BERSEMANGAT
” SEMANGAT !!!! ” Kata itu yang selalu menemaniku dalam waktu-waktu kehidupanku sampai detik ini. Hidup itu aneh kadang tanpa alasan yang tidak cukup jelas seseorang putus asa, disisi lain dengan alasan yang sangat tidak masuk akan seseorang bisa begitu bersemangatnya menikmati hidup. Ya…kadang tanpa kita bersemangat walaupun tanpa alasan yang sangat jelas.
Pagi itu 22 Maret 2005, pagi pertama dimana aku terbangun dan sadar kalau aku sudah kembali kekamar yang dari aku TK sampai aku SMU menjadi prasasti hidup dan jadi saksi pertumbuhan kehidupanku. Dari aku yang hanya bisa tersenyum-senyum tanpa bisa berkata-kata hingga aku yang terlalu banyak berkata-kata.
Pagi itu menjadi awal dimana aku kehilangan semangat. Aku merasa menjadi seorang yang sangat gagal. Aku merasa hancur dan sendirian. Lantunan doa tiada henti yang bisa kuucapkan dengan sadar atau pun tanpa aku sadari. Aku pulang dari menuntut ilmu di tempat yang sangat jauh dari orang tuaku tapi aku kembali tanpa membawa Sesuatu yang membuatku bisa melangkah dengan kepala tegak dan senyum bangga. Ya…kuliahku gagal. Kegagalan yang tidak diharapkan, kegagalan yang tidak bisa terbayangkan, kegagalan yang tidak seharusnya terjadi kalau seandainya papaku cukup bertanggung jawab dengan keluarga dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dengan semua kesenangan sesaatnya.
Entah suatu kebetulan atau apa papaku bekerja ditempat yang jauh dari aku dan mamaku. Hal itu membuat papaku bebas melakukan apa pun tanpa perlu merasa terbatasi oleh mamaku. Itu juga yang pada akhirnya membuat papaku lupa pada keluarga. Dua tahun awal aku kuliah semua berjalan lancar sampai kemudian pada tahun tahun kedua itu kami kehilangan kabar papa. Papa hilang begitu saja tanpa jejak. Spontan itu membuat keluargaku panic. Selain karena kehilangan yang tanpa penjelasan juga dikarenakan papa satu-satunya yang menjadi sumber pemasukan keluarga walaupun aku punya kakak laki-laki yang sudah bekerja dan mapan tapi sepertinya dia sudah tenggelam dalam kesibukan dan kebutuhannya sendiri. Karena alasan itu akhirnya aku memutuskan berhenti kuliah sementara atau terminal tanpa berani berpikir untuk punya rancana kembali menyelesaikannya suatu hari nanti.
Aku tak mau lama-lama berdiam dalam kubangan kekecewaan dan kesedihan. Aku dengan semangat yang masih tersisa sedikit mulai mencari pekerjaan. Ternyata aku harus kembali menelan pil pahit dimana yang namanya mencari pekerjan itu bukana hal mudah. Aku harus keluar masuk tempat kerja dan berkali-kali juga aku ditolak. Sampai pada satu titik aku tidak ingin menangis lagi.
Dengan tuntutan kebutuhan yang semakin banyak ditambah lagi adik bungsuku akan memasuki bangku SMU dan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan tabungan sudah mulai menipis. Akhirnya mama memutuskan menjual mobil papa dan uangnya kami pakai untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Semua berlangsung selama enam bulan. Aku terus berusaha dan berdoa. Pada akhirnya Tuhan mengabulkan doaku, mungkin karena Tuhan menganggap saat itulah waktunya. Aku diterima bekerja disebuah toko bangunan. Di tempat itu semua orang baik padaku, bahkan pemiliknya sangat baik dengan memberiku gaji paling tinggi untuk pemula ditempat itu. Mungkin karena aku dianggapnya belajar dengan cepat setiap pekerjaan yang di bebankan padaku.
Ternyata Tuhan itu sangat baik, setelah satu belan aku bekerja di toko itu aku tiba-tiba mendapat panggilan interview di sebuah Perusahaan. Dan sungguh tidak disangka-sangka aku diterima di bekerja di Perusaahaan itu dengan kompensasi yang lebih dari tempat ku bekerja dulu.
Sekarang setelah hamper dua tahun. Banyak hal yang aku pikirkan, salah satunya alasan aku berhenti kuliah pada dasarnya bukan karena tidak adanya biaya tapi karena ketakutanku sendiri. Aku takut tidak bisa makan, tidak bisa ini, semua karena ketakutan yang berlebihan sekali. Tapi dapat dipahami itu karena aku tidak pernah terpisah dari orang tua dengan kondisi seperti itu. Semua proses yang aku alami membuat aku jadi lebih kuat. Aku berani menerima risiko untuk setiap apa pun yang aku hadapi karena itu memang bagian dari proses kehidupan.
Sekarang juga aku berani mengambil keputusan akan kembali kuliah lagi. Dengan semua risikonya. Jujur saja secara finance tidak terlalu mencukupi dan beberapa orang terdekat kecuali mamaku ragu aku bisa menyelesaikan kuliah dengan biaya yang minim itu. Tapi aku tahu kapasitas diriku, percaya pada diriku dan aku punya Tuhan yang bisa dipercaya selain itu aku juga punya semangat. Ya…kadang kita harus bersemangat walaupun kita tidak tahu alasan kita bersemangat.
Teruskan perjuangan dalam hidupmu sampai mati…tetap semangat dan tak lupa berdoa….