Kehidupan Kedua
November 26th, 2006 by Nurul Hadiyah Muis
“Luka itu pedih, pedih itu luka, lalu luka dan pedih menjadi duka. Maka ketika air mata tak lagi tersisa dan harapan sirna, siapa yang peduli?”
Sepenggal kata yang terukir pada selembar kertas yang baru saja ditulis oleh Dita. Kepedihan yang menyelimuti dirinya membuatnya rasakan sesak yang dalam. Hatinya sakit bagai ditusuk ribuan belati. Dia tak sanggup menahan tangisnya. Ketika setiap malam dia harus mendengar pertengkaran orang tuanya yang hanya karena hal kecil berkembang menjadi masalah besar. Hingga pada petengkaran semalam, orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Baginya, itu adalah sebuah cobaan hidup. Juga ketika Radit, pria pujaannya yang selama ini telah bertunangan dengannya sejak kecil harus meninggalkannya keluar negeri untuk melanjutkan kuliah. Baginya Radit adalah tumpuan hidupnya selama ini. Radit adalah pria baik yang telah menemaninya dan selalu menjaganya dalam keadaan apa pun. Radit-lah satu-satunya teman baginya. Karena masalah keluarga, Dita jadi anak pemurung dan suka menyendiri. Dia hampir tidak memiliki teman. Tapi dia anak yang tegar dan kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Dia mendukung sepenuhnya ketika Radit ingin melanjutkan studinya ke Jepang. Dia rela. Karena ini adalah impian Radit sejak dulu, meski pun rasanya sangat berat untuk berpisah, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.
“Bagaimana kalau keberangkatanku kutunda sampai masalah perceraian orang tuamu selesai?” tanya Radit suatu malam pada Dita.
“Jangan….kamu tidak usah menghawatirkan masalah ini. Pasti aku bisa melaluinya dengan hati lapang. Kamu berangkat saja, belajar yang baik biar bisa jadi pengusaha sukses nantinya dan bisa melanjutkan bisnis papamu.” balas Dita sambil tersenyum kecut.
“Baiklah, tapi kamu harus berjanji padaku.”
“Apa itu?” tanya Dita
“Kita jangan sampai lost contact. Apa pun yang terjadi Kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi aku, oke?”
“Iya. Radit, makasih ya karena kamu sudah perhatian dan sayang banget sama aku. Aku janji akan jadi anak yang baik dan tegar setegar batu karang. Aku akan jadi anak yang selalu tersenyum dan lebih berani dalam menghadapi masalah.” Kata Dita dengan semangat.
“Aku percaya kok sama kamu. Kamu adalah gadis tercantik dan gadis yang paling aku sayang dan cintai seumur hidupku. Dita adalah kesayanganku….!!” balas Radit sambil tersenyum.
“Ah, kamu gombal aja…!”
“Enggak….benar kok!”
“Ha…ha…ha….” Mereka tertawa bersama ditemani angin malam. Malam itu pertama kalinya Dita tertawa lagi. Wajahnya memerah terkena hembusan angin. Perasaannya jadi lebih baik. Dia bahagia.
Sayangnya itu hanyalah memori belaka. Itu adalah rekaman peristiwa terakhir kebersamaannya dengan Radit. Radit yang disayangi dan dicintainya telah pergi ke pangkuan Ilahi. Pesawat yang ditumpanginya ke Jepang meledak sesaat setelah take off.
Seketika duka kembali menaungi Dita. Sekarang dia merasa benar-benar sendiri. Radit telah tiada dan sejak orang tuanya bercerai, dia memilih meninggalkan kota Bandung, tempat segala kenangan manis dan pahitnya bersama orang-orang yang disayanginya dan memilih tinggal bersama neneknya di kota Makassar.
***
Kota baru, kehidupan baru. Dita memilih bersekolah di sebuah sekolah negeri dekat dari rumah neneknya. Meski tidak sebagus sekolahnya di Bandung, tapi dia merasa nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Dia yang dulunya anak pemalu yang lebih suka menyendiri dan pendiam sekarang lebih bisa bergaul. Senyum dan tawa sering terlihat menghiasi wajahnya.
Siang itu, Dita bersama dua temannya Rini dan Asmi, bercengkerama di sebuah bangku kosong di koridor depan kelasnya. Banyak hal yang mereka ceritakan, hingga pada saat Rini bertanya pada Dita mengenai kehidupan lamanya, masa yang paling ingin dilupakan dalam hidupnya.
“Ta, kamu kan sudah cukup lama sekolah di sini dan sudah cukup kenal kami, tapi kenapa kami tidak tahu sedikit pun tentang kamu?” tanya Rini suatu siang.
“Iya. Cerita dong tentang kehidupan kamu sewaktu tinggal di Bandung.” Tambah Asmi.
“Kehidupanku? Tidak ada yang menarik dalam kehidupanku, jadi tidak ada yang bisa kuceritakan ke kalian.” jawab Dita dengan raut wajah yang tiba-tiba murung.
“Masak sih? Tidak ada yang tidak menarik dalam kehidupanmu, meski itu hanya sebuah cerita kecil?” tanya Rini lagi.
Melihat gelagat Dita yang tiba-tiba berubah, Asmi berkata “Sudahlah kalau kamu tidak mau cerita, kami mengerti, kok! Kami tidak akan paksa kamu untuk cerita.” Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dita tapi dia tidak mau berkeras untuk tahu tentang hal itu.
“Terima kasih atas pengertiannya. Tapi, maaf aku tidak bisa menceritakannya pada kalian. Rasanya terlalu berat dan menyakitkan! Mungkin suatu hari nanti kalau aku sudah siap, aku janji akan cerita semuanya ke kalian.” Dita menjawab sambil menahan tangis.
“Tidak apa-apa. Kami juga minta maaf kalau pertanyaan kami sudah buat kamu tersinggung. Kami janji tidak akan menanyakan hal itu lagi.” Kata Rini sambil mencoba menenangkan Dita
“Iya, yang penting sekarang adalah bagaimana kamu menjalani kehidupanmu. Kamu harus tetap semangat. Ada kami yang akan selalu mendukungmu. Masa depan yang cerah menanti. Oke?” tambah Asmi sambil tersenyu ramah.
“Terima kasih! Kalian memang teman-temanku yang baik.” kata Dita sambil tersenyum
“Bisa saja kamu ini. Kita jadi malu.” Sahut Rini sambil tersipu.
“Ya!! SEMANGAT…!!! Teriak mereka bertiga dengan wajah bersinar. Semua orang yang berada di sekitar koridor memandang heran pada mereka. Seketika malu bercampur bahagia, mereka bangkit dan berlari ke dalam kelas sambil tertawa-tawa.
Sejak saat itu, Dita tidak merasa kesepian lagi. Dia benar-benar memiliki teman-teman yang baik. Hari itu dia mendapat sebuah pelajaran bahwa tidak perlu keluarga yang utuh untuk sebuah kebahagiaan, yang penting adalah bagaimana kita belajar menghargai hidup dan bagaimana kita memandang suatu masalah karena dengan itu kita akan menjadi orang yang dewasa.
Remaja adalah masa pencarian jati diri
Remaja belajar kehidupan
Remaja mencari kepastian hidup
Remaja menanti sebuah jawaban
Remaja menjalani takdir
Remaja mencari cinta
Remaja kreatif
Remaja berfikir
Remaja bertindak
.
Makassar, 18 November 2006, pukul 17.30 WITA