Daun-daun yang Pucat
November 29th, 2006 by p4nt7a
Membawamu pulang setalah perjalanan panjang
melewati tanah yang menganga, sungai kurus,
daun-daun pucat lusuh kadang hijau sewarna senyummu.
Menuruni lembah derita tak bernafas dan sunyi,
hanya suara jantung kita yang menggelitik di telinga.
.
Pada satu pagi ku teringat akan tawamu yang tajam
mengiris mentari di sebuah lembah yang gelap.
menaiki cabang kegetiran, menyelinap tiap helai ilalang.
Tak ada pelukan darimu tadi malam, tapi pagi ini kau peluk
hangat sembab embun di setiap daun.
.
Pada siang harinya, tangismu penuhi lembah-lembah kehampaan
terus berlari melewati ranting-ranting kebencian, kasih, cinta, senyum, dan tangis.
Tapi tiba-tiba kau sandarkan segala resahmu di bahuku,
tak ada kata dari rongga tawamu, apalagi sedikit senyuman.
hanya cinta tanpa warna, rasa tak berirama, serta keraguan berwarna kelabu.
.
Sore hari, langit murung di matamu tergambar kebencian teramat padaku,
entah apa yang ingin kau katakan, suara petir begitu lindu di telinga saat kau berteriak.
Angin berhembus memberikan ritme pada batang keresahan cemara,
daun kecoklatan itu menari meliuk bebas hingga tersungkur pada tanah yang tertawa.
.
Malampun tiba depan rumah kita, basuhlah segala luka yang terlukis di tubuhmu.
Lemaskan segala rasa, telah kusiapkan secangkir teh dan sebungkus kedamaian.
Kini berikanlah stobery yang ku tanam di bibirmu,
tuk tawarkan segala kehampaan, keraguan, dan segala yang tak berwarna.
Di pembaringan ini kita akan sama-sama tertidur dalam keabadian.