Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
:untuk WA
.
menyelami senja yang tak pernah usai
dengan kata-kata yang remukan hawa
di bait-bait sajakmu, kota-kota bicara.
pada satu kota, kau terkenang dengan jatuhnya airmata
dari danau senja yang luruhkan hati
berkelebat sebuah bayang
istana senja yang belum usai
Permanent link to this post (42 words, estimated 10 secs reading time)
Posted in Puisi, Gairah dan Eros on November 30th, 2006 4 Comments »
bayangan wajahmu yang tertinggal di jendela
sore kemarin di balik cahaya senja
melekat erat di jendela rumahku yang kaku
bukan hanya bisa tertawa tapi juga bisa menanparku saat ini
matamu yang bulat menatapku tajam
hidung mancungmu menusukku hingga darah mengalir di dadaku
bibirmu yang tipis menciumku mesra
Posted in Puisi, Gairah dan Eros on November 30th, 2006 1 Comment »
keresahan yang dulu menjilat mu
kini telah hilang dengan sayatan yang ku goreskan
darah mengalir dari tubuhmu
membasahi ranumnya payudaramu
melembabkan udara di antara kakimu
.
sebait luka yang menganga di tubuhmu
kini ku jahit dengan benang biru darahku
biarlah resah hilang bersama nafasmu yang abadi,
kurengkuh pagi bersama embun
meratapi sejukmu di hadapan hari ini
selangkah lalu kau tersenyum padaku
menerangkan indahnya dirimu yang agungkan cinta
ku berjalan sepanjang waktu untuk itu sayang
melihat berjuta rintik tangisan bidadari malam yang bermandikan madu,
di mekari senyum-senyum bintang dan dihiasi kelambu malam,
“Yang, kita coba ikut acara playboy kabel bersaudara”, dian nyeletuk tiba-tiba. Ketika dia tengah lagi mojok dengan pacarnya hendra. ”hmm maksudmu apa, say ?” tanya hendra sambil melihat dengan pandangan heran kearah Dian. ”nggak lumayan uangnya untuk modal nikah kita entar, kita pura-pura aja ga tahu gitu” sambut dian sambil tersenyum nakal kepada hendra. “hmm oke dech, terus disini aku jadi tipe playboy atau tipe setia nih” sahut hendra sambil merangkul dian dan membiarkan kepala dian menempel didadanya. ” Ehm kamu jadi playboy aja dech, biar kelihatan rame gitu, terus ntar aku marah and than kita pake akting gitu supaya kelihatan benaran. Aku pake acara nangis gitu dech, Gimana say?” tanya Dian. “ehmm ada aja kamu say, apa sih yang ga buatmu” kata hendra sambil mencium kening dian. “oh iya, acara itu kan terkenal banget, pasti susah atuh masuknya” tanya hendra lagi, “ tenang say, sebenarnya udah lama aku daftarin kita berdua dan mulai besok ada yang menggodamu. Dia bertindak sebagai penggoda nantinya. Kalo ga salah namanya santi dech “ Lanjut Dian. “oke dech say ,kita lihat aja besok yah?!” sahut hendra sambil mengelus rambut dian.
Setiap malam ku leburkan kata-kataku di altarMU
Merenungkan khilafku atas MU
Telah ku kepetik embun dari mentari pagi
Dari pecahan hatiku keluar mata air yang sedih
Saat purnama telah berlalu di atas kepala
Hanya Jupiter yang masih ada di kejauhan sana
.
Aku duduk tersipu saat menghadapMU
Telah masuki dirimu dengan sejuta puisi
Membangun rasa yang tinggi di ujung cemara
Rebahkanmu di lautan yang tenang
Mencoba rasakan sejuk dirimu yang dingin
Merapatkan perahuku di dermaga hatimu
Yang telah di hantam tsunami kebohongan
Biarlah ku rajut lagi puing-puing yang terserak
Biarlah mawar merah itu kucampakkan di sudut-sudut hatiku, aku bosan dengan geloranya, aku bosan dengan geloranya, otak dan jiwaku letih, letih, menjerit, kenapa gelora hatiku semakin meledak-ledak? Adakah jalan ke tepi? Adakah perlintasannya, rumah kebahagiaan? Ah, bohong,bohong, ilusi, aku takut, takut ujunganya derita, derita abadi, mati jiwaku, karena kurasa matahari tidak pernah menyapa jiwaku, jiwaku rindu, hanya putihnya bulan, putih tawar
kebahagiaan jiwaku hanyalah tawa sesaat, aih!kucaci malaikat pembawa damai, aku hanya berlari, kuberlari, akhirnya ketiadaan, terjatauh, kuterjatuh mengejar tawa, tawa sesaat, tawa jiwaku yang lain
Posted in Cerpen on November 30th, 2006 1 Comment »
Sudah lama aku berniat memungut sebuah pisau yang tertancap di pokok kayu yang ada di seberang jalan setapak menuju Sungai di belakang rumahku. Bentuknya tidak terlalu istimewa. Pisau itu terbuat dari besi kuno, bermata ganda, tangkainya dililit karet ban. Heran, aku bisa tertarik oleh barang murahan yang amat tidak berharga. Pertama, aku melihatnya hanya serupa pisau dapur biasa. Tiada tertarik hatiku untuk memilikinya. Bahkan bermimpi untuk memegangnya saja, tidak pernah samasekali. Sebenarnya rasa penasaranku yang menginginkannya, atau lebih tepatnya cerita misteri seputar pisau itu yang membuatku sangat menginginkannya.
Posted in Cerpen on November 30th, 2006 No Comments »
Hujan begitu deras mengguyur jalanan. Aspal yang semula panas terkena terik tampak mengepulkan asap tipis. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri dari guyuran hujan. Panah air jatuh dari langit begitu cepatnya. Pipiku mulai memerah panas diterpa tajamnya ujung-ujung air. Aku berlari sekuat tenaga. Seolah disana-sebuah Halte kecil-merupakan finish dari suatu perlombaan dengan aku sebagai jago pemecah rekornya.