Dunia Yang Sempit
November 14th, 2006 by Tanti
Dear Pembaca,
kemarin ini ketika saya bekesempatan untuk mengunjungi negeri singa tak disangka-sangka di suatu tempat makan saya bertemu dengan seorang teman lama yang sudah hampir 15 tahun lamanya tidak bertemu dan tidak pernah saling menghubungi. Tentu saja rasa senang yang begitu tiba-tiba ditambah lagi dengan rangsangan dari otak akan memori-memori indah masa muda dahulu ketika kami sama-sama bertukar cerita tentang cowok incaran masing-masing, cekakak cekikik di warung Pak Jul yang sempit dan panas itu dan tak jarang pula kami bertukar gosip terbaru dari pasangan baru di sekolah baik itu baru jadian maupun baru putus hahahahaaaa…….
Ah, dunia ini memang sempit, saya yang tinggal di kota kembang, yang baru sekali ini beruntung dapat berkunjung ke negara tetangga yang bagi saya sudah cukup “wah” dan dia yang sekarang tinggal dekat dengan kutub utara, tempat yang sewaktu kecil saya bayangkan sebagai suatu tanah lapang berlapis salju tebal dengan anjing-anjing pemburu dan penyeret kereta salju dengan orang eskimonya yang tinggal di rumah-rumah lucu berbentuk topi kupluk besar, dapat bertenu di suatu negeri kecil ini.Kami sama sama merasakan perubahan di antara kami sejak pertemuan terakhir kami di suatu kantin universitas sehabis kami melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru di sana. Setelah itu memang kami sempat saling kontak beberapa kali, tapi kontak itu terputus begitu saja karena dia harus pergi meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu di benua eropa. Pada waktu itu tentu saja belum ada internet seperti sekarang ini. Kabar terakhir darinya yang saya terima dari seorang sahabat hanyalah kalau dia tengah membina hubungan yang serius dengan seorang pemuda yang juga pelajar dari Indonesia.
Tentu saja tema pembicaraan kami tidak akan jauh-jauh dari kehidupan berkeluarga. Ketika saya tanyakan apakah dia telah menikah dengan pacarnya yang saya tahu lewat seseorang itu, dia terlihat agak sedih dan sempat terdiam sesaat. Saya sempat tak enak hati melihatnya dan segera saya minta maaf kalau-kalau saya membuka luka lamanya dan juga telah membuat suasana yang tadinya ceria menjadi mendung kelabu. It’s OK, katanya… dan iapun mulai bercerita, cerita pahit kehidupan cintanya yang akan saya singkat saja di sini. Ternyata orangtuanya tidak setuju dengan kekasih hati pilihannya itu meskipun mereka tidak pernah saling bertemu muka dan bertukar sapa. Dari awal hubungan merekapun kedua orangtua teman saya ini sudah tidak setuju dengan alasan asal-usul si cowok yang tidak sama dengan kedua orangtua teman saya itu. Ternyata tujuannya kali ini ke Indonesia (transit di negeri singa) adalah untuk bertemu dengan calon pilihan orangtuanya.
Aahhh… dunia memang benar-benar sempit, pikir saya kali ini. Begitu banyak pilihan di dunia ini, putih, kuning, merah, coklat, hitam, belo, sipit, keriting, kribo, kenapa masih saja ada orang yang berpikiran kalau putih harus berpasangan dengan putih, kuning harus sama kuning, keriting dengan yang keriting juga ? Bukankah itu sangat membosankan ? Mengapa tidak terpikirkan faktor lain yang lebih penting seperti suka sama suka, cinta sama cinta, sayang sama sayang ? Tak tahulah, kalau saya tanyakanpada rumput yang bergoyangpun, mereka akan semakin kuat bergoyang-goyang seperti orang menggeleng-gelengkan tanda tak tahu atau tak mau tahu.
TNT