KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Apa Cinta

Sudah sejak lama aku memendam sebuah rasa pada seseorang. Sebuah rasa konyol yang berbeda dengan rasa strawberry, apel, mangga, alpukat, atau pun buah-buahan lainnya yang sering kumakan. Rasa ini begitu pekat, mengganggu dan benar-benar menghantuiku. Dalam hati aku bertanya apa gerangan yang membuat hatiku resah dan gundah? Mengapa aku harus mendapatkannya? Kesalahan apa yang telah aku lakukan? mengapa rasa ini tidak cepat hilang dalam beberapa jam atau beberapa hari? Mengapa aku harus menanggung penyakit seperti ini? Racun apakah yang telah masuk pada tubuhku hingga melemahkan hati dan menguras tenaga serta pikiranku?Waktu pun berlalu, hari demi hari telah kulewati, ternyata rasa itu tidak mudah hilang dan senantiasa mengganggu aktivitasku. Akhirnya lambat laun seiring berlalunya waktu, aku merasa terbiasa dengan kehadirannya dan aku pun mencoba mencari tahu makhluk macam apa yang bersarang di hatiku. Racun macam apa yang telah aku makan dan kini hendak berkuasa atas diriku? Bagaimana cara melawan penyakit atau racun ini? Obat apa yang bisa menyembuhkanku? Bagaimana cara mendapat obat tersebut?

Suatu waktu terbesit dalam pikiranku, sebuah kata suci yang tak pernah kuucapkan, sebuah kata sakral yang selalu kuhindari, sebuah kata yang senantiasa kujauhi selama hidupku karena aku beranggapan belum waktuku untuk mengenal kata tersebut. Kata yang kumaksud adalah cinta, “cé …, i…., én…,t é….,a…”.

Love is complicated.

Cinta benar-benar rumit, tak dapat diartikan dengan kata-kata, tak ada kata semakna yang bisa menggantikannya, dan cinta adalah cinta. Definisi cinta adalah cinta itu sendiri, jika dipaksa didefinisikan dengan kata-kata lain maka akan cenderung mempersempit cinta itu sendiri, menambah kabur dan tidak jelas.

Sebenarnya apa sih cinta…??

Aku sendiri juga tidak tahu dengan jelas. Aku sendiri juga bingung, mengapa hanya karena cinta ada orang yang rela bunuh diri, mengapa hanya karena cinta satu sama lain saling membunuh, dan mengapa pula hanya karena cinta seseorang rela melakukan apa saja demi yang dicintainya.

Sesungguhnya cinta adalah perkara hati, sulit diraba dan dilihat. Ilmu medik pun tidak bisa mempelajari dan menentukan anatominya dengan jelas. Yang kutahu, ketika ibuku melahirkanku itulah cinta. Ketika ibuku merawatku, menyusuiku, menjagaku, menemaniku, mengganti popokku, dan memandikanku, itulah cinta. Ketika ayah dan ibuku bekerja keras demi aku dan saudaraku, masa depanku, dan kehidupanku, itulah cinta. Ketika mereka membelikanku mainan, memenuhi kebutuhanku, memberiku uang, dan senantiasa memperhatikanku, itulah yang kusebut cinta. Mereka tak pernah memintaku mengembalikan apa yang pernah mereka berikan, meski terkadang karena kebodohanku aku menyakiti hati mereka dan membuatnya risau, namun mereka senantiasa peduli padaku dan tak pernah meninggalkanku. Itulah cinta, cinta murni, cinta yang tulus, cinta yang kukenal dari ibu dan bapakku. Merekalah yang mengajariku cinta, merekalah yang kupercaya, dan merekalah yang layak dan harus kucintai.

Namun, kini muncul sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sesuatu yang tak kukenal namun mirip cinta yang kukenal. Aku tak tahu apakah ini. Aku tak tahu kapan ini berakhir, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Naluriku mengatakan,” Aku sedang terancam !!!!”.

Tinggalkan Komentar