KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Hari Ini, Sayang…

Hari ini genap seratus tahun aku mengenalmu. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa usai sudah sesuatu yang kita sebut ‘hidup’. Karena ternyata waktu tak menunggu.

Rasanya tangis itu masih ada. Terasa mengering di pipiku. Dan tawa yang menggema di malam berbintang masih terdengar akrab di telingaku. Begitu banyak yang telah kita lalui, Sayang. Tanpa ada yang kita sesali. Begitu banyak pengorbanan yang kita lakukan untuk bisa bersama.

Lucu. Karena rasanya baru kemarin engaku menampar pipiku hingga merah. Dan keluar darah segar dari mulutku yang lebam-lebam. Rasanya baru kemarin kau mengecup keningku, dan mengatakan betapa engkau mencintaiku.

Aku masih ingat betul, Sayang. Saat kau mencaci-maki aku. Kata-kata itu masih terekam jelas di otakku. Yang membuatku bertanya-tanya, mengapa katamu kau mencintaiku. Yang membuatku semakin ragu akan yang kau sebut dengan cinta.

Aku masih ingat betul, ketika aku membuatkan makan malam terlezat untukmu, tapi yang kau puji adalah Ratna, si pembantu rumah tangga kita.

Tahukah kamu, siapa yang setiap malam mendoakan engkau dan kesehatanmu? Siapa yang setiap malam menaruh secarik kertas harapan mimpi indah di balik bantalmu? Siapa yang setiap malam menenangkan engkau dari racauan-igauanmu yang nampak sangat meresahkan itu? Itu aku.

Aku yang sangat mencintaimu, menenangkanmu tanpa pernah mengeluh. Meski suatu hari kau menendang perutku, dan membunuh nyawa dalam rahimku.

Aku yang sangat menyayangimu, dan melakukan semuanya yang terbaik bagimu. Meski suatu hari kau bilang aku tak berguna. Dan aku hanya sesosok perempuan menyedihkan.

Sayang, mereka bilang aku tolol. Mereka bilang aku buta. Tapi hatiku percaya, aku masih memelukmu erat-erat, dalam dekapanku yang hangat. Kau masih milikku.

Di hatiku aku percaya, sosok anak kecil yang meminta dibangunkan itu ada dalam dirimu. Aku bisa melihatnya dengan jelas, dalam wajahmu kala engkau tertidur.

Hari ini, adalah yang terakhir kalinya aku melihatmu. Setelah sekian lama aku menunggu untuk dapat menatap dirimu. Engkau tertidur, di sana, dan wajahmu bagai tersenyum. Aku menjemputmu, Sayang. Berharap kau akan melihatku kembali, setelah bertahun-tahun lamanya engkau buang pandanganmu sejauh mungkin dari seonggok daging berisi cinta padamu ini.

Lalu, hitungan mundur menuju hari ke-101 semenjak aku mengenalmu, berakhir. Kau terbangun. Dan matamu membelalak menatapku. Air mata itu tergantung di pelupuk matamu. Kau merangkak menghampiriku, seperti bayi yang baru belajar berjalan, itulah engkau.

Lalu kau cium kakiku, karena kau bilang kau tak sanggup mencium keningku, seperti yang dulu sering kau lakukan padaku.

Lalu kau peluk erat-erat dengkulku. Tak mau kau lepaskan aku.

Tapi mengapa, Sayang? Mengapa baru kau lakukan ini sekarang? Setelah sekian lama menanti, hingga nafasku habis ditelan amarah dari emosimu yang tak terlampiaskan, barulah kau kembali padaku. Setelah kau melupakan arti cinta. Dan melupakan cintaku padamu.

Mengapa begitu, Sayang?

Maka lonceng itu berbunyi, dan saatnya untuk pergi. Permintaan terakhirku dikabulkan sudah. Dan saatnya untukku kembali.

Maaf, Sayang, tapi kali ini tak lagi aku menemani. Karena aku tak sanggup membantumu memikul sekian banyak dosa menuju neraka. Karena tubuhku kini ringan, setelah sekian lama kau bebaniku aku dengan beribu kata-kata jahat. Maafkan aku, Sayang. Ini adalah pertama kalinya aku meninggalkanmu, melupakan arti cintaku padamu.

Kelak di hari yang ke seribu nanti, semenjak aku mengenalmu, kita akan bertemu lagi. Mungkin saat itu, kau tak tahu siapa aku, seperti aku yang tak akan mengenalimu lagi.

Dan menunggu hari ke seratus lagi, setelah aku mengenalmu, berjalan menghadap Tuhan, bergandengan tangan.

Mei menuju Juni, 2006

4 Responses to “Hari Ini, Sayang…”

  1. on 29 May 2007 at 18:48fitriyanti

    bagusssss. kata-katanya sangat masuk akal dan ringan di cerna oleh kalangan manapun

  2. on 10 Jul 2008 at 15:45Lilc

    I feel the zame way with you
    My huzband often hurt me with hiz wordz and hiz own handz but ztill i dont wanna ztop loving him

  3. on 12 Aug 2008 at 15:48layla

    ih,,,,,,,,,,,,,,,,, q tersentuh bgt deh baca na…….!!!!!!!!!!!!!

  4. on 16 Dec 2009 at 15:30Nitha

    Aku terharu bgt ngebacanya… Sumpah diantara sekian banyak cerita cmn ini yg bisa buat aku tersentuh n ngasih coment… Mngkn krna aku jg pernah merasakannya… Bagaimana skitnya disakitii oleh suami yg sangat aku cintai… Tp dia membalas dgn sebuah pengkhianatan dan penyiksaan lahir batin…. Thanks ya dah bwt cerpen yg bagus… Ayo semangat

Tinggalkan Komentar