Surat Hujan
November 27th, 2006 by arie saptaji
surat hujan, 1
kepada: nyanyian luka di gigir gunung berkabut
sesemak pakis kalut
dan humus yang lembab dan purba
menyerap gigilnya, mendekap pedihnya
: besok kuciduk tangismu
di perigi itu
membayang air mukamu
jogja, 2004
.
surat hujan, 2
tak kaujawab, tangisku
sekumpulan kuntul melepas petang dengan kepaknya
langit lumpuh
merawankan nada-nada siter-gambang
ah, nyanyian!
tak boyak kita tembangkan
layari gundah malam
jogja, 2004
.
surat hujan, 3
“senja itu apa, mama?”
senja adalah tempat kita menyimpan usia
saat dinginmu menggembungkan kantung-kantung awan
dan kita tempelkan hidung ke kaca jendela
: hangat nafas, doa putih tanpa kata
jogja, 2004
.
surat hujan, 4
: kukirim padamu
embun yang lengang, enggan menguap
memilih resap
ke basah tanah di bawah
kelopak kuning tua
jogja, 2004
.
surat hujan, 5
apakah aku perlu menyanyi?
dingin subuh, terang tanah menjauh
kausiapkan kopi dan roti
dengan sekerat jejak sepi
: eli, eli, lama sabakhtani?
jogja, 2004
.
surat hujan, 6
seorang bocah tertawa:
awan-awan cokelat, membara
ibu mewarnainya
ia memberiku seekor kuda
melesat di angkasa
“ayah!”
jogja, 2004