Ibu…Wanita Tangguh
November 22nd, 2006 by sulami
Waktu terus mengikuti langkah hidup Ibuku, tak terasa sudah Ibu berumur 45 tahun. Namun, semangat juang dan kerja kerasnya tak pernah luruh sedikit pun. Sudah 17 tahun lamanya, aku menjadi saksi perjuangan hidup Ibu yang penuh dilema dan cobaan. Tapi, tak sedikit pun terlihat keputus asaan dari diri Ibu. Ibu selalu berjuang, bertahan, tegar, dan tak pernah mengeluh sedikit pun. Kami memang bukan keluarga yang kaya tapi ketekunan dan ketangguhan Ibu mampu membuat keluarga kami hidup berkecukupan. Ibu memang hebat di mataku. Sudah 4 anaknya yang berhasil disekolahkan dan lulus dari SMA dan SMK. Sedang aku sendiri masih duduk di bangku kelas XII IA3 di SMA. Dan semua biaya pendidikan itu hanya Ibu seorang yang membiayainya. Bapak selalu lepas tangan dan tak ambil pusing untuk biaya pendidikan anak-anaknya, bahkan Ibupun tak pernah diberi uang bulanan oleh Bapak. Betapa masa bodohnya Bapak terhadap Ibu dan anak-anaknya. Tak jarang pula, Bapak melakukan kekerasan dalam keluarga kami. Tapi, dengan adanya Ibu di samping ku dan kakak-kakakku, kami tetap tegar dan kuat menghadapi perilaku buruk Bapak selama bertahun-tahun. Keharmonisan keluarga pun tak pernah tampak sedikit pun, hanya cacian dan amukan dari Bapak yang selalu kami dapatkan setiap hari. Dan dengan ketegaran Ibu, kami tetap memiliki seorang Bapak. Bapak yang tak pernah bertanggung jawab pada kami semua dan selalu melukai anak-anaknya dan istrinya sendiri. Namun, demikian Ibu tetap berusaha menjaga keutuhan keluarganya. Sudah seluas samudra kesabaran Ibu yang diberikan pada Bapak. Ibu hanya ingin Bapak kembali seperti dulu, seorang suami yang penuh kasih sayang dan bertanggung jawab kepada keluarganya. Namun, semuanya sia-sia. Bapak tak pernah berubah.
Pada kehidupan keluarga pun selalu dipegang oleh Ibu. Setiap hari Ibu membanting tulang, menguras keringat demi keutuhan keluarga untuk biaya kehidupan sehari-hari maupun biaya pendidikan bagi anak-anaknya. Ibu bekerja sebagai bekerja sebagai penjual atau pedagang ayam di pasar. Pekerjaan itu sudah Ibu tekuni selama 20 tahun lebih. Karena hanya dengan berjualan ayam yang bisa Ibu lakukan untuk membiayai dan menghidupi keluarganya. Maklum, Ibuku berasal dari keluarga yang tak berkecukupan. Ibu tak lulus dari Sekolah Dasar, yang Ibu bisa hanyalah berjualan karena Ibu tak punya ijazah dan keterampilan khusus. Dan dengan keuletan dan kerja keras, Ibu mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai Sekolah Menengah Atas meskipun pengorbanannya begitu besar bahkan takkan pernah terbayar olehku maupun kakak-kakakku. Yang terpikir oleh Ibu hanyalah bagaimana caranya membuat anak-anaknya hidup bahagia, berkecukupan, dan mendapatkan pendidikan yang layak meskipun dirinya harus terkuras habis tenaga dan pikirannya. Dan dengan melakukan pekerjaan halal yaitu berjualan ayam, Ibu mampu memberikan contoh tauladan bagiku dan kakak-kakakku bahwa hidup ini harus selalu dimaknai dengan membahagiakan orang-orang yang disayangi dan jangan pernah berputus asa meskipun begitu berat cobaan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada kita semua.Meskipun aku dilahirkan dari rahim seorang penjual/ pedagang ayam, tak pernah sedikitpun aku merasa malu, sebaliknya aku sangat bangga pada Ibuku yang setiap harinya mencari uang demi keluarga. Bahkan sejak Bapak mengalami kecelakaan yang menyebabkan Bapak tidak bisa bekerja lagi membantu Ibu membelikan ayam hidup di pasar-pasar untuk disembelih di rumah dan diperdagangkan oleh Ibu di pasar Pujokusuman karena Bapak kini cacat, kaki kirinya patah dan membuat Bapak hanya bisa dirumah saja. Dan beban Ibupun semakin berat, tapi Ibu selalu tegar dan lebih bekerja keras lagi untuk menyokong kehidupan keluarga bahkan untuk meluluskan aku dari bangku SMA seperti keempat kakakku. Setiap harinya, Ibu bangun jam 4 pagi kemudian menyembelih ayam-ayam hidup sebanyak 5-10 ekor ayam lalu mencabuti/ membersihkan bulu-bulu ayam hingga bersih. Tepat jam 7 pagi, Ibu selalu pergi kepasar Pujokusuman yang berjarak 5 km dari rumah dengan menggunakan sepeda motor Yamaha CDI tahun 82 untuk menjual ayam demi mengadu nasib semua anggota keluarga. Kira-kira jam 12 siang, Ibu sudah pulang ke rumah. Meski panasnya terik matahari yang membakar tubuh Ibu dan derasnya air hujan yang mengguyur tubuh Ibu, semua itu tidak pernah dirasakan oleh Ibu. Ibu hanya memikirkan untuk mencari nafkah dan kembali ke rumah membawa makanan bagi anak-anaknya dan suaminya yang sakit. Terkadang jualan Ibu tidak laku, namun itu tidak membuatnya patah semangat. Ibu percaya bahwa dengan niat yang tulus, disitu pasti ada rezeki yang halal. Dengan uban yang sudah berada di rambutnya, wajah yang hangus terbakar terik matahari, tubuh yang agak kurus, otot-otot yang mengendor tak menjadi halangan buat Ibu untuk tetap berjualan ayam di pasar. Bahkan setelah 27 Mei 2006 yang silam, rumah kami menjadi salah satu korban goncangan gempa bumi tektonik sebesar 5,9 SR. Rumah kami roboh setengah. Dan kini, kami sekeluarga tinggal di bekas tempat kandang ayam dan bebek yang dulu Ibu pelihara. Meski gempa telah mengoncang rumah kami, tapi semangat dan tekad Ibu tetap mengejolak untuk tetap berjuang hidup memenuhi nafkah keluarga. Bagiku Ibu tetaplah wanita tangguh di mataku. Hidupnya akan selalu penuh makna dan memaknai jiwaku. Aku ingin tegar dan tangguh seperti Ibu yang sangat aku cintai.
Musibah tlah usai, kini saatnya aku, keluarga dan semuanya untuk kembali tegar menghadapi langkah kehidupan yang baru dengan semangat bulat yang membara di sepanjang pembuluh darah yang senantiasa teraliri oleh darah-darah segar. Aku dan keluargaku kini sudah tinggal di rumah kami yang sudah diperbaiki. Kebahagiaan itu sudah menjadi satu keutuhan lagi dan tetap menjalar dalam kehidupanku bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. Aku mencintai keluargaku dan sangat mencintai ibu. Beliau yang selalu ku jadikan panutan di hidupku. Beliau memang wanita tangguh di mataku, di jiwaku, dan hidupku.