Susu Persahabatan
November 28th, 2006 by arie saptaji
It’s a very rare and precious moment.Aku termangu sejenak. Rare and precious? Rasanya lebih tepat: strange. Tapi, tak semua perasaan mesti diungkapkan secara persis, bukan?
Akhirnya kubiarkan saja kalimat berlagak itu. Kuselesaikan email singkat-padat untuk Hans dengan ucapan terima kasih atas satu hari istimewa yang kemarin kami lewatkan bersama — dia sekeluarga, aku sekeluarga. Itu pertemuan pertama kami setelah berpisah hampir tujuh tahun lalu.
Menunggu email itu terkirim, kepalaku kembali berdenyut. Sebetulnya yang terus terngiang-ngiang dalam benakku setelah pertemuan sehari itu adalah pembicaraan kami tentang susu.
“Itu susu sapi!” serunya ketika kuberi tahu merk susu bubuk yang kuberikan kepada sulungku sebagai lanjutan ASI. “Aku tidak setuju kauberi anakmu susu sapi. Susu sapi ya untuk anak sapi! Kasih susu formula yang betul. Mahal dikit dong, tapi kualitasnya terjamin. Kau harus beri yang terbaik untuk anakmu. Kau tahu, dalam lima tahun pertama, perkembangan otak anak mencapai seratus persen. Itu sebabnya disebut the golden ages. Setelah itu lewat, kau enggak akan dapatkan lagi.”
Terbayang si sulung yang sudah pintar menggambar mobil dengan bentuk yang lumayan proporsional untuk coretan seorang bocah tiga tahun. Di salah satu bilik warnet yang sedang senyap itu, mataku terasa memanas. Tentu saja tidak sampai menitikkan air mata.
***
“Hans,” begitu anak Jakarta itu memperkenalkan dirinya saat menempati kamar di sebelah kamarku.
Entah bagaimana, kami langsung saling cocok. Kalau kupikir-pikir — jauh hari kemudian — betapapun di dalam diri setiap kita pasti ada sejumput sektarianisme. Kami beda kampus, dia jurusan Ekonomi, aku jurusan Bahasa Indonesia; dia besar di ibukota, aku bocah gunung; dan kami hidup di negeri Pancasila yang menghormati keragaman; toh yang menjadikan kami berdua akrab sedikit banyak adalah karena kami sama-sama ke gereja di tengah teman-teman satu kos yang ke masjid semua.
Suatu kali kubawa dia ke kampungku, dan dia tampak enjoy sekali waktu disuguhi nasi jagung. Aku sendiri sangat bungah setiap kali dia mendapatkan kiriman sambal teri gurih-pedas. Spesial buatan Mami, katanya.
Pada awal bulan, dia sangat royal. Namun, pada akhir bulan, dia akan manut mengikuti aku nangkring di warung koboi, menyantap nasi kucing, menyeruput teh jahe. Meski sebenarnya bisa saja dia pergi ke wartel dan menelepon ke Jakarta untuk meminta uang saku tambahan, dia mengaku nikmat bersantap di warung angkringan seperti itu. “Enak kok merakyat begini,” kilahnya.
Tanda-tanda kedermawanannya makin menjadi setelah dia ikut acara Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK).
“Alim ni ye!” ledekku. “Bilang aja mau cuci mata!”
“Habis mau bagaimana lagi? Oma-Opa, Om-Tante, Papi-Mami, semua tegas-tegas bilang: Silakan dengan nona mana saja, yang penting harus cinta sama Yesus!”
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Dengan cara yang berlainan, orang tuaku menanamkan wanti-wanti serupa.
Dan memang ajaib. Di PMK itu ia mengalami sebuah revolusi kecil. Pendeta mahasiswa yang berkhotbah memaparkan kehidupan jemaat Kristen mula-mula sebagai gambaran persekutuan ideal di antara umat. Mereka menjalankan gaya hidup saling berbagi, justru di tengah kesulitan dan penindasan Romawi.
“Gaya hidup itu yang nantinya dijiplak sama orang komunis,” katanya menirukan pendeta itu. “Bedanya: orang komunis dipaksa oleh partai, mereka melakukannya secara sukarela. Mereka melakukannya karena kasih dan covenant satu sama lain.”
“Cov- apa?”
“Covenant. Itu perjanjian yang dilandasi kepercayaan dan pertanggungjawaban tak terbatas. Covenant ini tidak akan bubar sekalipun keadaan berubah. Dasarnya ya kasih Yesus. Sama seperti Yesus sudah mati untuk kita semua, kita juga harus siap mati untuk satu sama lain,” tandasnya. “Bayangkan kalau orang-orang Kristen benar-benar hidup seperti itu!”
Terus terang aku sedikit tergetar. Kubiarkan dia mengobarkan bakat orasinya.
“Aku bukan komunis,” lanjutnya. “Dan aku rela. Jadi, kalau aku punya makanan, berarti kau punya makanan. Kalau aku ada uang, kau juga ada uang.”
Akibatnya, aku jadi berutang budi padanya. Beberapa kali saat uang jatahku dari rumah cekak, tak segan-segan ia mengulurkan bantuan. Paling tidak, tak pernah perutku sampai terpaksa keroncongan.
Keadaan kurasa impas saat dia jatuh cinta dan pacaran dengan Yetty. Di mana lagi mereka bertemu kalau bukan di PMK. Saat itulah dia memintaku untuk mengurus segala tetek bengek surat rayuan, kartu Valentine hingga puisi ulang tahun. Mana mungkin aku menolaknya? Dan sablengnya, Hans berterus-terang pada Yetty bahwa dia melibatkan aku dalam proyek bersastra-sastra ini.
“Jadi, ini tulisan kau atau buatan Anto?”
“Semuanya curahan hatiku, honey! Dia cuma poles-poles sedikit.”
Aku cuma ketawa mendengarnya.
Saat orang tuanya berkunjung, aku bisa unjuk kemampuan. Mereka minta diantar berkeliling Borobudur-Prambanan. Beribu-ribu terima kasih untuk dosen senior Telaah Teks Melayu Klasik. Beliau sempat menuntun kami menelusuri panil demi panil relief candi-candi ini. Jadilah aku pamer pengetahuan pada tetamu dari Jakarta itu.
Ketika pulang, ayah Hans menyelipkan amplop ke saku bajuku. Dua ratus ribu. Kubelikan kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, dan sepotong celana jeans. Selebihnya, Hans menyeretku ke KFC dan nonton.
Hans diwisuda satu semester setelah Yetty. Tiga bulan kemudian mereka menikah. Sengaja di Jogja, untuk memudahkan keluarga kedua pihak hadir, dan karena mereka ingin mengenang kota ini sebagai tempat yang telah memadukan cinta-kasih mereka. Lalu mereka berangkat ke Pontianak. Sebuah pekerjaan bagus telah menanti Hans.
***
Baru dua tahun sesudahnya aku menyusul kawin. Kusunting Dian, adik angkatan Yetty. Kami sudah sempat ketemu beberapa kali melalui Yetty. Waktu Hans dan Yetty menikah, aku jadi MC, dan dia menyumbangkan sebuah lagu. Dengan lekuk vokal lumayan mirip-mirip Vina Panduwinata, dia menyanyikan Cinta. Saat itulah hatiku menggelepar.
Ketika aku menembaknya menjadi pacarku, ia hanya tersenyum. Sangat menggoda, namun sekaligus sulit ditafsirkan: bisa ‘ya’, bisa ‘tidak’, bisa juga ‘yah, begitulah’. Hubungan kami kuanggap resmi terbuhul ketika ia tidak menolak untuk kuajak nonton Titanic berdua.
Saat menikah, kami sepakat untuk repot duluan. Segera lahirlah dua anak kami, laki-laki dan perempuan, sehat-sehat dan manis-manis. Cukup. Di tengah era reformasi, kami mengikuti nasihat rezim Orde Baru: menjalani KB lestari.
Aku berusaha membina keluarga kecil sejahtera dengan gaji guru SMU swasta dan tambahan dari menerjemahkan dan menulis. Dengan itu aku bisa mengontrak rumah dan mengambil kredit motor.
Hans, entah bagaimana, rasanya menguap begitu saja. Aku hanya mendengar kabar tentang dia, dan sekaligus menerima salam darinya, kalau kebetulan berpapasan dengan Henry, kakak Yetty, yang menetap di Jogja. Menurutnya, selama ini Hans baru datang lagi ke Jogja satu-dua kali. Itu pun selalu sendiri, dan tak pernah berlama-lama. Mereka lebih sering bertemu dalam kesempatan kumpul keluarga di Makassar. Melalui Henry kami saling bertukar salam. Hanya itu.
Sampai suatu pagi pada liburan semester itu. Dia, Yetty, tiga orang anak dan seorang pembantu, mendadak muncul di depan rumah kami dengan mobil Kijang kapsul biru metalik.
“Lumayanlah, To, iparku berbaik hati meminjamkannya selama kami di Jogja,” cetusnya, sambil dengan ringan menyebutkan bahwa di Pontianak dia paling senang membawa Land Cruiser. Dia punya channel untuk mendapatkan mobil-mobil bagus dari Malaysia dengan harga miring.
Seterusnya ia bercerita tentang apa saja yang dilakukannya selepas dari Jogja. Dia mengikuti jejak orang tuanya, bertekun di dunia perkayuan, sambil bisnis lain kanan-kiri, “mencari sesuap nasi, dan sepiring berlian.”
Aku memberikan kumpulan puisi pertamaku yang kufotokopi dan kujilid sendiri. “Wah, masih setia berpuisi-ria, toh?” Yetty yang menyambut.
“Sebenarnya pengin juga sering-sering nostalgia ke Jogja. Tapi, bisnisku lebih banyak ke Jakarta, Medan, Singapur atau Hong Kong,” papar Hans.
Hans mengajak kami makan di McDonald. Sesudah itu, kami meluncur ke Kids’ Fun. Kisah-kisah manuver bisnis yang diceritakannya dengan penuh semangat sepanjang perjalanan, lebih banyak yang lewat begitu saja dari kepalaku. Dan aku hanya menjawab secukupnya kalau sesekali ia bertanya tentang apa yang telah kualami, namun itu sudah cukup untuk membuatnya berkomentar panjang-lebar. Seperti dulu, aku lebih sering menjadi penyimak, sambil di sana-sini aku mencoba ketawa.
Sungguh satu hari yang — yah, mungkin ‘ganjil’ memang ungkapan yang lebih cocok.
Dan setelah Hans sekeluarga berpamitan pulang, rasanya memang seperti mimpi saja. “Masih Hans yang dulu,” hanya begitu komentar istriku.
Rumah kecil kami segera terasa sunyi lagi. Setelah dimandikan, si sulung disuapi sambil asyik bermain dengan koleksi mobil mainannya. Aku membopong si bungsu.
“Say, kau bahagia enggak dengan pernikahan kita?” tanyaku tiba-tiba.
Dian berhenti menyendok dan menatapku dengan dahi berkerut. Aku segera tersadar, pertanyaanku memang melompat terlalu jauh. Mungkin karena melihatku tersipu, ia menganggap tak perlu menjawab pertanyaan itu. Ia melanjutkan menyuapi si sulung sambil tersenyum — senyum yang sampai sekarang masih sulit kutafsirkan: entah ‘ya’, entah ‘tidak’, entah ‘yah, begitulah’.
Yang jelas, yang masih terus terngiang-ngiang dalam benakku setelah pertemuan sehari dengan Hans itu tidak lain adalah pembicaraan kami tentang susu.
It’s a strange moment, isn’t it? ***
Yogyakarta, 2003-2006