KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Lipatan Kertas

Tong sampah di sudut kamar itupun sudah berubah menjadi gunungan sampah kertas yang tak beraturan sedang Raditpun tetap saja berkutat keras membolak-balikan dan memutar-mutar kedua tangannya untuk melipat kertas warna-warninya. Betapa besar keinginannya untuk melipat-lipat kertas menjadi seekor burung kertas yang berwarna-warni, menuliskan segala harapan dan cita-citanya pada burung-burung itu kelak, menggantungkannya disetiap pojok kamar, dan burung-burung kertas itulah yang menjadikannya untuk tetap semangat mengantarkan segelumit harapan yang berbalapan dengan usia yang selalu mengurangi helai nafasnya dari setiap detik yang bergulir berganti menit, tak rancu seperti hidup yang bergulir bergantikan kematian yang entah kapan menjemput dirinya. Radit sudah menghasbiskan waktu 3 jam, mencoba melipat kertas hingga peluh keringatpun membanjir wajahnya. Namun semuanya sia-sia belaka, kesabarannya tak membuahkan hasil. Sudah berpuluh-puluh kertas yang menjadi bahan percobaannya, tak satupun berhasil. Ditengah keputus asaannya, Radit menghela nafas panjang. Berharap ada orang yang mau mengajarinya membuat burung-burungan dari kertas lipat. Sementara kurang lebih 2 bulan lagi, nasib hidupnya kan terjawab. Apakah Radit mampu sembuh atau berpulang kepada Yang Esa. Sebelum semuanya terjawab, Radit ingin membuat burung-burungan sebanyak 101 ekor, dimana 3 ekor diantaranya akan tersimpan harapan besar dan permintaan berupa do’a untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba saja, bunyi HP-nya membuyarkan lamunannya. SMS diterima, dari Dinda,

“Malam Radit ! Gimana udah jadi belum burung kertasnya ?

dah berapa ekor ? kalau ada masalah, Dinda siap kok bantuin !

jangan sampai larut malam. Buruan istirahat. Met …bobok…..ya….”

Raditpun lalu membalas SMS dari Dinda sambil merapikan meja belajarnya yang penuh sampah kertas yang berserakan di mana-mana.

“Malam juga Dinda ! Wah gawat nich, nggak ada satupun burung yang bisa kubuat. Bantuin aku donk! Besok di skul kita ketemu. Oke!”

Handphone Radit berbunyi. SMS terkirim. Selang tiga menit, SMS diterima. Balasan dari Dinda.

Oke Radit ! besok aku bantuin Dech. Nyantai aja lagi !

Jam dinding di kamar Radit sudah menunjukan pukul 00.15. Suara tengah malampun mengantarkan Radit untuk segera tidur. Sedang tampak sangat menarik pemandangan di pojok kamar Radit, tong sampahnya penuh akan remasan kertas lipat yang tak berbentuk sama sekali. Itulah pertanda awal dari sebuah perjuangan Radit untuk menggapai semua harapan yang dimilikinya.

* * *

Pagi harinya Radit berjumpa dengan Dinda. Mereka berdua sudah bersahabat sejak duduk di bangku SD, bahkan SMP dan SMA mereka masih bersekolah di tempat yang sama. Tak heran jika banyak orang yang menganggap mereka adalah saudara layaknya kakak dan adik. Dan hebohnya lagi, teman-teman sekolahnya mengira bahwa Radit dan Dinda berpacaran. Dan hal itu, membuat mereka acap kali canggung, ya meskipun mereka berdua sudah hafal karakteristik masing-masing. Mereka percaya persahabatannya akan baik-baik saja selama rasa cinta itu tidak tumbuh dan bersemi di hati mereka berdua.

“Pagi Dinda!” (sapa Radit dengan senyum manisnya)

“Pagi juga Dit! Udah kamu bawa belum, kertas lipatnya?”

“Beres bos. Semuanya sudah lengkap. Tinggal cara memproduksinya saja. He..he..he..

“Baiklah, kita coba buat di taman aja yuk!” (ajak Dinda bersemangat)

Radit dan Dinda berlalu menuju ke taman. Sesampainya di taman, Radit dengan seksama memperhatikan, bagaimana Dinda membuat burung-burungan untuknya. Radit semakin bingung karena Dinda membuatnya dengan cekatan dan cepat. Radit merasa bangga mempunyai sahabat seperti Dinda yang selalu mengerti dirinya. Tak terasa 10 ekor burung berwarna biru sudah dibuat Dinda. Sementara tampak Radit masih kebingungan melihat kelincahan Dinda melipat-lipat kertas.

“Eh, jangan bengong donk!” (goda Dinda membuyarkan lamunan Radit)

“Ah, enggak kok. Cuma takjub aja. Lima belas menit aja kamu dah bisa buat burung-burungan sebanyak itu. Sedang aku, 3 jam berlalu pun tak satupun satu burung yang jadi.”

“Sudahlah, yang penting sekarang kamu harus bisa buat burung-burungan. Masak sama anak perempuan kalah. Malu-maluin tahu!”

“Iya-iya, lihat aja. Aku pasti bisa.”

Pelan-pelan dengan sabar Dinda mengajari Radit. Lama-kelamaan, Radit sudah bias melipat kertasnya menjadi seekor burung, Radit sangat senang. Dinda pun juga. Mereka berdua tertawa lepas, merayakan keberhasilan Radit dalam melipat kertas.

“Nich, buat kamu. Ya, sebagai ucapan terima kasihku.” (ucap Radit sambil memberikan barang hasil kerja kerasnya untuk Dinda)

“Makasih ya Dit! Nich 10 ekor burung ini buat kamu. Jaga mereka baik-baik ya. Jangan sampai rusak lho. Awas kalo hilang (pinta Dinda kepada Radit)

“Siip deh, Non Dinda!”

* * *

Sesampainya di rumah, Radit lalu mengeluarkan 10 ekor burung-burungan pemberian Dinda tadi. Digantungkan burung-burung itu di atas tempat tidur. Dia tuliskan namanya dan nama Dinda di setiap burung itu. Dia berharap dirinya dan Dinda tetap bersama, tak terpisahkan oleh maut yang entah kapan menjemputnya. Sedang Dinda menggantungkan burung pemberian Radit di depan pintu kamarnya. Dinda mempunyai harapan, bahwa setiap keluar atau masuk kamar diakan selalu teringat Radit yang selalu setia menjaganya dimana dia berada. Belum hilang bayangan Radit dari pikirannya. Tiba-tiba saja HPnya berdering. Radit memanggil.

“Iya, ada apa Dit?”

“Ntar sore temeni aku jalan-jalan yuk! Bisakan?”

“Ya, jemput aku jam 3 sore. Oke?”

“Oke deh, Din. Thanks ya! Bye!

“Bye-bye.”

“Huh kenapa jantungku berdebar-debar?” padahalkan Cuma ditelpon Radit. Apa istimewanya? Diakan sahabat karibku sejak kecil. Apa aku jatuh cinta sama Radit? Enggaklah, enggak mungkin lagi, ” (gumam Dinda dalam hati).

* * *

Di sepanjang perjalanan, Radit dan Dinda aktif bercakap ria. Mereka bercanda sambil melaju dengan sepeda motor mengelilingi keramaian dan kepadatan lalu lintas Jalan Malioboro. Mereka berdua akhirnya menuju ke Mall Malioboro. Di sana, Radit membelikan boneka beruang kecil berwarna cokelat untuk Dinda. Dinda sangat menyukai boneka itu. Sepanjang perjalanan pulang, Radit hanya terdiam membisu. Radit sangat pucat.

“Apa Radit kecapean? Apa Radit sakit?” (gumam Dinda dalam hati) sesampai di daerah Kotagede, Radit menghentikan sepeda motornya. Radit menatap Dida di bawah remang-remangnya lampu. Radit menunjuk ke atas langit sana, sang dewi malampun tersenyum cerah, bulan purnama itu sangat indah dan mendamaikan jiwa bagi siapa yang memandangnya.

“Tahukah kau Dinda, ku ingin sekali membawamu ke bulan sana…mengitari bulan indah itu sambil berpegangan tangan denganmu. Tapi akankah ku mampu menggapai semua itu? Sedang kinipun aku terjerat dalam rahasia Tuhan…..” (perkataan itu serasa amat sesak diucapkan Radit kepada Dinda)

Dinda tak dapat berkata apapun. Dia hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan Radit: Dia rasakan betapa galau dan getir batin Radit. Entah apa penyebab semua itu, Dinda merasa terhanyut pula dalam kegalauan malam yang menyapa mereka berdua.

“Din, bolehkah aku memelukmu malam ini?” (ucap Radit sendu). Dinda hanya mengangguk. Radit memeluk tubuh Dinda dengan dekapan hangat dan mesra. Dinda membalas dekapan itu. Radit memeluk Dinda dengan erat. Radit seolah tak ingin melepasnya. Radit ingin tetap mendampinginya. Dinda juga merasakan hal yang sama. Firasat itu terkadang terlintas di pikirannya, firasat seperti Radit akan meninggalkannya. Tapi firasat itu selalu Dinda tepis jauh-jauh. Air mata Radit terjatuh. Radit benar-benar tak kuasa menahan ketakutannya bahwa pada akhirnya dia akan meninggalkan Dinda gadis yang dia cintai, Radit sangatlah rapuh. Sebelumnya tak pernah Dinda melihatnya seperti itu, Radit yang dikenalnya bukanlah Radit yang rapuh dan putus asa namun Radit yang selalu tegar menghadapi semua masalah dan mempunyai semangat tinggi dalam hidupnya. Malam itu pun, ihwal dari segala jalur cerita cinta di antara Radit dan Dinda. Meski bibir mereka tak berkata cinta tapi kedua mata mereka saling berucap cinta. Cinta yang memang sejak dulu namun terkaram oleh egois mereka masing-masing.

* * *

Semenjak kejadian malam di Kotagede itu, Radit selalu menjauhi Dinda. Dia tahu bahwa tak mungkin untuknya untuk memiliki Dinda. Dia juga berusaha untuk tidak membebani Dinda karena dia yakin jika Dinda bersamanya, kelak Dinda akan tersakiti. Radit tidak mau meninggalkan luka pedih di hati Dinda. Meski Dinda juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Radit yaitu jatuh cinta. Tapi cinta tak membuat mereka bersatu karena cinta Radit tak ingin menodai cinta Dinda dengan kepergiannya kelak. Di sekolah, Radit selalu menghindar dari Dinda. Setiap Dinda sms, tak pernah Radit membalasnya. Telpon pun tak pernah diangkat. Datang ke rumah Raditpun hanya sia-sia, Radit tak pernah ada di rumah. Dan semua itu membuat Dinda sakit hati dan sangat kecewa kepad Radit. Bahkan selama satu bulan lebih, Radit tak pernah bertukar kabar dengannya. Dinda tak mengetahui bahwa kini Radit sering sakit-sakitan. Padahal tanda-tanda penyakitnya semakin tampak terlihat. Badannya mulai kurus kering. Matanya terlihat sayup. Daya tubuhnya menurun mulai menurun. Tak heran jika Radit kerap kali absen di sekolah. Radit mulai rutin memeriksakan kesehatannya ke Dokter. Semua hal tentang Radit, tak satupun diketahui Dinda. Semuanya dirahasiakan oleh Radit beserta keluarganya kepada Dinda. Radit tak mau melihat kesedihan Dinda yang dicintainya. Biarlah lara dan duka, Radit tanggung sendiri. Yang terpenting, melihat senyum Dinda adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup Radit. Selama itu pula, setiap malam Radit selalu melipat kertas warna-warninya menjadi burung-burungan sebanyak 3 ekor meski dengan menahan rasa sakit yang begitu hebat. Satu bulan telah berlalu, burung-burungan itupun akhirnya lengkap sudah berjumlah 101 ekor dan 10 ekor pemberian Dinda masih tergantung diatas tempat tidur Radit. Semua burung itu digantungkan di seluruh penjuru kamarnya. Diantara 101 ekor itu, Radit membuat 3 burung berukuran paling besar. Burung itu berwarna merah, putih dan biru. Di setiap warna itu, tertuliskan 3 harapan Radit untuk Dinda. Di bawah 3 burung itu, Radit juga menggantungkan lipatan kertas berbentuk “LOVE” yang bertuliskan bahasa cintanya selama ini untuk Dinda.

* * *

“Maaf, bapak, Ibu, dan Radit. Ada sesuatu yang harus dibicarakan. Ini mengenai kesehatan putra Anda, Radit.”

“Ada apa Dokter dengan Radit ? seriuskah hal itu ? “

“Begini Bapak, Ibu dan Radit. Bukan maksud saya sebagai Dokter lantas menjatuhkan vonis mati pada Radit, Putra Bapak Ibu. Tapi saya harus mengatakan sejujurnya bahwa penyakit Leukimia yang diderita Radit sudah mencapai stadium akhir, dimana kesempatan untuk bertahan hidup hanya 25%. Itupun jika kondisi Radit sendiri masih kuat untuk menjalani operasi sumsum tulang belakang. Tapi itu semua, kembali lagi kepada Tuhan yang Maha Esa karena hanya Dialah segala pengobat dari segala penyakit.”

“Lalu, berapa kira-kira dokter saya masih bisa bertahan hidup ?”

“Berdasarkan pemeriksaan para Dokter. Kemungkinan sisa hidup Radit hanya berlangsung 1 minggu lagi. Hal itu dikarenakan jumlah leukosit dalam darah Radit sudah sepuluh kali lipat lebih banyak dibanding jumlah eritrosit yang ada. Perbandingan antara leukosit dan eritrosit berbanding 10:1. dan hal itu sangat memperburuk kondisi Radit.”

Bapak, Ibu dan Radit sangat terpukul mendengar penjelasan Dokter terhadap perihal vonis mati yang dijatuhkan kepada Radit. Bapak dan Ibu menangis dan memeluk Radit erat-erat. Mereka tak rela kehilangan anak semata wayangnya. Kinipun, Radit hanya bisa terbujur kaku dingin dengan pandangan kosong. Betapa sakit seluruh tubuhnya kini, sesara tertikam beribu-ribu pedang tajam yang tak henti-hentinya. Radit hanya pasrah dan mampu berdo’a kepada Tuhan, agar dia dipertemukan kembali dengan Dinda sebelum Tuhan menjemputnya bersama malaikat pencabut nyawa.

* * *

Akhirnya bulat sudah keputusan Radit untuk mengatakan semuanya kepada Dinda. Radit menelpon Dinda agar dia datang ke rumahnya. Radit tidak menginginkan semuanya terlambat. Senua isi hatinya harus diungkapkan, tak perlu ada peti di dalam hatinya. Sepulang sekolah, Dinda langsung menuju ke rumah Radit. Di sana, Dinda tidak bertemu dengan Radit. Hanya Ibunya yang berada di rumah. Ibu Radit tampak sedih raut mukanya. Namun, Dinda tak peduli akan hal itu. Yang dia pedulikan hanyalah segera ingin bertemu dengan Radit dan mengatakan padanya bahwa dirinya selama ini tak bisa melupakan Radit dan rasa saying itu tetap bersinggah di hati Dinda. Radit menitipkan memo buat Dinda. Sebelum dia pergi dari rumah.

Dari : Radit, sahabat keribmu

Untuk : Dinda, sahabat karibku

Hal : Masuklah ke kamarku. Carilah lipatan kertas berbentuk “LOVE” di bawah 3 burung terbesar. Aku ada di suatu tempat di mana aku menunggumu….

Pelan-pelan Dinda mulai membuka kamar Radit. Dinda sangat tercengang. Kamar Radit kini penuh dengan ratusan burung dari kertas lipat warna-warni. Siapapun yang masuk ke dalam kamar Radit pasti merasakan bahwa Radit mempunyai sejuta harapan yang tak tergapaikan. Dilihat burung-burung itu satu persatu, sampai Dinda mendapati burung-burung pemberiannya masih seperti dulu. Namun ada yang istimewa dari burung-burung itu kini, burung-burung itu tertuliskan nama Dinda dan Radit. Sampai akhirnya Dinda menemukan lipatan kertas berbentuk “LOVE”. Dinda membuka lipatan itu dan di dalamnya tertuliskan…..

“Dinda, aku menunggumu di taman sampai kamu datang untukku. Sebelum kamu menemuiku, bacalah tulisan di ketiga burung itu. Kamu akan mengerti kenapa kulakukan semua ini kepadamu…..

Aku menunggumu Dinda….”

Tertulis goresan pena di burung merah:

“Semua itu berasal dari rasaku dan rasamu. Semua itu kembali ke anganku dan anganmu. Dan kini semua akan terjawab.

Aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu, Dinda…”

Tertulis goresan pena di burung putih:

“Rasa itu tulus untukmu. Pengorbanan itu rela untukmu.

Meski aku menderita leukemia yang tak mungkin tersembuhkan.

Aku masih mampu mengobati rasa rinduku padamu.

Maka, datanglah engkau padaku….”

Kini Dinda merasakan betapa bergejolak hatinya. Gemuruh di hatinya tak kunjung mereda. Isak tangisnya pun mulai terpecah. Ternyata Radit yang dicintainya menderita penyakit leukemia. Itukah sebabnya Radit menjauhkan dirinya dariku. Dinda merasa bersalah pada Radit. Pecahlah sudah tangis Dinda dalam kesunyian itu.

Tertulis dengan goresan pena di burung biru:

“Jika aku masih dapat menapak hari esok. Kun inginkan Dinda menyayangi dan selalu menemaniku. Jika tanpamu, biarlah lazuardi membawaku melayang entah kemana. Tapi jika engkau setia menemaniku, berikan lipatan kertas ini kepadaku dan katakanlah jika Dinda juga mencintaiku.”

Air mata masih saja membanjiri kedua pipi Dinda. Dia merasa haru, bahagia, sedih, dan menyesal. Yang terpikir sekarang hanyalah secepatnya untuk menemui Radit di taman dimana dia menunggu dirinya. Dibawanya lipatan kertas itu layaknya menjaga sebuah harapan pasti tentang dirinya bersama Radit. Dengan terengah-engah akhirnya Dinda sampai juga di taman. Dinda melihat Radit di ujung sebrang jalan. Dinda menangis bahagia karena Radit yang dicintainya, kini berdiri dihadapannya sambil tersenyum manis. Meski Radit tak seperti dulu lagi, Dinda akan tetap mencintai dia apa adanya. Dari ujung seberang jalan itu, Radit mulai menghampiri Dinda, tetapi takdir sudah terjalankan. Dari arah sebenarnya jalan melaju mobil dengan kecepatan tinggi. Radit tak mengetahui hal itu. Sedang Dinda yang berada didepannya dapat melihat dengan jelas, Radit akan tertabrak mobil itu. Dinda berteriak keras memanggil nama Radit. Berharap Radit dapat mendengarnya dan mampu menyelamatkan dirinya. Namun semuanya sia-sia, suara Dinda seolah-olah teredam oleh kebisingan suara mobil itu. Radit tertabrak. Tubuhnya terpental dan terjatuh tepat di depan Dinda berdiri. Dinda berteiak histeris, “Radit, Tidak…!”

Radit kini bersimpuh darah, nafasnya tersendat-sendat. Dinda memeluknya erat-erat sambil berlinang air mata. Dinda terus memanggil nama Radit. Namun Radit seolah-olah tak mendengarnya. Tubuh Radit begitu dingin dan kaku. Dinda mengenggam lipatan kertas itu ke dalam tangan Radit sambil berbisik ditelinganya “Radit, aku juga mencintaimu.” Kudapati bibir Radit tersenyum. Lipatan kertas itupun terlepas dari genggaman Radit. Selamat jalan Radit…

Tinggalkan Komentar