KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Seorang Denista

Ternyata memiliki tubuh yang atletis, wajah yang lumayan tampan, ditambah senyum yang menawan sehingga mampu merontokkan hati para gadis yang meliriknya plus otak yang cukup encer, cukuplah jadi modal menakhlukkan hati seorang gadis. Apalagi ditambah sikap yang manis, wah2 bisa membuat orang lain simpatik. Bahkan gadis mana sih yang akan menolaknya. Itu awalnya Alan merasa seperti merengkuh bintang yang mampu membuatnya sedemikian cemerlang dimata orang-orang. Alan bak Idola yang kedatangannya selalu ditunggu-tunggu, senyumnya dinanti-nanti. Siapa sih yang tidak kenal Alan, dari tukang parker sekolah, sampe tukang sampah disekolah semua mengenalnya. Mungkin juga dikarenakan Alan bukan seorang cowok yang cukup sombong ketika dia memiliki semua yang didamba cowok disekolahnya. Dia tidak pernah memilih dalam bergaul. Walaupun pada waktu-waktu tertentu sering juga Alan merasakan ada sedikit perasaan yang menggelitik ketika ia menyadari kepopulerannya, ya…kadang Alan suka Narsis.

Bagi Alan tidak ada yang tidak bisa didapatnya. Yah….kira-kira itu yang terpikir oleh Alan. Sampai suatu hari itu datang dan mengubah semua pendapatnya tentang dirinya sendiri. Yang membuatnya menjadi seorang Alan yang berbeda.
“Aduh…mati gw…telat lagi…”, gerutu Alan sambil terus menyusuri koridor sekolah semabri melirik jam G-Sock dipergelangan tanganya yang menunjukkan pukul 06.35…Ia menghentikan langkahnya didepan pintu kelas III IPS 1. Ketika jarinya hendak mengetuk pintu kelas yang tertutup, tiba-tiba seseorang menubruknya dari belakang, akibatnya Alan terdorong kearah pintu bersama sosok itu sehingga daun pintu terbuka bersamaan dengan jatuhnya mereka berdua dengan posisi tersungkur.
Suasana hening.
“Hahahaha…..”, tiba-tiba seperti dikomando terdengar gelak tawa seluruh kelas yang membuat Alan merasa wajahnya panas.
“Aduh…ma…maaf…gw ga sengaja…,” terdengar suara dari belakang Alan. Alan berusaha berdiri dan membersihkan bagian depan bajunya yang sedikit kotor. Dengan penasaran ia berbalik. Tampak didepannya seorang gadis dengan rambut panjang sepinggul, wajah bulatnya yang putih dan senyum penyesalan menghiasi bibirnya. Ditambah tubuhnya yang sedikit berisi membuatnya tidak nampak seperti anak SMU dan hanya dikarenakan ia mengenakan seragam putih abu-abu saja yang menandakan dia anak SMU, kalau tidak pasti Alan mengira dia itu anak SMP yang nyasar. Hehehe…Alan tersenyum sendiri.
“Alan…!!!”, pekikan Bu Rastri menyentakkan Alan. “Mau sampai kapan kamu berdiri disitu ?…”
Alan mesem-mesem sambil ngelor kebangkunya.
“Kamu murid baru dari Samarinda Itu ? “Tanya Bu Rastri kalem sambil kepalanya menganggk meminta Gadis itu mendekat dan berdiri disampingnya. “Perkenalkan namamu…”
Dengan pelan dan santai gadis itu menatap lurus kedepan, “Perkenalkan nama saya Denista Pakpahan…, tapi cukup panggil saya Dee. Trima kasih…”, ia mengakhiri kata-katanya dan menoleh kearah Bu Rastri.
“Kamu duduk di samping Alan…”
Denista mengangguk sambil melangkah kearah Alan.

*****

Awalnya Alan cuek-cuek saja dengan kehadiran Dee, karena menurut Alan gadis itu ga ada bagus-bagusnya. Dia hanya gadis biasa, yang lumayan pintar. Dia lumayan supel tapi jarang mau ngobrol berlama-lama dengan orang lain. Dia suka baca buku yang berbau mistik dan cerita horror, gadis yang aneh.
“Woi…ngelaum apaan ?….ngelamun jorok ya…,” Tio menepuk punggung Alan dengan kamus bahasa Inggris yang lumayan tebal, sontak saja membuat Alan tersentak.
“Sialan…,” umpat Alan sambil membenarkan posisi duduknya yang hamper jatuh dari kursi. “Kira-kira donk…mukulnya, mo gw pingsan apa ? “.
Tio tertawa pelan, “Gitu aja sewot, sorry coy…abisnya loe dari tadi gw perhatiin melamun mulu…? Napa seh ada masalah ?…” Tanya Tio beruntun.
“Ga, ga ada apa-apa koq…,” jawab Alan pelan sambil menatap kearah pintu kelas yang ramai oleh anak-anak yang baru datang. Tatapnya terhenti pada sosok yang sedang tertawa dan berbicara didepan pintu. Wajah gadis itu terlihat segar dan merona, duh…pengen banget Alan mencubit pipinya…gemes banget sih.
“Woi…!!!!” Tio berteriak ditelinga kanan Alan.
“Apaan sih, rese banget seh loe…,” maki Alan sambil mengosok kupingnya yang terasa panas.
“Nah elo, dari tadi gw ngomong kaya bebek loenya ga dengerin malah ngeliatin si Denista…mang enak dicuekin ?’ timpal Tio. “Ato jangan-jangan loe naksir lagi ama Denista ?….” tebak Tio yang membuat Alan terdiam.
“Hah…mana mungkin…seorang Alan naksir cewek selevel dia ? “kilah Alan dengan perasaan hati yan mulai ragu. Apa iya dia ga naksir Denista ????
“Ah…masa ? buktinya dari tadi loe melototin dia..sampe-sampe gw ngomong ga loe dengerin…hayo ngaku…,” goda Tio sambil mendorong bahu Alan.
“Ih…dibilangin juga, Sandra mo gw kemanain…?” jawab Alan. “lagian mana bisa loe samain Sandra ama Denista itu? Ga ada apa-apanya…” jawab Alan.
“Oh…ya ?”
Terdengar suara pelan dari arah samping Alan. Sontak dua sahabat itu menoleh kesamping. Tampak Denista berdiri disamping mereka dengan wajah merah padam, dan tatapan tajam.
“Minggir yo, gw mo duduk…” pinta Denista.
Tanpa dikomando Tio berdiri dan dengan wajah pucat ia melangkah menjauh. Tinggal Alan yang menatap Denista dengan wajah yang rasanya kaku banget, rasanya sulit buat digerakin.
“Lain kali kalo mo ngegosipin orang ato mo ngomongin orang usahain waktu orangnya ga ada and jangan pagi-pagi!pamali tau…,” kata Denista sambil membuka tasnya dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Tanpa melihat ekspresi wajah Alan yang berubah ia mulai asyik tenggelam dalam buku bacaannya.

*****

Duh rasanya hari ini wajah Alan serasa ditampar, harga dirinya sebagai Cowok diinjak-injak. Dia dipermalukan, memang tidak didepan orang banyak tapi cukup membuat Alan rasanya ga pengen ketemu lagi ama tu cewek.
“Lan, ada Tio tuh didepan…,” terdengar ketukan dipintu kamar Alan yang bernuansa biru. Ya…kamar Alan disetting nuansa laut. “Suruh masuk aja, ma…” jawab Alan ogah-ogahan.
Brak…pintu dibuka dengan tergesa-gesa. Wajah Tio muncul dengan tersenyum-senyum.
Alan menoleh sejenak lalu memejamkan matanya dengan posisi wajahnya menghadap kelangit-langit kamarnya. “Ada apa…ganggu aja…,” Tanya Alan.
“Yee…dikunjungin temen bukannya bersyukur eh malah mara-marah…,” Sungut Tio sembari mengambil tempat disamping Alan. “Masih mikirin kejadian tadi pagi disekolah, sampe-sampe loe ijin pulang…loe bukan sakitkan ? tapi syok didamprat Denista ? hayo ngaku ? ”
Alan membuka matanya seketika, diraihnya bantal disamping tangannya lalu dilayangkan kearah Tio. “Apaan seh loe…rese banget, gw mang sakit koq. Kepala gw pusing tau…” seloroh Alan sambil kembali memejamkan matanya.
“Udah…loe bisa boongin diri loe sendiri, tapi ga ama Tio Ratapulan…sahabat loe ini. Gw ga kenal loe sebulan dua bulan gw kenal loe dah 10 tahun men, gw tau ada banyak perubahan yang terjadi ama diri loe sejak Denista itu datang….,” cerocos Tio pelan. “Loe hapal semua kebiasaan dia, loe selalu perhatiin gerak-gerik dia…apalagi namanya klo bukan naksir ?…” timpalnya sambil tergelak. “Mungkin loe ga sadar, tapi gw sadar. Ama Sandra cewe loe sendiri aja loe ga segitu perhatiannya. Ga segitu detailnya loe tau…,”
“Stop…,” Alan terduduk dan membekap mulut Tio. “Oke…oke…oke…gw ngaku…gw nyerah. Kayanya gw dah mulai suka ama dia…,” sahut Alan pelan. “Puas loe…?” Tanya Alan sedikit sewot.
Tio tersenyum-senyum menang. “Trus, Sandra mo loe kemanain ? “Tanya Tio.
“Itulah yang gw pusing. Dulu gw sayang banget ama dia, semua buat dia deh. Apa aja yang dia mau selalu gw kasi. Tapi sekarang koq semua terasa hambar sejak gw kenal Denista. Walaupun awalnya gw pikir dia ga ada apa-apanya dibandingin ama Sandra. Eh…sekarang gw jadi ngerasa Sandra ga ada apa-apanya dibandingin ama Denista….” Jelasnya sambil kembali menghempaskan dirinya dengan mata yang tak lepas dari cicak yang berseliweran di plafon kamarnya. “Gw rasa gw dah gila kali…? ”
“Emm…akhirnya loe ngerasaain jatuh cinta juga…,” Tio ikut membaringkan dirinya disamping Alan sambilan menatap plafon. “Sayangnya waktu, keadaan ga tepat. Loe udah mengibarkan bendera pemusuhan ama Denista…kasian banget loe, Lan…”
“Enak aja, gw ga lagi jatuh cinta tau. Gw Cuma sedikit terpesona…itu aja…loe jangan ngaco gitu. Lagian gw dah janji ma diri gw sendiri Sandra bakal jadi cewe terakhir yang singgah dalam kehidupan gw…” bantah Alan. “Ato…justru Denista…” gumamnya pelan.

*****

Alan melirik bangku disebelahnya yang kosong. “Tumben Denista belom datang jam segini, bukannya biasanya dia jadi penghuni pertama kelasnya klo pagi-pagi gini. Bisa juga tu anak telat…” gumam Alan pada dirinya sendiri. Dia juga tumben sejak Denista masuk kekelasnya ia suka menjadi orang kecepatan datang kesekolah. Bangun terlalu pagi dengan jam tidur yang telalu sedikit. Alan menggeleng-gelengkan kepalanya. Kembali ditekuninya buku horror yang dipegangnya.
Gubrak….Denista menghempaskan tasnya keatas meja membuat Alan tersentak. Ditatapnya Denista yang datang dengan wajah yang merah padam. Gadis itu duduk diam disampingnya sambil mengaduk-aduk isi tasnya dengan gusar.
“Loe kesambet setan mana, Dee ?, “Alan berusaha membuka pembicaraan.
Seketika Denista menghentikan aktifitasnya. “Tolong mulai sekarang jangan ngajak gw ngomong…,” jawab Denista pelan tapi penuh tekanan.
Alan tercekat. Diletakkannya bukunya. “Dee…loe napa seh? Loe masih marah ma gw soal kejadian tempo hari ? kan gw dah minta maaf…,” protes Alan dengan sikap Denista.
“Forget it…Ok. Tolong jangan mempersulit keadaan gw. So jangan ngajak gw ngomong lagi. Ok…!” tegas Denista sambil berdiri. “Rena…kita tukeran tempat duduk ya…,” panggil Denista saat dilihatnya Rena meletakkan tasnya diatas meja.
Alan tersentak. Tapi sungguh sebenarnya Alan pengen mencegah itu dan menuntut penjelasan yang lebih jauh, tapi rasanya tenggorokannya tercekat. Tak ada satu kata pun yang dapat dikeluarkannya. Ia hanya menatap dengan perasaan yang sedikit menggelitik membuatnya merasa tidak nyaman dengan keadaan itu.

*****

“Dee…tar sore jam berapa belajar kelompok ditempat Uung ?, “Tanya Alan saat dilihatnya gadis itu memasuki ruang kelas yang seperti biasa mereka menjadi penghuni pertama kelas itu.
Denista menghenyakkan tubuhnya dikursi yang sedikit lebih jauh dari Alan. Yah…itulah keputusannya untuk bertukar tempat duduk dengan Rena. Kemarin dia begitu dekat dengan Alan sekarang pun rasanya masih dekat tapi koq sulit dicapai ya…Denista menatap Alan sejenak, tanpa menyahut dia membuka tasnya.
“Dee…sejak kapan loe jadi budek ? “Alan beranjak dari kursinya dan melangkah kearah Denista. “Eh…loe budek ya ? “Tanya Alan kesal.
“Loe Tanya langsung aja ama Uung. Koq loe Tanya ama gw..” balas Denista tak tak kalah ketusnya.
“Lho…loe kan bagian dari kelompok juga kan ? kecuali loe dah hengkang dari kelompok gw ga bakal Tanya ma loe lagi…gimana seh, dasar lelet…”
” Ya mang gw dah hengkang jadi jangan Tanya lagi ma gw…,” jawab Denista sambil menunduk.
“What…?” Alan terpekik. Belum sempat ia bertanya labih jauh didengarnya suara langkah kaki anak-anak yang berhamburan masuk dengan tergesa-gesa, tampak dibelakang mereka Pak Jojo melangkah dengan mengapit penggaris kayunya yang panjang. Buru-buru Alan kembali ketempat duduknya.
“Gw ga habis pikir…yo, koq sikap Denista berubah 360 derajat gitu…? Apa selama ini gw dah keterlaluan gangguin dia ? rasanya ga deh…! Bahkan sekarang sikap gw kedia manis, bae banget…eh…sekarang dianya yang jutek ma gw…duh…koq sekarang rasanya harga diri gw sebagai cowo yang paling populer disekolah…jatuh sudah…,” keluh Alan sambil kembali melempar mata pancingnya ke air danau yang bergelombang tenang tertiup angin.
Hening. Alan berusaha menata perasaannya yang mulai terasa kacau 6 bulan terakhir ini, dikarenakan kehadiran sosok itu. Diliriknya Tio yang melempar mata pancingnya membuat riak kecil dipermukaan air danau.
“Loe koq diem aja ? “Tanya Alan kesal melihat kecuekan sahabatnya itu.
“Lah…trus gw mesti ngomong apaan ? ,” Tio balik bertanya. “Gw mesti ngomong, aduh kasian banget Alan. Tapi ngapain juga loe mikirin dia toh loe bisa dapet 1000 cewe macam dia disekolah ini….gw mesti ngomong gitu…?,” Tio menyandarkan punggungnya di pohon pinus yang menaunginya.
“Heh…loe kenapa seh ? loe ini anek banget. Sikap loe berubah sejak loe satu kelompok belajar ama cewe itu…? Loe sekarang sering banget belain dia…,” Alan menatap Tio curiga.
“Ya…karena dia ga seperti yang loe tuduhin selama ini. Dia bae, care, pendengar yang bae. Yang pasti gas sok cakep kaya cewe loe itu and ga muna kaya loe…,” jawab Tio pelan. “Karena itu dia pantes buat dibela dan dihargai…,”.
“Loe ngomong apaan seh, “Alan memutar otaknya. “Tunggu dulu kayanya ada yang gw ga tau neh ?” Selidik Alan.
Tio memejamkan matanya. “Banyak yang ga loe tau. Loe terlalu sibuk dengan kebanggaan loe, dengan kepopuleran loe…dengan kesombongan loe…yang semua itu ngebuat mata, telinga dan hati loe tertutup…,” jawab Tio masih dengan mata terpejam.
Alan diam. Menunggu.
Tio menghembuskan nafas pelan. “Loe sebenernya suka ama sapa seh…? Sandra ato Denista”Tanya Tio tiba-tiba.
Alan mengkerutkan kening. Diam. Ditatapnya air danau yang berwarna hijau muda yang beriak-riak kecil. Entahlah, perasaannya saat ini seperti riak-riak kecil itu. Disisi satu riak kecil itu karena angin yang berhembus dan disisi lain karena kailnya yang bergoyang karena umpannya ditarik dari bawah.
“Gw juga bingung, yo. Gw suka ma Denista karena dia membuat gw merasa berbeda, ngebuat gw ga sabar buat nunggu hari esok disekolah. Menebak-nebak kejutan gila apalagi yang bakal dilakuin Denista. Dia ngebuat gw ngerasa idup. Tapi disisi laen gw ga bisa mutusin Sandra, karena gw sayang dia…,” tatapan Alan memerawang, tiba-tiba bayangan wajah Denista berkelebat dikelopak matanya.
Tiba-tiba Tio berdiri, melangkah kearah Alan. Dengan sigap ia mendorong Alan kearah kolam dan belum sempat Alan sadar apa yang dilakukan oleh Tio, sudah ditemukannya dirinya terendam dalam air danau yang cukup dingin. Dengan baju yang basah kuyup.
“Loe apa-apan yo…loe gila ya..?…” Tanya Alan sambil berusaha meraih pinggiran danau. “Bantu gw, nae neh. Badan gw berat karena basah…” pinta Alan.
“Nae aja sendiri. Loe yang milih buat nyebur kedanau. Jadi loe mesti nolong diri loe sendiri. Loe mesti usaha…,” jawab Tio enteng. “Sama kaya gimana Denista berusaha nolong dirinya sendiri waktu dia mutusin buat nyebur dalam kehidupan loe. Saat dia mesti nelan pil pahit waktu dia tau loe udah punya pacar tapi masih ngincer dia, ngasi dia harapan, ngebuat dia melayang sampe akhirnya loe hempasin dia dalam ketidak jelasaan sikap loe…,” jelas Tio. “Gw heran koq bisa-bisanya, Denista tersiksa buat cowo kaya loe. Cowo yang bego…cowo yang ga punya sikap…”.
“Maksud loe apa seh ? gw ga ngerti…,” Alan bertanya sambil berusaha nae keatas danau tapi karena rumputnya terlalu licin membuatnya terpeleset dan jatuh lagi kedalam air danau. Tubuhnya mulai merasa tertusuk-tusuk dinginnya air danau dimusim kemarau begini.
“Loe tau ga, Denista siswa baru yang hanya karena dia duduk dideket loe dia diancam ama Sandra. Denista yang siswa baru hanya karena keegoisan loe pengen satu kelompok ma dia, jadi digampar ama Sandra dan dianggap cewe kegatelan pengen ngerebut cowo orang. Denista siswa baru yang karena keegoisan loe minta jadi wakil ketua panitia Pentas Seni Sekolah, digencet ama Sandra dan anak kelas III laennya. Intinya loe ga pernah tau, loe bilang loe sayang tapi justru karena sayang loe, loe malah nyiksa dia…” jawab Tio sambil beranjak pergi. Tak dipedulikannya suara teriakan Alan.

*****

Alan menatap tetes air yang mengalir di kaca jendela kamarnya yang terus mengalir dari subuh tadi sampai pagi. Ia tak dapat melihat keluar kamar karena kaca itu tertutup embun dari air hujan yang masih menyisakan gerimis. Pakaiannya sudah rapi untuk pergi sekolah. Tidak seperti biasa hari ini ia takut pergi kesekolah. Ia takut akan mengalami kejadian apa lagi hari ini. Perlahan digores kaca jendela kamarnya yang berembun membentuk sebuah nama.
DENISTA. Ia tertekun. Ditatapnya nama itu, ia tak sadar menuliskan nama itu. Apa benar yang dikatakan Tio demi dekat dengan dirinya Denista rela mengalami semua itu, bahkan dia ga punya keberanian untuk menghentikan semua itu. Untuk memutuskan hubunganya dengan Sandra saja dia tak berani. Sebenernya bukan ga berani tapi ia merasa sangat menyayangkan melepas gadis secantik Sandra yang menjadi Idola disekolahnya.
Tiba-tiba ia tersentak. Astaga !!! apa yang udah dia lakuin. Semut yang diseberang sana dia bisa liat tapi gajah di depan mata ga dia perduliin. Dengan cepat disambarnya kunci motor diatas meja belajar. Diterobosnya hujan yang menyisakan rintik-rintiknya. Dirapatkannya jaketnya. Tak diperdulikannya angin dingin yang serasa menusuk-nusuk kulit, menggigit sendi. Tampak dari kejauhan dilihatnya papan nama sekolahnya yang basah karena hujan yang memang sudah mengguyur kotanya sejak kemaren malam. Dengan cepat ia memasuki arel sekolah dan langsung ketempat parkir. Suasana cukup lengang. Hanya beberapa anak yang bersamaan dengan Alan memarkir motornya, beberapa lagi berlarian menuju kelas. Beberapa lagi mungkin lebih suka duduk manis dikelasnya masing-masing sambil menunggu guru memulai pelajaran.
Alan menerobos rintik hujan menuju kelasnya. Didepan pintu ia mencari-cari sosok yang membuatnya gusar beberpa hari ini. Tapi tak ditemukannya sosok itu. Hanya ada beberapa siswa yang duduk-duduk sambil bergosip ato sekedar bertukar cerita pengalaman malam minggunya. Cerita yang rasanya mulai memuakkan ditelinga Alan. Diliriknya meja Denista, tampak seonggok tas diatasnya.
“Popo…loe liat Dee…ga ?,” teriak Alan dari depan pintu.
Seketika segerombolan gadis yang sedang tertawa terdiam. “Tadi seh katannya dipanggil kesanggar tari sama bu Reyus…, “sahut seorang gadis berkacamata. Lalu gelak tawa kembali terdengar.
Alan melangkahkan kakinya kearah Sanggar yang cukup jauh dari ruang kelasnya, kira-kira seratus meter dan terletak dibelakang Laboratorium Biologi.
Alan mempercepat langkahnya, dirasakannya jantungnya berdetak lebih cepat, entahlah rasanya perasaanya ga enak. Begitu diihatnya Lab Biologi ia berbelok dengan cepat kearah Sanggar. Alisnya bertaut. Sanggar itu sepi, ga ada satu orang pun latihan. Ga ada suara musik sama sekali. Sepi. Hanya suara air hujan yang pelan-pelan tampak makin keras dan deras. Diterobosnya hujan dengan pikiran yang semakin panik.
Nafasnya terengah-engah didepan daun pintu sanggar yang tertutup rapi. Perlahan didorongnya daun pintu. Ia tertekun. Ditatapnya beberapa cewe yang ia cukup kenal duduk dengan wajah babak belur, dan Sandra wajahnya berdarah dimana-mana duduk tersungkur sambil meremas perutnya. Didepan mereka berdiri Denista tanpa terluka sedikit pun.
“Ohh…pertolongannya datang terlambat neh…” Denista mencibir. Dengan pelan ia melangkah menuju pintu keluar. Langkahnya terhenti tepat didepan Alan, “Cepet bawa cewe loe ke Dr, kasian tuh wajahnya yang cantik babak belur…” Lanjutnya dingin sambil berlalu .

*****

“Apa? loe udah mutusin Sandra…!? “Pekik Tio tertahan saat mereka melangkah beriringan dikoridor sekolah. Udara pagi tidak cukup membuat Tio dingin. Ia merasa tubuhnya berkeringat dan lembab. “Kapan ? “, lanjutnya.
” Kemaren, waktu gw nganterin dia ke Dr…,” jawab Alan dengan ringan. Entah kenapa ia merasa yakin kalau ini keputusan yang paling benar, yang pernah diputuskannya. “Wah, seperti lepas dari sangkar burung…neh, yo! “.
“Lah…trus reaksi Sandra…?”
“Sandra ? ,” Alan balik bertanya.
Tio mengangguk mengiyakan.
“Dia diam aja. Tapi gw anggap dia nerima klo hubungan kami mesti berakhir…dramatis juga ya…?”
“Trus Denista ? ,” Tanya Tio ambil menahan langkah Alan didepan pintu kelas Alan.
“Denista ? ,” Alan kembali balik bertanya. “Gw akan bayar semua yang udah dia lakuin buat gw…”, Alan tersenyum sambil melangkah masuk kelasnya. “Udah masuk sono, kayanya Pak Darno dah masuk tuh…” kata Alan saat dilihatnya Tio masih didepan pintu kelasnya. Senyum dari bibirnya menghilang ketika dilihatnya bangku yang biasa diduduki Denista kosong.
“Po, Dee…tumben belon datang ? ,” Tanya Alan sambil menatap Popo teman sebangku Denista. “Hah…loe kaga tau ya? Gara-gara doi mukulin cewe loe and the Gank…doi kena skors. Tapi bagus juga gank cewe loe tu mesti dapet pelajaran. Ga semua orang bisa dijajah. Tapi kasian Dee…mesti diskors 1 minggu. Tumben loe care banget ma dia…? “.
“Tau rumahnya Dee ? “Tanya Alan tanpa peduli rentetan pertanyaan gadis itu.

*****

Alan mematikan motornya didepan pagar sebuah rumah mungil bercat hijau segar dengan gaya Eropa, tampak taman gantung kecil didepan rumah itu. Kembali dicocokkannya nomor dipagar itu dengan catatan kecil ditangannya.
“Emm…bener ini rumahnya…,” gumam Alan.
Perlahan ia mendorong daun pintu yang menimbulkan suara menderit. Tiba-tiba ia terloncat karena dua ekor bulatan putih menabrak kakinya membuatnya mundur kebelakang sehingga sikutnya mengenai gerbang, membuatnya meringis, sikutnya terasa berdenyut-denyut.
“Sialan masa marmot ditaroh dihalaman…” sungut Alan sambil kembali melangkah menuju daun pintu. Belum sempat Alan memencet bel daun pintu sudah terkuak perlahan. Tampak didepannya berdiri sosok wanita yang sudah berusia senja, tapi masih menyisakan garis-garis kecantikan diwajahnya. Ia tersenyum simpatik kearah Alan.
“Kamu nak Alan kan ? teman satu kelasnya Denista ? “Tanya wanita itu.
Alan tersentak dengan sedikit kaku ia menjawab, “Ya tante, saya Alan…Deenya ada tante ?…”
“Ada, ayo masuk “ajak wanita itu.
Alan memasuki rumah itu. Disapunya ruangan itu dengan matanya. Semua perabot dirumah itu terbuat dari kayu dan semua dengan bentuk yang sangat unik. Isinya memang tidak terlalu penuh tapi berisi barang-barang yang menunjukkan kalau pemiliknya memiliki selera tinggi dan punya jiwa seni.
“Silakan duduk nak Alan. Dee ada tapi sekarang dia sedang tidur, tante bangunkan dulu ya…”.
“Emmm…ga usah tante, kasian klo dibangunkan. Biar aja saya Cuma mau jenguk doing koq tante..,” cegah Alan.
“Lho..justru karena nak Alan jenguk ya harus ketemu dengan Dee, dong. Kan sia-sia, udah jenguk cape-cape eh…yang dijenguk tidur…”, wanita itu tersenyum ramah.
“Ga papa koq tante…,” jawab Alan.
“Nak Alan, tante mau cerita Sesuatu sama nak Alan. Tapi jangan kaget ato bingung ya…tunggu sebentar ya tante buatkan minum…,” wanita itu berdiri dan berjalan menuju sebuah pintu dan menghilang. Selang sepuluh menit kemudian wanita itu kembali dengan membawa nampan berisikan secangkir teh dan setoples kue kering. Diletakkannya diatas meja tamu. Setelah ia mempersilahkan Alan meminum dan makan suguhannya ia mengambil sebingkai foto yang sejak tadi ada tapi Alan tidak memperhatikannya.
“Ini Darista dan Denista, “wanita itu menyerahkan foto itu pada Alan. Membuat Alan tersentak dan bertambah bingung.
“Mereka kembar…? ”
“Ya. Mereka kembar, mereka anak-anak yang manis. Semua orang menyukai mereka termasuk nak Alan kan ? “.
Alan terdiam ditatapnya foto itu dalam-dalam. Sama, sangat sulit membedakan mereka berdua.
“Yang sebelah kanan itu Denista dan yang kiri Darista. Walaupun kembar mereka punya karakter yang berbeda. Denista lebih feminine tapi sedikit selebor, sedangkan Darista tomboy suka olahraga anak laki-laki…”,Cerita wanita itu sambil menerawang. “Tapi, sekarang tante hanya punya satu putri. Salah satu dari mereka sudah pergi selamanya…,” wanita itu tertunduk. Tampak matanya berkaca-kaca.
Alan terdiam.
“Maaf tante saya tidak bermaksud membuat tante….”.
Wanita itu mengangkat tangannya, “Ga papa, justru beban tante untuk memenuhi janji padanya akan terpenuhi…”.
“Karena itu Denista kelihatan berbeda beberapa hari yang lalu….”.
Wanita itu terdiam. Diangkatnya wajahnya sambil tangannya sibuk menyeka butiran bening yang terus menetes.
“Bukan Denista, tapi Darista…,” jawabnya pelan.
Alan terdiam. Ia tak mengerti maksud pembicaraan wanita didepannya itu.
“Yang meninggal itu bukan Darista tapi Denista…,” tiba-tiba sosok gadis melangkah kearah mereka. “Gw Darista, kakak Denista yang loe permainin itu dan karena kebodohan dia, membiarkan dirinya diperlakukan seenaknya oleh si brengsek Sandra. Gw heran sampai nafas terakhirnya dia masih aja minta gw ngerahasiain kepergian dia…bodoh banget. Dizaman sekarang ini masih ada cewe sebodoh itu….”
Alan terdiam. Semua serasa hening. Berputar-putar. Ia tak tau harus bagaimana lagi. Mengapa justru ketika ia menyadari semua sudah terlambat. Andai waktu bisa berbalik ia ingin membayar semua yang sudah seorang Denista korbankan untuknya.

3 Responses to “Seorang Denista”

  1. on 21 Feb 2007 at 18:59hermawati

    ceritanya indah juga sedihhhhhh……..

  2. on 10 Dec 2008 at 16:09DEE_JEVU

    Thx a lot

  3. on 16 Feb 2009 at 21:07Ima tisyue

    Lucu jg eah. . .
    Bgus crtax,ak
    gk nygka endingx gt0. . . . .
    Kraen si alan akhrx pcrn ma dee. . . . .

Tinggalkan Komentar