Mawar Putih, Kekasihku
November 30th, 2006 by alamani
Maret, 2006
by Arif Purwanto
1
Biarlah mawar merah itu kucampakkan di sudut-sudut hatiku, aku bosan dengan geloranya, aku bosan dengan geloranya, otak dan jiwaku letih, letih, menjerit, kenapa gelora hatiku semakin meledak-ledak? Adakah jalan ke tepi? Adakah perlintasannya, rumah kebahagiaan? Ah, bohong,bohong, ilusi, aku takut, takut ujunganya derita, derita abadi, mati jiwaku, karena kurasa matahari tidak pernah menyapa jiwaku, jiwaku rindu, hanya putihnya bulan, putih tawar
2
Aku masih terdiam,
kebahagiaan jiwaku hanyalah tawa sesaat, aih!kucaci malaikat pembawa damai, aku hanya berlari, kuberlari, akhirnya ketiadaan, terjatauh, kuterjatuh mengejar tawa, tawa sesaat, tawa jiwaku yang lain
Apa kabar jiwaku?
“ kabarku tawar, belum membiru bersinar, putih, putih yang kesepian, kosong”
Bosan aku dengan jiwaku, kuberlari, berlari, jatuh dalam ketiadaan
3
Tapi, kini aku jatuh hati pada sekuntum mawar putih, kuletakkan ia dengan lembut di puri hatiku, ternyata mawarku ini lebih wangi, ah! ia tidak memerah bergelora, aku jatuh hati pada keanggunannya, besok, kuhadiahkan selembar permadani jingga untuknya
4
Ada apa wahai jiwaku?
“ aku hanya ingin berhenti sejenak, mencicipi kebahagiaan, membelai kekasihku yang baru, di ranjang pengantinku”
aku tak peduli, mawar merahku, memutih, cemburu, layu, mati