KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sampaikan Pada Dia

Angin malam berhembus tepat di depan mataku, membuat mataku berat. Seberat hatiku menerima kenyataan. Seberat mulutku berkata tidak. Seberat kakiku melangkah ke depan. Aku tidak tahu apa yang tejadi pada diriku sekarang?. Apakah aku takut merasa kecewa seperti hari dulu?. Apakah aku takut semua kata yang meluncur dari mulutku hanya menghasilkan tangis dan penyesalan?. Aku tak tahu. Hatiku kini dipenuhi gejolak, meneriakkan argumen-argumen yang aku sendiri tidak mengerti. Argumen itu membuat otakku jenuh. Aku merasakan kehampaan, aku merasakan suatu kealpaan. Semua kebisingan di hatiku tidak dapat mengisi kekosongan hatiku. Aku bingung harus ku isi apa. Makanankah?, siraman rohanikah?, atau…….cinta??. Cinta, kasih sayang, kata-kata yang tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Dulu memang ada kata-kata itu tapi sekarang sudah ku masukkan ke dalam peti kemudian ku buang ke samudra hindia……atau samudra pasifik, entahlah aku sudah lupa tak perlu ku ingat lagi tak ada manfaatnya bagiku.Kini kurengkuh diriku, kupeluk diriku sekuat tenaga. Kuselimuti diriku dengan kepura-puraan. Supaya aku tidak perlu lagi merasakan rasa sakit yang menyesakkan dada. Rasa kecewa saat dia melihatku dengan penuh rasa takut, rasa sesak saat dia memlingkan wajahnya, rasa sesak saat dia menapik tanganku. Seandainya bintang dapat berbicara pasti dia megolok-olokku. Aku tidak peduli. Bahkan jika Tuhan menghukumku karena kepura-puraanku aku tidak peduli. Aku tidak takut akan hukumannya aku hanya ingin jadi kuat Aku tidak mau menjadi anak lemah, lemah adalah perasaan paling menyedihkan.
“Te ayo masuk sudah malam nanti kamu sakit”
Dia…….. untuk apa dia pura-pura peduli padaku. Dia bahkan tidak berani menatapku saat dia bicara. Dia selalu memalingkan wajah saat mata kami bertemu. Aku benci mata itu, mata yang selalu ketakutan.
Aku…..seandainya aku mengulurkan tangan sekali lagi apakah dia akan menyambutku?. Jantungku berdetak kencang. Padahal aku sudah tahu reaksi yang akan dia tunjukkan tapi aku tetap berharap dia mau menerimanya.
Apakah harapanku akan menjadi kenyataan. Aku takut pada kenyataan yang ada didepan mataku, kumohon seseorang berbohonglah padaku. Berbohonglah bahwa dia pasti menerimaku. Tuhan izinkan aku merasakannya walaupun hanya sekejap. Akan kucoba, aku mengulurkan tanganku.
Dia mundur selangkah, dia menghindariku. Tubuhnya bergetar keras air matanya meleleh di pipinya. Dadaku sesak dadaku sakit, dia menghujamiku dengan ratusan pisau. Sebegitu takutkah dia padaku?.

“Kenapa…..kenapa ibu menghindariku?, kenapa ibu menolak uluran tanganku?. Apakah ibu takut padaku, pada anakmu sendiri, pada darah dagingmu?”
“Tidak….ibu….tidak takut padamu”
“Benarkah”
Benarkah yang ibu katakan, aku ingin sekali mempercayainya. Aku ingin meraskan kehangatan pelukannya. Aku ingin berada di dalam dekapannya.
“Te…ibu mohon jangan mendekat”
“Ibu bilang tidak takut padaku”
” Maaf….maaf….maafkan ibu….”
“Selalu saja begini BUKAN SALAHKU MEMPUNYAI CACAT. BUKAN SALAHKU MEMPUNYAI TUBUH MENJIJIKKAN. Kenapa kau membenciku padahal aku sangat menyayangi dirimu aku rindu kasih sayangmu. KENAPA KAU MEMBENCIKU”
Aku saat ini hanya dapat terisak dalam kebisuan dalam kehampaan.
“Maaf….maaf……maaf…………maaf………maaf”
Dia menangis keras sekali. Aku ingin mendekapnya, ingin menguatkan hatinya tapi…tapi aku tidak mampu. Sekarang giliranku menitikkan air mata. Aku menjadi lemah, aku benci diriku yang selalu menyakitinya. AKU……BENCI….BENCI…..BENCI…..ku ingin lari, aku ingin berteriak, aku ingin menghilang, aku memaki DIA. DIA sudah menghancurkan hidupku dia menghancurkan seluruh harapanku. DIA menghancurkannya tanpa sisa. Yang dapat kulakukan hanya lari aku tidak tahu kemana kakiku akan membawaku. Hatiku, mimpiku, harapanku bahwa suatu hari ibu akan menerimaku hancur berkeping-keping.

Angin membelai rambut menenangkanku. Air mataku masih mengalir, aku tak berdaya menghentikannya. TUHAN aku tahu sebentar lagi aku menghadap Mu. Tubuhku tidak mampu bertahan dengan “berkah” darimu. TUHAN aku tahu sekarang aku sedang sekarat tapi bolehkah aku meminta pada-MU di akhir hayatku. Kumohon berilah aku umur panjang untuk membuktikan bahwa dia sayang padaku, tidak aku bercanda aku tidak menginginkan umur panjang.. Ibuku tersayang aku tahu engkau sangat menderita dengan kehadiranku, kumohon sabarlah. Wahai Engkau yang duduk di singgasana langit, aku mengakui kehebatan-Mu, aku tidak meragukan semua rencana-rencana-Mu untukku. Aku sadar Engkau pasti menghadirkan aku ke dunia ini di keluargaku karena Kau mempunyai suatu rencana yang baik untukku maupun keluargaku. Tuhan aku yakin Kau pasti tahu aku dengan segala kekurangan fisikku aku tidak dapat bertahan lama.

Wahai Engkau yang Agung maafkan aku, aku sampai detik ini belum mengetahui apa alasannya aku hadir di tengah-tengah keluargaku. Yang bisa kulakukan hanya membuat ibuku tersayang menangis. Tapi TUHAN kumohon izinkan aku mengukir senyum di wajahnya walau hanya sedetik. TUHAN izinkan aku memberinya kebahagian walau hanya sebutir pasir. TUHAN izinkan aku memberinya cahaya terang dalam hidupnya walau hanya sebuah cahaya lilin yang redup. Ibu dimanapun aku berada aku akan selalu menyayangimu. Didalam hatiku aku akan selalu mendoakan Ibu agar Ibu senantiasa bahagia. Aku sudah cukup senang Ibu tidak pernah berusaha melenyapkan aku dari muka bumi, Ibu tetap merawatku walaupun dengan penuh keengganan. Mungkinkah…? Tuhan mentakdirkan setelah aku tidak “ada” kehidupan Ibu akan jauh lebih berat daripada ini. Jadi Tuhan menjadikan aku sebagai ajang pelatihan untuk Ibuku tersayang. Dengan begitu Ibu akan lebih tabah dalam menghadapi segala sesuatu. Kalau tebakanku memang benar, betapa bahagianya diri ini, menyadari bahwa kehadiranku begitu penting dalam perjalanan hidup Ibuku tersayang, Yah kurasa memang begitulah adanya, terima kasih Tuhan, Engkau menempatkan aku di tempat terpenting. Aku tidak tahu harus berkata apa? aku hanya bisa berterima kasih.

Tinggalkan Komentar