KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kecoak!!!

26 November 2006

Matanya menerawang menatap dinding di hadapannya. Di matanya tak terpantul cahaya kehidupan. Bosan. Jenuh. Penat ia dengan kehidupan. Berulang kali setan bunuh diri sialan menghantui pikirannya. Berulang kali ia mencoba menyayat pergelangan tangannya. Berulang kali ia mencoba meminum obat serangga. Berulang kali ia mencoba meminum berpuluh-puluh butir obat tidur. Tapi nyalinya kurang.

Kemarin ini ia melihat televisi. Di salah satu salurannya, yang menarik perhatiannya dan membawa kembali pikirannya kepada kehidupan, adalah tentang kematian seorang bocah. Ia malas mandi, jadi ia bunuh diri.

Kala ia tonton dan dengarkan berita itu, helaan nafas panjang berangsut keluar dari mulutnya yang bau. Ia bahkan menggaruk kepalanya, membuat kusut rambutnya semakin parah. Dan dua kegiatan itu adalah yang ia lakukan pada hari itu, selain menatap dengan pandangan menerawang ke televisi, layar komputer, atau sekedar bernafas dan berjalan.

Hidup ini klise. Ia sadar. Manusia hidup untuk mati. Lahir untuk mati. Lantas baginya, untuk apalah lahir bila toh ia akan mati juga? Kehidupan hanya jembatan menyeberangi untuk melihat dan mengerti. Itu baginya. Sayangnya baru ia sadari hal itu di usianya yang mulai tua.

Dulu ia setengah mati berjuang melawan kehidupan. Ketika ia nyaris mati kelaparan karena dibuang di selokan gelap dekat rumahnya oleh orangtuanya, ia mati-matian berjuang untuk tetap hidup. Ia rela makan tanah, demi mengenyangi perutnya yang mengosong. Ia rela minum air limbah, demi membasahi mulutnya yang kering. Sekarang, ketika ia semakin tua, dan rambut putih mulai memenuhi kepalanya, ia seolah dibangunkan dari mimpi buruknya tentang kehidupan. Dan ia seolah ditampar untuk sadar bahwa selama ini perjuangannya sia-sia.

Ia tak kenal apa itu cinta. Dulu ia dibuang karena uang. Dan sejak itu, ambisinya hanyalah uang. Ia terpaksa kerja keras di perkotaan, menyamar jadi lelaki untuk mengangkut barang berat, supaya dapat upah untuk makan. Pelan-pelan, otaknya turut bekerja keras hingga akhirnya ia kaya. Ia jadi orang paling kaya di desanya. Dan ketika ia dikenali orangtuanya, mereka memohon kembali pada dia. Dan dia dielu-elukan, dibanggakan, yang dulunya ia dibuang.

Rasa sakit hati sudah tak mempan menyakiti dia. Dia bahkan tak tahu ada kata ’sakit’ yang tertera di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia sudah kebal. Kulitnya memang tipis, tapi untuk kata itu, kulitnya sangat tebal.

Semenjak itu, uang ia lakukan untuk menguasai segalanya. Ia punya suami karena uang. Punya keluarga karena uang. Punya hidup karena uang. Tuhan tak ada artinya lagi bagi dia. Karena uangnya adalah tuhan.

Itu dulu.

Sekarang, tujuan hidupnya berubah.

Sekarang ia hanya menunggu kapan ia dijemput untuk dibawa pergi dari yang namanya ‘kehidupan’. Karena penat ia sudah. Jenuh ia sudah. Ia sudah cukup merasakan kehampaan dalam kehidupannya. Ia tak merasakan cinta. Ia tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan sekarang. Karena mencari uang sudah tak bisa ia lakukan. Setiap harinya ia hanya melamun di depan televisi, atau duduk di kursi tuanya sambil menatap ke langit Bumi. Kadang akan ada yang datang, memberinya buah dan minta uang. Kadang akan ada yang mengurusnya, dan setiap 30 hari sekali ia minta uang. Uang lagi. Dulu ia sempat merasakan cinta pada uang. Uang membawanya pada orang-orang yang ia sebut ‘kecoak’, karena mereka mendekati dia karena ia punya sesuatu yang menguntungkan untuk si kecoak. Tapi sekarang ia setengah mati muak.

Hidupnya cuma tentang uang. Uang sialan.

Rasanya sekarang ia hidup seperti kecoak. Sekali lagi dibuang. Hidupnya semakin lama semakin hampa. Ia kerap kali dibilang gila. Bagi dirinya sendiri ia lebih rendah dari kecoak. Hidupnya hanya untuk uang. Ia sia-siakan untuk uang. Tanpa merasakan indahnya segala hal di luar uang. Dulu cuma hal-hal duniawi yang membawanya pergi dari sakit hati masa lalunya. Yang semakin hari membuatnya kebal dan tak merasakan lagi sakit di hatinya.

Sore ini ia duduk di kursi tuanya. Dihadapkan ke halaman depan rumahnya, disuruh melihat langit dan dijemur Matahari. Kali itu segerombolan anak kecil bersepeda bercanda riang. Dan ia begitu benci melihatnya. Ia benci melihat tawa. Karena ia tak bisa melakukannya. Bahkan ketika ia punya uang di ketiaknya, ia tak bisa melakukannya. Ia benci perasaan bahagia yang kerap nampak di mata anak-anak kecil yang sering tampil di hadapannya, membeberkan rasa bahagia mereka, karena ia tak pernah merasakannya. Satu-satunya kebahagiaannya adalah ketika ia dapat uang.

Ia ingin melihat tangis. Karena hanya itu yang selalu dirasakannya dalam kehidupannya. Tangis ketika ia dibuang sebelum punya uang. Tangis ketika ia mendapat uang. Karena sesungguhnya ia sudah lama muak oleh uang.

Lalu di hadapannya, adalah seorang pengemis berdiri dengan punggung bengkok mengais tempat sampahnya. Hari itu adalah pertama kalinya ada fokus dalam matanya, yang membuat pupil matanya membesar. Melihat seekor kecoak mencari makanan. Apalagi, ketika kecoak di hadapannya diinjak-injak oleh segerombolan anak muda. Kata mereka ia hanya mengotori dunia. Membuat oksigen Bumi berkurang. Kecoak tak panta hidup. Oh, tapi mereka tak tahu betapa kecoak juga tak pantas mati. Dan, mereka membuat keributan di depan rumahnya. Ada senyum di bibirnya. Ada rasa puas. Rasa bahagia yang telah lama tak ia rasakan.

Segera setelah segerombolan anak muda itu pergi, ia bangkit dari kursi tuanya. Si pengemis mendongak menatapnya. Tangannya terulur minta makan. Ia tersenyum dengan segenap tenaganya. Setelah sekian lama tak pernah ia tersenyum, si kecoak berhasil membuat kehidupan kembali ada di matanya.

Lalu, ia memberikan selembar kertas berwarna merah ke tangan si kecoak. Ingin tahu akan seperti apa si kecoak ketika dapat makanan. Dan dengan sungutnya, kecoak itu berdansa. Berterima kasih sambil tersenyum senang. Dan dengan segenap kebenciannya, ia menatap senyum si kecoak. Senyum yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Karena biasanya ketika ia memberikan uang, orang-orang tersenyum hampa kepadanya. Di matanya senyum mereka palsu. Tapi kecoak ini, tidak. Ia begitu bahagia mendapat hanya selembar uang merah.

Kecoak itu pergi masih sambil tersenyum-senyum. Beribu untaian kata terima kasih dilayangkan dari mulutnya yang juga bau.

Dan ia, dengan rambut putih di kepalanya, mata merah yang tak pernah dirawat, meneteskan air mata. Untuk yang pertama dan yang terakhir kali dalam hidupnya.

One Response to “Kecoak!!!”

  1. on 19 Dec 2006 at 16:12nury

    alenia ke lima seharusnya bukan ‘”dulu ia setengah mati melawan kehidupan..”, tapi “Dulu ia setengah mati mempertahankan kehidupan…”

Tinggalkan Komentar