Maka yang dilakukan Ovi hanya menghela nafas panjang, dan berjalan melanjutkan perjalanannya.

Sudah 30 menit berlalu. Gedung itu belum juga nampak. Matahari sudah nyaris terbit. Bila matahari sudah bersinar dengan cahayanya, resiko ketahuan makin besar.

“Ayo! Jalan yang cepat! Waktunya tidak cukup! Lari—LARI!!!” Pekik pemimpin histeris. Semuanya merasa terancam—itu pasti. Tidak terkecuali Paris, Ovi dan Ilana. Mereka berlari, mengikuti rombongan mereka.

Namun tiba-tiba sesuatu terasa mendekap tubuh Paris. Degup jantungnya berubah, lebih cepat dan menekan. Paris berhenti berjalan. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Ovi sudah cukup jauh ketika ia berbalik dan menemukan Paris di belakangnya, berdiri menunduk menghadap tanah.

“Paris, apa yang kamu lakukan?! Ayo kemari! Nanti ketahu—” Ovi berhenti bicara. Sesuatu menarik tubuhnya. Ilana dirampas. Ovi meronta melepaskan diri, dan ia berhasil, hanya saja Ilana tidak. Ilana dilempar ke tanah layaknya sampah dan diinjak, ditawan. Mereka datang…

“Bermaksud melarikan diri, eh?” Pasukan bertato itu tersenyum picik. Mereka bisa mengenali golongan anti-kris dan yang bukan dengan tato di tubuhnya. Golongan anti-kris memiliki tato untuk membeli kebutuhan mereka.

“Lepaskan Lana,” kecam Ovi ketakutan. Pasukan itu tertawa terbahak.

“Apa yang kalian lakukan?! LARI! LARI! Ayo, Paris! Lari!” Kata seorang ibu sembari menarik tangan Paris, memaksanya untuk berlari mengikutinya. “Ovi, kamu juga, ayo lari!”

“Jangan! Lana, Lana…!”

“Atau kita semua akan mati! Ayo, lari!”

“Jangan bergerak! Atau anak ini akan mati!” Pasukan itu mengarahkan mulut pistolnya ke kepala Ilana. Ilana menangis ketakutan. Ovi hanya bisa memandangnya, bergerak selangkah saja bisa membunuh Ilana dan dirinya.

“Biarkan saja! Lari—Lari!!!” Ibu itu juga menarik lengan Ovi. Tak sempat berpikir panjang, dengan matanya yang nampak kosong Ovi berlari, meninggalkan Ilana. Tak sekalipun ia menoleh ke belakang. Lalu dari belakang terdengar bunyi desingan pistol dan jeritan histeris yang memekikan telinga. Suara Ilana…

***

Paris duduk di atas batu besar di depan gedung yang ia tempati sekarang. Gedung yang lebih buruk daripada sebelumnya, memang, tapi lebih aman. Air matanya mengering, ia sudah cukup bosan menangis. Semenjak baru sampai di tempat barunya matanya terus menerawang lurus dengan kosong. Suara Ilana masih terngiang di kepalanya. Suara terakhir Ilana masih terus terdengar di telinganya.

Lalu suara semak terdengar, Ovi muncul, duduk di sebelahnya. Menghela nafas panjang, membelai lembut Paris dengan kasih sayangnya.

“Dia sudah beristirahat dengan tenang,” hibur Ovi. Entah apakah ia menghibur Paris atau dirinya sendiri. Perasaan bersalah itu masih tertera jelas di matanya. Getar pedih itu masih terlihat jelas di kedua bola matanya.

“Bohong,” sergah Paris, yang wajahnya ditutupi rambut kusutnya. “Mana mungkin Lana bisa tenang bila kedua kakak-kakaknya yang amat dicintainya pergi begitu saja melihat nyawanya di ujung tanduk? Bodoh—tolol—tidak mungkin—Lana…” Paris mengisak pelan. “Lana… suaranya… jerit terakhirnya… Lana…….!”

Ovi memeluk Paris yang kembali menangis. Matanya sudah membengkak dalam jangka waktu yang sebentar.

“Akan kupikirkan…,” bisik Ovi. Paris mendongak.

“Memikirkan apa…?”

“Besok akan kukabari. Konyol, Paris. Sangat konyol. Kembalilah sebelum tengah malam. Aku menunggumu di dalam,” lalu Ovi beranjak masuk.

Paris mendongak, melihat bintang, menatap angkasa. Rasanya langit tak lagi indah seperti dahulu kala. Paris melihat bayang wajah Ilana di semak bintang di angkasa. Mulutnya tak dapat tersenyum, sebab wajah Ilana nampak marah.

“Maafkan aku, Lana… Jangan marah, Lana… Maaf, Lana… maaf…”

Lalu terdengar gesekan daun kering dan tanaman lainnya. Ovi lagikah? Paris tidak menengok. Ia menunduk dan merenungkan apa yang terjadi tadi siang—yang bayangannya masih terlihat jelas di benaknya. Paris ingin mati bila mengingatnya. Hiduppun rasanya tak berguna.

“Kenapa?” Paris terkejut. Itu bukan suara yang dikenalnya. Bukan suara Ovi, bukan suara pimpinan, bukan suara yang pernah didengarnya. Paris menoleh ke sebelah kirinya, dan menemukan sosok seorang lelaki dengan tato salib terbalik di lengannya. Bibirnya yang turun ke bawah dan wajahnya yang menyeramkan. Golongan anti-kris…?!!!

Paris berdiri, hendak mundur. Dahinya berkerut dan rasanya sulit untuk menjerit. Ketika hendak berlari, tangannya ditangkap, lalu mulutnya disekap. Takut… tapi dalam takutnya itu Paris tak dapat menangis. Ia takut—sangat—dan ia malah makin merasa bersalah atau kematian Ilana tadi pagi. Inikah rasanya disekap? Dan bagaimana dengan perasaan Ilana tadi pagi… ketika disekap… ketika kakaknya berlari meninggalkannya… ketika… ia kehilangan nyawanya…

“Aku tak mau membunuh,” bisik pemuda itu. Paris membelalak. “Jangan takut padaku. Jangan berteriak, oke? Aku akan melepaskanmu.”

Pemuda itu melepaskan Paris. Paris yang sedikit terguncang mundur perlahan, merapatkan punggungnya pada tembok di belakangnya.

“Kamu… anti-kris, kan? Kau di sini untuk menangkapku?” Hardik Paris.

“Aku sudah masuk golongan itu secara resmi, tapi cuma untuk memenuhi kebutuhanku. Dan aku di sini bukan untuk menangkapmu. Cuma kebetulan. Aku sedang cari angin.”

“Munafik. Aslinya kau masih memuja Tuhan?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Mu-na-fik! Seharusnya kau sudah dibakar hidup-hidup, tahu?!”

“Kenapa?”

DEG! Jantung Paris berdegup keras. Kenapa ia berkata begitu? Kenapa pemuda ini harus dibakar hidup-hidup?

“Karena kau munafik, yang munafik justru harusnya dibakar hidup-hidup, sedangkan yang setia justru dilepaskan. Harusnya begitu.”

“Ya. Seharusnya begitu, tapi dunia berkata lain,” kata pemuda itu sembari terkekeh pelan. “Olive.”

“Paris,” kata Paris memperkenalkan diri.

“Paris sekarang sudah jadi kota penuh setan,” kata Olive.

“Ya, dan kota ini juga akan jadi begitu. Kau salah satunya.”

“Kau benar,” kata Olive. Olive mendongak, menantang angkasa. Matanya menyipit, rambutnya disibak oleh angin. “Kalau aku datang untuk menangkapmu, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku?” Paris tertegun. “Aku akan masuk golonganmu.”

“Apa?”

“Aku siap masuk golonganmu.”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah tidak tahan!” Pekik Paris tertahan. “Mama dan Papa mati dibakar! Keluargaku yang lain mati dikuliti! Lalu tadi pagi—Lana ditembak! Aku tak tahan! Aku tak mau melihat orang yang kusayangi lagi meninggal! Tak mau! Aku tak mau lagi! Aku juga tak mau hidup menderita seperti ini! Aku setia—sangat setia padaNya—tapi aku malah diperlakukan seperti ini! Itu tidak adil! Kenapa—kenapa yang baik justru mati? Kenapa…? Tidak adil, bukan? Lebih baik aku memihak pada setan yang bisa memberiku kepuasan…!”

Olive diam. Hanya desah nafas Paris yang terdengar. Olive berpaling. Terdengar kekehan tawa. Paris tertegun.

“Kau ini bodoh,” gumam Olive. Paris terbelalak. “Kau pikir meninggalkan Tuhan demi menghidupkan jiwa dan ragamu itu lebih menyenangkan daripada mati? Aku juga berpikir sama sepertimu. Dulu aku setia padaNya, aku tak mau meninggalkan Dia. Tapi lama kelamaan aku berpikir, buat apa aku setia padaNya bila Dia tidak memihakku? Buat apa setia padaNya bila aku tambah sengsara makin hari?”

“Memang kenyataannya seperti itu, kan?”

“Kau salah. Aku lebih memilih mati sekarang daripada hidup seperti ini,” kata Olive, menoleh ke arah Paris, membuat Paris seolah hidup kembali dari kematiannya. “Aku masih percaya padaNya, itu yang kutahu. Aku masih berharap padaNya, ternyata. Hidup sebagai anti-kris dengan status membenciNya justru membunuhku. Rasanya perasaan itu begitu kejam membunuhku. Memang, saat baru pertama kali memasuki golongan itu ada rasa lega. But deep inside my heart, ‘that’ feeling remains and that killing me off.”

Paris terpana. Kata-kata itu seolah menusuk masuk ke dalam hatinya. Mata Olive begitu dalam memandang, dan sejauh itu Paris melihat kejujuran dari getar di matanya.

“Seperti apa… rasanya…?” Tanya Paris.

“Seperti bila kau menancapkan pisau dalam-dalam dari belakang punggung sahabat—tidak—lebih dari itu—ayahmu—atau ibumu, mungkin. Pokoknya seseorang yang sangat berarti bagimu. Seseorang yang sangat kau cintai. Ya, seperti itu,” kata Olive. Sekali lagi Paris terpana. Kata-kata itu menancap di hatinya. Kata-kata yang sederhana ini seolah melukis corengan luka di jiwanya.

Apa rasanya bila ia menancapkan pisau di balik punggung Ovi, satu-satunya hartanya sekarang? Bagaimana rasanya? Apakah perasaan itu sama seperti bila dia memasuki golongan terkutuk itu?

“Tapi bukankah semua orang egois?” Ujar Paris sendu. “Bukankah kau melakukan itu supaya bisa menghidupi dirimu sendiri? Supaya kau bahagia? Pada dasarnya kau cuma mencintai dirimu sendiri saja…!”

Olive tersenyum kecut. Ia mencengkram erat bahu Paris, membuat Paris sulit bergerak. “Jangan seperti anak kecil! Kau harus tahu kalau semua orang memiliki sesuatu yang lebih penting daripada dirinya sendiri.” Kata Olive tegas, membuat Paris bergetar. “Kau benar, semua orang itu egois. Aku melakukannya karena aku ini manusia juga. Tapi ternyata aku melupakan ‘sesuatu’ yang lebih penting daripada diriku sendiri itu.”

Paris diam, sebelum ia bertanya, “Apa?”

“My soul. I lost it. Without it, I’d rather die. Now that I’ve lost it, die would be easier for me,” Olive berucap dengan matanya yang terus memancarkan getar itu. Paris memandang dalam matanya, dan menemukan suatu perasaan berat yang ditimang di punggung Olive dari sana. Paris menangis pelan. Air matanya meleleh begitu saja tanpa kehendaknya.

“Jangan menangis,” kata Olive pelan, memeluk Paris dan membiarkannya menangis di bahunya. “Jangan melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah kulakukan.”

“Stupid me,” bisik Paris lirih. “I should’ve known about it from the very beginning. I thought I’m no longer a girl, but the fact is I’m just a lost kid.”

“Everybody is a lost kid in this world,” bisik Olive menghibur. Paris tersenyum kecil. Ia mengangguk.

Awan menyibak. Cahaya bulan nampak dari balik semak awan hitam itu. Olive membangunkan Paris yang tertidur di bahunya.

“Aku harus pergi,” kata Olive dingin. “Sebentar lagi juga kau akan pergi. See you… sometime…”

Lalu Olive bergerak dengan cepat menelusuri semak rerumputan tinggi, sebelum Paris sempat mengucapkan salam selamat tinggalnya.

***

“BANGUN! BANGUN! PARISSS!!!” Paris tertegun. Terpaksa matanya terbuka. Ada Ovi yang menjerit tepat di telinganya. “Bangun…! Kita akan pergi,” kata Ovi lirih dengan alis terangkat sedih.

“Ya,” ujar Paris, bangun berdiri. Tapi kemudian geraknya terhenti, ketika ia melihat pasukan berseragam hitam dengan tato salib terbalik di tubuhnya berdiri tegak dengan senapan dan pisau di tangan mereka, jelas-jelas menghadap Paris dan kakaknya. “What the…?”

“Aku sudah memikirkan kata-katamu,” kata Ovi. “Kau benar. Ayo kita pergi dari tempat ini. Melarikan diri pun sudah percuma. Aku tak mau melihatmu mati di depan mataku. Aku tak mau melihatmu sengsara. Seperti yang kau putuskan beberapa waktu lalu, aku mengikutimu.”

“Ap—?”

“Masuk anti-kris, Paris. Keluar dari golongan ini.”

Sesaat jantung Paris mencelos keluar lewat rongga dadanya. Nafasnya berhenti sesaat, nafasnya sesak, pandangannya buram dan berkunang. Paris melihat satu persatu wajah di hadapannya. Wajah-wajah pasukan jahanam yang tersenyum mengiyakan, lalu wajah para anggota golongan Tuhan yang seolah sudah mantap niatnya mengkhianati Tuhannya. Apakah…

“Mereka sudah memilih untuk mengikuti golongan ini,” kata Ovi. “Ayo, tinggal kamu. Hanya dengan mengatakan ‘aku bersumpah’ dan ditato, kau sudah menjadi anggota golongan ini. Tidak sulit, kan?”

Sulit… Nafasnya sesak… Tidak bisa… Ia meratapi wajah di hadapannya. Tidak mau… Tidak mampu… Tidak bisa… Ini lebih sulit daripada bunuh diri…

Kenapa? Hanya tinggal mengatakan ‘aku bersumpah’ dan ditato dengan jarum-jarum kecil membentuk tanda salib terbalik mini di lengannya, tidak akan sakit. Hanya begitu saja, mengapa begitu susah? Apakah perlu waktu satu jam untuk bersiap? Itu pun belum cukup… Belum… Kepalanya terasa begitu sakit. Tatapan mata Ovi semakin mendesak. Nafasnya sesak… Hentikan… cukup… jangan tatap aku lagi…

Paris menengadah. Ia melihat Ovi di depannya, dan… Olive… Olive…???!!! Ia disekap pasukan bersenjata itu. Tapi ia tidak meronta. Dia… kah…?

“Kau…!!!?” Paris memekik tertahan.

“Bukan! Sumpah, Paris! Aku tidak tahu apa-apa!!! Pagi ini mereka sudah membawaku kemari! Mereka mengintaiku! Sumpah, Paris! Sumpah!” Elak Olive. Pasukan itu menghantamkan senjata beratnya ke kepala Olive. Olive terjatuh berlutut. Paris tak dapat bersuara. Tak dapat memekik seperti yang biasanya ia lakukan. Mata Olive mematikan kata-katanya. Mata Olive begitu jujur dan terbuka.

“Kau tidak bohong…”

“Paris…,” Olive memanggil, seperti merintih. “Follow your heart.”

“SHUT THE F**K UP, S**T!!!” Pasukan itu menghantamkan sekali lagi senjata beratnya ke kepala Olive, membuat darah mengalir keluar dari kepalanya.

Follow my heart…

“Jangan membuang waktu, IDIOT! Cepat katakan ‘aku bersumpah’, atau pisau ini akan menguliti kulitmu!” Bentak salah seorang pasukan. Paris mendongak mantap…

“Aku bersumpah,” kata Paris. Olive membelalak. Ovi tersenyum kecil. “Untuk tidak akan pernah mengkhinati Tuhanku. Seumur hidup. Selamanya.”

Ovi membelalak, kini giliran Olive yang tersenyum kecil.

“Bawa dia,” perintah pemimpin pasukan itu. Lalu tangan Paris diborgol, bersama dengan Olive di sampingnya.

“Apa yang kau katakan, Paris! T—tunggu! Ini suatu kesalahan!” Ovi kelabakan. Tapi sosok Paris sudah semakin menjauh. “A—akan dibawa ke mana dia?!”

“Disalib, lalu dibakar. Di lapangan kota. Sebentar lagi. Semua pengikut Lucifer ada di sana.”

“Paris…” Tapi Ovi tahu Paris tidak akan mendengarnya. Wajahnya terlihat begitu senang ketika ia berjalan di samping Olive. “PARISSSS!!!!!!!!!!”

***

Sore kelabu. Awan hujan sudah mengapung di atas lapangan besar yang dipadati para anti-kris jahanam itu. Paris dan Olive berdiri di tengah keramaian lapangan itu, bersama para pengikut Tuhan yang lain yang tertangkap. Ia melihat satu persatu wajah para pengkhianat Bapanya itu, dan tersenyum lega ia tidak memiliki wajah berat seperti itu.

“Kau takut?” Tanya Olive, ketika terdengar suara pengeras suara yang menggelegar di lapangan.

“Takut.” Sahut Paris polos. Olive mengangguk.

“Semua orang punya rasa takut. Tak apa, bernafas saja seperti biasa.”

“Nah, sekarang kita akan melihat para pengkhianat terkutuk ini disalibkan dan dibakar hidup-hidup! Mari nikmati pemandangan ini!” Lalu semua pengisi lapangan yang adalah anti-kris itu bersorak sorai seolah sedang melihat hiburan lucu yang menyenangkan.

Tangan Paris direnggut, lalu ia direbahkan di atas kayu berbentuk salib. Hal yang sama terjadi pada Olive. Paris menengok ke kiri, tempat Olive yang sedang menoleh juga ke arahnya. Ia tersenyum, seolah mengatakan, ‘Tak apa…’.

Paku pertama di tangan kanannya diletakan di atas telapak tangannya dengan tepat. Paris nyaris pingsan. Tapi tak bisa… Di tengah keramaian ia melihat wajah Ovi.

“Nah, mari kita lihat paku pertama menancap pada tangan kanan para kurban!”

Lalu petugas itu mengangkat pakunya tinggi. Paris memandangi Olive yang juga memandanginya. Lalu palu itu mengayun. Paris memejamkan erat matanya. Dan palu itu menghantam keras paku di telapak tangan Paris.

Paris meringis, nyaris menjerit. Ia menahan keras jeritannya. Terdengar tawa dari seluruh penonton. Ada yang tawanya terdengar jelas dibuat-buat. Paris menangis. Olive menatapnya dalam. Pandangan itu membuat Paris semakin kuat.

Lalu paku kedua di tangan kirinya ditancapkan lagi. Lagi-lagi terdengar tawa yang keras. Paris menangis semakin deras. Langit berubah gelap. Paris memandang ke atas. Melihat wajah ayah dan ibunya yang sedang tersenyum ke arahnya, tidak tertinggal wajah Ilana… Paris tersenyum senang…

Lalu kakinya dilipat, paku panjang yang besar disiapkan. Palu mengayun, Paris memejamkan erat matanya, dan paku di atas kakinya itu menancap dalam menembus kedua telapak kakinya. Kali ini Paris memekik tertahan. Membuat gelak tawa di lapangan semakin menjadi.

“Nah, sekarang upacara kremasi, masi kita saksikan, saudara-saudaraku yang tercinta!”

Kejam… Sebegini kejamnyakah manusia yang telah diciptakan dengan Tuhan? Tega… Mengapa begitu tega dibuatnya skenario jahanam ini…? Tuhan… Tuhan… Apakah kau melihatku terbaring di sini bersama anak-anakMu yang lain? Pandanglah kami, Tuhan. Jemputlah kami…

Salib diberdirikan dengan katrol sederhana. Salib Paris berdiri tegak di samping salib Olive. Jerami dan kayu-kayu dilemparkan ke bawah salib-salib tinggi itu. Paris menoleh ke arah Olive, dan bertemu mata dengannya.

“Terima kasih, Olive,” bisik Paris. Dan Olive mengangguk mengerti.

“Sama-sama…,” bisiknya nyaris tak bersuara. Paris mendongak. Melihat kegelapan kelam yang abadi baginya. Tapi aneh. Disela ketakutannya ketika api dinyalakan, ia merasa begitu lega. Lega karena ia tidak harus hidup dengan perasaan ‘itu’ yang menyiksanya dan membunuhnya perlahan-lahan. Lega karena tetap menjadi dirinya sampai akhir. Lega karena ia mengikuti kata hatinya. Lega karena ia masih menjadi bagian dari sahabat Tuhan.

Api berkobar makin besar, seolah mereka sedang melakukan upacara ritualnya sendiri.

Panas… Paris merintih. Tapi gelak tawa di lapangan itu makin terdengar keras. Paris menangis. Api itu mulai memanggang kakinya, merembet ke tubuhnya. Darah Paris serasa mendidih. Paris merintih, mengisak, tak berhenti…

Olive melihat air mata Paris yang dengan cepat mendidih dan menghilang. Mulut Olive terbuka, dengan sendirinya. Lalu mulutnya berucap dengan nada yang sendu, tapi hangat…

“Let there be peace on earth…”

Paris menoleh. Beberapa kurban yang lain turut menoleh. Lalu mereka melanjutkannya bersama-sama…

“And let it begins with us…”

Mereka semua tersenyum. Beberapa lirik itu diganti dengan serempak dan kompak. Ovi mendengarnya. Suara Paris yang terdengar begitu menyejukan bernyanyi di tengah kobaran api. Dan Ovi melihatnya, wajahnya tersenyum ketika lidah-lidah api menelannya. Tersenyum begitu lega… Tersenyum begitu puas…

“MEREKA BERNYANYI! MEREKA BERNYANYI! TEMBAK MULUTNYA! TEMBAK MULUT MEREKA!!!”

Pasukan-pasukan berdarah itu mengarahkan pistolnya, tepat ke mulut satu persatu manusia panggang itu. Tapi mereka tidak berhenti bernyanyi… hingga peluru itu menembus kerongkongan mereka… Dan membuat mereka berhenti bernafas…

Nyanyian paling hangat yang pernah didengar sepanjang abad…

Nyanyian yang terdengar paling indah…

Nyanyian yang telah menyeruak masuk ke dalam hati kecil masing-masing para anti-kris…

Nyanyian yang begitu menyejukan…

Paris tergeletak mati di salibnya. Senyum merekah di wajahnya sebelum salibnya roboh dan tubuhnya yang gosong jatuh berserakan di atas tanah… Ovi menangis tak keruan di tempat duduknya. Tato di tubuh Olive sudah dibakar… Tanda itu tak akan dia bawa ke surga… Ovi melihat tato salib terbalik itu di lengannya. Tato terkutuk itu… Ovi menjerit…

Hari Jumat, tanggal 13. Siapa bilang itu Jumat kliwon? Buktinya Paris menari-nari sembari terbawa naik ke atas bersama Olive. Melewati angkasa yang luas. Nafas mereka tidak terasa sesak. Mereka tak berhenti tersenyum. Lalu terdengar gelak tawa yang indah. Terlihat senyuman yang menyambut mereka. Paris dan Olive melangkahkan kakinya di atas rumput yang lembut selayaknya kapas. Ayah, ibu dan Ilana menyambut Paris di sana. Olive yang tak memiliki siapa-siapa di sana ikut dipeluk dengan erat oleh ayah dan ibu Paris. Senyum merekah di sana. Lalu ada nyanyian…

Let there be peace on earth… and let it begins with them…

Tinggalkan Komentar