KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Djumingat

Hujan begitu deras mengguyur jalanan. Aspal yang semula panas terkena terik tampak mengepulkan asap tipis. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri dari guyuran hujan. Panah air jatuh dari langit begitu cepatnya. Pipiku mulai memerah panas diterpa tajamnya ujung-ujung air. Aku berlari sekuat tenaga. Seolah disana-sebuah Halte kecil-merupakan finish dari suatu perlombaan dengan aku sebagai jago pemecah rekornya.

Halte tempatku berlindung penuh sesak dengan manusia. Sementara suara klakson kereta silih berganti memekakkan telinga-tak jauh dari halte. Ada yang berpakaian necis lengkap dengan dasi dan tas kulit. Sepatu mengkilap yang dipakainya seolah tak tersentuh air hujan. Mungkin sama seperti pangkatnya yang tak terusik meski berkumpul dengan kere-kere macam aku. Disampingnya seorang nenek tua membawa siter. Dia tampak lelah, menjajakan suara didiringi dawai siter. Tak perduli meski orang-orang sudah beralih ke goyang ngebor, ngecor, nyosor, atau apalah yang sekarang menjadi trend.

Tak sedikit juga lelaki berkacamata hitam dengan tangan usil, mencoba menggerayangi saku sesama orang yang berteduh di sebuah halte kecil penuh coreng-moreng kreativitas tak tersalurkan. Nafsu lelakiku kadang bergolak juga. Sesekali aku melirik wanita cantik tepat beberapa jengkal di sebelahku. Tampaknya dia seorang mahasiswi atau mungkin jenis makhluk kantoran yang kosmetiknya bisa buat makan aku sebulan.

Kelihatan jelas ketakutannya ketika aku mencuri pandang. Tampangku yang gondrong awut-awutan memang lebih mirip penjahat daripada seorang intelektual. Tiba-tiba, aku merasakan ada tangan jahil yang mencoba meraih sesuatu dari jeansku. Sigap kutangkap tangan jahil yang coba menggangu ketenanganku. Kupelintir dengan sekuat tenaga. Suara desisan lembut tertangkap telingaku. Ketika aku menoleh ke belakang, mataku beradu dengan sepasang mata bening. Seorang bocah lelaki berusia 10 tahunan.

Dia diam tak bergeming. Buru-buru kulepaskan tangan kecilnya sebelum orang lain tahu. Aku memberi isyarat dengan tangan kananku supaya dia cepat-cepat pergi. Dia tetap diam tak bergeming. Aku memandangnya dengan tatapan tajam. Aneh, tak tampak sedikit pun ketakutan di matanya. Tiba-tiba, terbersit di pikiranku pasti dia mengejar setoran seperti layaknya pekerja lain. Mungkin dia sebagian anak-anak yang tak sempat menikmati masa kecilnya. Setiap hari diperas tenaganya. Dipaksa bak kerbau yang dicocok hidungnya. Mengikuti keinginan orang-orang yang jauh lebih kuat darinya.

Segera kuambil dompet kulit lusuh yang telah menemaniku bertahun-tahun. Kuambil beberapa lembar ribuan. Aku memanggilnya dengan sebutan Le-panggilan khas Jawa-bocah itu diam saja, mungkin dia tak tahu yang kumaksud. Perlahan kudekati. Kupanggil lagi dari dekat. Orang-orang di sekitarku memandangku keheranan. Aku tak peduli. Setelah capek berteriak-teriak. Aku berjalan mendekat.

Ah bodohnya aku, ternyata dia tuli. Perlahan, kutepuk pundaknya. Dia tersenyum simpul. Mukanya kemerahan menahan malu. Padahal dia bukan koruptor atau perampok kelas kakap. Uang yang dia curi toh kalau berhasil hanya kartu-kartu identitas, beberapa lembar uang ribuan, selembar limapuluh ribuan, dan sebatang rokok kretek terselip di lipatannya. Setelah mencairkan suasana dengan menggodanya. Perlahan aku mencoba bertanya siapa namanya? Tentu saja dengan bahasa isyarat sekenanya. Si bocah menunjukkan secarik kertas. Di dalamnya tertulis “DJUMINGAT”. Ah, mungkin itu namanya.

Kumasukkan beberapa lembar ribuan ke saku bajunya. Tak disangka, dia menolak. Huuu….huuuu…huuuu…hanya itu yang terdengar tapi raut wajah dan gerakan tangannya menunjukkan dia tak suka dikasihani. Mungkin dia seperti nyamuk. Kecil fisiknya tapi berani bertaruh nyawa untuk mencari makan. Tidak mau menerima begitu saja pemberian orang.

Teriakannya berhenti ketika orang-orang di sekitarnya -yang mungkin sudah lebih mengenalnya daripada aku- silih berganti memarahinya. Telinganya mungkin tuli tapi hatinya tidak. Wajah kecil itu menyiratkan dendam kesumat. Dia meracau seolah ingin menelan mentah-mentah orang-orang disekitarnya. Setelah paus melampiaskan emosinya. Dia duduk di sampingku. Dia mengacungkan dua jempolnya sambil menunjuk rambutku yang gondrong dan kacamata hitam yang kupakai. Kulepas kacamataku, aku memakaikannya meski kebesaran.

Dingin serasa menusuk tulang. Kubuka lipatan dompetku. Kuambil korek dari saku rompiku. Djumingat menunjuk-nunjuk ke arah dompetku. Mulut kecilnya kembali meracau ketika melihat benda kecil terselip di dompetku. Rokok kretek terakhir yang kupunya. Aku mencoba untuk melarangnya. Wajahnya tampak murung dengan penolakanku. Muncul juga iba di hatiku. Kuambil rokok yang tinggal sebatang dan kupatahkan jadi dua. Kusulutkan untuknya kemudian baru aku. Anak sekecil itu sudah mencopet, merokok, dan mungkin banyak lagi hal yang dia telah lakukan. Aku hanya tak mengenalnya.

Hujan mulai reda. Menyisakan rintik yang menghadirkan orkestra unik di papan seng tempatku bernaung. Halte mulai sepi. Beberapa gelintir orang saja yang masih tersisa. Aku, nenek pembawa siter, makhluk cantik yang mengambil tempat jauh di pojok, meninggalkan Djumingat yang asyik bermain air. Kami larut dengan aktivitas masing-masing. Sampai kudengar denting dawai siter yang mengalun perlahan. Lagu cinta ala Jawa. Begitu romantis berpadu dengan rintik air hujan yang berdentingan di seng atap Halte. Orkestra alam ini seolah telah membawaku ke alam dimana orang-orang seperti Djumingat berada.

Sebenarnya kami berdua sama. Aku juga bisu, tuli, dan membawa berton-ton dendam yang tak terbalas. Mungkin tak akan pernah terbalas sampai nisanku hancur dimakan rayap. Ah lama sekali. Aku mulai tidak sabar. Mau naik bis kota, sudah pasti jarang bahkan sudah tidak ada yang lewat. Taksi? Ah aku bukan orang miskin yang sinting, mau naik taksi yang kelewat mahal harganya. Akhirnya, aku hanya menunggu jemputanku sambil memandang lekat-lekat tikungan di ujung stasiun.

Ribuan kilo, ratusan terminal, puluhan pelabuhan dan ribuan manusia kujumpai dalam perjalanan untuk menemukan jati diriku. Bisu, tuli, maling, dan dendam. Lamunanku terhenti berbarengan dengan dawai siter yang tidak berdenting lagi. Si nenek pergi tanpa pamit berbarengan dengan terhentinya curahan air dari langit. Sementara air menggenang di jalanan. Danau-danau kecil itu menarik perhatian anak-anak jalanan untuk mengaduk-aduk, mengacaukannya sampai berbuih-buih. Sama seperti masa kecilku.

Kulihat beberapa orang mulai kembali. Hari mulai gelap, kok malah demonstrasi? Ah mungkin mereka mencari sensasi baru. Demonstrasi di awal malam tentu amat menarik, unik, dan jarang dilakukan. Aku hanya tersenyum kecut. Mereka satu persatu turun dari truk, membawa berbagai macam spanduk ke jalanan yang masih basah. Ternyata mereka hanya menuntut biaya pembangunan rumah mereka yang rusak kala bumi bergoncang beberapa waktu lalu. Tujuan mereka berbeda lebih mulia dengan tujuanku dulu. Demonstrasi menuntut demokrasi sambal terasi yang dari baunya saja sudah tahu dari apa dibuat, ya ikan busuk.

Lampu merah tak jauh dari tempatku berteduh berubah dalam sekejap. Ratusan manusia mulai meneriakkan yel-yel dan mengacung-acungkan spanduk. Campur aduk dengan segala tingkah polahnya. Djumingat memandangku sambil tersenyum-senyum. Tangannya menunjuk ke wanita cantik yang sedari tadi tak beranjak meski hujan telah berhenti dan kekacauan demonstrasi telah datang menggantikannya. Djumingat masih saja cengengesan, tapi entah kenapa si cantik itu justru membalasnya dengan senyuman yang manis sekali.

Tiba-tiba si nenek bangkit dari duduknya. Sekonyong-konyong menarik Djumingat dan berusaha membawanya pergi. Djumingat dengan gesit mengelak. Tubuh renta itu sampai terhuyung karena ulah Djumingat.

“Bocah setan! Jangan kurang ajar! ayo ikut Mbah pulang!”

Sambil melemparkan sesuatu ke arah Djumingat. Si Nenek menimpuk Djumingat dengan tusuk konde terbuat bulu landak. Djumingat berlari sambil cengengesan mengejek. Dia bergabung dengan puluhan orang lain di perempatan lampu merah. Sementara Si nenek menggerutu tak karuan. Si nenek beranjak mengambil bulu landak yang jatuh tak jauh dariku.

Dia berpamitan, pertama ke wanita cantik yang termenung seperti memikirkan jutaan persoalan menghimpit dunia kecilnya. Setelah berbasa-basi kemudian dia menghampiriku dengan langkah tertatih. Berpamitan dengan gaya Jogja yang halus disertai dengan doa-doa layaknya seorang Ibu yang merestui anaknya yang hendak pergi jauh. Suara theklek yang terpasang di dua kakinya bak tapal kuda yang selalu menemani kerja kerasnya. Aku memandangi tubuh renta itu menyibak kerumunan orang-orang untuk menarik Djumingat dari dalam kerumunannya.

Ah sial! setelah sekian lama, akhirnya aku kembali ke kota ini. Tempat aku menyandarkan harapan-harapan yang tinggi. Suasananya masih sama seperti tiga tahun lalu. Jalan- jalan, lorong-lorong, lampu-lampu, dan demonstrasi. Sama seperti dulu. Mungkin karena sebagian hatiku tertinggal disini. Hatiku yang remuk hancur berserakan. Tersebar ke seluruh penjuru kota. Pasti begitu, aku tak sempat memungutnya satu per satu ketika aku meninggalkan kota ini. Orang-orang masih meneriakkan yel-yel dan berorasi mengupas habis kebusukan pemerintahnya. Tak terasa, rona merah di ujung barat mulai hilang ditelan remang-remang gelap yang mulai menyelimuti cakarawala.

“Oiiiiii…..Rheno! Sini cepat bantu aku. Besi tua ini mogok lagi. Sialan!”

Aku berpaling ke arah teriakan itu. Suara yang amat kukenal. Prasetyo, teman kecilku. Dia tampak kelelahan. Nafasnya memburu, keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Motor tua tua warna hitam yang dulu sering kami pakai keliling kota. Samasekali tidak ada sifat unik yang dulu kami banggakan. Tak selayaknya orang “memelihara” motor tua. Catnya terkelupas disana-sini. Hilang sudah, seperti berlalunya masa kejayaan kami.

Meski begitu, kami senang bisa bertemu dan bercanda, paling tidak masih tersisa diri kami untuk dilihat keluarga dan teman. Banyak yang hilang tak tahu rimbanya. Tak tahu, dimana mereka tinggal jika masih hidup atau kuburan mereka jika memang sudah mati. Sebelum melangkah pergi, aku berpamitan dengan si cantik. Dia hanya membalsnya dengan senyuman tipis. Lalu kami berdua pergi dengan mendorong besi tua kami. Kami persis seperti Djumingat. Bisu, tuli, tak perduli lagi dengan segalanya. Kami berdua mendorong motor tua itu sambil bercanda.

Motor tua itu mungkin sudah lelah bahkan sekarat. Hanya saja, dia tak tega meninggalkan kami. Terus memaksakan dirinya hingga mati datang tiba-tiba. Kami bertiga lelah. Dua orang pemuda dan satu motor tua. Aku menuntun motor tua yang di punggungnya duduk sahabatku sambil merokok seenaknya. Orang-orang memandangi kami penuh rasa heran. Jika tidak sinting atau gila, pasti kami ini adalah korban kekejaman kota ini. Lalu menderita stres yang luar biasa berat sehingga melakukan hal yang aneh-aneh. Mungkin itulah yang ada di benak orang-orang sepanjang jalan yang kami lewati. Kami tak ambil pusing. Terus berjalan sampai hilang di ujung lorong dunia.

Stasiun Tugu, November 2006

Tinggalkan Komentar