KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tiga Hari

Surabaya, 18 Februari 2005

Betsy berlari dengan menyandang ranselnya menerobos gerombolan orang-orang menuju sebuah bus berwarna biru muda yang sebenarnya jaraknya hanya beberapa meter, tapi entah mengapa rasanya bis itu seperti berjarak beratus-ratus meter. Langkahnya tak jua mendekati bis itu, mungkin karena begitu hiruk pikuknya terminal itu.Masih dengan langkah yang sedikit diperlambat Betsy menerobos orang-orang itu sambil sesekali meminta maaf karena sudah menyenggol bahkan menginjak kaki beberapa orang yang dilewatinya. Begitu langkahnya sudah didepan pintu bis dengan cepat Betsy menerobos masuk.

Duh, ternyata kursi-kursi hampir terisi dengan wajah-wajah yang tampak kelelahan, butiran keringat bercucuran dan nafas yang saling bersahut-sahutan. Betsy terus melangkah menuju belakang, satu persatu kursi dilewatinya sambil matanya mencari-cari kursi yang kosong. Sampai di bangku paling belakang ia menghembuskan nafas…lega…di sebelah kanannya ada satu kursi kosong bersebelahan dengan seorang cowok yang duduk santai dengan Koran menutupi wajahnya. Betsy menatap sosok itu. Tak ada reaksi. Bagaimana ia berani duduk kalau dikursi kosong itu, karena ada seonggok jaket berwarna hitam. Duh! cowok itu juga sepertinya tidak menyadari keberadaan Betsy dan tetap sibuk membaca Koran.

“ Ehem…permisi…,” Betsy mencoba bertanya, tapi tak ada reaksi. Tanpa dikomando diraihnya jaket itu dan menghenyakkan tubuhnya dikursi itu sambil menghela nafas panjang.

Sosok disampingnya tersentak dan menurunkan korannya.

Besty melirik kesamping. Matanya bertemu mata coklat tua didepannnya yang sepadan dengan kulitnya yang sawo matang. Hening. Detik berikutnya Betsy tersentak.

“ Maaf, kosongkan ? “ tanyanya sambil menyodorkan jaket pria itu yang sedari tadi dipeganginya.

Pria itu tersenyum. Tampak deret putih giginya membuat senyum pria itu terlihat manis. “ Ya…makasih,” diraihnya jaket dari tangan Betsy.

Betsy tersenyum simpul, lalu membenarkan posisi duduknya. Setelah merasa nyaman Betsy memejamkan matanya. Tapi ia merasa aneh, rasanya seperti ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Dengan pelan ia membuka matanya. Ia melirik kearah sosok yang duduk disampingnya.

Deg. Jantungnnya berhenti berdetak. Matanya kembali beradu pandang dengan mata cowok disampingnya. Astaga! Betsy baru menyadari cowok disampingnya itu cakep juga. Matanya yang coklat, senyumnya, semuanya duh…tolongggg….rasanya jantung Betsy seperti berteriak karena rasanya tak bisa berdetak lagi.

“ Halo…anda sakit…? “ Tanya cowok itu sambil menatapnya dengan sedikit memicingkan matanya.

“ Bego…” umpat Betsy dalam hati. Dengan senyum yang sedikit kaku ia menjawab, “ Gak…gw gak papa koq…” jawabnya. “ Bisnya udah jalan dari ya..? “ ia berusaha menenangkan hatinya. Duh lagi-lagi ia merasa bodoh menanyakan sesuatu yang bego lagi.

Cowok itu tersenyum. Sekian detik kemudian ia tergelak membuat penumpang yang lain menatap mereka dengan tajam. Bahkan sebagian menegurnya.

Dengan alis yang hampir bertaut Betsy menatap cowok itu. Diam menunggu.

Setelah beberapa menit cowok itu sudah bisa meredakan tawanya dan setelah menatap Betsy dengan matanya yang menunjukkan bahwa ia masih ingin tertawa.

“ Maaf, ada yang lucu ? “ Tanya Betsy dengan penasaran.

“ Sebenernya seh ga ada yang lucu. Cuma wajah loe itu lucu banget, ditambah lagi merah gitu. Kaya kepiting rebus aja…” jawabnya sambil sedikit tertawa.

Wess…Dapat terasa oleh Betsy wajahnya memanas.

Betsy tersenyum dipaksa, “ Cowok gila kali…”. Rutuk Betsy dalm hati dan sungguh ia kehilangan kata-kata. Dipalingkannya wajah sambil memejamkan mata dan menghela nafas, semoga dengan bagitu dia bisa menenangkan hatinya.

“ Eh, sorry cuma becanda koq…” suara cowok itu membuat Betsy tersentak dengan pelan ia membuka matanya.

Ia mengulurkan tangan ,” Gw Dede…” ucapnya setelah tangannya bersambut.

“ Betsy ” jawabnya.

“ By the way, liburan ya ? mo kemana ? “ Tanya Dede.

“ Ya…Ke Kediri ” Jawab Betsy singkat.

“Eh…koq sama, gw juga mo ke Kediri…wah jangan-jangan kita mang dah ditakdirin buat ketemu ya…? “

1 Jam kemudian
“ Maaf mbak…”

Suara kernet itu memotong pembicaraan Dede dan Betsy yang cukup seru.

“ Huh ganggu aja “ omel Dede dan Betsy dalam hati.

“ Biar gw aja…” cegah Dede saat Betsy membuka tasnya.

Dede menyodorkan uang seratus ribuan kearah kernet, “ Nih…berdua “ katanya sambil menunjuk Betsy.

“ Wah! ga ada uang pas ya, mas ? “ Tanya Lelaki itu. “ Wong Cuma tiga puluh ribu berdua koq…” jawabnya.

“ Hah…! Masa ? wah tarif bis dah turun ya..? “ Tanya Dede sambil merongo saku celana jeansnya. Mencari-cari sapa tahu ada uang pas.

“ Mas ini gimana toh, wong sekarang tarif bis nae koq dibilang turun. Nae segitu aja udah banyak yang protes…dulu memang tarif Surabaya – Malang dua belas ribu sekarang karena semua pada nae ya kita juga ikut-ikutan nae…” jelasnya sambil menerima uang dari Dede.

“ Apaaa….? “ Betsy terpekik mendengar kata-kata kernet itu. Membuat semua penumpang menatap kearahnya. Tapi tak dipedulikannya mata-mata yang menatapnya dengan kesal.

“ De. Loe tau kita salah nae bis…” Betsy menoleh kearah Dede. Alisnya langsung bertaut dilihatnya Dede tersenyum saja sambil menahan tawanya.

“ Ya…hahahaha…” akhirnya ia tertawa lepas. “ Gw juga baru sadar klo kita salah jurusan…” masih dengan tergelak ia memegangi perutnya yang terasa menggelitik.

“ Koq loe malah ketawa gitu. Kitakan salah jurusan…”

Dede tahu begitu dia bertemu dengan gadis yang sedang panik disampingnya ini pasti ia akan mengalami banyak kejadian yang seru dan mengasyikkan. Entah feeling dari mana ia bisa mengambil kesimpulan itu. Tapi, sekarang ternyata feelingnya benar.

“ Ya…trus mo gimana lagi…? Satu Setengah jam lagi kita nyampe Malang…”Jawab Dede sambil masih menyisakan tawa kecilnya.

Apa yang dirasakan Dede tidak sama dengan perasaan Betsy yang panik. Entah kenapa dia bisa se sial ini. Terlambat naik bis, salah jurusan, ditambah bertemu dengan orang gila dan aneh ini. “ Lucu seh, tapi nyebelin..” gumam Betsy dengan sedikit kesal.

“ Mimpi apa gw tadi malam ketemu orang ini…” tambahnya pelan sambil menghela nafas dan menghempaskan punggungnya kesandaran kursi. Mau bagaimana lagi, dari Malang dia akan melanjutkan perjalanan lagi ke Kediri.

“ Loe marah ma gw…? “ Tanya Dede dengan perasaan bersalah. “ Sorry, gw juga baru sadar. Bis temen seperjalanan gw asyik she, jadi ga ke rasa…Tenang aja kitakan searah, tar loe gw anterin sampe tujuan deh…”

Betsy menatap tajam kearah Dede dengan harapan cowok itu menghentikan bualannya. “ Loe bisa diem ga ? Kepala gw pusing dengerin omongan loe…” jawab Betsy ketus.

“ Yeee…gitu aja sewot…sorry deh, gw ga ada maksud koq. Abis salah loe sendiri yang dah buat gw kaya orang edan gini…” Seloroh Dede.

“ Lho koq gw ?? “

“ Tingkah ama sikap loe itu buat gw pengen ketawa mulu…” Jawab Dede sambil memalingkan pandangannya kearah jendela di sampingnya. Suaranya tiba-tiba seperti berbisik dan bergetar. “ Gw lupa kapan terakhir kali gw ngerasa seneng kaya gini…” Suaranya menghilang bersamaan dengan titik-titk kecil menghantam kaca bis yang membelah dinginnya sore itu.

Tiba-tiba Bis berhenti. Semua penumpang tersentak dari tidur mereka dan langsung berlomba-lomba melihat keluar jendela yang mulai berkabut karena air hujan yang turun dengan derasnya menghatam kaca jendela dengan cukup keras menimbulkan irama yang riang.

Betsy tersentak dari tidurnya yang lelap. Dibukanya matanya. Ditemukannya dirinya duduk meringkuk sendiri. Dede sudah lenyap dari sampingnya. Seingatnya begitu ia ngantuk Dede menawarkan bangku disamping jendela yang didudukinya dan ia mengambil tempat Betsy, supaya lebih aman katanya. Setelah itu dia merasa ngantuk.

Betsy berdiri, mengikuti beberapa penumpang menuju pintu bis yang sedikit terbuka. Hujan masih sangat deras mengguyur bis itu dan sekelilingnya. Ia melongo keluar. Dilihatnya beberapa pria sedang membantu sebuah mini bis yang terjungkir kedalam selokan yang airnya meluap. Kelompok pria itu tak mempedulikan hujan yang turun kian deras membuat jalan disekeliling bis itu tergenang air dan jalan didepan bis itu juga tergenang air. Betsy tersentak ia mengenali sosok yang sedang menggendong seorang anak kecil yang berhasil mereka keluarkan dari dalam mini bis itu.

“ Dede…” gumam Betsy tanpa sadar melangkah turun dari bis. Tidak dipedulikannya air hujan yang langsung mengguyur tubuhnya. Ia melangkah mendekati Dede yang berlari kecil kearahnya.

“ Loe ngapain disini. Loe masuk aja kedalam bis, tar loe sakit. Ujannya deras tau…!! “ teriaknya melawan suara air hujan dan petir yang menyambar-nyambar.

“ Gw Bantu loe. Biar anak ini gw bawa ke bis, loe Bantu menolong penumpang yang masih terjebak…” Jawab Betsy.

Dede menatap Betsy dan menyerahkan anak itu ke tangan Betsy yang langsung disambut Betsy. Berlari kecil Betsy menuju bis yang ditumpanginya . Setelah didalam bis ia mengeluarkan beberapa bajunya dan membantu anak berusia 10 tahun itu untuk berganti pakaian. Setelah ia mengintruksikan beberapa orang lagi untuk membantu diluar. Betsy kembali berlari keluar bis.

Proses evakuasi korban kecelakaan itu memakan waktu hampir lebih dari dua jam. Itu dikarenakan hujan yang deras, air selokan yang meluap ditambah lagi jalanan yang sudah tergenang air yang tingginya selutut. Korban itu ada yang sudah dibawa ambulance dan beberapa mobil pribadi yang tergerak hatinya untuk menolong korban yang jumlahnya tak lebih dari dua puluh lima orang. Lalu lintas jalan itu lenggang karena banyak beberapa mobil dan bis memilih untuk kembali, tidak meneruskan perjalanannya. Hal itu di karenakan jembatan yang menjadi penghubung atas sungai yang cukup lebar itu ambruk. Sehingga lalu lintas terputus total.

Di sekita bis yang ditumpangi Betsy hanya tersisa tiga kendaraan. Dua bis yang salah satunya bis yang ditumpangi Betsy, satunya lagi bis yang penumpangnya membantu mini bis yang mengalami kecelakaan itu. Sedangkan mobil terakhir adalah ambulance yang mengangkut tiga korban terakhir. Dua wanita muda dan satu wanita hamil.

Betsy memapah wanita hamil itu. Membimbingnya masuk kedalam ambulance. Tubuh mereka berdua menggigil. Setelah masuk dalam ambulance seorang lelaki berbaju putih menyodorkan selimut lusuh kearah Betsy.

“ Makasih…” Kata Betsy sambil menyelimutkan ke wanita hamil disampingnya. Begitu Betsy menyentuh lengan wanita itu ia tersentak.

Astaga dia demam. Tuhan tolong semoga wanita ini baik-baik saja. Doa Betsy dalam hati bersamaan dengan meluncurnya ambulance itu.

Betsy meringkuk dikursinya sambil berusaha menahan bibirnya yang sudah bergetar dan menahan giginya supaya tidak bergemeretak karena menahan dingin. Dalam hati Betsy terus berdoa semoga wanita muda tadi melahirkan dengan selamat.

“ Nih…minum teh dulu, buat angetin badan…” Tiba-tiba Dede berdiri disampingnya sambil menyodorkan segelas teh yang masih mengepul. Dede lantas menyelimuti Betsy dengan selimut yang dipinjamnya dari Rumah Sakit kecil itu.

“ Makasih…,” Kata Betsy sambil menyerup teh hangat itu.

“ Wah…wah, gw salut ama cewe seberani dan sekuat loe…Bet…” Seloroh Dede sambil duduk di samping Betsy. “ Gw mesti acungin berapa jempol neh ? “ tanyanya sambil tersenyum kecil.

Betsy menatap Dede sambil menyunggingkan senyum termanisnya. “ Sorry, tadi gw udah marah-marah ama loe…” Kata Betsy pendek.

“ Loe buruan gih ganti baju, tar masuk angin “ Kata Dede sambil meletakan tas ransel berwarna hitam dekat kaki Betsy. “ Nih tas loe, berat amat. Isinya apa sih ? “.

Dengan cepat Betsy menyambar tasnya.

Betsy kembali keruang tunggu Rumah Sakit kecil itu setelah ia mengganti pakaiannya yang basah kuyup dan terasa lembab. Dicarinya sosok Dede, cowok yang sekian jam lalu membuat jantungnya seakan enggan berdetak dengan semua tingkah dan sikapnya. Tapi, setelah matanya menyapu seluruh ruangan tak ditemukannya juga sosok itu. Dia terduduk dengan kaki yang terasa lemah tiba-tiba. Pikirannya melayang entah kemana. Ada sebersit kekecewaan dilorong hatinya dan seonggok pertanyaan kemana sih Dede. Apa dia memutuskan untuk pulang lebih dahulu atau…ah entahlah…malas rasanya Betsy bertanya-tanya.

“ Nyariin gw ya ?…” Dede menepuk pundak Betsy, membuat gadis itu terlonjak.

“ Idih…PD amat…!! “ Betsy berusaha bersikap sewajarnya.

“ Sorry, gw tadi telpon keluarga gw coz pasti mereka pada khawatir koq ampe malam gini gw belon nyampe…HP gw ilang lagi waktu tadi ngeevakuasi korban kecelakaan…”, kata Dede sambil menyodorkan sebungkus nasi. “ Nih, tadi gw beli makanan…loe pasti laper dan cape bangetkan ? “

“ Loe sendiri ?..” Betsy balik bertanya.

“ Nih, punya gw…” Dede mengangkat nasi bungkusnya.

Ketika mereka selesai melahap nasi bungkus itu, tiba-tiba terdengar lagu Ten 2 Five mengalun dari dalam tas hitam Betsy. Diraihnya HP dalam tasnya.

“ Astaga “ Betsy menepuk jidatnya. Dia melupakan seseorang yang sekarang namanya tertera dilayar HPnya. “ Hallo…Sayu…Sorry, gw lupa ngubungi loe. Gw baru besok bisa nyampe, acaranyakan hari minggu juga kan ? sekarang baru hari jumat…Ok. Tar gw hubungi lagi…ya. Bye…” buru-buru Betsy mematikan Hpnya. Dia sedang malas ditanya macam-macam dulu, nanti saja begitu dia sampai di Kediri dia akan menjelaskan semuanya. Biarkan saja sohibnya yang satu itu pusing dan penasaran. Betsy terseyum-senyum.

“ Heh…gila loe ya…ketawa-ketawa sendiri. .” Dede meletakkan tangannya dikening Betsy. “ Wah bahaya, loe demam…”

Ditepisnya tangan Dede, “ Rese banget sih loe…” . Berusaha ditenangkannya jantungnya yang berdetak tanpa irama yang jelas.

“ Ga tau kenapa, waktu pertama kali gw liat loe gw yakin gw pasti bakal mengalami kejadiaan yang ga bakal gw lupain seumur hidup gw…loe lucu. Loe menarik, loe ngebuat gw ngerti arti sebuah semangat. Loe seseorang yang bisa membangkitkan semangat orang lain dengan semua sikap, kata-kata atau apa pun yang loe lakuin…” Dede melirik kesampingnya. Didapatinya Betsy terlelap dengan posisi berbaring dikursi panjang disamping Dede.

Dede hanya tersenyum melihat gadis itu. “ Gadis yang luar biasa “ gumamnya sambil tertegun. Ditatapnya lekat-lekat wajah manis didepannya itu. Benar kata orang, seseorang akan terlihat sangat manis ketika mereka sedang tidur. Diraihnya tas ransel milik Betsy, tangannya bergerak cepat mengobo-obok isi tas itu sampai pencariannya terhenti ketika ditemukannya sebuah agenda kecil bertuliskan “ Betsy “.

Sangat hati-hati Dede membuka agenda itu sambil matanya sesekali melirik kearah Betsy yang terlelap dengan nyamannya. Banyak sekali catatan agenda itu. Dari catatan kuliah, jadwal sehari-hari, curahan hati pemilik agenda, sampai harga bawang dipasar…Hehe aneh-aneh aja cewek satu ini pikir Dede. Lembar demi lembar terlewati sampai ia pada lembar foto seorang gadis berdiri dibawah pohon sambil menggendong anak orang hutan. Hehehe…Dede terkekeh. Gadis yang penuh kejutan. Diambilnya foto itu lalu diselipkan kedalam dompetnya sambil tertawa pelan.

Kediri, 20 Februari 2005
“ Loe dateng jauh-jauh Cuma buat tidur doang…? “ Tanya Sayu sambil membenarkan letak gaunnya. “ Loe nyesel tadi ga ikut pemberkatan digereja…seru abis. Banyak yang cakep lagi. Keluarga kakak ipar gw itu cakep-cakep bo…sapa tau dari mereka itu soulmate gw…” Wajah Sayu bersemu merah dengan pikirannya yang mengkhayal.

“ Sorry Say, loe tau kan perjalanan gw bener-bener perjalanan yang paling melelahkan…” Jawab Betsy sambil mengeringkan rambutnya. Badannya terasa enakan sekarang walaupun sebelumnya tubuhnya serasa remuk.

“ Ya, Bet. Gila juga loe, tapi gw salut banget ma loe…” Sayu merangkul sahabatnya itu. “ By the way, trus nasib cowok itu gimana ? “ Tanya Sayu sambil menyodorkan kebaya putih yang sudah di peganginya dari tadi kearah Betsy.

Sambil tangannya sibuk mengenakan kebaya putih itu ia menyahut, “ Kita pisah waktu di terminal…waktu loe jemput gw dia dah pergi duluan…”

“ Jadi loe ga sempet tukeran no HP ato alamat atawa apa ajalah…masa dah segitu lama loe ngobrol en akrab ma dia tapi ga sempet…? “ Tanya Sayu.

“ Ya mo gimana lagi…Klo mang jodoh ga akan kemana. Lagian dia juga sekarang di kota ini, seberapa besar seh kota ini sampai gw ga bisa nemuin dia…? “ Jawab Betsy antusias. “ Ok. Gw selesai…gimana ? “ Tanya Betsy sambil berputar-putar.

“ Ok, cuantik banget…” Sayu mengacungkan jempolnya.

Betsy berhenti berputar. “ Oh…sayu, kayanya gw Jatuh Cinta pada pandangan pertama…ma dia…” Pandangan Betsy menerawang. Sebersit wajah Dede berkelebat dipelupuk matanya. Senyumnya. Kata-katanya. Tawanya.

“ Yuk. Kita keluar, kayanya tamunya banyak banget. Sapa tau gw nemuin soulmate gw. Loe kan udah nemu soulmate loe, sekarang gw…hahaha“ Sayu menggandenga Betsy keluar kamar, menuju teras belakang yang di setting menjadi tempat resepsi yang nyaman. Dialam terbuka, dimana-mana berhiaskan bunga-bunga.

Betsy memandang sekeliling. Undangan tidak terlalu banyak, hanya sebatas keluarga, sahabat dan kerabat dekat. Semua wajah tampak sumringah, tawa bertebaran dimana-mana. “ Say, kakak loe ama suaminya mana ? koq dari tadi gw ga liat…” Mata Betsy mencari-cari disetiap gerombolan orang-orang yang saling bercerita.

“ Loe tunggu sini, gw ajak ka Lily kemari,” Sayu melangkah sambil mengedarkan pandangan pada beberapa gerombolan cowok yang bertukar cerita.

Betsy memandang sekeliling.

“ Hai…” Seseorang menepuk pundak Betsy dari belakang, membuat gadis itu terlonjak dan spontan berbalik kearah suara.

Ia terdiam. Nafasnya tertahan. Matanya menatap nanar. Jantungnya pun sudah tak dapat dirasakannya berdetak. Detik berikutnya.

“ Betsy…loe ga papakan ? “

Betsy tak bergeming. Ditatapnya sosok didepannya lekat-lekat.

“ Dede…? “

“ Loe ga mimpi koq…” Dede mencubit pipi Betsy membuat gadis itu meringis. “ Loe pasti berharap banget ketemu gw kan …? “ Dede tersenyum.

Masih belum ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Rasanya seperti mimpi. Betsy dapat merasakan wajahnya memanas.

“ Gw juga pengen banget ketemu loe…koq…” Dede menatap lekat-lekat wajah Betsy. Wajah yang beberapa hari ini mengganggunya. Membuatnya bingung harus memilih.

“ Eh…Mas Deon di sini rupanya…” Sayu menepuk pundak Dede. “ Eh, udah saling kenalan rupanya…” Lanjut Sayu.

Betsy dan Dede hanya berdiri terdiam dengan saling berpandangan.

“ Bet, Mas Deon ini Kakak ipar gw, suaminya kak Lily…”

Betsy tersentak. Ditatapnya Dede lurus dalam, menusuk ke sepasang mata coklat itu. Dicarinya Sesuatu disitu tapi tak jua ditemukannya. Yang ditatap hanya diam sambil terus menikmati wajah Betsy.

“ Lho…semua koq pada ngumpul disini ? “ Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Betsy. “ Lho, Betsy. Pa kabar ? “ Lily merangkul Betsy yang matanya tak lepas dari sosok yang digandeng Lily.

“ Bae, ka…” Jawab Betsy tergagap.

“ Eh…sorry…” Sayu tergelak. “ Gw salah lagi. Mas Deon ama Mas Dede ketuker lagi…” Sayu mesem-mesem.

“ Eh, Bet. Kenalin ini suami kakak, namanya…Deon. Yang ini Mas Dede…kakaknya Deon…” Lily memperkenalkan. “ Walaupun banyak yang bisa bedain mana Deon dan mana Dede, gw bisa bedain koq…” Lanjut Lily sambil tergelak.

“ Yuk…semua kita cicipin hidangannya…,” Lily menggandeng suaminya dan bersama dengan Sayu yang menarik tangan Betsy untuk mengikuti langkahnya.

“ Eh ya, gw pinjem Betsynya dulu. Gw masih ada perlu ama dia…” Dede menarik tangan Betsy tiba-tiba.

Sayu memandang mereka bergantian lalu tersenyum. Lalu melangkah meninggalkan mereka berdua.

Dede menggenggam tangan Betsy, enggan melepaskannya. Seakan ia takut begitu ia melepaskannya, ia akan kehilangan untuk selamanya. Dengan posisi saling berhadapan Dede meraih tangan Betsy yang satu lagi. “ Terserah loe mo bilang gw Cowok gombal, cowok playboy. Tapi yang pasti, gw tau begitu gw ketemu loe tempo hari di bis gw tau loe emang buat gw. Semua yang udah terjadi bukan sebuah kebetulan, gw percaya itu. Gw berharap semua itu Cuma suatu kebetulan, apalagi waktu itu kita mesti pisah. Gw ga berani berharap banyak, tapi waktu gw nungguin loe yang tidur dengan pulasnya di Rumah Sakit itu…saat itu gw yakin, gw lah yang bakal ngejagain loe…ngedampingin elo…” Dede menatap Betsy yang wajahnya sudah mulai merah.

Hening.

“ Gw terpesona dan terpikat ama loe, Bet..”.

Sungguh ingin pingsan rasanya Betsy mendengar semua itu. Rasanya ia ingin membungkam mulut cowok itu. Kalau tidak ia akan benar-benar pingsan. Tapi Betsy sungguh tidak tau kata-kata apa yang harus diucapkannya. Ia hanya memandang lurus kearah sepasang mata coklat yang menatapnya. Betsy seperti meliaht binary disana, binar yang selama ini dicarinya. Binar yang membuatnya ingin meraihnya.

Tiba-tiba Betsy merasa banyak sekali bintang-bintang dan semuanya gelap. Sebelum tubuh Betsy jatuh ketanah dengan cepat Dede menahannya.

3 Responses to “Tiga Hari”

  1. on 22 Mar 2007 at 12:43bunga

    ceritanya bagus banget sih, oh ya ending kok cuman gitu doank sih. ada kelanjutannya gak?

  2. on 13 May 2007 at 14:58emon

    bagus …bagus banget…
    siapa yang mengira jodoh gak akan kemana…..

  3. on 10 Dec 2008 at 16:22DEE_JEVU

    Thx aku baru nyadar ada juga yg baca ceritaku…
    Thx a lot for your comment…
    Ga ada kelanjutannya seh…

Tinggalkan Komentar