Dikejar Bayang-bayang Ibu
November 28th, 2006 by sri arief
bulan telanjang mengiris malam
membungkus setumpuk rindu
tak jua pernah jumpa dengan
dermaganya sesuatu tertinggal jauuuuh
di balik punggung jiwaku
pelarian panjang menepis bayang-bayang
meronta disantap luka lawas
.
Ibuku tergila-gila mengumpuli sampah , kursi rongsokan, kasur rongsokan, mesin rongsokan, hingga rumah kami disesaki sampah. Akhirnya , aku merasa menjadi bagian dari sampah itu sendiri.Sejak kecil, aku sering berpikir, aku ini sampah yang menjelma sebagai manusia.
.
Sehingga, kemanapun aku pergi, aku merasa diriku adalah bagian dari sampah. Aku cuma bisa berdiam menahan malu, kehilangan citra diri, rasa percaya diriku amblas. Bukan cuma itu, aku tak pernah merasakan kenyamanan jika berdekatan dengannya. Kecuali gigi yang mengatup rapat, jantung yang berdegup, tangan mengepal….dan bulu kuduk meremang. Aku takut, sangat takut kala berada di dekat ibuku.
.
Jika aku mendengar suara ibu melengking-lengking, amarah meledak-ledak, dan langkah kakinya yang selalu terbirit-birit, mendekati aku…..Aku langsung pasrah…., biasanya sandal dan sepatunya akan menghujani tubuhku. Cubitan dan pukulan keras, serta sumpah serapah menghujaniku. Cengkeraman kukunya menusuk jauh sampai terbawa dalam alur kehidupanku…..
.
Ibu membuatku terbiasa bersimbah airmata kepedihan, kecewa, ketakutan, kecemasan….dan rasa terkungkung yang amat dahsyat. Rasa diperbudak dan penjajahan batin secara total.Hidup berdekatan dengan ibuku, identik dengan kesedihan. Aku sudah terbiasa dengan kesulitan. Aku juga sudah terbiasa dengan ejekan, hinaan. Aku juga sudah terbiasa membanting tulang, mengikuti gaya kerja keras membabi buta ala ibuku yang aneh.
.
Tanpa program yang jelas, tanpa alur yang jelas, tanpa tujuan yang cemerlang. Mengingatkan aku pada hewan bertanduk yang main seruduk tanpa arah jika sudah kalap. Atau cacing yang menggeliat bingung. Aku sudah terbiasa ia seret dengan paksa menjelajahi dunia imajinasi dan persepsinya yang ………..aneh bin ajaib.
.
Begitulah, jika ia melihat seorang pedagang kaki lima berjualan cendol laku keras, esoknya iajuga akan menirunya. Beberapa hari kemudian, pedagang kupat tahu yang laris diserbu pembeli, iapun beralih berjualan kupat tahu. Ah….jadi pedagang kaki lima pun ia lakoni. Padahal hatiku miris, mengapa ia begitu tega menyaingi masyarakat kecil itu. Mereka tak punya cara lain selain berjualan di kaki lima, karena mereka dulunya terlalu miskin untuk sekolah, apalagi kuliah. Teganya dia. Teganya melindas kesempatan mereka mencari sesuap nasi dengan menjadi pesaing mereka.
.
Entahlah, ibuku ingin aku terlibat. Entahlah, aku tak pernah tahu, apakah ini wajar atau tidak. Sebab ibuku bukanlah dari keluarga kebanyakan. Ibu anak orang kaya, mendiang bapaknya dulu pejabat tinggi , tinggal di kawasan Menteng Jakarta. Ia lulusan sebuah institut teknologi negeri terkemuka di Bandung, almamaternya Bung Karno.
.
Aku tak habis pikir, apakah dunia ini sedang sakit? Kulewati malam demi malam dengan seribu tanya membelit…. tapi jawabannya tak kujumpai.
.
Sepenggal ingatan itu terus memburuku siang dan malam. Sepenggal ingatan itu telah mencincang habis akal sehatku. Sekelebat rasa luka mendalam itu telah membuat perjalanan hidupku rapuh, tak punya rasa percaya diri, dan kepribadianku retak terbelah-belah.
.
Aku hidup tersaruk dalam nestapa. Membiarkan orang memandangku jijik dan mengatakan bahwa aku adalah perempuan muda gila.
.
Aku tak tahu, apakah gila dan jahat itu sama? Kupikir banyak orang gila yang hatinya baik, ia jadi tak waras lantaran batinnya dicabik-cabik oleh nyerinya durjana hidup. Tapi, orang jahat, itu sudah pasti gila-gilaan. Ia sanggup berbuat segala sesuatu yang membuat jantung berdenyut menyakitkan, merobek-robek perasaan hingga terpecah.
.
Dan orang-orang jahat itu tak punya nurani utuh, kecuali nafas tersengal berangasan, atau sesuatu yang membusuk, kehilangan belas kasih, dengki yang menggelora, serta siap menerkam siapa saja yang dianggapnya berseberangan dengan dirinya.
.
Lain waktu orang jahat itu menjadi pemalas hebat yang lebih suka menjadi parasit, benalu, sibuk minta dikasihani, disayangi, diberi, tapi enggan memeras keringat dan otot. Terkadang orang jahat itu menjadi pengemis kelas elite, yang minta disuap, disogok, dan dihujani upeti. Orang jahat itu juga minta banyak dukungan dan sanjungan, perhatian, dengan cara apapun.
.
Dan yang menyeramkan, orang jahat, secara bawah sadar, tengah melakukan kaderisasi , secara tak langsung, mungkin juga tak sengaja, ulahnya telah menebar benih kehendak berbuat jahat, menimbulkan orang jahat-orang jahat baru. Dengan memperlakukan orang baik secara jahat. Sehingga tumbuhlah dendam dalam orang baik itu, akibatnya dendam itulah yang menyeret orang baik untuk mengubah dirinya menjadi jahat. Supaya mampu melampiaskan dendamnya…
.
Seperti legenda kepribadian ganda Dr Heckil dan Jackil …….Sisi-sisi jahat baru yang tumbuh dalam rangka membela diri.
.
***
.
Tapi aku tak mau menjadi jahat, karena kenyang dengan kejahatan ibuku padaku. Tidak..tidak….!! Maka aku harus lari darinya, lari dan lari. Meski ia seperti jelmaan mahluk yang menakutkan, seolah ia menjadi sakti, dan mampu memburuku kemana saja. Bahkan sampai ke alam mimpi…….Oh tidak, jangan ikuti aku…
.
***
.
Sekali waktu aku menyaksikan seolah-olah ibuku datang dengan wajah menyeringai, dengan teriakan histerisnya yang tajam melengking, dengan serapahnya yang kejam, dengan tangan berkacak pinggang.
.
Aku mendengar suaranya – seperti selalu ia lakukan- memberikan perintah kepadaku , sama seperti seorang juragan. Ibu memerintahkanku menuntaskan semua tugas rumah tangga yang ia enggan melakukannya. Ia meminta aku untuk menopang semua kegiatan di dapur, di kamar mandi, mengepel, menyapu lantai, membenahi rumah yang ia acak . Membereskan kamar tidurnya yang tak pernah rapi. Karena ia ingin bebas merdeka terbang kemana saja yang ia inginkan. Berangkat sejak mentari terbit, dan pulang setelah matahari lama terbenam.
.
Ia membiarkan aku terlibat dalam urusan mencari uang sejak usiaku masih belum genap 10 tahun. Ia memaksaku berdagang keliling. Ia memaksaku untuk mencari uang sendiri ketika aku harus membeli buku sambil berteriak marah. Karena ayahku tak bisa memberinya nafkah yang cukup. Ia memaksaku mengurusi adik bayiku ketika ia keluyuran entah kemana.
.
Karena ayahku orang miskin. Ayahku cuma pegawai kecil dengan gaji yang amat kurang dari cukup. Dan ibuku benci dengan kemiskinan. Sementara kakekku sendiri tak sanggup lagi menyuplai anak-anaknya yang semua sudah berumah tangga. Anak-anak yang tak sanggup hidup sederhana, telah terbiasa dengan kemewahan dan kemudahan hidup, terbiasa menghambur-hamburkan harta untuk rasa senang dan kebahagiaan, dan ogah bekerja keras apalagi prihatin. Dan kekayaan kakekku tandas menjelang kematian kakek dalam sakit dan luka hati.Dalam hutang yang mencekik karena perilaku anak-anaknya.
.
Bicara tentang ibuku…….Aku segera melipat kedua tanganku merapatkan erat-erat ke dadaku. Aku meringkuk ketakutan.Sebenarnya , aku pernah bermimpi sangat indah……… Aku melihat di luar sana, embun berjatuhan menyejukkan dunia. Alam seperti beludru hijau , lembut menyelimuti batinku. Aku ingin berlari dan berlari dari kehidupan yang ibu ciptakan buatku, dan buat kami semua anak-anaknya….. Aku enggan untuk pulang ke ‘gudang’ rongsokan yang sesak dan pengap itu, dimana aku selalu merasa menjadi bagian dari sampah…..
.
Aku mimpi dibentak ibu, dicela, dicaci maki, diserapahi, dikejar-kejar ibuku, diburu ibu. Aku takut sekali, watak dan hasrat menguasai anak yang menyeruak darinya, begitu dahsyat kuatnya, sangat menakutkan. Kadang aku merasa ia sengaja melahirkan aku untuk dijadikan budak dan untuk ’tong sampah’ melampiaskan nafsu amarahnya yang menggunung. Paling tidak, ketika ia melangkah ke luar rumah, ia sudah merasa lega melampiaskan watak buruknya kepada anak-anaknya. Dan saat keluar rumah, ia dapat tersenyum lega, ada rasa ringan di batinnya.
.
Agar ia bisa tersenyum dan ramah di hadapan publik dan mendapat pujian kekaguman, karena ia bisa mengobral kebaikan palsu. Kebaikan untuk dipuji. Ia mengobral bantuan. Untuk mengeruk pujian. Setelah ia menumpahkan watak kasar pemarahnya kepadaku, kepada anak-anaknya. Ia bisa mengobral tenaga untuk mendapat pujian, setelah ia menguras habis tenaga anak-anaknya untuk mengambil alih tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga.
.
Kepedihan masa kecil, terkadang bangkit, menjadi angkara murka yang menakutkan. Berbaur dengan ketegangan-ketegangan yang kuhadapi, keletihanku sebagai seorang wanita. Tembok rumah sakit jiwa menjadi langgananku.
.
Cita-citaku yang indah berkilauan, hancur lebur dengan vonis menjijikkan, skizhofrenia. Kehidupan telah mencabik harapan dan cita-citak…..
.
Sebelum aku tercampakkan di komunitas gelandangan ini, menjadi tontonan anak kecil , serta menjadi bahan olok-olok, aku pernah diserapahi sebagai anak durhaka. Ia berteriak, bahwa takkan selamat anak yang tak patuh pada ibunya. Bahwa tak ada surga dunia dan akhirat untuk anak pembangkang. Tapi aku tak mau mendengar retorika yang telah ribuan kali ia teriakkan dengan kasar kepadaku. Aku melarikan diri dari rumah dengan hanya berbekal selembar baju yang melekat di tubuhku.
.
Aku digagahi entah oleh siapa di jalanan, aku tak tahu. Aku tak terkejut, karena sebelumnya aku terbiasa menjadi ’komoditi’ dagangan ibuku. Ibu selalu mimpi kembali menjadi kaya dengan menjajakan anaknya . Tapi aku memilih berlari, karena sudah terlalu banyak luka yang ia gores di kulit dan sekujur tubuhku, dan yang terbanyak adalah luka dalam ingatan dan hatiku..
.
Sekali waktu aku penasaran ingin mengintai kembali rumah kami yang kotor dan mirip gudang itu. Yang pekarangannya mirip hutan ilalang dan bagian dalamnya gudang rongsokan serta sarang tikus. Hanya saja…., ternyata rumah itu sudah berubah menjadi istana cantik dan bersih, yang penghuninya bukan lagi ibuku, semuanya tak lagi aku kenal.
.
Pernah juga tubuhku dibelenggu di balik terali besi rumah sakit jiwa. Katanya aku sempat menjadi ganas dan melukai orang. Namun dalam pikiranku, aku tengah membela diri dari terkaman kuku ibuku. Dari balik terali, aku melihat dua orang yang aku kenal. Aku melihat ada kakak dan adikku di tempat yang sama.
.
Adikku sempat juga menangis di hadapanku.
.
”Kita semua anak durhaka? Semua orang mengatakan, kita semua jadi gila karena kita adalah anak durhaka…….Mengapa tak ada sosok ibu yang digelari durhaka karena begitu kejam pada anak-anaknya? Karena menjual anak gadisnya kepada kaum hidung belang. Dan membuat bapak anak-anaknya mati terkapar dibunuh seorang germo. Dan memperbudak anak-anaknya sejak kecil? Dan menjadikan anak-anaknnya tempat pelampiasan amarah?”……Mengapa orang mengatakan kita gila karena kita kualat pada ibu kita dan lari dari rumah…..?”
.
Itulah kali terakhir aku bertemu dengan adik dan kakakku. Selanjutnya, rumah sakit jiwapun tak lagi sudi menampung kami. Kami menggelandang di jalan-jalan sambil tertawa dan menangis.
.
Namun suatu hari aku bermimpi buruk sekali, aku mimpi dikejar-kejar ibuku. Ia mengejarku sambil membawa sapu lidi, rotan, gagang sapu ijuk, tangkai kemoceng dan terom,pah kayu. Ia hendak memukulku. Ia hendak memaksaku untuk mencari uang . Ia akan kembali mempekerjakan aku, dan akan memaksaku menjadi keledai yang harus tunduk pada semua perintahnya. Juga akan menjualku………Aku menangis sesunggukan…….
.
Ketika aku terbangun, aku melihat gelap di sekelilingku. Langit di atas kepalaku tampak hitam bertaburan bintang. Lalu lintas Bandung masih ramai .Suara musik terdengar dari beberapa cafe dan diskotik. Seorang gelandangan perempuan tampak memberi makan pada bocahnya dengan suapan penuh cinta. Duduk di dekatku.
.
Aku kembali menangis karena sisa rasa sedih dari mimpiku masih membekas. Gelandangan perempuan itu tampak iba padaku. Ia menawarkan sebungkus nasi dengan ramah. Aku tersenyum, dan melahapnya. Lapar, memang itu yang tengah aku rasakan. Perempuan itu beberapa hari terakhir ini mengajak aku mengemis dan meminta-minta.
.
Langit semakin kelam, malam kian larut. Aku kembali tertawa, dan tak peduli lagi dengan bisikan-bisikan yang mirip suara ibuku…”Anak durhaka, cepat pulang, bantu ibu cari duit!! Bantu ibu!!! Bantu ibu…….!!!!”
.
Sungguh, aku kini tak peduli lagi. Dunia begitu merdeka di hadapanku. Mimpi burukku tentang ibu lama kelamaan mulai sirna. Aku ingin meraih kemerdekaan yang sesungguhnya.(Bandung, april 1977-april 2006)
.