KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan November 2006

:untuk WA

.

menyelami senja yang tak pernah usai

dengan kata-kata yang remukan hawa

di bait-bait sajakmu, kota-kota bicara.

pada satu kota, kau terkenang dengan jatuhnya airmata

dari danau senja yang luruhkan hati

berkelebat sebuah bayang

istana senja yang belum usai

Bayangan Wajahmu

bayangan wajahmu yang tertinggal di jendela

sore kemarin di balik cahaya senja

melekat erat di jendela rumahku yang kaku

bukan hanya bisa tertawa tapi juga bisa menanparku saat ini

matamu yang bulat menatapku tajam

hidung mancungmu menusukku hingga darah mengalir di dadaku

bibirmu yang tipis menciumku mesra

Sebait Luka

keresahan yang dulu menjilat mu

kini telah hilang dengan sayatan yang ku goreskan

darah mengalir dari tubuhmu

membasahi ranumnya payudaramu

melembabkan udara di antara kakimu

.

sebait luka yang menganga di tubuhmu

kini ku jahit dengan benang biru darahku

biarlah resah hilang bersama nafasmu yang abadi,

Padamu

kurengkuh pagi bersama embun

meratapi sejukmu di hadapan hari ini

selangkah lalu kau tersenyum padaku

menerangkan indahnya dirimu yang agungkan cinta

ku berjalan sepanjang waktu untuk itu sayang

melihat berjuta rintik tangisan bidadari malam yang bermandikan madu,

di mekari senyum-senyum bintang dan dihiasi kelambu malam,

“Yang, kita coba ikut acara playboy kabel bersaudara”, dian nyeletuk tiba-tiba. Ketika dia tengah lagi mojok dengan pacarnya hendra. ”hmm maksudmu apa, say ?” tanya hendra sambil melihat dengan pandangan heran kearah Dian. ”nggak lumayan uangnya untuk modal nikah kita entar, kita pura-pura aja ga tahu gitu” sambut dian sambil tersenyum nakal kepada hendra. “hmm oke dech, terus disini aku jadi tipe playboy atau tipe setia nih” sahut hendra sambil merangkul dian dan membiarkan kepala dian menempel didadanya. ” Ehm kamu jadi playboy aja dech, biar kelihatan rame gitu, terus ntar aku marah and than kita pake akting gitu supaya kelihatan benaran. Aku pake acara nangis gitu dech, Gimana say?” tanya Dian. “ehmm ada aja kamu say, apa sih yang ga buatmu” kata hendra sambil mencium kening dian. “oh iya, acara itu kan terkenal banget, pasti susah atuh masuknya” tanya hendra lagi, “ tenang say, sebenarnya udah lama aku daftarin kita berdua dan mulai besok ada yang menggodamu. Dia bertindak sebagai penggoda nantinya. Kalo ga salah namanya santi dech “ Lanjut Dian. “oke dech say ,kita lihat aja besok yah?!” sahut hendra sambil mengelus rambut dian.

Setiap malam ku leburkan kata-kataku di altarMU

Merenungkan khilafku atas MU

Telah ku kepetik embun dari mentari pagi

Dari pecahan hatiku keluar mata air yang sedih

Saat purnama telah berlalu di atas kepala

Hanya Jupiter yang masih ada di kejauhan sana
.

Aku duduk tersipu saat menghadapMU

Telah masuki dirimu dengan sejuta puisi

Membangun rasa yang tinggi di ujung cemara

Rebahkanmu di lautan yang tenang

Mencoba rasakan sejuk dirimu yang dingin

Merapatkan perahuku di dermaga hatimu

Yang telah di hantam tsunami kebohongan

Biarlah ku rajut lagi puing-puing yang terserak

Maret, 2006

by Arif Purwanto

1

Biarlah mawar merah itu kucampakkan di sudut-sudut hatiku, aku bosan dengan geloranya, aku bosan dengan geloranya, otak dan jiwaku letih, letih, menjerit, kenapa gelora hatiku semakin meledak-ledak? Adakah jalan ke tepi? Adakah perlintasannya, rumah kebahagiaan? Ah, bohong,bohong, ilusi, aku takut, takut ujunganya derita, derita abadi, mati jiwaku, karena kurasa matahari tidak pernah menyapa jiwaku, jiwaku rindu, hanya putihnya bulan, putih tawar

2

Aku masih terdiam,

kebahagiaan jiwaku hanyalah tawa sesaat, aih!kucaci malaikat pembawa damai, aku hanya berlari, kuberlari, akhirnya ketiadaan, terjatauh, kuterjatuh mengejar tawa, tawa sesaat, tawa jiwaku yang lain

Sebuah Sayatan

Sudah lama aku berniat memungut sebuah pisau yang tertancap di pokok kayu yang ada di seberang jalan setapak menuju Sungai di belakang rumahku. Bentuknya tidak terlalu istimewa. Pisau itu terbuat dari besi kuno, bermata ganda, tangkainya dililit karet ban. Heran, aku bisa tertarik oleh barang murahan yang amat tidak berharga. Pertama, aku melihatnya hanya serupa pisau dapur biasa. Tiada tertarik hatiku untuk memilikinya. Bahkan bermimpi untuk memegangnya saja, tidak pernah samasekali. Sebenarnya rasa penasaranku yang menginginkannya, atau lebih tepatnya cerita misteri seputar pisau itu yang membuatku sangat menginginkannya.

Djumingat

Hujan begitu deras mengguyur jalanan. Aspal yang semula panas terkena terik tampak mengepulkan asap tipis. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri dari guyuran hujan. Panah air jatuh dari langit begitu cepatnya. Pipiku mulai memerah panas diterpa tajamnya ujung-ujung air. Aku berlari sekuat tenaga. Seolah disana-sebuah Halte kecil-merupakan finish dari suatu perlombaan dengan aku sebagai jago pemecah rekornya.

Next »