Kado Spesial Buat Mama
November 21st, 2006 by sari usdiana putri
“Ma.. Dita dapat tawaran kerja … di.. diskotek. Tapi.. Cuma jadi waitress kok, boleh ya, Ma..?”. Dita duduk di hadapan mama berjuang meminta persetujuan dari mama. Dita tahu image diskotek pasti jelek di mata mama, tapi sudah dua bulan ini Dita berusaha mencari pekerjaan. Maklum keadaan keluarganya yang kesulitan keuangan mengharuskan Dita untuk bekerja. Sebenarnya Dita bermaksud melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena nilai UAN-nya bisa di kategorikan sangat memuaskan. Tetapi apa mau dikata Tuhan berkehendak lain. Di saat Dita duduk di kelas 3 SMA keluarganya terjerat hutang karena penipuan yang dilakukan tak lain tak bukan oleh pamannya sendiri, adik laki-laki mama Dita. Makanya dia nggak pernah suka pada keluarganya dari mama yang datang membawa segudang masalah dan mengusik keluarga Dita. Dan begitu mereka memperoleh apa yang diinginkan mereka hilang bak ditelan bumi meninggalkan keluarga Dita dengan masalah dan kesusahan yang mereka bawa. Uuh.. menyebalkan!!
Dita meraih kedua tangan mama dan dengan tampang memelas berkata, “Ma.. boleh, ya? Inikan hanya untuk sementara..nanti kalau Dita dapat tawaran kerja lain yang lebih baik, Dita berhenti deh kerja di sana..”.Mama menghela napas dan menatap Dita dengan pandangan sendu. “Bukannya Mama nggak mau ngasih kamu izin, tapi.. Mama khawatir sama kamu. Kamu kan anak perempuan.. kerja di diskotek pulangnya kan malam-malam..”. Mama menjelaskan. “Lagipula apa tidak lebih baik kamu menunggu sebentar lagi, mana tahu ada panggilan kerja lain,” Mama melanjutkan. “Mau nunggu sampai kapan lagi, Ma? Dita udah nunggu dua bulan dan sekarang keadaan kita makin sulit. Kita butuh banget uangnya… buat uang sekolah Alin, buat kebutuhan sehari-hari, juga buat bayar hutang. Dita dengar tip-nya disana lumayan..” Dita tetap keras kepala.”Ma.. Dita kan udah besar , Dita bisa jaga diri Dita..Mama nggak usah terlalu khawatir. Kalau masalah pulang kata bang Danang ada mobil karyawan khusus buat ngantarin kita. Boleh ya, Ma..?” pinta Dita terus meyakinkan Mama. Mama terdiam beberapa saat. Sesekali terdengar helaan napasnya.”Ya sudah.. kalau begitu terserah kamu saja.. Yang penting ingat pesan Mama..walaupun kita sedang kesulitan uang bukan berarti kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Dan kamu harus pandai jaga diri..,” nasehat Mama yang akhirnya kalah dengan kemauan keras Dita. Dita tersenyum, merangkulkan kedua tangannya di pundak Mama dan menyandarkan kepalanya di bahu Mama, memeluknya. “Oke bos..,” jawab Dita riang. Dita pun pergi.
Mama masih duduk di kursi jati yang telah sangat tua dan seumuran dengan Dita. Keadaan rumah masih seperti dulu, nggak berubah. Kursi jati tua itu, sebuah lemari model lama, sebuah lukisan seorang gadis yang dipajang dengan tulisan Andita Putri.24 Mei.1988. Semuanya tetap sama. Mama menjangkau sebuah foto berbingkai ukuran 4R yang terletak di meja kecil disebelah kanan Mama. Mama menatap gambar empat orang yang terpatri abadi di sana…Dita saat berusia 5 tahun, Alin adik Dita yang masih berusia 2 tahun, Mama, dan seorang pria tampan berumur 27 tahun yang memakai seragam kebangsaan TNI-AD tersenyum. Dia adalah papa Dita dan Alin. Mama mengusap bingkai foto itu. “Seandainya kamu masih hidup, bang.. Sekarang anak kita sudah dewasa..”. Setetes air mata mama jatuh membasahi wajah tersenyum itu.
* * *
Dentum keras musik disko terdengar nmemenuhi seluruh ruangan. Manusia-manusia malam berdesakan di tengah suasana hiruk pikuk ini berusaha menikmati. Entah apa yang sebenarnya mereka nikmati. Apakah suara musik yang merangsang tubuh untuk bergoyang, ataukah mereka menikmati bergerak-gerak mengikuti irama musik, mungkin juga mereka berusaha menikmati kebebasan sejenak setelah leleah beraktivitas seharian. Awalnya Dita agak susah menyesuaikan diri dengan situasi ini. Seakan melangkah memasuki dunia baru yang dipenuhi hal-hal yang nggak bisa Dita mengerti. Maklum selama sekolah belum pernah Dita memasuki dunia gemerlap dan ke diskotek. Padahal semua temannya sudah tidak asing lagi dengan dunia malam. Beberapa kali Dita diajak oleh temannya dan Dita harus bersusah payah menolak ajakan itu. Nggak bakal diizinin mama, sebenarnya itulah masalah utamanya. Tetapi Dita juga nggak merasa terkekang dengan semua aturan Mama karena Dita tahu Mama sangat menyayanginya. Mama bekerja mencari nafkah sendirian setelah papa meninggal dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan Dita dan Alin tanpa memikirkan diri sendiri. Dita merasa bangga dan bersyukur memiliki seorang ibu seperti Mama.
“Dita.. nih wiski buat yang disana.. gue masih mau ngambil pesanan yang lain”. Mila teman sepekerjaannya menyadarkan Dita. Mila memberikan baki yang diatas nya berdiri sebotol wiski dan gelas. Dita menerima baki itu dan berjalan kearah meja yang di tunjukkan Mila menuju seorang pria setengah baya yang diapit dua gadis. Dita berkata sopan, “Ini pesanannya, om. Silahkan..” “Hei tunggu…!!”. Dita berbalik. “ya, om?” “Karena sekarang saya sedang senang.. mari kita rayakan bersama. Ayo kamu juga ikut minum”. Om itu menyodorkan gelas berisi wiski ke arah Dita. “Ma.. maaf , Om.saya sedang bekerja jadi saya nggak boleh minum,” jawab Dita menolak sebisa mungkin. Om itu mengibas-ngibaskan tangannya. Tubuhnya sudah agak oleng, jelas dia sudah mabuk. “Tenang.. biar saya yang bilang sama bos kamu nanti..Ayo minum! Kamu nggak boleh pergi dari sini sebelum minum ini, ha.. ha.. ha..,” ancam Om itu sambil tertawa mengerikan. Dita terpaksa mendekat, menerima gelas itu dan menenggaknya sedikit. Om itu tertawa. Dita pun secepat mungkin menyingkir dari sana. Kepala Dita terasa pusing. Minuman itu seakan menyekat tenggorokannya. Dita pergi ke toilet dan membasuh mukanya. Terkadang memang ada orang aneh yang memaksanya minum seperti tadi. Waktu pertama kali mencoba Dita bahkan nggak sanggup berdiri saking pusingnya padahal hanya minum sedikit. Sekarang Dita sudah mulai terbiasa, tapi Dita harus bersusah payah menutupinya sampai di rumah. Jangan sampai Mama tahu! “Ternyata memang benar kalau lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap seseorang,” pikir Dita. Dita tiba di rumah pukul 03.00 WIB dan didapatinya Mama tertidur dikursi. Padahal sudah berkali-kali Dita mengatakan agar Mama nggak usah menunggu Dita pulang. Tapi kadang sesekali Mama tetap menunggu hingga ketiduran di kursi. “Ma.. bangun, Ma..,” Dita menggoyang-goyang pelan tangan Mama. Mama bergerak sedikit dan mulai membuka matanya. “Dita.. kamu sudah pulang?”. Mama pun duduk perlahan. “Iya, Ma.. Mama pindah tidur di kamar ya..” Mama mengangguk. Tiba-tiba..”Dita.. kamu minum bir, ya?” tanya Mama dengan pandangan menyelidik. Dita jadi salah tingkah. “Ng.. tadi.. sedikit kok..Itu.. Dita terpaksa Ma..,” jawab Dita membela diri. Mama menatap Dita tajam. “Dita..sudah berapa kali Mama bilang kalau Mama kurang setuju dengan pekerjaan kamu itu..Kerja di diskotek pasti melakukan hal-hal aneh!” suara Mama mulai meninggi. Dahi Dita berkerut, kepalanya masih terasa pusing. “Melakukan hal aneh? Apa sih maksud Mama? Aku udah 3 bulan kerja disana dan nggak pernah melakukan hal buruk. Mama nuduh Dita? Mama nggak percaya lagi sama Dita?!” Dita menjawab dengan nada yang nggak kalah tinggi. “Mama bukannya nuduh kamu.. Mama cuma nggak suka…” “Nggak suka apa? Nggak suka pekerjaanku? Nggak suka semua tingkahku?” Dita memotong kata-kata Mama. “Bukannya begitu kak Dita..Mama cuma mau ngasih tau yang baik buat kakak.” Alin yang terbangun karena keributan yang terjadi ikut ambil suara. “Diam kamu! Anak kecil tau apa?!” bentak Dita. “Jadi…semuanya sudah nggak suka lagi sama aku. Nggak senang aku disini..Baik, kalau begitu aku akan pergi dari sini.” Dita pun beranjak. Alin yang berusaha mengejarnya kembali dengan wajah tertunduk. Mama sementara itu mendadak lemas dan terduduk di kursi. Alin segera datang dan menghibur Mama.
* * *
Alin mengetuk pintu kamar Mama, tak ada jawaban. Alin membuka pintu secara perlahan sebisa mungkin tak ada suara. Ternyata Mama sudah tidur. Alin menyelimuti Mama, menatap Mama dengan sedih. Alin tahu kalau akhir-akhir ini Mama sering menangis dan selalu berjaga di tengah malam berharap kak Dita pulang. Mama sangat menyayangi kak Dita, Alin tahu pasti akan hal itu. Memang selama ini kak Dita selalu mengirimi kami uang, tapi sudah hampir sebulan ini kak Dita nggak pernah pulang ke rumah. Alin bertekad mencari alamat kos kak Dita yang dimintanya dari bang Danang.
Tok.tok.tok. Terdengar ketukan di pintu kamar Dita. Sudah sebulan ini Dita bermukimdi kos putri milik Bu Tuti. Tok.tok.tok. Sekali lagi ketukan itu terdengar. Dita bangkit membukakan pintu dan Dita terpana.. “Kak.. maaf aku datang kesini. Jangan salahin bang Danang, dia udah bilang kalau aku nggak boleh datang kesini. Tapi aku mau ketemu kakak.. jadi jangan usir aku..,” cerocos Alin dengan kepala tertunduk. Seulas senyum mengembang di bibir Dita. “Siapa sih yang mau ngusir kamu..kegeer-an amat sih. Ayo masuk!” Sesaat keheningan menyapu ruangan itu. Dita duduk di ambang jendela. Alin memperhatikan sosok kakak semata wayangnya itu. Dita tampak sangat lelah dan kurus. Akhirnya Dita menoleh ke arah Alin, “Kabar Mama gimana?” Perasaan sedih, rindu pulang dan egoisme anak remaja bertarung dalam hati Dita. Dita kembali memandang ke luar jendela. “Kak.. Mama sakit. Mam selalu mikirin kakak. Pulanglah kak..,” Alin berkata sedih. Alin pun menceritakan bagaimana keadaan rumah dan Mama setelah Dita pergi. Dita terdiam, hatinya masih berkecamuk. Tiba-tiba Alin berkata…”Kakak ingat sekarang tanggal berapa?” “Tanggal 3 februari 2006. Emang kamu pikir aku jadi pikun sejak nggak pulang,” jawab Dita tertawa kecil. ’3 februari? Hari ini ulang tahun Mama!’ Dita tersadar. “Iya kak, hari ini Mama ulang tahun.” Alin mengangguk seakan bisa membaca pikiran Dita. “Ayo kak, kita pulang..” Dita menghela napas, egoisme-nya kalah..keinginan dan kerinduannya akan pulang menang… “Tapi Lin, Kita belum beli hadiah buat Mama,” Dita berkata pada Alin di dalam taksi yang menuju ke rumah mereka. “Nggak usah, kak. Nggak perlu kok. Aku yakin kepulangan kakaklah yang terpenting. Karena kakaklah hadiah terindah buat Mama..”
* * *
Dita dan Alin tiba di rumah. Ketika mereka memasuki rumah sesaat Mama terpaku. Dita menyongsong Mama dan memeluknya. “Ma.. maafin Dita Ma.. Dita nggak bermaksud menyakiti Mama.. Dita janji akan behenti kerja dan nyari kerja yang lain.. Dita sayang Mama..” Dita menangis dalam pelukan Mama. Mama pun menangis haru. “Mama juga sayang kamu, Dita..” “Ma.. kami punya sesuatu buat Mama. Tapi Mama tutup mata dulu ya..” ujar Alin dengan ceria. “Apaan, sih?”. Mama menutup mata penasaran. “Sekarang Mama boleh buka mata.” Mama menatap sebuah kue ulang tahun yang bertuliskan Happy B’day Mamaku tersayang. “Happy Birthday Mama…Happy Birthday Mama..Happy Birthday to Mama…I Love You…Mama..” Mama mengecup pipi Dita dan Alin. ’I Love You, Mom’ batin Dita dan berjanji nggak akan pernah bikin mama sedih lagi
Apapun yang terjadi, gimanapun seorang ibu, dia tetap diatas segala-galanya. sadarlah rekan-rekan yang masih memiliki Ibu. agar ngak bakalan menyesal setelah dia udah ngak ada