” Hah…hari gini ga punya Cowok ? ”
Pertama kali aku mendengar kalimat itu aku hanya tersenyum dan ikut tertawa. Kalimat itu ditujukan padaku. Aku sih awalnya enjoy aja, bahkan aku tetap mengibarkan bendera ” Bahwa masih banyak hal didunia ini yang lebih menarik dari pada cuma ngurusian cowok”. Semuanya berubah ketika aku mengenalnya. Namanya Indra ( bukan nama sebenarnya ) hehe. Aku mengenalnya sejak di bangku kelas tiga SLTP dari sebuah kegiatan yang melibatkan SLTP seluruh kotaku, kebetulan kami dari sekolah yang berbeda tapi walaupun kegiatan itu berakhir aku dan teman-temanku masih tetap sering jalan dan ngumpul bareng mereka. Sejak berteman akrab dengannya, pelan-pelan dan pasti aku mulai menyukainya. Sayanganya aku menyadari perasaanku itu setelah dia lulus SMU dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di luar daerah. Saat itu aku masih kelas tiga SMU.
Selama aku di bangku SMU waktuku lebih banyak mengikuti kegiatan sekolah, ditambah lagi aku salah satu pengurus OSIS dan anggota team Volley di sekolahku. Jadi komplit sudah kesibukkan. Karena semua kesibukan itu aku tidak punya waktu buat pacaran seperti teman-temanku. Bagiku sekolah itu tempat kita menuntut ilmu dan mengeksplorasi kemampuan kita, bakat kita dan karena hal seperti itu yang membuat kita jadi dihargai serta dikenal orang. Kira-kira seperti itulah pendapatku. Saat aku mulai suka pada Indra, rasanya tak ada waktu yang terisi tanpa memikirkannya. Sampai pada akhirnya aku sadar ternyata menyukai orang yang tidak tahu kalau kita menyukainya sungguhlah tidak nyaman. Apalagi berjauhan tanpa tau apakah dia sedang dekat dengan seseorang atau apalah…memikirkan semua kemungkinan itu membuatku memutuskan mencoba melupakannya.Satu tahun setelah aku memutuskan itu, secara tiba-tiba dia menghubungiku. Saat itu aku duduk di semester dua. Secara tiba-tiba juga dia mengungkapkan kalau ia menyukaiku. Wah…wah…saat itu perasaanku campur aduk. Antara senang, tapi juga bingung. Aku sebenarnya berusaha melupakan eh…dia muncul dengan kejutan yang luar biasa itu. Tapi toh, di tengah kebingunganku akhirnya aku mengatakan ” Ya ” juga.
Tapi Tuhan berkata lain, mungkin juga karena dari awal surah tidak direstuiNya. Masuk dua bulan aku jalan bareng dengannya, aku mulai merasa tidak nyaman. Perbedaan yang dulu sempat mengganjal yang membuatku bingung dalam mengambil keputusan, muncul lagi. Ya kami memiliki perbedaan prinsip yang sebenarnya tidak bisa ditolerir. Terlalu prinsipil sekali. Kami berbeda keyakinan dan memang tidak ada jalan yang bisa menjembataninya. Begitu keras pun kami berusaha mencari pembenaran atas hubungan kami memang sungguh tak ada jawaban untuk perbedaan itu. Semua pintu tertutup.
Kami pun sama-sama bertahan dengan kepercayaan kami. Buatku sendiri sangatlah tidak mungkin aku menukar ” Tuhanku ” hanya dengan seorang cowok sangat tidak sebanding. Aku pun rasanya tidak cukup bodoh melakukan itu. Prinsipku membuatku bisa mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan itu dan tentunya dengan pertolongan Tuhan. Keputusan yang seharusnya tidak perlu kuambil jika aku mau sedikit memakai rasioku ketika memutuskan sesuatu. Tapi itu pengalaman luar biasa yang pernah kualami. Yang pasti terang dan gelap tidak dapat bersatu, hitam dan putih tidak dapat bersatu. Sakit memang ketika aku harus menjalaninya apalagi saat itu bahakan sampai sekarang perasaanku belum juga hilang. Apakah itu namanya cinta ? aku tak berani mengambil kesimpulan itu. Tapi, aku tak berusaha melupakannya. Biarkan saja semua berjalan dan mengalir seperti sungai. Yang pasti entah di ujung belahan bumi mana pasti ada seseorang yang sudah di sediakan Tuhan buat aku, yang pasti tidak berbeda dari aku.
Ya…ketika semua hal di dunia ini mengecewakan yakinlah DIA pasti tak akan mengecewakan Anda. Saat semua terasa sulit DIA pasti akan menolong Anda. Dalam hidup selalu ada pilihan, jadi jangan salah memilih karena pilihan yang salah akan berakibat fatal. Hidup Cuma sekali jadi jangan sampai Anda menghabiskan waktu Anda dengan orang yang salah.
Bagaimana kita tahu,bahwa kita dihadapan orang yang salah…
Emm…cuma ada 3 cara aja seh :
1. Tanya ama yang EMPUNYA hidup melalui doa dan pergumulan. Minta hikmatnya.
2. Tuhan kasi akal pikiran dan hati nurani, mix keduanya secara benar dengan minta hikmat dari Tuhan.
3. Bila dia orang yang ga tepat maka yakin deh hubungan itu tidak akan berbuah apa pun, tidak ada saling membangun dan tidak membuat kita menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Thx for comment